Kamu tidak boleh memberikan kebahagiaan yang sesaat pada seseorang, karena setelah itu orang yang kau sayangi akan merasakan pahitnya kehilangan. Jika kamu benar-benar cinta, bahagiakanlah seutuhnya dan berjuang untuk tidak meninggalkannya pergi.
Dimas menidurkan Hana di atas ranjangnya. Akhirnya dia bisa sampai dengan selamat. Dimas pun berbalik dan saling beradu pandang dengan Pengacara Kim. Sengaja Dimas tidak membangunkan Hana, ia tidak ingin gadis itu melihat keadaannya yang seperti yang sudah drop. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Dimas tersenyum tipis dan menganggukan kepala, memberi kode bahwa ia akan pergi sekarang juga.
Pengacara Kim mengiyakannya.
Dimas pun bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau kamu mau bahagiain Hana, kamu harus bisa bertahan dan sembuh. Jangan kasih dia kebahagiaan yang sesaat dan setelah itu dia akan ngerasain pahitnya kehilangan. Sebagai seorang laki-laki yang cinta sama perempuannya, mereka harus lakuin itu," Pengacara Kim berucap di antara keheningan.
Langkah Dimas terhenti dan ia tertawa miring tatkala selesai mendengar lontaran pemuda di belakangnya itu. Ya, jika bisa, dia akan melakukan itu. Tapi apa daya, Tuhan yang sudah menentukan kapan manusia akan mati dan meninggalkan orang terkasihnya. Lantas Dimas pun kembali melangkah, tidak menyahut lagi. Pria itu meraih kenop pintu dan keluar tanpa menutupnya kembali. Meninggalkan Pengacara Kim yang kini mulai memandang Hana.
Dalam perjalanan di balkon lantai dua, tak sengaja ia berpapasan dengan kakek. Melihat wajah pucat Dimas, pria paruh baya itu menilik-nilik Dimas dengan serius.
"Kamu gak papa?" tanyanya.
"Iya, saya baik-baik aja, kek," jawab Dimas tersenyum simpul. Ia pun membungkukkan sedikit badannya. Kembali berjalan lagi dengan cepat. Sudah tak ada waktu lagi. Rasanya begitu sakit. Kakek menoleh ke belakang, melihat tingkah Dimas membuatnya merasakan ada sesuatu yang menjanggal. Meski dirinya tak begitu dekat dengan Dimas, tapi ia harus tahu bagaimana seluk-beluk pria itu. Bagaimanapun, kakek ingin sekali melihat cucunya segera menikah. Secepatnya lebih baik.
***
BRAK!
Pintu tertutup dengan sekali hantaman keras. Pria itu yang baru saja tiba dan mengeluarkan cairan merah dari mulutnya di balik papan pintu . Darah kini telah memenuhi telapak tangannya. s**l! Benar-benar s**l! Meski merasakan sakit yang luar biasa, Dimas masih saja mengumpat. Mengutuki penyakit menyebalkan ini. Napasnya tersengal. Wajahnya yang awalnya pucat pasi kini memerah. Bermandikan darah dalam tangan dan sekitar mulutnya. Rasanya ingin mati saja. Menunggu malaikat maut akan segera menyapa. Tapi ia tak boleh seperti itu, masih banyak sekali hal yang ia ingin lakukan.
Di luar, ketukan pintu terdengar. Sudah pasti kak Rere yang melakukannya. Dimas sama sekali tidak menanggapinya.
"Dimas buka pintunya! Buka!" Teriak kak Rere tanpa berhenti dengan ketukannya. Dia tadi sempat melihat langkah adiknya yang begitu lunglai. Membuatnya curiga. Ingin sekali memarahi adiknya agar dia mau mendengarkannya.
"Dimas buka pintunya! Ayo! Buka pintunya dan dengerin kakak!"
Hanya terdengar hembusan napas yang dikeluarkan Dimas. Sama sekali tak ada niatan untuk dia membukakan pintu. Ia tak ingin diganggu atau mendengarkan perintah kakaknya.
"Dimas please buka! Dengerin kakak. Dengerin kakak," mata kak Rere mulai berbinar. Dia tidak ingin kehilangan Dimas, dialah satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya. Dia tak sanggup melihat Dimas sakit seperti itu. Jika boleh meminta, ia akan meminta pada Tuhan untuk memindahkan saja penyakitnya ke dalam tubuhnya, jangan pada adiknya.
"Dimas. Ayo kita pergi kemoterapi. Jangan diemin penyakit kamu, ini perintah kakak Ren, ayo sekali aja dengerin kakak," suaranya kini mulai menurun. Ia tak akan pernah putus asa untuk menyuruh adiknya pergi kemoterapi.
Hanya satu, hanya satu saja keinginan Dimas. Dia hanya ingin melihat orang-orang yang disayanginya bahagia. Dulu, dia adalah bomerang bagi kehidupan kakaknya. Jadi untuk apa adik seperti ini masih dipertahankan? Untuk apa kemoterapi itu dilakukan jika ujung-ujungnya akan tetap sama?
"Jangan siksa diri kamu kaya gini, Ren," buliran bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Kamu harusnya bersyukur, mama masih mau ngasih kita uang. Uang buat kamu kemoterapi. Kakak udah jatuhin harga diri kakak dengan minta uang sama dia. Apa kamu mau sia-siain itu? Hm?" isakan mulai terdengar dalam mulut dan hidungnya yang basah.
Air mata Dimas kembali jatuh tatkala mengingat mamanya yang begitu kejam. Bukan ini yang ia mau, bukan ini. Yang ia mau hanya bentuk kasih sayangnya saja, bukan uang. Ingin sekali merasakan indahnya kasih sayang dari seorang ibu untuk anaknya. Mendapat pelukan hangatnya atau mendapat pertanyaan 'Apa kamu udah makan?' Pertanyaan yang selalu dilontarkan seorang ibu pada buah hati kesayangannya.
"Dengerin kakak, Ren. Kabulin permintaan kakak sekali aja. Kakak gak mau kehilangan kamu." Kini tubuhnya tergelosor ke bawah bersentuhan dengan daun pintu. Ia masih terisak penuh air mata.
"Iya dulu kakak selalu marahin kamu, kakak kesel sama kamu. Kakak marah sama kamu! Tapi asal kamu tau, itu semua kakak lakuin karena kakak sayang sama kamu! Dan sekarang kakak gak mau kehilangan kamu, Ren. Kakak bakal kesepian kalau kamu ninggalin kakak."
Di dalam, Dimas menangis mendengar perkataan kakaknya yang membuat hatinya teduh. Dia menyesal karena selalu membuat wanita itu berada dalam masalah.
"Ayo kita pergi kemoterapi. Kamu mau, kan? Hm?" Lirih kak Rere penuh pengharapan.
Dimas mengatup mulutnya rapat rapat. Menyeka suara tangisan yang akan keluar dari tenggorokannya.
"Dimaso. Kakak sedih."
Terdengar suara gerakan pintu. Wanita itu cepat-cepat duduk tegak. Sekarang Dimas benar-benar membuka pintunya. Dia pun berjongkok dan langsung memeluk kakaknya sambil menangis terisak-isak. Begitupun kak Rere, dia menangis dalam pelukan adiknya.
"Kamu mau kan dengerin kakak?" tanyanya di sela tangisan yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Melihat keadaan Dimas yang semakin parah, dia tidak tahan melihat itu semua.
Dimas tidak menjawab. Dia hanya bisa menangis. Meluapkan segala rasa sakit yang mengumpul dalam ulu hatinya. Dia sangat menyayangi kakaknya, sangat. Untuk itu ia tidak ingin melihat kakaknya tersiksa seperti ini. Dia tak ingin menyakitinya lagi seperti dulu-dulu.
Kini sang adik dan kakak itu berpelukan dengan tangisannya masing-masing di lawang pintu. Jika Ibu atau ayah tidak ada, mereka bisa bahagia walaupun hanya berdua, kan?
***
Hana menyalakin TV di pagi hari. Mungkin saja ini bisa membuat mumetnya hilang. Kakek menyuruhnya istirahat, dia hanya memberikan waktu berjalan-jalannya hanya sehari saja, kemarin.
Kini pengelihatannya tampak fokus pada benda bentuk persegi panjang itu. Adegan yang membuatnya begitu tertarik.
Sebuah sinetron. Si peran perempuan utama tak sengaja melihat pria yang mungkin kekasihnya tengah b******u mesra dengan perempuan lain. Perempuan itu begitu merasa sangat tersakiti, melihat ekspresi kalut yang dipancarkannya.
DEG!
Jantung Hana berdetak cepat begitu saja. Entah mengapa, entah mengapa gadis itu rasanya pernah berada dalam posisi itu. Tapi kapan? Kini kedua matanya menyipit. Kepalanya berdenyut hebat membuat Hana meringis kesakitan.
Bayang-bayang masa lalu kini bermain tak menentu dalam otaknya. Setelah melihat tayangan itu membuatnya merasa sakit. Rasanya pening sekali. Gambaran tak jelas berlalu lalang tanpa henti membuat kepalanya serasa mau pecah.
Hana meringis hebat, menahan sakit di kepalanya yang kian membuncah. Hana memekik,ia harus segera minum obat pengilang rasa sakit. Ia pun beranjak dari duduknya dengan sempoyongan. Tangannya meremas rambutnya. Pengelihatannya buram, kabur dan berputar tak jelas. Perempuan itu berusaha tetap berjalan di atas karpet itu.
"Argghhh!" rasa sakitnya malah semakin bertambah. Hana tidak bisa menahannya lagi, ini benar-benar sakit. Kakinya sudah tak bisa menopang tubuhnya lagi. Kini pertahannya ambruk seketika. Sebelum bersentuhan dengan lantai, keningnya lebih dulu berbenturan dengan ujung nakas. Gadis itu pun terhuyung lalu pingsan tergeletak di atas lantai dengan luka yang mulai mengeluarkan darah di kening mulusnya. Hana sudah tak sadarkan diri.
***