Hurt, You Have to Feel it..

2810 Words
Setiap pengkhianatan harus dibalas dengan pengkhianatan pula. Setiap kebohongan harus dibalas dengan kebohongan pula. Setiap rasa sakit harus dibalas dengan rasa sakit pula. Dimas memutar keran lalu membasuh wajahnya dengan air yang ditampung dengan kedua telapak tangannya. Rasanya segar sekali. Dia pun mendongkakkan kepala, menatap cermin di hadapannya dengan wajah yang sudah basah, butiran-butiran air masih menempel di kedua pipi, kening dan dagunya. Dapat dilihat pantulan bayangan sosok tampannya. Tangannya mulai terangkat dengan perlahan, telunjuknya mulai ia mainkan di permukaan cermin tersebut, melukiskan namanya dan nama seorang gadis yang tersemat dalam hatinya. Dimas &Hana. Itulah hasil tulisan tangan yang digambarnya. Tidak terlalu jelas, namun menunjukkan makna yang sangat berarti. Dimas pun tersenyum miris, memang sangat konyol. Tulisan itu tak akan abadi, sebab angin akan segera menyapunya. Sama dengan kisahnya sendiri, tak akan pernah abadi, takdir akan segera menyapunya. *** Hana duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua lututnya. Pandangannya kosong tanpa ekspresi. Kini keningnya yang terluka sudah dibaluti sedikit perban. Setelah sadar dari pingsannya, Hana sama sekali tidak pernah membuka mulutnya. Tapi dokter mengatakan, tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisinya. Itu hanya sebuah reaksi Hana ketika gadis itu mulai mengingat sebuah kejadian di masa lalu. Entah manis atau pahit. Terdengar suara pintu yang terbuka. Sesosok pria datang dengan membawa senampan sarapan. s**u putih dan roti tawar. Langkahnya terhenti di sisi ranjang. "Hana," panggilnya memecahkan keheningan. Hana hanya mengedipkan kedua matanya. Seolah tak mendengar suara yang memanggil namanya. "Kalau kamu gak mau makan, lebih baik kamu makan ini. Kakek gak mau kamu sakit," pintanya penuh pengharapan. Sama. Hana tetap bergeming mengikuti keinginannya. Pengacara Kim menyimpan nampan di atas nakas. Ia pun membawa segelas susunya dan memberikannya pada Hana dengan menyimpan gelas berisi cairan putih itu di depan wajahnya. "Ayo minum." "Aku gak mau," jawabnya sedikit sinis. "Minum, Mel. Jangan biarin perut kamu kosong..." Hana membelokan kepalanya dan mendongkak dengan pancaran mata lebih sinis dan tajam. 'PRANG!' Hana baru saja melemparkan gelas itu ke bawah dan pecah berserakan. Pengacara Kim terlonjak seketika dengan mata yang terbelalak. "Aku udah bilang aku gak mau! Siapapun jangan pernah ada yang maksa aku! Termasuk kamu! Walaupun kita deket, tetep aja aku sama sekali gak mau diatur! Ngerti?!" bentakan itu sukses membuat Pengacara Kim mengernyit bingung. Sesuatu langsung terlintas begitu saja dalam pikirannya dan satu pertanyaanpun hinggap di sana. "Keluar! Aku gak mau makan aku gak mau minum!" Pengacara Kim dapat melihat jelas sorotan mata dan tingkahnya dalam berbicara. Ini sama seperti Hana yang dulu. Dulu yang selalu bersikap sinis dan pemarah. Sekarang, sikap seperti itu kembali dikeluarkannya. Apa..., Apa Hana sudah sembuh dari amnesianya? Tapi mengapa dia tidak mengatakan sesuatu? "KELUAR!" Teriak Hana lagi dengan memegang kepala dengan kedua tangannya. Lagi-lagi ia merasakan denyutan menyebalkan itu lagi. Pengacara Kim langsung terbangun dari lamunannya. Kali ini, ia tidak bisa menolak permintaan Hana, dia pun bergegas keluar dari kamar sebelum Hana benar-benar akan marah dan berontak. Walau ia ingin sekali menanyakan keadaannya, tapi apa yang bisa diperbuatnya. Gadis itu akan tetap menolak dan berbicara sekasar-kasarnya. Ini membuat Pengacara Kim yakin, bahwa Hana telah mengingat semuanya. Tapi apa yang membuatnya bertingkah seperti ini? Kakek yang sedari tadi berada di luar kamar Hana langsung menyimpulkan bahwa cucunya itu pasti sudah sembuh. Sifatnya kembali seperti semula. Tapi mungkin batinnya sedang tertekan akibat kejadian menyakitkan di masa lalu. Pengacara Kim tidak tahu apa yang menyebabkan Hana marah-marah. Pengacara Kim dan kakek saling berhadapan di balkon. Kakek berekspresikan di wajahnya seolah mengatakan biarkan saja Hana seperti itu. Mungkin ini yang dimaunya. Tapi ia yakin, cucunya akan segera pulih lagi. Lalu setelah itu dia akan bercerita tentang masalahnya. Sekarang, ia akan mencoba mengubungi Dimas. Siapa tahu Hana bisa berbagi masalahnya dengan pria itu, karena sejak dulu, hanya Dimas yang bisa membuat Hana mengerti dan luluh. Hanya dengan pria itu Hana tidak akan keras kepala lagi. *** Saat ini Dimas tengah berjalan memasuki rumah Hana atas permintaan Pengacara Kim yang tadi sempat memanggilnya. Di lawang, dia berpapasan dengan pria itu. Pengacara Kim menganggukan kepalanya, dia mengerti karena lagi-lagi Dimas jarang datang. Dia tahu apa alasannya. Dimas kembali melangkahkan kakinya, membawa tungkainya menuju kamar Hana yang berada di lantai dua. 'Ceklek' Pintu terbuka. Pria itu dapat melihat suasana kamar berantakan Hana dan pembantu yang tengah membersihkan pecahan gelas beserta air s**u yang membasahi lantai tersebut. Dimas tidak menghiraukan itu, dia tetap masuk dan menghampiri Hana. Ya, Dimas sempat mendapat kabar bahwa Hana sempat terjatuh hingga keningnya terluka seperti itu. Pembantu yang tadi berada di sini kini mulai keluar dan menutup kembali pintu, jangan sampai dia mengganggu mereka atau menguping. "Hana," suara Dimas pelan. Hana menoleh ke samping. Dapat dilihat sesosok pria yang berada di sebelahnya ini. Dimas segera berjongkok dan memandang Hana penuh kecemasan. "Mel. Apa kamu ingatan kamu udah pulih?" tanya Dimas meminta jawaban pasti. Tangan kanan yang berada di balik badan Hana mengepal hebat, meremas seprai tempat tidurnya. Dimas. Dimas. Pria itu..., Pria itu..., Kali ini dia harus bisa menahan emosinya. Rahangnya terkatup rapat. Mencoba menyembunyikan kemarahannya yang semakin bertambah tanpa henti, apalagi setelah melihat pria yang dibencinya berada tepat di hadapannya. Perlahan, ujung bibir Hana tertarik ke samping membentuk senyuman. Ia tersenyum pada Dimas, membuat pria itu merasa lega seketika. "Kamu udah inget aku?" tanya Dimas sangat antusias. Hana mengangguk pelan memberi jawaban. Bahkan, senyumannya belum hilang sama sekali. "Akhirnya...," "Duduk di sini," Hana menepuk-nepukkan telapak tangannya di permukaan kasur. Menyuruh Dimas agar segera beranjak dari tempatnya itu dan berpindah duduk di sampingnya. Pria itu pun berdiri dan mengambil tempat di mana Hana memintanya duduk. "Kenapa kamu kaya gini, Mel? Kenapa gak bilang kalau kamu udah sembuh? Mereka khawatir," ujar Dimas. "Dari dulu, sampai sekarang. Aku selalu tunduk dan luluh sama kamu. Aku pengen, kamu adalah orang yang pertama tau kalau aku udah sembuh," Hana masih bisa menyunggingkan senyumnya walau rasanya muak sekali. Jawaban Hana membuat Dimas merasa aneh. Ada sebersit rasa curiga yang datang menghampiri perasaannya. Jawaban Hana membuat Dimas merasa tersindir. Apa maksudnya saat dia mengatakan bahwa dirinya selalu patuh padanya? "Kenapa diem?" tanya Hana. "Nggak," Dimas menggelengkan kepala. Setelah itu ia kembali bersuara. "Sekarang kamu harus siap-siap. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Kamu udah sehat kan?" Gadis itu menganggukan kepalanya. Dimas pun kembali berdiri, "Ya udah, aku tunggu di luar," ucapnya. "Hmmm." Hana hanya megeluarkan suara di ujung mulutnya disertai senyuman kecilnya. Detik berikutnya Dimas berbalik dan mulai berjalan meninggalkan kamar Hana. Setelah pengelihatannya benar-benar kehilangan sosok Dimas, dia melepaskan cengkraman di seprai kasurnya. Ekspresinya berubah seketika. Seperti seseorang yang siap akan membalaskan dendam terbesarnya. Matanya memicing tajam. Apalagi pemandangan tak sedap itu kembali muncul dalam ingatannya. Untuk membayar rasa sakitnya dulu, pria itu juga harus bisa merasakannya. Merasakan sakitnya dikhianati. Dibohongi tanpa henti. Dibodohi tanpa henti. Tak akan pernah ada yang memaafkan pria seperti itu, termasuk dirinya sendiri. Sekarang yang tergambar dalam wajahnya hanyalah sebuah kebencian. Setiap pengkhianatan harus dibalas dengan pengkhianatan pula. Setiap kebohongan harus dibalas dengan kebohongan pula.Setiap rasa sakit harus dibalas dengan rasa sakit pula. Balas dendam atas nama cinta, itulah yang ingin Hana lakukan saat ini. Mempermainkan cinta pria itu. Seperti dia yang dulu mempermainkan cintanya. Ia tak akan menengok kata cinta lagi, karena itu semua hanya akan membuatnya bodoh. Bahkan terlihat sangat bodoh. Tangan Hana berpegangan dengan tangan Dimas. Mereka berjalan menyusuri sebuah jalan. Entah kemana Dimas akan membawa Hana. Dan sekarang, tiba mereka di sebuah tempat, di bawah naungan pohon yang lebat akan daunnya. Gadis itu tampak memandangi pohon itu, daun yang bergoyang menuruti arah hidupnya. Dia mengenal tempat ini, tempat saat pertama kali dia jatuh cinta pada pria b******k ini. Kedua bola matanya kembali melirik Dimas lagi dengan tampang lembut. "Kalau ingatan kamu udah kembali, apa kamu juga inget sama tempat ini?" tanya Dimas yang seolah tau dan mengerti tentang ekspresi yang diberikan Hana. "Iya. Aku inget," jawab Hana disambut dengan senyuman indah di wajah tampan Dimas. "Waktu itu waktu hujan dateng, kamu berbagi payung kamu dan kita akhirnya berteduh di sini," matanya kembali ia edarkan pada daun-daun dan ranting-ranting pohon di atasnya. Menandakan bahwa ia memang ingat akan tempat ini. Dan saat itu, aku langsung tertipu dan jatuh cinta sama kamu. Laki-laki paling kejam yang pernah aku temui lanjutnya dalam hati. "Karena kamu udah inget pertemuan kedua itu, aku mau ngasih sesuatu sebagai hadiahnya," ucap Dimas mengundang Hana untuk kembali menyimpan pandangannya padanya. Tangan Dimas ia masukkan ke dalam saku celananya, sebuah kotak berwarna merah kini berhasil di bawanya. Ia perlihatkan benda itu pada gadis di depannya. "Itu apa?" tanya Hana penasaran. Perlahan, Dimas mulai membuka kotak itu. Cincin berbahan perak kini dapat Hana lihat dengan jelas. Barang itu sangat indah. Tampak bersinar. "Oh?" seolah Hana benar-benar terkejut. "Tangan kamu," ujar Dimas. Gadis itu mulai memberikan jari-jemarinya. Dimas mengambil cincin itu dari dalam wadahnya. Setelah itu, ia pindahkan cincin yang baru saja dibelinya kemarin semata-mata hanya untuk Hana. Cincin itu mulai masuk secara perlahan ke dalam jari manis Hana. Sangat sempurna. Sekarang cincinya benar-benar terpasang di sana. Hana menarik tangannya kembali, menilik-nilik jemarinya yang kini telah dihiasi cincin pemberian Dimas itu. "Bagus banget," puji Hana senang. "Kamu suka?" "Hmmmm!" Hana mengangguk-anggukan kepala pasti. Syukurlah, akhirnya Dimas bisa melihat Hana bahagia seperti saat ini bahkan bukan dalam keadaan amnesia lagi. Tapi rasanya, ia belum siap mengatakan tentang kondisinya pada gadis itu. Rasanya sangat berat sekali. Mulutnya tak sanggup mengatakan kenyataan itu. "Aku punya satu rahasia. Dan suatu saat, saat kamu tau rahasia itu, jangan keluarin air mata," ucap Dimas dengan tiba-tiba. Dia mulai membawa Hana ke dalam pelukannya. Sungguh, rasanya ingin sekali melepaskan pelukan ini. Meski jantungnya masih berdetak layaknya perasaan cinta, tapi rasa benci itu kian menutupinya. Rasanya ingin juga melepaska cincin ini. Mengingat ucapan Dimas tadi, Hana langsung menyimpulkan sesuatu. 'Rahasia terbesar kamu adalah, dulu kamu sering selingkuh di belakang aku. Buat apa aku netesin air mata untuk itu semua?' Cumbuan hina itu kembali terekam di benak Hana, seperti video paling buruk untuk dilihat namun kembali terputar layaknya film yang membuat perasaannya terus menerus dicucuri rasa muak. Muak sekali. Dalam pelukan Dimas, gadis itu memicing mata tajam. Rasa benci kembali bergejolak dalam hatinya. Sandiwara ini ingin sekali ia hentikan sekarang juga. Tapi, ia harus benar-benar membalaskan dendam cintanya dengan membohongi dan mempermainkannya lebih lama. *** Tanpa disadari, langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi kelam. Tepat saat Hana dan Dimas tengah berjalan pulang. Sepertinya, cuaca sudah tak bisa diprediksi lagi. Saat musim panas pun, hujan malah datang tanpa permisi. Kini, rintikan hujan mulai berjatuhan menimpa kedua insan itu. Hujan. Sesuatu hal yang sangat dibenci oleh Hana. Sekarang rasa bencinya malah semakin menjadi-jadi. Karena saat hujan pula dia resmi jatuh cinta pada pria yang kini tengah membuka jaketnya untuk menutupi kepalanya. "Ini untuk pertama kalinya hujan dateng lagi," gumam Dimas sambil memegang jaketnya. Sementara tubuhnya dibiarkan basah karena gerimis dari langit. "Kamu mau kita berteduh dulu?" tanya Dimas pada Hana. "Gak usah, Ren. Kita terusin lagi, hujannya juga gak terlalu tinggi. Apa kamu gak keberatan?" Pria itu mengangkat bahunya. Dia sama sekali tidak keberatan. Lagi pula perjalanannya tinggal sedikit lagi. Hana sama sekali tidak menghiarukan Dimas. Kepalanya tertutupi oleh jaket milik pria itu sementara Dimas malah membiarkan dirinya kehujanan. Walaupun ini hanya gerimis, tetap saja itu adalah air. Apalagi hujan seperti ini sangat gampang menularkan penyakit. Lagi-lagi Dimas merasa tak nyaman. Akhir-akhir ini Hana selalu bersikap dingin, tak seperti biasanya. Tak banyak bicara atau meminta sesuatu. Apa ini karena ingatannya sudah kembali? Jadi dia kembali menjadi sosok yang dulu lagi? Banyak sekali pemikiran yang menggelayuti benaknya. Saat menerima cincinnya pun, sambutannya hanya biasa saja. Dia hanya memuji cincin itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Memang ini sifat Hana sesungguhnya? Jika iya, Dimas lebih suka pada Hana yang tengah kehilangan memorinya. Dia lebih ramah dan menyenangkan. Keduanya sudah tiba di depan rumah Hana, tepatnya berada di teras rumah besar itu. "Makasih, Ren atas hari ini," sahut Hana sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya. "Sama-sama. Cuma satu pesen aku, jangan ngurung diri kamu lagi di kamar. Semuanya jadi khawatir," tutur Dimas memberikan saran. "Hmmm," gadis itu mengangguk kecil. "Ya udah, aku pulang dulu. Setelah ini langsung mandi dan tidur. Kamu baru pulih, jaga kesehatan kamu," Dimas mengusap-ngusap puncak kepala Hana penuh kelembutan. "Hmmmm." Sebelum pergi, Dimas memyempatkan dirinya untuk mendaratkan bibirnya di pipi Hana beberapa saat. Gadis itu tertegun. Sebelumnya, Dimas tidak pernah melakukan hal seromantis ini. Dimas kembali menyimpan pandangannya pada Hana, tersenyum dalam waktu beberapa detik. Dia pun membalikan badannya untuk bergegas pergi..., "Makasih. Tapi, aku mau tanya sesuatu," pantau Hana. Ucapan Hana menghentikan langkah Dimas. Posisinya masih membelakangi gadis itu. "Apa kamu bakal biarin aku kalau aku ngebiarin laki-laki lain nyentuh wajah aku ini? Apa aku boleh deket sama laki-laki lain dan seolah selingkuh di belakang kamu? Ups! Aku...," Hana mencekal ucapannya dengan menyimpan ketiga jarinya di depan bibirnya. Merasa tak terima dengan perkataan Hana, pria itu kontan menoleh ke belakang. "Aku keterlaluan banget. Gimana mungkin aku bilang gitu ke kamu? Kita pacaran, kan. Jadi aku gak mungkin selingkuh di belakang kamu, tenang aja Ren, gak usah takut. Aku becanda," gadis itu terkekeh pelan seolah memang tegah bercanda dan main-main. "Oh ya, Ren. Sampa ketemu besok lagi!" Hana pun mulai membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa lagi. Meninggalkan keheningan di luar. Hujan memang reda, tapi pertanyaan-demi pertanyaan kini berjatuhan di kepala Dimas. Apa maksud Hana? Mendengar itu Dimas merasa tengah mendapat sindiran halus. Sebenarnya apa yang tengah dibicarakan Hana tadi? Awalnya dia sangat pendiam, tapi dengan tiba-tiba dia berkata demikian .Ahh mungkin Hana memang hanya sedang becanda. Tak usah banyak dipikirkan. Pria itu pun kembali melangkah meninggalkan halaman rumah itu. Pintu kembali terbuka setelah sosok Dimas benar-benar sudah menghilang dari sana. Hana kembali menampakkan dirinya di luar. Pandangannya lurus ke depan, entah apa yang akan ia lakukan dengan ekspresi seperti itu. Membawa tungkainya menuju tepi teras. Setelah sampai di sana, kedua tangan Hana terangkat, tangan kanannya melepaskan cincin yang ternyata adalah cincin pemberian dari Dimas tadi. Perlahan cincin itu terlepas dari tempat melingkarnya. Hana memandang benda di tangannya itu datar, detik berikutnya, dia melemparnya ke halaman rumah. Tepatnya, cincin itu menggelinding di atas rumput-rumput hijau. Gadis itu merasa puas. Dia sudah tak sudi lagi memakai cincin dari pria yang sudah mempermainkan cintanya dulu. Hana kembali masuk ke dalam rumahnya tanpa ada rasa penyesalan. *** Melihat tubuh Dimas yang sudah basah akibat gerimis itu kak Rere langsung menghampirinya dengan raut wajah marah setengah khawatir. "Kamu ujan-ujanan?" "Kakak liat aja sendiri," singkat Dimas kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. "Hana udah inget lagi kan sama kamu? Tapi kenapa ekspresi kamu gak seseneng apa yang kakak bayangin?" Perkataan itu kembali membuat kedua kakinya berhenti melangkah. Kak Rere lantas mendekati Dimas lagi dan berposisi di depannya. "Dia baik-baik aja, kan?" Dimas hanya menunduk sedikit. Seolah tidak mendengarkan pertanyaan dari sang kakak. Tangannya menenteng jaketnya yang basah. "Hana baik-baik aja, kan?" ulang kak Rere. "Dia baik. Tapi dia berubah," gumam Dimas putus asa. Entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres. Semenjak kekasihnya itu sembuh dari amnesianya, dia menjadi lebih pendiam dan kadang membuat Dimas merasa asing. Bukan Hana yang dulu, bukan pula Hana yang kehilangan ingatannya. Rasanya gadis itu telah mengetahui sesuatu dan Dimas sama sekali tidak tahu apa itu. "Berubah?" Dimas melangkah ke samping dan melewati kak Rere. Pria itu meraih kenop pintu dan masuk ke kamaranya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Meninggalkan kesan penasaran yang mengalir dalam otak kak Rere. Tapi tunggu! Wanita itu seharusnya mengomeli adiknya karena dia pulang dengan keadaan basah. Kak Rere mendengus sesaat, bisa-bisanya dia lupa akan hal itu. *** Hari kembali berlalu. Langit gelap kini mulai menampakkan sosok cerahnya. Berganti dengan gumpalan awan putih yang mengggantung-gantung di cakrawala. Jika kemarin hujan datang, manusia memprediksi hari ini mungkin bumi tak akan dihujani. Mengingat terangnya cahaya sang matahari, tapi tidak menutup kemungkinan, bisa saja di tengah hari hujan malah datang tanpa minta izin terlebih dahulu. Perempuan yang kini telah berpakaian rapi dengan tas yang diselendangkan di bahunya berjalan keluar dari pintu. Dia akan kembali memulai hari-harinya lagi seperti dulu. Kembali bekerja di kantornya dan siap-siap untuk menjadi penerus bagi perusahaan itu. Tapi— Langkahnya terhenti. Kedua kaki jenjangnya terhenti begitu saja, untuk melangkahpun rasanya akan sangat kaku. Tubuhnya mematung di tanah pijakannya itu. Dia sangat terkejut, tapi Hana mencoba tetap untuk berekpresikan tenang. Seorang pria, kini berjalan dengan wajah penuh tanda tanyanya, bergantian memandang Hana dan benda bulat di tangannya. Dimas..., Dimas..., Dia..., Dia..., Gadis itu berpikir bagaimana bisa dia menemukan cincinnya yang sudah dibuang ke sembarang tempat? Sekarang posisi mereka begitu dekat dan berhadapan hanya dalam jarak beberapa senti. Pria itu memicing ke wajah gadis di depannya. Dia tidak habis pikir, Hana malah membuang cincin pemberiannya itu. Rahang Hana mengatup keras. Cincin yang kemarin di buangnya kini tengah berada di tangan Dimas. Ini sebuah kejutan yang tak terduga. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD