Bab 37

1518 Words
'Alan ada di kantor nggak ya? Atau aku coba masuk aja?' Ucap perempuan bernama Merissa, dia datang dengan beberapa bingkisan makanan di tote bag. Dulu, sering dia lakukan hanya untuk mencari celah berdekatan dengan Alan. Mungkinkah kali ini bisa? "Marissa, kamu kenapa ada di sini?" "Hai Nik! Alan hari ini datang ke kantor nggak? Hhm... kalau ada, aku cuma mau makan siang berdua aja sih." "Enggak, dia nggak datang. Katanya lagi ada acara sama istrinya. Kenapa?" "Nggak ada apa-apa kok, cuma mau kasih makanan kesukaan dia aja. Kalo dia datang ke sini mau kasih dia sesuatu juga." "Gue saranin kamu berhenti deh deketin dia. Gimanapun dia punya istri. Lo nggak bisa terus-terusan kayak gini, dia cinta sama istrinya, jangan bikin dia risih sama Lo, Sa." "Gue tau Niko. Maksud gue di sini baik kok, cuma makan siang biasa." kata Marissa. "Dia kan punya istri yang bisa anterin makanan. Udahlah, jangan ganggu dia lagi. Lo gak capek apa." Marissa kali ini bisa bersabar, tapi rumor mengatkan kalau anak perempuan semata wayang HANS GROUP lagi gencar mendekati Alan. *** Hana dan Alan baru saja keluar dari dalam kamar. Menuju meja makan, dan sama sekali tidak ada yang makan. "Apa nggak ada makanan ya? Aku lapar banget loh, Lan." "Ada, memangnya kamu mau makan apa? Aku buatin, kayanya ini bekas makan tante deh, kebiasaan nggak disisain. Yaudah aku masak dulu deh, yang gampang aja. Aku masakin kamu nasi goreng special pake cinta aja." "Kamu bisa masak? Bakal enak emang?" tanya Hana. Dia duduk di atas kursi. Tubuhnya semua terasa pegal sekali. "Ekhem, cieee yang baru bangun, uhuy abis ngapin tuh...." 'Nggak bisa romantis nih!' Alan bergumam. "Ngapain apanya? Alan sama Hana biasa aja kok, kita nonton film horor semalaman. Sehoror muka kedua tanteku ini." "Horror, oh pasti ada adegan dewasa kan? Udah Tante duga!" Sabrina kembali menggoda, sementara Tasya hanya tertawa terbahak-bahak. "Lan, kita kapan pindah ke rumah aku?!" tanya Hana dengan suara pelan, tidak ada yang mendengar kecuali Alan. "HARI INI AJA! MUAK GUE DI RUMAH!" ucap Alan kesal. Melirik kedua tantenya yang suka sekali menggoda Alan. "Kemasi aja baju kamu, atau nggak pelu bawa deh." sambung Alan dengan nada ketus. "Ehhh, A...Alan? Kamu, kamu marah sama kita? Kita kan cuma becanda." Hana yang mendengar itu mencubit perut Alan dengan keras. "Kok ngomong gitu sih? Aku nggak suka loh Alan." "Emang emak-emak suka banget gibahin orang. Yaudah sih suka-suka Alan." ucap Alan. Dua porsi nasi goreng buatan Alan siap di santap. Menunya cukup simple, hanya ditambah telur ceplok di atas nasi gorengnya sudah sangat lezat. Tasya dan Sabrina pun akhirnya berhenti menggoda keduanya. "Udah, aku mau makan. Lapar banget loh ini." "Biasanya orang yang suka menyindir itu, nggak bisa bersyukur hidupnya. Bilang aja cemburu kan? Kan kita uwu." ucap Alan. Hana hanya menyantap makanan yang dibuat Alan. Enak memang. Tv yang menyala mulai menayangkan berita yang aktual menurut versi mereka "Inilah salah satu foto mesra yang terekam oleh kamera pengintai. Alan Pradikta, seorang putra tunggal dari bapak Mario, pengusaha sukses di Indonesia." Layar tv mulai memperlihatkan foto Alan dan Marissa yang nyaris seperti orang berciuman, padahal posisinya Alan hanya menuip mata Marissa yang terkena debu. "Tidak hanya itu, beberapa waktu ini terdengar kabar bahwa Alan akan dijodohkan dengan putri tunggal Hans dan Jennie. Salah seorang perempuan lulusan asal Rusia. " Kemudian pandangan Hana beralih pada Alan. Tidak ada yang dia ucapkan, tapi Hana langsung beranjak pergi. "Hana, Hana tunggu Hana!" Alan mengejar Hana yang sudah cepat keluar. Sabrina dan Tasya yang mendengarnya merasa sangat aneh. "Fotonya kaya pernah kenal. Bisa-bisa berita kadaluwarsa begini nongol." Sabrina masih menerka berita di layar tivi. Dengan cepat, Alan mencegah Hana yang hendak keluar dari pagar rumah. "Hana! Tunggu! Foto diberita itu udah lama. Jauh sebelum aku mengenal kamu." "Lepas, Alan." Hana menepis tangan Alan yang menggenggam tangannya. "Ternyata kamu itu pembohong! Kamu bilang kamu nggak pernah tertarik sama perempuan, aku udah terima kamu. Tapi ternyata kamu bohongin aku!" Hana merasa sangat sakit hati sekali. Tidak lama setelah itu wartawan mulai berhamburan keluar dari dalam mobil dan menyaksikan pertengkaran Alan dan Hana. "Pak, pak bagaimana dengan foto yang beredar itu? Apakah benar anda menjalin hubungan dengan Marissa? Lantas siapa perempuan ini?" "Ini istri bapak kan? Mbak? Bagaimana tanggapan anda saat tahu suami anda selingkuh?" Pertanyaan pertanyaan itu semakin membuat Hana gerah. Diterobosnya kerumunan para wartawan. Sampai di depan dia langsung menemukan Taxi. Hana tidak mau di sini lagi! "Pak, bagaimana, Pak? Apakah sekarang bapak akan melanjutkan hubungan dengan Marissa?" "Matikan kameranya! Matikan!!" Alan benar-benar sangat emosi dengan paparazi. ""HANA! HANA!" teriakkan Alan tidak sebanding dengan ramainya wartawan. "Pak! Tolong beri penjelasannya." Wartawan masih sangat antusias. "SAYA BILANG MATIKAN KAMERANYA!" hendak Alan memukul salah satu wartawan karena emosi. Dia tidak bisa kehilangan Hana dengan berita bodoh seperti ini. Di dalam mobil Hana menangis sekencangnya. "Dimas, dia nyakitin aku. Dia bohongin aku, Dimas. Dia bohong. Apa takdir aku yang ketemu sama laki-laki b******k terus? Aku pikir dia beda, Dim...." Hana tidak tahu harus bagaimana lagi. "Pak, kita ke jalan Angrek ya pak, nomor 021." "Baik, Mbak." Alan menyusul Hana dengan mengikuti taksi yang di tumpanginya. "Dia nggak jawab telepon dari aku!" Semakin kesal dibuatnya, hari ini memang bukan hari terbaik buat mereka. Sesampainya di rumah, Hana langsung mengunci pintu dengan rapat. Dia tahu Alan pasti akan mengikutinya. Dan sampai kapan pun dia tidak akan membuka pintu untu Alan. Alan berdiri didepan pintu, mondar mandir memanggil nama Hana untuk membukakan pintu. "Hana! Hana buka pintu Hana!" Ketukkan pintu yang kuat tidak dihiraukan oleh Hana. "Pergi, Alan. Jangan pernah datang lagi. Kamu pembohong!" Teriak Hana dari dalam rumah. Padahal semalam semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang justru ternyata ada berita yang menyakitkan. Hati siapa yang tidak sakit melihat berita seperti itu tentang suaminya "Hana aku mohon tolong buka pintunya! Aku bisa jelaskan semuanya! Itu foto sudah lama, sebelum aku mengenal kamu. Hana! Tolong! Buka pintunya!" "Sudah lama? Haha, terus Marissa kenapa masih bisa ada di rumah kamu saat aku ke sana? Sejak awal dia natap kamu beda!" Di luar cuaca yang tadinya mendung kembali menurunkan hujan, mulai gerimis hingga jatuh deras diiringi gemuruh yang besar "Dia pernah menyukaiku, aku bahkan tidak pernah menaruh hari padanya. Aku buka orang yang mudah jatuh cinta Han." Terdengar sambaran petir menggelegar. Sedikit Alan mengingat kejadian tragis yang menimpa sang mama di saat hujan. Hana menutup kupingnya, matanya beralih ke arah jendela. Jujur dia sangat benci sekali hujan apalagi situasi seperti ini, bagaimana dengan Alan yang di luar sana? "Aku nggak percaya!" "Tolong percaya aku!" Alan sedikit gemetar saat petir menyambar. "Alan!" Hana berlari keluar, membuka pintu dan melihat Alan yang berdiri di teras rumahnya. "Alan! Masuk!" "AKU BISA BERTAHAN DI BAWAH HUJAN SAMPAI KAMU BENAR-BENAR PERCAYA SAMA AKU!" "Alan! Aku bilang masuk!" "KAMU PERCAYA KAN?! AKU MAU KAMU LEBIH MEMILIH AKU DARIPADA MEREKA!" "Iyaaaa, Iyaaa! Aku percaya sama kamu! Masuk, Alan! Masuk!" Alan masuk rumah karena suruhan dari Hana. "Itu foto lama, jangan pernah kamu terkecoh berita bodoh itu." "Kamu ganti baju, nanti kamu sakit, Alan. Aku cari handuk dulu." "Kamu belum jawab pertanyaan aku Han! Kamu masih percaya berita itu?!" "Aku percaya sama kamu, udah. Maaf, jangan hujan-hujanan lagi..." Hana masih menangis, tangannya gemetar "Aku harus bagaimana kalau kamu bisa lebih percaya lagi sama aku? Aku berusaha menghindar dari wartawan, memilih biar kamu aman." "Sekarang tinggal di sini. Aku nggak mau balik ke rumah kamu. Kalau kamu nggak bisa kamu boleh tinggalin aku "Oke! Baik, kalau itu yang kamu mau. Aku bisa tinggal di sini sampai maut memisahkan kita." Hana menganggukkan kepala menerima janji Alan. Masih menangis, hanya ingin pelukan dari Alan bahwa benar-benar tidak benar adanya berita itu Dibawanya tubuh Hana kedekapan Alan. "Marissa memang orang pertama yang nggak suka lihat aku menikah dengan kamu. Sisi lainnya, dia bisa memutar balik fakta. Contohnya berita ini." "Tapi kenapa kamu biarin dia tetap dekat sama keluarga kamu, Alan. Kenapa?" "Aku butuh penjelas dari papa soal itu. Kenapa dia selalu berkeliaran di kehidupan aku." "Apa kamu nggak bisa tegas? Suruh dia pergi, aku udah hilangin Dimas di hati aku, kenapa kamu nggak bisa keras sama dia?" "Aku udah lakukan berbagai cara, sampai aku menikah sama kamu. Dia terus datang, aku nggak paham apa mau dia." "Kita cerai aja," "Nggak! Nggak akan aku bercerai dari kamu Han!" Alan semakin menggila, emosinya memuncak, dia menjatuhkan tubuhnya sambil memikul lantai dengan kepalan tangan, dia juga menangis di depan Hana. Hana menitikkan air mata. Bingung dengan Alan yang seperti itu. Tak ingin Alan melakukan hal aneh. Hana memeluk tuh Alan. "Aku nggak bakal cerai kalau Marissa nggak usik kamu lagi." "Aku bisa membunuh tanpa menyentuh! Kalau kamu mau dia pergi dari hidup aku!" "Alan, apa maksud kamu? Kamu jangan aneh-aneh. Sekarang ganti baju kamu. Aku nggak mau kamu sakit." "Kamu takut? Aku bisa bunuh dia! Aku akan lakukan apa pun asal aku tetap bisa sama kamu. Jika Marisa parasit, besok aku pastikan dia udah nggak ada di bumi ini" Hana terkejut dan takut mendengar perkataan Alan. "Aku nggak mau kamu masuk penjara, Alan. Sekarang kamu ganti baju kamu!" Hana berlalu menuju kamar, mengambil handuk untuk Alan. Alan tidak peduli, dia terus mengekori Hana hingga sampai di kamar. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD