Bab 39

3048 Words
"Tapi jenis kelaminnya apa ya, masih belum dikasih liat sama dia. Apa cowok kali ya, soalnya beda rasanya pas aku hamil Kayla dulu." Saat berjalan di koridor para suster yang berpapasan dengan mereka menyapa dengan sangat ramah. Kadang ada yang menyoraki mereka berdua dan menggoda. "Dokter, nanti istrinya melahirkan si sini kan? Nanti saya aja nih yang jagain bayinya. Pasti nanti bayinya bening." "Haha, itu biar nanti istri saya yang tentukan." balas Arka. Memang benar, Arka yang terkenal jutek begitu sudah berada dekat dengan Ayla sang istri pasti berubah menjadi lembut dan ramah kepada semua orang. "Bagi aku, mau dia cowok atau cewek nggak perlu memandang jenis kelaminnya. Yang penting dia bisa lahir normal itu jauh lebih bahagia." Sepanjang jalan mereka bercengkrama, hingga tiba di ruangan dokter Aretha spesialis kandungan. "Siang dokter Arka...." sapa dokter Aretha. "Siang dok, maaf lama. Jalan dari taman ke sini cukup jauh juga haha..." kata Arka. "Haha iya nggak masalah, Dok, baik kalau begitu mari kita mulai untuk melihat USGnya." Ayla sudah bersiap dan berbaring untuk memeriksakan kandungannya. "Nggak sabar mau lihat dia cowok atau cewek?" kata Arka. Dia sempat-sempatnya membuat story untuk dibagikan di sosial medianya, mengingat bagaimana dia selalu antusias untuk menilik bayinya. "Berdoa dulu biar anaknya nggak narsis kaya kamu Ar, haha." gurau Ayla. "Haha, nggak biasanya dokter Arka begini. Antusias ya dok?" tanya dokter Aretha. "Antusiasnya melebihi operasi darurat saat di tugaskan di medan perang haha." jawab Arka. Dokter Areta mulai mengoleskan Clear ultrasound gel, jelly yang berfungsi untuk pemeriksaan menggunakan Doppler atau USG. Jelly berfungsi sebagai pelumas juga memperjelas suara obyek yang diperiksa, yang kemudian ditangkap oleh alat Doppler. "Alhamdulillah, ya. Setelah kekhawatiran kita saat janin tidak berkembang tidak berangsur lama. Si Dede pengen sama mama papanya nih." Kata dokter Aretha sambil tersenyum. Tangannya bergerak di atas perut buncit Ayla. Mulai memandang ke arah layar monitor. "Kita cek dulu ya posisi bayinya gimana." Kata dokter Aretha lagi. "Posisinya udah benar, ukuran kepala normal, tinggi badan juga normal. Ehhh, ini jarinya. Bayinya tepuk tangan tuh." Kata dokter Aretha. Melihat jelas bayi yang ada dalam kandungan Ayla menggerakkan kedua tangannya beberapa kali. Kakinya juga ikut bergerak menendang. "Aduh, tuh kan. Dia suka gitu dok nendangnya keras banget." "Nggak apa apa dong, itu artinya si kecil sehat. Tuh liat wajahnya. Kayaknya mirip papanya nanti. Ini tulang hidungnya, mancung bayinya." "Eh jangan dong dokter, bayinya harus mirip sama saya." Dokter Aretha tertawa geli. Kemudian kembali fokus pada layar dimensi itu. "Ini semua normal, kita liat detak jantungnya dulu ya." Kedua bola mata Arka tak berhenti lepas dari layar monitor. Dia sangat haru melihat sang bayi begitu sehat. Arka bersyukur bayi itu masih bisa bertahan hingga sekarang. Jika saat itu dia membuat anaknya mati, Arka tidak tahu harus bagaimana. Mungkin saat itu juga rumah tangganya dengan Ayla akan berakhir dan dia kehilangan semuanya. "Dia benar-benar sangat sehat kan, Dok? Tidak ada yang menjanggal, kan? Tolong periksa dengan teliti." Kata Arka mewanti-wanti pada Aretha. "Semuanya baik-baik saja, dokter. Ini mau lihat jenis kelaminnya. Sepertinya udah diizinin nih sama dedeknya." Arka mengangguk cepat. Ayla pun ikut menatap layar itu. "Hallo adek, mohon izin ya dokter mau ngintip dulu." Kata Dokter Aretha mengecilkan suara seperti anak kecil, saat itu juga mereka berhasil melihat jenis kelamin bayi mereka. "Wah, nggak ada monas nya, nih. Dedenya perempuan, Dokter." "Nanti saya minta print fotonya ya dok, mau pamer haha. Lucunyaa... kenapa ya lebih mirip papanya daripada mamanya dok?" Arka bukan main senangnya akan mendapat anak perempuan lagi, dulu Kayla sangat mirip Ayla, mungkin sekarang dia memang harus mirip Arka. "Haha itu memang sudah produknya dari Yang Maha Kuasa dok, bisa jadi nanti keluarnya cowok. Itu banyak sekali terjadi di lingkungan sekitar kita." ucap dokter Aretha. "Oh begitu, tapi memang benar adanya soal kehamilan kosong itu kan? Itu terjadi karena apa?" Sangat sering Arka dengar dari sejumlah pasiennya yang mengalami kehamilan yang tiba-tiba menghilang. "Jangan mengada ya Ar, kamu ini emang parno banget dia dok. Apalagi kalau saya suka aneh-aneh dia yang paling marah sendiri hahaha, contohnya kemarin cuma pengen makan batagor yang di simpang lima arah sekolah SMA, katanya banyak lalat lah itu lah, ya kan nggak dimakan lalatnya...." Ayla menoyor gemas pipi Arka. Sifat higienis yang melekat dijiwa Arka memang kental sekali, Ayla tidak boleh makan sembarangan apalagi jajanan di pinggir jalan. "Cewek di perhatiin itu nggak mau dok, cari aja terus kesalahan cowok. Bisa-bisanya main salahin.." kata Arka. "Ini kayaknya saya juga harus menikah deh, biar ada yang merhatiin. Dokter Arka sama Ayla itu sering diomongin tau sama suster di sini. Apalagi Ayla model kan, jadi banyak fans nya." Dokter Aretha mencetak foto hasil USG Ayla. Dimasukkan ke dalam amplop lalu diberikan kepada Ayla. "Ingat ya Ayla meskipun kandungan kamu sehat, nggak boleh kecapekan. Jalan jauh juga masih belum boleh ya, nanti takut terjadi kelahiran prematur." Ayla hanya menganggukkan kepala. Kemudian duduk dibantu oleh Arka. "Tunggu!" Arka menghentikan gerakan Ayla yang ingin turun dari brankar. Menurut Arka, brankar ini terlalu tinggi. Tanpa canggung Arka menggendong Ayla dan mendudukkan Ayla di atas kursi. "Lebay banget deh, gitu doang." Arka berdecak kesal. Diketuknya kepala Aiya dengan buku-buku tangannya. "Ini vitaminnya yang terbaik kan, Dok?" tanya Arka pada Aretha. Aretha menganggukkan kepala pasti. Tentu dia memberikan yang terbaik untuk pasien-pasien nya. "Haha nggak heran kalau kalian banyak fansnya." ucap dokter Aretha. Paras dari seorang memang banyak sekali memikat perempuan, terkadang ada juga pasien yang genit. Padahal tidak sakit, hanya terkilir biasa saja yapi demi melihat wajah tampan rupawan Arka sampai rela mengantri panjang demi bisa dilayani oleh seorang dokter Arka. "Bulan depan tanggal berapa bisa USG lagi dok?" tanya Arka. "Umm.... sekitar tanggal 20 bisa kok, nanti saja masukkan jadwalnya. Biar nggak antri panjang sama yang lain." Aretha menetapkan tanggal. "Boleh juga, mudah-mudahan saya ada di rumah. Jadwal saya padat nggak bisa tidur sama istri haha." Aretha hanya membalas tawa terbahak. Biasanya sisi lain seorang Arka pasti susah di ajak komunikasi. Berbeda saat ada Ayla dia menjadi lembut dan penuh perhatian. Dulu, sebelum Ayla berstatus sebagai istri Arka. Dokter Aretha digadang-gadang sebagai orang terdekat Arka bahkan rumor mengatakan kalau keduanya akan menikah. Semua itu hanya rumor gosip miring semata. "Tapi kalau kebiasaan ngidam Ayla itu memang suka aneh dok, dia maunya bermalam di tempat istirahat saya. Ya kan nggak mungkin, kamarnya sumpek, sempit, ujung-ujungnya pasti saya juga sibuk. Tetap nggak percaya, bisa jelaskan secara face to face sesama perempuan nggak dok? Biar Ayla ini paham." pinta Arka. "Apaan sih, bawa-bawa masalah rumah tangga ke tiang lain. Bikin bete terus deh perasaan!" Ayla berdecak kesal. Paling tidak suka kalau kemanjaannya dibeberkan oleh Arka seperti itu, apalagi di depan dokter Aretha. "Haduh, kalian ini. Gemesin banget deh. Udah mau punya bayi tapi masih gitu. Kalian nikah hampir hampir 10 tahun kan? Tapi masih gemesin kayak pengantin baru." Kata dokter Aretha memuji. Bagaimana tidak, melihat keduanya seperti itu ikut membuat Aretha bahagia. "Dokter aja yang nggak tau gimana Arka. Jahat tau dia, aku ngidam nggak diturutin, pengen makan ini itu nggak dibolehin. Siapa yang nggak kesal coba Dok. Lagian kan kalau ibu hamil itu pasti banyak yang nggak di suka, dia maksa aku makan nasi asal dokter tau. Masuk nggak seberapa keluarnya banyak banget." Lirikan mata Ayla pada Arka begitu tajam. Seakan pulang dari sini dia akan mengomeli Arka habis-habisan. "Wajar dong Ayla. Arka itu nggak mau kamu sakit karena makan sembarangan. Kalau kamu nggak bisa makan nasi, coba biki oatmeal. Enak kok, bisa dibikin bubur, bakwan juga bisa kok dari bahan oatmeal itu. Kasih sayuran, jadi bakal sehat." "Tuh kan? Dengar nggak? Aku nggak sembarangan ngelarang. Kamu minta aku buatin masakkan sehat aku bisa buat, tapi ingat situasi dan kondisi." ucap Arka. "Suaminya yang nggak sabaran, istrinya ngeyel hahaha kalian ya kalau anaknya lahir pasti rame haha." Aretha semakin geli. "Pulang dari sini aku buatin makanan sehat. Mau nggak? Biar anak kita pintar, cantik, kulitnya bersih, rambutnya hitam lebat. Cantiknya kaya kamu, emang kamu mau anak kita jadi b***k?" Begitu yang Arka katakan. Dibelainya puncak kepala Ayla mesra. "Kamu doain anak aku b***k? Nggak ada, enak aja kamu. Ini anak aku, harus mirip aku lah. Nggak bakal mirip kamu." "Tapi tadi hidungnya mirip Arka loh." Kali ini Aretha ikut menggoda. "Kalau kita itu lagi benci banget sama suami, pasti seratus persen wajah anak bakal mirip suaminya." "Jangan belain Arka, dong Dok. Nggak pokoknya, aku hamil sendiri." Arka hanya tertawa geli melihat Ayla yang merasa terpojokkan. "Haha, yaudah dok. Saya permisi dulu." "Mau istirahat dulu atau langsung pulang?" tanya Arka. Ayla tidak menjawab apa-apa. Dia berjalan lebih dulu dari Arka dengan langkah cepat. Arka yang melihat menjadi khawatir jika Ayla sampai jatuh atau terpeleset karena ubin yang licin habis dipel. "Bikin bete mulu, kenapa sih. Cowok itu hobinya bikin anak orang bete!" Dari arah berlawanan ada petugas kebersihan membersihkan lantai. Saat itu juga Arka dengan sigap menghalau Ayla untuk tidak berjalan mendekat lantai basah. "AYLA! AWAS!" Arka membanting tubuhnya untuk menghindari Ayla jatuh ke ubin yang basah. Mereka jatuh bertepatan Ayla yang menjatuhkan tubuhnya diatas badan Arka. "Aahrg!" Arka memekik kesakitan, area pinggangnya terasa ngilu dan sangat sakit. "Ma...maaf Dokter, saya nggak sengaja. Ini sudah saya beri tanda di sini, tapi ada yang mengambil... maaf dok, saya minta maaf." Office boy merasa bersalah dengan kejadian ini. Beruntung Ayla tidak apa-apa, karena tidak ada benturan apa pun dibagian perut maupun pinggul. "Arka, sakit ya? Aduh..." Ayla langsung berdiri dari tubuh Arka dibantu oleh Official Boy tersebut. "Kamu sih, salah kamu ini! Sakit kan jadinya!" Ayla tetap mengomel membantu Arka untuk segera berdiri. "Aah! Sakit pinggangnya.... aduuhh! Makasih, Mas, lain kali jangan begini. Ini bahaya loh." Arka merasakan nyeri teramat sangat. "Maaf dok, saya minta maaf mbak. Saya salah tolong maafin saya.." masih memohon ampun pada Arka. Arka hanya mengangguk dan meringis kesakitan. Padahal satu jam lagi ada jadwal operasi pasien darurat. "Sshh.. uuhh.... sakit banget ini." Bersandar di tepi tembok sisi kiri koridor. "Nggak kasian? Lagi sakit pinggang begini kamu sempat marahin aku? Sshh aduuhh..." "Masa gitu doang sakit, sih. Kamu kali yang lebay. Ayla ikut duduk di atas lantai. "Aduh susah banget lagi duduknya. Mana yang sakit, coba aku liat sini." Kata Ayla, dia mengangkat bahu Arka dibagian belakang, memperlihatkan punggung yang sedikit memar karena benturan. "Ini karena terbentur nih. Makanya jadi kayak gini." Ayla mengusap punggung Arka yang memar. "Sakit gak?" "Sakit banget pinggangnya, mana ada aku pura-pura kesakitan. Mana satu jam lagi aku harus operasi pasien, nggak mungkin aku begini." Susah sekali untuk berdiri tegak, sepertinya harus di urut kalau memang harus cepat pulih. "Buat jalan aja sakit banget pinggangnya. Kalau memar nggak apa-apa, ini pinggang yang sakit." "Ya terus gimana? Aku nggak bisa urut kalau udah begini. Kita harus gimana?" tanya Ayla bingung. Saat itu ada seorang bapak-bapak melewati mereka sambil membawa bingkisan. Sepertinya akan menjenguk seseorang yang di rawat di rumah sakit ini. Melihat Arka dan Ayla dia pun langsung menghampiri keduanya "Permisi, maaf ini kenapa? Sepertinya dokter keliatan sedang kesakitan?" "Sshh sakit pinggang pak, tadi istri saya hampir jatuh. Syukurnya nggak apa-apa, cuma pinggang saya yang sakit. Sebentar lagi harus operasi pasien saya." Sang bapak paruh baya ini kelihatan seperti paham masalah urat per uratan. "Saya tolong ya dok, saya bisa urut syaraf kejepit." Tawar si bapak. Arka sempat terkejut. Mau menolak tapi situasi sedang begini adanya. Tidak mungkin dia harus berjongkok seperti ini. "Sshh... iya pak. Boleh deh, daripada saya harus begini terus. Makin sakit pinggangnya. Langsung ke ruangan saya aja ya pak." "Tahan sebentar, ya." Katanya. Pria paruh baya itu berjongkok dan meraba tulang rusuk Arka. Perlahan gerakan tangan itu beralih pada punggungnya. Terlihat sangat pelan sekali gerakan tangannya, namun tukang Arka seperti dikretek hingga menimbulkan bunyi. "Oh ini emang ketarik, Dok. Tahan ya. Ini memang agak sedikit sakit." Arka yang mendapatkan sentuhan seperti itu langsung memekik kesakitan. Ayla ikut meringis melihat suaminya diperlakukan seperti itu "Pak, aman nggak sih suami saya kesakitan loh." "Aman, Mbak. Tenang aja," tangan Arka ditarik ke belakang, saat itu juga rasanya sangat sakit luar biasa "Nah, Sudah. Coba dokter berdiri. Kasih tau saya di mana yang masih sakit." "Aahggr! Aduuhh! Sakit pak." Arka hampir menangis karena sakit yang lumayan ngilu. "Ini mah saya biasa tangani Dok. Kalau mau pijat hubungi saya aja ya, nanti nggak sakit kok. Enaknya di urut satu badan biar rileks tubuhnya." "Iya pak.... nanti saya minta nomornya ya... ssshhh udah ini agak mendingan kok." Arka terasa ingin terkencing-kencing karena otot tertarik. 'Gue yang ahlinya tulang aja nggak bisa urut-mengurut orang. Ini enak juga rasanya.' Begitu isi hati Arka. Setelah selesai, bapak itu pun langsung kembali pergi. "Hahaha, Kamu lebay banget katanya dokter syaraf tapi kok jerit-jerit begitu pas dibenerin?" "Astaga sakit tau Ay, nggak biasanya aku begini. Masa iya aku harus jongkok mau operasi pasien aku? Apa kata mereka nanti." Arka meminum beberapa butir obat untuk meredakan sakit nyeri. "Kamu nggak apa-apa tungguin aku disini? Lama loh, ini pasien terakhir aku hari ini. Nanti diganti dokter umum yang lainnya." Jelasnya. "Yaa aku tungguin lah, masa kamu usir aku pulang sih? Arkaaaaa, kamu masih mau mancing aku marah? Operasi aja pasien kamu. Aku tungguin di sini." "Yaudah kamu tunggu disini, paling 3 jam atau 4 jam lebih." Katanya. Arka mengganti pakaiannya yang baru. "Iya, aku tungguin di sini. Palingan nanti kalau aku bosen aku live streaming bareng teman aku. Satu projek yang pas photoshot sebelum sama kamu itu." "Nggak, nggak ada. Aku nggak kasih izin." "Ih kenapa nggak ngizinin Kam cuma live doang, nyala netizen aku udah lama juga nggak ada pemotretan dan main sinetron kan. Tau nggak sih komentar di sosial media aku ada yang jelekin kamu loh." Ayla duduk di atas sofa. Ternyata benar kata dokter Aretha kalau terlalu lama berjalan Ayla akan merasakan kram dibagian perutnya. Beruntung hal itu tidak terlalu sakit dia rasakan. "Tuh, aku biasa aja di ruangan kamu. Harusnya kamu izinin aja aku di sini." Ayla mengambil ponsel dari tak miliknya. Mulai membuka sosial media. Selama ini Ayla jarang sekali bikin stori. Beranda pertama yang dia buka adalah postingan Arka yang mengirim hasil USG nya tadi. Ada Vidio sorotan juga, di mana Camera mengarah ke layar tiga dimensi saat dokter menunjukkan wajah anak merka "Balikin hapenya Ay, itu bisa berpengaruh sama anak kita nanti. Bairin orang mau berkata apa, terus kalau mereka hujat aku, tindakan kamu apa? Mereka nggak akan puas sama hal itu." Baginya, kehidupannya adalah privasi. Arka paling tidak suka dengan isu miring tentangnya atau pun Ayla. "Loh ini kan hape aku, Arka. Gimana sih. Liat tuh posting baru kamu, para dokter tuh yang komen. Ada juga fans aku, katanya nggak sabar liat wajah baby kita." Ayla menarik hapenya agar tidak direbut oleh Arka. "Sayang, udah ya. Biar kamu istirahat yang nyaman nggak perlu kamu pikirin sosial media." "Ih nggak mau. Aku mau live nih. Mau ikut nimbrung gak? Kalau enggak aku live sama yang lain nih?" "Yaudah oke ikutan live, masih lama juga kok akunya." Ayla mulai melakukan siaran langsung. Hampir 1M yang ikut bergabung menonton live Instagramnya "Hallo, haaaiii. Iya aku lagi di rumah sakit tempat suami aku kerja." Kaya Ayla menjawab salah satu sapaan yang muncul di layar ponselnya. _Kak suaminya mana, Kak. Dede bayi ya sehat kan kak? Lancar sampai lahiran ya_ Arka muncul tepat dibelakang Ayla, tetapi dia tidak menyadari kalau sedang tersorot kamera. Arka membelakangi Ayla yang sedang live, sedangkan Arka berganti pakaian hingga memperlihatkan otot kekar di punggungnya. _itu suami kakak ya? Ya ampun seksi bangeeett_ "Eh nggak boleh liat ya." Ayla kemudian mengalihkan Camera hingga hanya memperhatikan dirinya saja. "Iya, dia mau operasi, aku tungguin deh. Semoga operasi pasien dia lancar ya...." _Kak spil dedenya dong, cowo apa cewek_ "Emmm kalau itu masih rahasia ya, mau cewek mau cowok sama aja." "Yang, cap bajunya tolong copotin yang dibelakang." Memakai baju hijau khas dokter bedah, membuat aura tampan Arka semakin terpancar. _Nama IGnya apa kak suami kaka?_ _cakep banget kak ?_ "Ada, di bio kan udah aku tulis aku nikah sama siapa. Gih liat." Ayla berdiri kemudian memasangkan Cap yang Arka suruh. Terlihat sangat serasi sekali. Meskipun sedang hamil, tapi terlihat sangat cantik dan tubuhnya masih terjaga. "Copot aja, soalnya sering lupa di lepas. Malu-maluin emang, kamu masih live?" Begitu berbalik badan melihat kamera, lambaian tangan dari Arka menjadi moment tersendiri bagi fans Ayla. "Aku masih live. Udah nggak usah ikut, sana!" Ayla mendorong Arka agar tidak terekam Camera. "Eh kalian mau aku live sama Arga gak?" Lirikan mata Ayla seakan menggoda Arka _mauuu kak mauuu_ _ganteng banget suaminyaa_ _ngefans deh_ Begitu isi komentar mereka. "Itu banyak yang mau live, emang sih kamu itu pelit banget. Aku jarang loh numpang eksis begini." "Ya habis kamu mau ngomong apa emangnya? Hape kamu mana?" "Ada, aku cas. Emangnya nggak boleh sama istri aku live?" Arka duduk di samping Ayla, dengan mesrahnya mencium pipi Ayla di depan kamera. _Astaga, ada tike ke mars nggak sih? Bosen gue hidup ngontrak di bumi_ _ayok Pindak ke mars, bumi makin hari makin gerah_ _Main cium-cium aja, sopan kah begitu depan jomblo _ Begitulah komentar netizen selanjutnya. "Arka, katanya mau pindah ke mars, hahaha." "Haha, ke mars pakai ojek online seru kayanya. Eh, jenis kelamin anak saya masih rahasia. Biar dia menemukan dunianya sendiri, jadi sejak dini nggak ada sosial media." "Eh nggak ada, pokoknya nanti anak aku harus punya akun i********:, kalian nanti follow ya aku baby nya." "Nggak, nggak ada. Itu bisa berpengaruh untuk anak-anak loh. Apalagi maish kecil, kamu mau jadi korban penculikan bayi? Ada loh kasusnya." "Ih sayang, nggak bakal. Artis lain pada bikin buat anaknya aman kok. Lagian kan yang pegang aku. Dia juga nanti kita. Ah kamu nggak seru deh, bikin aku naik darah terus. Kan yang hamil aku," _Ih kak, bikin aja akunnya kita kan pengen liat babynya_ "Iya ih nggak tau ini suami aku itu kudet banget. Sebel tau." "Iya deh iya... apa aja yang penting emaknya senang dan bahagia." _Ngalah aja, Dokter. Istrinya susah lahiran soalnya. Jadi Kaun suami ngalah._ Komentar kembali muncul di layar ponsel Ayla "Yang, aku mau kerja dulu. Kalau ada apa-apa kamu tinggal pesan makanan lewat ibu kantin. Pakai telepon nirkabel di meja aja." "Oke oke..." Ayla kembali fokus pada ponselnya. "Kalian apa kabar? Baik? Emm udahan dulu ya, tiba-tiba aku ngantuk banget. Babay...." Ayla mengakhiri live pada instagramnya. "Tidur ah, capek banget." Ayla masuk ke dalam ruangan istirahat Arka. Lumayan untuk membaringkan tubuhnya. Kali ini dia akan tidur di sini sambil menunggu Arka. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD