Ada saatnya musim hujan pergi, ada saatnya pula musim hujan datang. Sama seperti kehidupan manusia. Ada masa di mana dia hancur, ada saat dimana dia juga bahagia. Itulah kehidupan.
'Dr.Spesialis Hati'
Kira kira itulah tulisan yang bertengger di atas dinding pintu. Pengacara Kim mulai bertanya-tanya.
Mengapa Dimas malah masuk ke ruangan itu? Apa jangan-jangan...
Pria itu lantas melangkahkan lagi kakinya. Mengintip lewat celah pintu. Kini ia memasang telinganya dengan cermat. Siapa tau dia dapat mendengar sesuatu.
Kini Dimas sudah berhadapan dengan seorang dokter yang bernama Dr.Rai. Dokter spesialis hati. Kacamata min tersemat di matanya yang kecil. Suasana di sini cukup tenang. Dimas menghembuskan napas beratnya. Sudah beberapa bulan ini, Dr.Rai lah yang memantau keadaan Dimas. Siapa yang tidak menyangka, ternyata selama ini sosok Dimas Alvaro ini tengah menyembunyikan penyakit paling mematikannya.
Kalian tahu penyakit sirosis hati? Penyakit yang sama sekali tak ada obatnya kecuali hanya operasi pencangkokkan hati yang bisa menyelamatkan penderitanya.
"Gimana? Apa saya udah dapet pendonor hati, dok?"tanya pria itu santai. Ia menautkan kedua tangannyadi atas meja.
Dr.Rai hanya menggeleng kecil.
"Aahh," Dimas mengangguk-anggukan kepala mengerti. Seolah dia sama sekali tidak begitu tertarik dengan operasi itu. Untuk apa? Jika akhirnya dia mati karena penyakit ini, berarti itu sudah menjadi takdir hidupnya.
Manusia manapun tak akan ada yang bisa mengelaknya.
"Tapi Dimas. Kamu harus tetep jaga kondisi tubuh kamu. Harus teratur minum obat, kalau kamu sedikit aja telat, saya takut kekebalan tubuh kamu akan menurun. Bisa aja berat badan kamu turun drastis. Dan, sekarang, penyakit itu udah mulai tersebar ke organ-organ lain," Dr.Rai tampak mengeluarkan raut penyesalannya.
Setiap kali dia menyuruh Dimas untuk melakukan kemoterapi, pria itu selalu enggan menerimanya. Dia selalu menolaknya. Pasiennya menganggap penyakitnya itu enteng. Baru kali ini Dr.Rai mendapat pasien seperti ini. Pria yang sepertinya sudah bosan dengan kehidupannya.
Sebelumnya, tak pernah terpikirkan di benak Dimas kalau dia akan mendapatkan penyakit mematikan ini. Dia mengetahui hal ini saat dia menemukan kejanggalan dalam kondisi tubuhnya. Tepat saat Hana koma, Dimas lagi-lagi dihadapi dengan kenyataan pahit itu. Kenyataan bahwa dia menyidap sirosis hati. Ini yang membuat Dimas berubah. Dia selau teringat akan permintaan yang selalu disampaikan Hana padanya. Dia selalu menyuruhnya untuk berhenti minum, sekarang pria itu mendapatkan jawabannya. Akibat minuman keras itu, penyakitnya merambat cepat ke seluruh organ-organnya.
Bahkan sampai saat ini, dia belum menemukan pendonor hati.
Itu sebabnya, betapa ia merindukan Hana saat dia tak sadarkan diri. Dialah yang selalu mengkhawatirkan keadaannya. Dimas ingin lebih banyak lagi membagi kebahagiaannya bersama Hana. Sebelum nanti Tuhan akan mengambil nyawanya lebih dulu. Dia sengaja merahasiakan ini pada semua orang, kecuali kakaknya. Terutama Hana, dia tidak ingin gadis itu merasa sedih akan hal ini. Dimas ingin menebus kesalahan-kesalahan yang dulu sempat ia lakukan.
Dimas mengambil resep obat yang berada di atas meja. Dia lantas beranjak dan keluar dari ruangan itu. Dr.Rai memandang kepergian pasiennya dengan tatapan iba. Dia sama sekali tidak khawatir akan kondisinya yang semakin hari akan semakin parah.
Dimas kembali menutup pintu. Berjalan dengan langkah sedang. Wajahnya tidak terlihat menegang sedikitpun. Meski ancaman dokter itu menakutkan, tapi tak sedikitpun membuatnya takut. Pria itu ingin menjalani hidupnya dengan tenang tanpa beban. Jalani saja apa yang ada.
Pengacara Kim yang sedari tadi bersandar di permukaan dinding pun memutuskan untuk masuk ke dalam setelah melihat Dimas yang kini sudah benar-benar menghilang dari koridor ini. Pria itu tidak menyadari bahwa Pengacara Kim ada di sana,mengikutinya dan memecahkan rasa ingin tahunya.
Pria berdarah Indonesia-Inggris itu tidak dapat mendengar pembicaraan di dalam, itu sebabnya dia nekad masuk dan bertanya langsung pada sang dokter. Rasa penasarannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Bagaimana pun, ini menyangkut tentang kebahagiaan Hana, gadis yang sangat disayanginya.
***
Kini Pengacara Kim sudah memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah Dimas. Pria itu bersandar dipermukaan mobil dengan tangan yang melipat di bawah dadanya. Dia masih belum bisa mempercayai ini. Mendengar kabar ini, membuatnya tidak menyangka. Bagaimana bisa pria seperti Dimas ternyata menderita penyakit itu? Lalu? Apa Hana tahu akan hal ini? Tidak. Jelas-jelas dia tidak mengetahui apa-apa. Jadi ini alasannya, ini alasannya mengapa Dimas sempat menghilang selama beberapa hari. Apa karena penyakitnya kambuh? Hari ini dia mendapat jawaban atas rasa penasarannya itu.
Tak lama, Dimas tiba dengan menjinjing kantung pelastik berwarna putih. Dia dikejutkan dengan sosok pria yang berdiri di depan rumahnya. Mereka saling beradu pandang, terutama Dimas yang mengerutkan kening, tidak mengerti apa maksud dari kedatangannya.
"Dari mana aja?" tanya Pengacara Kim memecahkan keheningan.
Dimas bergeming. Sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan pria itu. Keduanya pun berhadapan tanpa kata. Ditemani dengan angin semilir yang mendinginkan suasana. Pengacara Kim melirik kantung pelastik yang berada di tangan Dimas, dia tampak mengerti.
***
Dimas tidak bisa mengelak lagi. Kini kedua pria itu berada di sebuah kafe dengan tempat duduk yang berposisikan di tempat paling ujung. Setelah mendapat desakan dari Pengacara Kim, akhirnya Dimas membuka mulut. Sepertinya pria itu sudah tahu sepenuhnya. Yah, Dimas tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Sekarang kamu mau ngapain? Udah tau, kan?" tanya Dimas.
"Aku harus kasih tau ini ke Hana. Ini juga penting buat dia. Inget Ren, jangan nyembunyiin apapun dari dia...,"
"Jangan," sela Dimas lemah.
"Kenapa?!"
Dimas menggelengkan kepala kecil. "Nggak. Jangan kasih tau dia. Aku mohon," pinta Dimas. Kali ini pria itu terlihat begitu lemah. Jauh berbeda dengan karakternya dulu.
"Gimanapun Hana harus tau. Apa tanggapan dia saat tau hal ini dari mulut orang lain?!" Pengacara Kim mulai kesal. Dia tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Kedua mata Dimas mulai berbinar dan memerah. Menghentikan keinginan Pengacara Kim untuk segera beranjak. Terdengar isakan kecil dari tenggorokannya.
Laki-laki di depannya menjadi begitu kebingungan. Tiba-tiba Dimas menangis seperti itu.
"Jangan kasih tau dia. Biarin aku bahagiain dia untuk kali ini aja. Mungkin di sisa hidup aku yang gak akan lama lagi, aku pengen bisa bahagiain gadis itu. Karena dulu, aku sempet nyakitin dia. Aku pengen nebus semua rasa bersalah aku. Aku gak pengen dia tau tentang hal ini, nanti Hana bisa sedih," wajahnya putihnya memerah seketika. Isakan tangisannya terdengar begitu menyakitkan. Sesekali jemarinya itu menghapus kasar jejak air mata di sekitar luar matanya.
Pengacara Kim bungkam. Dia memandang Dimas sendu. Setelah melihat tangisan Dimas, pria itu yakin, Dimas hanya tidak ingin membuat Hana sedih lagi.
"Aku pengen bikin Hana bahagia dulu. Dan minta maaf sama dia saat ingatannya udah pulih. Aku pengen nikmatin kebersamaan aku sama Hana. Sama kaya pasangan lain. Pergi ke bioskop, kencan,makan malam di restoran. Dulu kita gak pernah lakuin itu," Dimas mengatup rahangnya rapat-rapat. Seolah ingin menahan tangisannya, tak baik jika seorang pria menangis seperti ini. Pengacara Kim tak angkat bicara lagi.
Dimas tersenyum getir.
"Sampai aku matipun, jangan kasih tau Hana," lanjut Dimas penuh permohonan. Rasa sakit di dadanya semakin membuncah. Cukup dulu dia menyakiti Hana dengan kenakalannya, sekarang tidak lagi. Satu-satunya tujuan hidupnya adalah, bisa membahagiakan kekasihnya. Itu saja. Dimas tak meminta banyak lagi.
Tanpa dirasa, kristal bening kembali meluncur membasahi pipinya."Aku mohon," lirih Dimas lagi dengan suara yang menyerak.
***
Sepasang kaki turun dari mobil bercorak hitam itu. Terdengar pula hentakan nyaring yang timbul dari pintu kendaraan tersebut yang tertutup.
Pengacara Kim berjalan menuju teras rumah. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesosok perempuan yang baru saja keluar dari dalam sana. Dia terlihat begitu cantik, mendekati sempurna. Tubuh semampainya dibaluti dengan rok selutut serta tas kecil yang bergantung di bahunya. Baru kali ini, baru kali ini pria itu mendapat senyuman hangat dari perempuan di hadapannya. Ini mungkin menjadi kebahagiaan paling sederhananya. Hana kembali melangkahkan kakinya mendekati Pengacara Kim. Tangannya terangkat seolah berucap 'Hay'.
"Kamu..., kamu udah bisa jalan?" tanya Pengacara Kim yang baru saja menyadari bahwa langkah Hana kini kian sempurna.
Gadis itu manggut-manggut.
"Kamu liat sendiri, kan?" tanyanya melirik kakinya kebawah lalu kembali mengangkat kepalanya, menyimpan pandangannya pada Pengacara Kim dengan riang.
"Dan sekarang, aku mau pergi ke rumah Dimas," lanjutnya lagi semangat.
"Dimas?"
Pengacara Kim kembali mengingat percakapannya tadi bersama Dimas. Mengingat hal-hal yang membuatnya terkejut dan bingung. Di satu sisi, ia ingin sekali mengatakan rahasia Dimas pada Hana, tapi di sisi lain pula dia tidak sanggup melihat Dimas memohon padanya untuk tidak mengatakan apa-apa pada perempuannya itu.
"Kok ekspresinya berubah?" suara Hana membuyarkan lamunan Pengacara Kim. Dia mulai gelagapan dan kikuk.
"Kakek udah izinin kamu keluar?" tanya baliknya mengalihkan pembicaraan.
"Ya udahlah. Ya udah aku berangkat dulu..," Hana kembali melangkahkan kakinya lagi.
"Gak mau dianter?"
Jalannya terhenti, "Gak usah. Aku bisa naik taksi sendiri. Lagian aku bukan anak kecil," tolaknya tanpa berbalik.
Pengacara Kim menarik napas pelan. Lalu mengulum senyumnya sendiri. Gadis itu telah membuat komedi yang secara tidak langsung telah membuat Pengacara Kim merasa lucu.
Merasa ada yang tidak beres, Hana berbalik cepat.
Dilihatnya pria itu yang memang tengah menahan tawanya.
"Kenapa?" tanyanya sinis.
"Emang kamu tau di mana rumah Dimas? Setau aku, kamu kan lagi hilang ingatan."
Hana terbelalak ketika daun telinganya menangkap lontaran kalimat itu. Gadis itu pun mengerutuki dirinya sendiri, mengapa dia bisa sebodoh ini? Memang dia tau di mana rumah kekasihnya? Bukankah memorinya hilang tanpa sisa? Aah. Hana mencibir dalam hati.
"Okee biar aku anter," ajak Pengacara Kim yang langsung disambut penuh oleh Hana. Setidaknya, gadis itu tidak akan linglung mencari letak rumah Dimas. Hana menyeringai senang, dapat dilihat raut wajah penuh kebahagiaannya.
Semenjak hilang ingatan, Hana seperti bukan dirinya sendiri. Dia lebih banyak menampakkan senyum dan lebih sedikit terlihat ramah. Bukan Hana yang selalu enggan menunjukkan keindahan pada paras cantiknya. Pengacara Kim justru malah semakin jatuh cinta padanya, rasanya juga semakin nyaman. Tapi, ia cukup tau diri. Simpan saja perasaannya itu dalam-dalam. Itu lebih baik.
Hana mengetuk pintu rumah Dimas dengan dagup jantung berdebar. Untuk pertama kalinya dia yang datang dahulu menemui pria itu. Tanpa menunggu lama lagi, pintu pun terbuka dari dalam. Sosok yang sangat asing pun kembali hadir dalam pengelihatannya. Siapa dia? Siapa perempuan itu?
"Hana?" gumam wanita yang tak lain adalah kak Rere.
"Siapa?" tanya Hana hati-hati. Mungkin saja dulu dia mengenalnya.
Kak Rere mengerti. Dia sudah mendapat kabar ini dari adiknya. Dia mengatakan bahwa Hana kehilangan ingatannya. Jadi wajar jika gadis di depannya ini bertanya 'siapa' padanya.
"Ini kak Rere. Kakaknya Dimas," akhirnya wanita itu menjawab disertai dengan senyumannya.
"Ooh," Hana ikut tersenyum. "Maaf kak, aku hilang ingatan jadi kita harus kenalan lagi," Hana terlihat sangat menyesalinya."Gak usah minta maaf, Mel. Kakak maklumin itu, kok."
"Mungkin dulu kita kenal deket ya kak? Huftt... Kenapa aku harus amnesia segala sih," resah Hana.
Kak Rere hanya tersenyum simpul melihat keluguan Hana. "Kamu mau ketemu Dimas?" tanyanya.
Sebenarnya itu pertanyaan yang sedari tadi dinanti-nantinya. Hana mengangguk cepat.
"Ya udah kita masuk dulu. Dimas ada di dalem," lanjut Kak Rere.
***
Hana menarik tangan Dimas menuju taman bermain. Di sana banyak sekali orang-orang yang menikmati hari santainya. Banyak pula permainan-permainan kecil dan boneka-boneka yang sebenarnya di dalamnya adalah manusia. Mereka berkostum seperti sosok dalam kartun. Marsha and the Bear, Micky Mouse, Ratu Elsa dalam Disney Frozen, dan masih banyak lagi.
Hana begitu sangat antusias mengajak Dimas ke tempat ini. Mungkin, ini adalah kencan pertama mereka. Kini Dimas tengah memegang kamera ponselnya. Bersiap mengambil gambar Hana yang bergaya dengan si Ratu Elsa. Pria itu tersenyum indah, dapat melihat jelas kecantikan Hana lewat kamera ini. Gadis itu benar-benar ingin melaksanakan janjinya untuk pergi jalan-jalan. Dimas tak ingin menolak setiap keinginan yang Hana inginkan. Dengan sepenuh hati, dia akan memenuhi permintaannya. Bagaimanapun caranya, dia harus bahagia.
Hana yang menggandeng tangan Dimas kini menghentikan langkahnya tatkala melihat sebuah baju yang berada dalam toko baju tersebut. Sebuah baju pengantin dengan rajutan yang sangat istimewa. Perpaduan warna putih dan warna perak. Sungguh indah bukan?
"Suatu saat, aku bisa kan pakai baju itu, Ren?"
Dimas membalasnya hanya dengan sebuah anggukan kecil.
"Saat itu aku bersanding di sebelah kamu. Kita jadi sepasang pengantin yang serasi. Pasti aku bahagia banget," Hana mengubah posisinya berdiri di depan Dimas tanpa melepaskan pegangan tangannya. Dia berjalan mundur dan berbicara masa depan yang nanti ingin sekali ia jalani bersama pria ini.
"Terus kalau udah nikah, kita punya anak yang banyak. Kalau perempuan, mirip kamu. Kalau laki-laki, mirip aku," kali ini khayalan Hana mulai jauh.
"Hmmm," Dimas lagi-lagi hanya menangguk tanpa berkata. Dia setuju dengan semua perkataan Hana sedari tadi. Tapi pria itu tak ingin berjanji, mengingat waktunya yang mungkin tak akan panjang.
"Kita bangun keluarga yang bahagia," lanjut Hana lagi dengan senyumnya.
Dimas membalasnya dengan senyuman kembali. Hana kembali menyamai posisinya di sebelah Dimas. Dia tampak merasa bangga berada di sisi kekasihnya. Jika selalu seperti ini, sungguh sangat menyenangkan.
Terik matahari menyilaukan mereka.
"Kapan hujan dateng? Aku bosen kepanasan kaya gini," Hana mengeluh kecil.
"Nanti. Ada saatnya musim hujan pergi, ada saatnya musim hujan dateng. Sama kaya kehidupan manusia. Ada masa di mana dia hancur, ada saat dimana dia juga bahagia. Yaa itulah kehidupan," Dimas mulai mengeluarkan sifat ketulusannya. Berada di dekat Hana, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Hana tampak setuju setelah Dimas memberikan jawabannya. Cukup membuat gadis itu mengerti tentang hal itu. Tapi dulu Dimas pernah bilang, kalau Hana itu benci akan hujan. Sampai sekarang Hana masih mempertanyakan hal itu. Memang apa yang membuatnya membenci hujan?
Mereka kembali berjalan-jalan sepuasnya. Membeli ice cream dan memakannya bersama tatkala rasa panas menyerbu. Menaiki wahana permainan yang kadang membuat ngeri tapi menyenangkan. Seperti Roller Coaster, Kora-Kora, dan yang lainnya.
Lagi-lagi waktu terasa begitu singkat. Singkat karena dilalui dengan berbagai kebahagiaan. Hari pun lebih cepat menua. Matahari turun kembali meninggalkan peraduannya.
Hana senang, akhirnya dia bisa berkencan juga dengan Dimas. Keinganannya sudah tercapai. Ini kebahagiaan kecil yang tak ingin pernah dilupakan. Bersama dengan Dimas, membuatnya merasa kalau dia adalah perempuan paling sempurna. Sedari tadi pula Dimas tak mempedulikan rasa sakit yang sesekali menyerangnya. Ia tak ingin mengganggu moment indah itu. Biarkan dia menebus kesalahannya yang dulu ia lakukan di belakang Hana. Apa yang terjadi jika Hana tahu tentangnya? Tentang masa lalunya.
Bahkan Dimas tidak tahu bahwa dulu Hana sempat melihat kebodohan yang dilakukanya.
'Sungguh. Aku ingin membahagiakannya. Menyalurka cinta tulus ini. Menebus rasa sakit yang mungkin dialaminya dulu. Sebelum kau mengambil ciptaanmu yang paling bodoh dan tidak berguna ini. Saat aku meninggalkannya nanti, aku hanya ingin membuat kenangan-kenangan indah yang nanti akan terpatri kekal dalam hatinya. Bukan bermaksud untuk menyakitinya, tapi aku ingin menjadi pria yang pernah dicintai dalam hidupnya. Menghapus semua kenangan buruk. Aku mencintainya, sungguh sangat-sangat mencintainya'
Sekarang Hana berada di gendongan punggung Dimas. Dia tertidur dalam bahu pria itu. Sementara langit sudah gelap. Hanya ditemani bintang-bintang yang berkedip-kedip menerangi gelap gulitanya bumi. Dan binatang-binatang malam yang berbunyi entah berirama apa.
Dokter sudah menyuruh Dimas untuk beristirahat di hari ini. Tapi mana mungkin dia menolak permintaan kecil Hana. Dia akan mengecewakan hatinya. Kali ini wajah Dimas mulai sedikit memucat. Lagi dan lagi sakit itu menyerang tubuhnya. Perjalanan masih panjang, pria itu tetap berjalan dengan tenaganya yang masih tersisa. Hana yang sudah tidur sama sekali tidak menyadari bahwa sekarang Dimas sedang menahan sakit yang menyiksa.
***