Aah! Segarnyaaaa..." Alan keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk menutup pinggang hingga betis saja.
"Kamu udah selesai mandinya?"
Satu tatapan mata tertuju pada Hana. Alan hanya terpaku diam melihat lekuk tubuh Hana, bukan main keindahan seorang wanita.
"Uuu... udah.. udah kok... kaa.. kamu nggak... mandi?"
"Nggak, kan kamu duluan yang mandi. Ini siapa yang beli bajunya? Bagus gak?"
'Astaga, sejauh ini iman gue kalah.'
Alan bergumam.
Ingin rasanya, menyingkirkan pakaian yang melekat di tubuh Hana.
"Nggak cocok ya sama aku? Yaudah, aku nggak usah pakai kali ya?"
Alan meraih lengan Hana.
"Jangan! Nggak usah, kamu sama cantik pakai baju apapun. Di sini cuma aku yang lihat kan?"
"Iya, cuma kamu. Kan nggak ada siapa-siapa. Palingan yang liat aku juga cuma asisten rumah kan, pas perawatan."
"Astagaaa.... ck! Terus kenapa aku nggak boleh lihat?"
"Kan kemarin situasinya nggak tepat. Habis dari Villa kita kan di rumah sakit. Baru bisa sekarang."
Selangkah lebih dekat dengan Hana.
"Haruskah kita coba malam ini?"
"Eemmhhh, Tapi, kalau ada yang nguping gimana?"
"Kita bisa tanpa suara, lagi pula kamar ini cukup kedap suara."
"Boleh, maaf ya kalau aku kasih hak kamu terlalu lama."
Jarak antara keduany sangat tidak ada celah, hingga tubuh Hana terdorong oleh Alan membuat Hana terhempas di ranjang.
"Sejak kapan kamu jadi suka menggoda aku begini?"
Hana memeluk Alan.
"Bekas jambakan orang waktu itu masih suka sakit kalau aku sisir rambut." Kata Hana dengan suara manja.
"Mau perawatan rambut juga? Aku bisa datangkan ahlinya ke rumah."
"Ihhh bukan." Hana memorotkan bibirnya, padahal cukup dielus saj oleh Alan, tapi ternyata Alan tidak peka.
Diusapnya rambut Hana dengan lembut.
"Iyaa... nanti kita perawatan berdua. Besok pagi kita keramas."
Alan menggendong Hana, dibawanya sang istri ke atas kasur dan dibaringkannya tubuh Hana.
"Alan...."
"Kenapa? Apa aku belum dapat izin dari kamu?"
"Bukan, kamu, kamu pegang tangan aku yang sakit." Mata Hana beralih menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Alan. Masih terasa perih jika dipegang seperti itu
"Ehh... maaf, aku nggak sengaja. Sakit ya? Yaudah... ini kita tunda aja ya. Bisa kapan-kapan aku minta dari kamu." Alan mengurungkan niatnya untuk meminta hak dari Hana. Membungkus tubuh istrinya dengan selimut.
"Nggak apa-apa." Hana menarik tangan Alan.
"Kamu kan nggak sengaja, nggak perlu ditunda. Aku pengen jadi istri yang baik buat kamu."
"Kamu kan belum sembuh tangannya, kalau sekarang jadi susah gerak kan?"
"Iya, tapi tadi itu kamu pegangannya kuat, makanya perih. Tapi kalau buat b***k nggak sakit, kok."
Alan melanjutkan hasratnya sebegai seorang suami, di suasana malam yang hujan deras mengiringi mereka melaksanakan kewajiban.
***
Hana dan Alan masih tertidur di satu selimut yang sama. Hujan semalam ternyata berlanjut hingga pagi. Sebenarnya Hana sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu, tapi dia memilih diam dan tetap dalam dekapan Alan.
Pandangan yang pertama kali dia lihat adalah d**a kekar milik Alan.
"Hmmmmm..... pagi istrikuu...." mata Alan yang masih terpejam, hembusan napas Hana menderu di dekat dadanya..
"Pagi... Ini jam berapa ya? Kita kayaknya kesiangan bangun deh."
"Yaudah nggak apa-apa. Kan rumah ada yang urus, kamu di sini istrinya tuan muda di rumah ini. Jadi jangan di ambil pusing."
"Iya sih, tapi aku nggak enak sama papa. Mau bangun malas banget aku tuh, pengennya rebahan aja."
"Biasanya pengantin baru memang nggak mau pisah dari tempat tidurnya."
"Kenapa emangnya? Kok bisa gitu?" Hana melepaskan dekapan Alan. Menarik selimut hingga leher, kini dia bersandar di kepala ranjang. Hal itu diikuti oleh Alan.
"Kenapa di tutupin? Nggak usah malu-malu, kan cuma aku yang lihat."
"Ihhh apa sih, dasar. m***m!" Hana mendorong pipi Alan. Memangnya semalam dia belum puas? Padahal Hana sudah memberikan semuanya, semuanya!
"Sekali lagi yuk? Masih pagi, suasana juga masih bagus. Satu jam ajaa...." rengek Alan 'memintanya' lagi
"Sekarang? Emang semalam kamu belum puas?" Hana menggeser tubuhnya, memeluk Alan dari balik selimut.
"Enggak, siapa yang nggak puas? Istrinya cantik bukan kaleng-kaleng." bisik Alan di telinga Hana.
"Jadi mau lagi?" Hana tertawa pelan sambil mengusap pipi Alan.
"Maauuu dooonggg...." ucap Alan semangat.
Hana pun memeluk Alan. Mana mungkin dia menolak permintaan Alan, sebagai seorang istri yang baik pasti akan memenuhi apapun keinginan suaminya.
Jarak mereka sangat intim.
"Kamu hari ini nggak kerja emangnya?"
"Aku bosnya, jadi suka-suka aku mau masuk atau nggak."
"Dasar sombong."
"Bukan sombong sayangku, kan emang gitu adanya."
"Yayaya, eh aku mau cerita sesuatu."
"Sesuatu? Bukan hal tentang pacar kamu kan?"
"Bukan, ini nggak ada hubungannya sama Dimas. Aku udah janji buat kubur dia dan nggak akan bahas dia lagi, kan? Ini tentang kecil kita. Aku udah bisa ingat."
"Benar kamu udah ingat? Coba ceritain tentang aku saat kecil."
"Iya, aku ingat. Waktu kita pancing di sungai, kamu dapat ikannya. Terus pas coba lepasin ikan dari mata pancingnya, tangan kamu kena duri ikan. Akhirnya karena kamu kesal kamu buang lagi ikannya ke sungai."
"Hahaha terus? Kalau nggak salah kamu takut cacing kan? Taunya cuma makan ikannya aja, nggak mau tuh mancing."
"Ya habis aku kesel. Mancingnya lama banget, ikannya nggak nongol-nongol. Coba aja kalau ikannya itu langsung makan umpannya, pasti aku nangis lah mancingnya." Kata Hana dengan wajah jengkelnya. Tubuhnya masih didekap hangat oleh Alan. Sekarang Hana yakin, tidak akan sulit lagi untuk mencintai Alan sepenuhnya, karena dia pun sudah mengingat masa kecilnya bersama Alan dulu. Meski pun hanya beberapa saat saja.
***
"Selamat pagi menjelang siang, mohon maaf untu meeting kali ini saya yang menjadi perwakilan Pak Alan. Untuk proyek terbaru kita, pak Alan membatalkan proyek kerjasama dengan Rusia."
"Kenapa bisa dibatalkan, Pak?"
Ruang meeting yang biasanya selalu tegang dengan hadirnya Alan, kali ini sunyi senyap tidak ada gebrakkan dari sang direktur.
"Itu... saya kurang tahu kenapa, tapi beliau berpesan agar bisa di selesaikan setelah jam makan siang. Nanti kumpulkan filenya ke emailnya langsung." kata Niko sekertaris Akan.
"Baik, Pak. Semua berkas akan kami selesaikan sesegera mungkin. Nanti siang akan kamu kirim ke Pak Alan."
mereka semua pun lantas melaksanakan tugas dan menyiapkan berkas-berkas penting yang akan segera dikirim ke atasan mereka. semua karyawan sangat disiplin, apalagi mereka sangat paham bagaimana watak Alan yang sangat keras dan tidak menerima alasan apapun jika berkas penting yang dia minta tidak selesai di jam yang sudah ditentukan. jadi mereka semua sudah paham dan tidak mungkin melanggar apa yang sudah di tetapkan oleh Alan.
Alan memang berbeda saat berhadapan dengan orang lain dan berhadapan dengan Hana. jika bersama Hana, Alan akan benar-benar lembut dan tidak bisa berkata kasar, sebab dia benar-benar sangat mencintai Hana. mungkin Hana adalah satu-satunya perempuan beruntung yang bisa menaklukkan hati Alan.
***
Bersambung
***