"Sayaangg...." Alan mendapati Hana sedang memasak di dapur. Aromanya sampai membuat rasa laparnya menjalar.
Tangannya melingkar mesra di pinggang Hana.
"Sayang aku lagi masak, bisa lepas dulu nggak?" Hana melangkah ke samping mengambil garam yang ada di lemari gantung tepat di atas kepalanya.
"Lepas dong, aku susah geraknya." Namun Alan tidak mendengarkan, dia malah menciumi tengkuk Hana yang wangi sekali.
"Alan, aku lagi masak. Kita butuh makanan. Kalau enggak lemas. Kamu mau nggak aku kasih sebulan"
"Ck! Apaan sih, kan cuma liatin kamu masak aja. Emang nggak boleh?"
"Awsshhh!" Tanpa sengaja jemari Hana terkena minyak goreng karena Alan tetap memeluknya seperti itu
"Tuhkan kena, kamu sih!"
Aroma tubuh Hana yang membuat Alan semakin tidak ingin melepas pelukannya.
"Yaudah masak aja, kan aku temani kamu. Emang nggak boleh?"
"Nggak boleh, Alan. Atau kamu aja nih yang masak, tadi aku cuma makan sedikit tuh."
"Nggak, kamu aja yang masak."
Alan semakin tidak mau melepas dari tubuh Hana. Tetap saja dia memeluk Hana erat
Hana mematikan kompor, membalikkan tubuhnya. Sepertinya Alan memang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Saat membalikan tubuh,
"Kita makan dulu Alan, please. Aku udah lemes, kalau nggak makan aku mati loh nanti."
"Aku suapin makannya,"
"Alan, ayolah. Masa makan sambil gini, nggak bisa dong Alan. Udah, aku mau makan habis itu mau nonton." Hana berusaha melepaskan pelukan Alan
"Udah suami istri tapi panggilnya Alan terus Alan terus Alan lagi Alan lagi! Gitu aja! Yang lain panggilnya suamiku, sayang, darling. Istri aku sendiri nggak kaya gitu." Alan beranjak dari duduknya, Hana juga sudah tidak duduk di pangkuan Alan lagi.
"Yaudah, aku panggil pak aja ya, biar romantis."
Alan tidak merespon ucapan Hana, dia langsung pergi untuk mandi.
"Ihhh sayang, buka dong pintunya. Kalau kamu nggak mau yaudah, kamu aku usir dari sini."
"Siapa suruh panggil Alan terus ha?! Gosip di luar beredar kalau kamu perempuan simpanan dari seorang Alan Pradikta."
"Yaa gimana lagi, kan kata kamu emang mereka suka bawa berita nggak benar."
"Mesra sedikit dong sama aku! Nggak mungkin selalu panggil nama di acara penting lainnya kan?"
"Iya, sayang. Iyaaa. Masih kurang mesra apa sih aku sama kamu,"
***
Ayla berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa rantang yang berisikan makanan untuk Arka.
Sesekali dia mengobrol sambil mengelus perutnya.
Sesampainya di depan pintu ruangan Arka, Ayla lantas masuk begitu saja.
"Arka?"
Arka memberi kode pada istrinya untu menunggu sebentar, karena masih ada pasien kontrol bulanan.
"Istri dokter ya?" ucap laki-lai paruh baya yang tengah berbaring dengan kaki di perban sebelah kanannya.
"Iya istri saya, memang saya larang untuk sering datang ke rumah sakit. Karena kita nggak tau imuni orang seperti apa." jelas Arka.
"Ini nanti obatnya bisa ditebus ke apotik rumah sakit. Saya beri jadwal kontrolnya lagi 2 minggu setelah kontrol hari ini ya." Sembari menulis resep obat yang akan ditebus.
Beruntung, ini pasien terakhir yang Arka tangani selebihnya hanya jadwal operasi kecil saja.
Ayla kembali keluar setelah menangkap kode dari Arka. Duduk di luar sambil menunggu Arka selesai.
"Sayang, bentar lagi papa kamu ulang tahun, kita kerjain papa kamu yuk." Bisik Ayla pada bayi yang ada di dalam perutnya. Ayla sempat kaget saat mendapat respon tendangan keras dari bayinya.
"Ahh, kamu setuju. Okey, kita kan jarang tuh bikin papa kamu panik, mama ada ide. Pokoknya nanti kita bikin papa kamu itu panik sampai nangis, oke. Mama suka aja gitu liat papa kamu nangis, gemes soalnya."
Setelah pasien terakhir keluar dari ruangan, begitu juga Arka yang langsung di sambut Ayla.
"Hai, lama nggak nunggunya? Udah hubungi dokter Aretha belum?"
Arka duduk di sebelah kanan Ayla. Hari ini banyak pasien yang harus ditangani Arka. Beruntung sudah selesai lebih awal.
"Bawa apa ini?"
Menerka barang bawaan yang Ayla bawa. Beberapa pasang mata melihat manisnya perlakuan Arka pada istrinya.
Arka memang terkenal dokter yang jutek dan dikenal tegas tiada ampun.
"Aku udah hubungin dokter Aretha. Palingan sebentar lagi jadwal aku. Eh kamu tau nggak sih aku dapat surat kiriman tadi dari orang yang nggak dikenal. Isinya aneh banget tau."
Ayla memberikan sehelai kertas pada Arka. Tidak ada nama pengirim sama sekali.
"Masa dia bilang kalau aku itu hamil anak kembar dan keguguran salah satunya. Yang bener aja, masa bisa gitu. Nggak mungkinlah. Lagian dokter Aretha juga gak bilang apa-apa kan pas aku jatuh waktu itu gara-gara kamu." Ayla menggelengkan kepala, menganggap bahwa surat kiriman itu hanya teror dari orang iseng.
"Bukan cuma itu, dia kirim boneka bayi yang ada berlumuran darah. Dan bilang bayi yang aku kandung akan bernasib sama. Aneh banget, kan."
Ayla yang sempat memfoto kiriman itu memperlihatkan kepada Arka.
"Sebenarnya siapa sih? Aku cek CCTV tapi nggak keliatan orangnya."
Arka berkerut kening, menatap kotak berwarna hitam berpita pink.
"Kamu temuin ini dimana? Nggak kamu buka-buka atau sentuh dalamnya kan?"
'Apa ini Dinda?' Katanya dalam hati.
"Kenapa nggak langsung kamu buang aja sih? Aku takutnya orang guna-guna kamu atau mau kirim santet sejenisnya, itu yang buat ahli medis b**o sedunia."
Arka juga melihat isi video CCTV yang terhubung ke ponsel Ayla dan miliknya.
Dalam video tersebut hanya menampilkan sosok seseorang memakai baju serba hitam dan topi hitam, tidak lupa kaca mata hitam. Orang itu benar-benar menyamar hingga tidak dikenali.
"Ih masa kirim santet sih." Ayla bergidik ngeri.
"Kalau bayi kita nanti beneran di bunuh gimana? Aku nggak mau kehilangan anak lagi. Ini aja ngejaganya udah eksra banget." Kata Ayla khawatir.
"Sebenarnya aku udah mau lupain, tapi ini susah banget. Aku kepikiran terus. Apalagi kamu kerja di rumah sakit terus karna belum ada dokter lain kan."
"Yaudah ini biar aku yang cari tahu, aku ada kenalan ahli IT tentanga dunia video grafi, mungkin bisa menemukan titik terang soal videonya. Tapi kamu selama di rumah selalu ngerasa hal aneh nggak?"
Arka semakin penasaran siapa pengirim kotak ini. Jelas membuat takut Ayla, karena bagaimana pun Arka tidak ada di rumah.
"Atau kamu mau tambah asisten rumah lagi? Biar di rumah ada temannya. Aku nggak mungkin selalu bawa kamu ke rumah sakit, ini terlalu berisiko. Aku kerja penuh waktu dan banyak bahan kimia obat-obatan juga, itu bahaya buat kamu."
Bisa-bisa Arka berpikir kalau ini santet dan sejenis ilmu sihir yang bisa membuat orang lain menderita dan terasa ingin menyakiti diri sendiri.
"Arka, aku maunya itu ikut kamu. Aku nggak mau di rumah. Aku nggak nyaman. Kalau kamu nggak bisa bawa aku, aku bakal pergi ninggalin kamu. Pokoknya aku jamin kamu nggak bakal bisa nemuin aku." Ayla melipat kedua tangan di atas d**a. Bibirnya memorot karena kesal
"Yaudah, sini kamu ikut ke ruangan aku. Kamu nilai sendiri seberapa kuatnya bau obat-obatan didalam."
Arka beranjak menggandeng Ayla untuk masuk keruangannya. Memang baunya super sekali menyengat, bahkan Arka saja harus memakai masker hidung, baju khusus.
"Gimana? Menurut kamu, aku bohong nggak?"
Saat memasuki ruangan Arka baunya sangat menusuk hidung.
"Kamar kamu mana, kan ada." Ayla menutup hidungnya.
"Gini aja, gimana kalau sementara aku pergi dulu?"
Ayla memainkan alisnya. Menunggu jawaban dari Arka
"Nggak ada! Pokoknya kalau kamu nggak nurut sama aku, aku nggak mau turuti keinginan kamu! Ini nggak bisa main-main Ay. Anak kita yang nantinya kenapa-napa, kamu mau?! Memang disini ada kamar, itu nggak seluas kamar di rumah. Tolong dong jangam persulit aku."
Arka semakin pusing mengenai Ayla yang selalu ingin ikut bertugas.
"Yaudah, terserah kamu. Maaf kalau aku itu emang suka ngerepotin dan selalu ngeyel. Nggak ada kok ibu yang mau anaknya kenapa-kenapa." Ayla memberikan rantang yang dia bawa.
"Itu makan siang kamu." Ayla mengembuskan napas, kemudian berdiri.
"Aku mau cake up dulu." Ayla melangkah pergi. Bentakan Arka tadi malah membuat hatinya sedih. Seorang perempuan hamil memang sangat sensitif apalagi jika dibentak suaminya.
Bukan karena lebay, tapi memang ini yang Ayla rasakan. Setiap kali Arka berbicara dengan nada tinggi, dia selalu ingat bagaimana hubungannya yang tak harmonis dulu bersama Arka.
"Ay..." Arka menahan lengan Ayla.
"Bukan begitu maksud aku. Ini demi kebaikan kamu, kebaikan anak kita. Semuanya aku lakukan biar kamu nggak begitu suntuk ikut sama aku, kamu tetap ikut aku bertugas itu sama aja, sama bosannya. Aku juga mau berkumpul sama kamu, tidur berdua, makan berdua, tapi itu kembali lagi ke aku Ay. Aku sendiri nggak mau terlalu sibuk seperti ini. Kamu yang sabar, aku berusaha mengajukan untuk merekrut dokter yang ahli dalam satu bidang sama aku. Aku nggak ngerlarang kamu, enggak sama sekali. Ini semuanya benar adanya, ibu hamil seperti kamu memang berisiko untuk berlama-lama di tempat seperti rumah sakit." begitu kata Arka.
Dari hati ke hati mungkin bisa dipahami Ayla. Hanya ada helaan napas dari mulut Ayla.
"Iya, aku ngerti. Aku nggak bakal nuntut kamu yang macam-macam lagi kok. Iya, aku ngerti ini demi kebaikan aku, kan?" Ayla melepaskan pegangan tangan Arka di lengannya.
"Kamu makan aja dulu. Aku udah capek masaknya. Kalau nggak dihabisin aku bakal lebih marah lagi sama kamu." Ayla memandang rantang yang Arka letakkan di kursi tunggu.
"Dokter Aretha telfon aku. Kayaknya ini udah jadwal aku deh."
"Sini biar aku yang jawab."
Arka mengambil alih ponsel milik Ayla.
"Dok, jadwalnya bisa setelah makan siang nggak? Istri saya mau ajak makan siang berdua."
"......"
"Iya terimakasuh dok, nanti saya langsung ke ruangan dokter."
Mengakhiri telepon dari dokter Aretha.
"Mau makan dimana? Dokter bilang boleh setelah makan siang. Mau ke kantin atau ke taman?"
Mood istrinya memang sedang tidak baik. Mungkin begini cara Arka untuk lebih dekat lagi. Mendadak Ayla jadi malas berada di dekat Arka. Dia sendiri juga bingung kenapa bisa seperti ini. Kadang tidak mau ditinggal oleh Arka, kadang juga malas berada di dekat Arka.
"Terserah kamu aja, mau dimana. Kamu aja yang makan. Aku nggak lapar, soalnya tadi aku udah makan buah." Ayla mengambil kembali ponsel yang ada di tangan Arka. Mengambil tisu dari dalam tas, menghapus bekas tangan Arka yang tertinggal di ponselnya.
Melihat itu kening Arka berkerut bingung.
Jangankan Arka, Ayla sendiri saja juga tidak mengerti kenapa dengan dirinya
Tibalah mereka di taman rumah sakit, pohon rindang menghias di taman ini. Penuh bunga hias yang berwarna-warni, air mancur tepat di tengah taman.
Ayla dan Arka memilih duduk dibangku taman, sejenak memandang ramainya pasien yang sedang menghirup udara segar.
"Huummm... enak deh kayanya. Besok masakin lagi ya, biar aku tambah semangat kerjanya." mulut Arka penuh makanan.
"Liat nanti kalau nggak malas, kalau nggak capek, kalau mood baru di bikin. Kalau enggak yaa nggak mau." Ayla yang duduk di samping hanya melihat pasien-pasien yang ada di taman rumah sakit. Mereka keluar untuk menghirup udara segar.
Ada juga ibu hamil yang tengah dipapah berjalan oleh suaminya. Pasti sengaja diajak berjalan keliling taman agar proses kelahiran sang anak lebih mudah.
Ayla pun sama dia tidak ingin dioperasi dan hanya ingin melahirkan secara normal. Apa pun akan dia lakukan agar bisa melahirkan normal.
Sama hal nya kebanyakan di luar negri, para dokter pasti akan lebih mengusahakan agar pasien bisa melahirkan secara normal
'Rupanya masih marah tentang hal tadi.'
Arka sejenak memikirkan kalau dia keterlaluan.
"Ay. Aku minta maaf, aku keterlaluan bilang begitu. Maaf..."
Menyudahi kegiatan makannya.
"Aku begitu protective masalah kehamilan kamu saat ini. Maafin aku.. aku bersalah."
Ayla menirukan gaya bicara Arka sambil memainkan bibirnya. Kalau kesal pasti Ayla akan seperti itu.
'Gitu aja terus, habis bentak-bentak minta maaf, dikira hati istrinya gak sakit apa. Ih awas aja nanti kalau anaknya lahir nggak bakal aku biarin dia deket-deket sama anaknya, awas aja.' kata Ayla di dalam hati
Selanjutnya, menarik tengkuk Ayla agar lebih dengannya. Di siang hari panas terik dibawah pohon rindang, Arka mencium bibir Ayla.
Kedua bola mata Ayla terbuka lebar. Dia melihat Arka sedang memejamkan mata. Selama beberapa detik saja Ayla langsung melepaskannya.
"Arka, kalau ada yang liat gimana, ih."
"Terus? Masalah mereka apa? Kan aku cium bibir istri aku sendiri. Iri? Bilang bos! Jarang juga aku cium istri di tempat umum, mau cium yang lainnya juga? Selain bibir misalnya." kata Arka.
Untungnya tidak ada yang melihat, biasanya siang-siang begini pasti ada saja dokter perempuan muda atau pun suster yang sedang beristirahat pasti menjumpai Arka duduk di taman. Kali ini Arka membawa istri pasti tersedih-sedih melihat ini begitu romantisnya.
"Cuma pohon yang jadi saksi. Nggak bisa bilang enggak."
"Dasar, cowok emang semuanya kayak gitu kali ya. Main nyosor aja."
Ayla mengusap bibirnya, kemudian melirik Arka dengan sinis.
"Udah belum makannya? Aku mau cepat pulang tau, biar nggak di dekat kamu. Liat aja, karena kamu udah bikin aku kesel, kamu nggak boleh tidur di kamar." Lagi-lagi Ayla memorotkan bibir. Tapi entah kenapa ekspresi seperti itu malah membuat Arka gemas sendiri.
Kalau Ayla mengomel seperti ini, artinya dia sudah tidak marah. Arka sudah tahu jika Ayla sama sekali tidak menggubris ucapannya itu adalah level tertinggi kemarahan Ayla.
"Oh iya, aku punya sesuatu. Ada titipan dari pasien kecil aku. Dia buat sendiri, katanya biar dede bayinya selucu adiknya."
Arka merogoh saku celananya, celana hijau yang khas bila sedang membedah.
"Mana sih!" Sibuk merogoh saku, isinya bukan main. s****h kertas, tissue, cemilan cokelat, Arka bukan membuangnya di tempat yang seharusnya, melainkan di simpan dulu dalam saku.
"Manaaaaa.... bentukny kecil lucu."
Begitu semua isi keluar, ada boneka kecil berbentuk bebek kuning berbahan dasar rajutan yang rapih dan sangat halus.
"Ini s****h kenapa banyak banget sih, udah kayak orang gila aja nyimpan s****h dalam saku celana." Ayla melirik boneka bebek yang Arka maksud.
"Itu dibikin sendiri? Pasien kamu yang mana? Terus dia tau dari siapa kalau kamu mau punya bayi?"
"Aku nggak sempat makan, jadi kalau bisa aku bawa cemilan ke kantong. Kalau pun jam operasi berlangsung boro-boro aku makan, minum aja enggak." Arka membereskan sampahnya lalu di buang ke tempat s****h.
"Kamu mau tau kenapa dia bisa tau kalau aku mau punya bayi? Soalnya, aku ceritain semua tentang kamu. Tentang calon anak kita juga, terus dia bilang, dia kangen ibunya dan adiknya, mau tau siapa dia?"
"Siapa?" tanya Ayla, sedikit merasa penasaran.
Dipegangnya boneka rajut yang Arka berikan.
"Dek, kamu dikasih boneka nih. Suka nggak?" Ayla menempelkan boneka mungil itu tepat di atas perutnya. Ayla mengusap perutnya dengan cepat saat merasa ngilu ketika sang bayi menendang kencang. Usia kandungan lima bulan tapi tendangan yang diberikan sang anak sudah cukup kuat. Kadang Ayla sampai kaget dibuatnya.
Tidak hanya itu, sang bayi seakan selalu senang jika diajak bicara.
"Sakit, aku ditendang. Durhaka bayinya."
"Nggak, mamanya yang suka ngeyel nggak dengerin papanya ngomong. Makanya dia tendang."
Tawanya menggundang gelak saat Ayla hanya menekuk bibirnya saja.
"Yaudah, kita mau ke dokter Aretha kan? Bungkus lagi makanannya. Kita USG dulu nanti kita ketemu sama pasien aku."
Arka merapikan makanannya membungkus lagi ke dalam rantang.
"Yuk!" Dengan manisnya Arka menggadeng Ayla. Berjalan menelusuri koridor rumah sakit untuk ke ruangan dokter Aretha.
***
Bersambung