Tiba di rumah, raut wajah Alan semakin tidak bersahabat. Masuk ke dalam kamar, membuat Hana terheran.
"Siapapun yang ketuk pintu kamar, jangan kamu buka. Siapapun itu."
Kening Hana berkerut bingung, dia yang sedang tertidur di atas ranjang pun memilih bangun.
"Kamu kenapa? Kalau tante Tasya atau tante Sabrina gimana?"
"Sebentar lagi ada client dari Rusia, dia mau makan malam di sini."
Alan menekan bel untuk memanggil asisten pribadinya untuk mendandani Hana.
"Permisi tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya asisten rumah Alan.
Hana tidak merespon apa-apa, eskpresi nya masih bingung karena tingkah Alan.
"Tolong bantu make up istri saya, nanti akan ada tamu datang ke rumah. Usahakan dia tampil elegan dan glamour."
"Ohhh, baik Tuan. Saya akan bikin nona Hana cantik malam ini."
Dua Asisten rumah Alan pun langsung membawa Hana turun dari tempat tidur. Memilihkan baju yang terbaik untuk Hana.
"Tuan mau tunggu di sini? Atau di luar?"
"Saya di luar, sesuaikan warna bajunya dengan warna kulitnya."
"Kalau orang putih pasti cocok semua warna Tuan. Hehe, non Hana kan cantik." Pujinya dengan gemas.
"Nanti kalau punya anak, pasti nggak akan gagal, secara serbuk berlian. Mama cantik papa ganteng, ah pokoknya pasti nggak akan gagal."
***
Semuanya sudah ada di ruang makan, Hana sudah mengenakan dres berwana creame sepaha, berlapiskan burkat dengan model elegan. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Tidak lupa dengan rambut digerai yang sudah dibentuk spiral.
Tidak lama setelah itu kedatangan tamu yang Alan masuk sudah ada di depan matanya. Hana memegang kepala yang terasa nyeri saat melihat perempuan paruh baya itu.
"Hallo Alan, nah ini nih anak Tante yang Tante bilang, Sisilia. Cantik, kan?"
Tidak terlepas dari tangan Alan yang terus menggandeng tangan Hana. Dia bahkan tidak peduli apa yang Jennie katakan.
"Lebih cantik istri saya. Terimakasih sudah datang."
Alan duduk bersebelahan dengan Hana.
"Kamu baik?" bisiknya di telinga Hana.
"Alan, Alan, aku nggak mau disini!" Hana berubah drastis, seperti orang ketakutan saat menatap Jennie.
Sekelebat bayangan yang Hana alami muncul seketika. Yaa, Hana tau siapa dia, dia adalah Jennie, tantenya yang dulu sangat jahat. Seseorang yang sering kali melakukan p********n fisik padanya, perempuan yang menyebabkan dia jatuh dari Rooftop rumahnya hingga mengalami cidera di kepalanya
"Mmh.. maaf. Saya ada keperluan mendadak, bisa saya tinggal? Ada acara pentung di luar, jadi tidak mungkin untuk terlambat." kata Alan beralasan.
Sisilia yang sejak awal sudah kagum pada Alan mendadak mengubah air mukanya.
"Alan, bukankah kita bisa makan di sini?" tanya Sisilia basa-basi.
Tidak lama setelah itu Hana histeris, ruangan mendadak menjadi ricuh. Sabrina dan Tasya ikut bingung, kenapa tiba-tiba Hana seperti itu.
Tidak hanya mereka, Mario pun tak kalah kaget. Jennie yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatap tajam pada Hana.
"Istri kamu gila?"
Alan mendekap Hana menyembunyikan kepala di dadanya.
"KELUAR! SAYA KATAKAN KELUAR!" kata Alan dengan nada tinggi
"Tidak menyangka, ternyata menantu pengusaha terkenal itu gila. Bisa-bisanya anak tunggalnya menikah dengan perempuan gila. Lihat saya ketakutan, memangnya saya setan?" Kata Jennie berapi-api. Merasa tidak terima diusir seperti itu
"Kalian mengusir kami? Ternyata benar, tidak ada etika orang ini." sambung Hans dengan nada jengkel. Sementara Sisilia seperti enggan pergi dan tetap ingin dekat dengan Alan.
"Jelas! kalian lebih memilih untuk keluar atau saya usir dengan paksa?"
"Alan, aku pastikan kamu akan jatuh ke dalam pelukan aku!"
"Kubur jauh-jauh harapan yang kamu mau itu. Kita sama halnya air dan minyak, tidak akan bisa bersama. Ingat itu."
"Bisa, kalau aku berusaha. Kita akan menyatu nanti dan nggak akan terpisahkan. Selamat menikmati hari-hari bersama istri gila kamu itu!"
Sesilia dan kedua orangtua pergi dengan ribuan pertanyaan buang ada di kepala. Kenapa sebenarnya istri Alan itu.
"Hana, Hana kamu, tenang sayang. Kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?" Tanya Tasya, dia memeluk Hana agar Hana tenang
"Dia, dia adalah Tante Jennie, Tante. Orang yang selalu berusaha bunuh aku waktu aku kecil. Sebelum dirawat kakek, aku tinggal sama dia. Dia pernah dorong aku dari Rooftop sampai aku koma waktu kecil."
"Hana? Sayang, Hana? Kenapa kamu nggak bilang kalau mereka yang menyakiti kamu?" ucap Alan, dia pun langsung mendekap Hana.
"Aku nggak tau, aku baru ingat." Hana masih menangis. Bagaimana kalau Jennie ingin membunuhnya lagi?
"Si b******k Hans! Aku nggak akan bisa diam melihat kamu menderita begini."
"Terus ini bagaimana, Alan. Kalau mereka tau keberadaan Hana, Hana akan bahaya." Kata Mario. Tasya dan Sabrina mengangguk setuju
"Alan cari tahu, apa kelemahan keluarga Hans. Akan lebih aman kalau Hana berada di dekat kita."
"Yaudah, mending kalian sekarang makan dulu. Hana juga harus banyak istirahat, kan? Oh iyaa kemarin katanya Guntur nelfon kamu, katanya mau kasih apa sih, nggak tau juga." Kata Tasya, dia menuangkan segelas air mineral lalu meminumnya.
"Kemungkinan besok Tante bakal balik ke Sidney sama Tante Sabrina. Lagipula si kembar juga udah berangkat duluan ke sana."
"Hana mending ikut kita ke Sindey aja Lan. Biar ada teman juga di sana." kata Tasya.
"Iya nanti Alan telepon balik Guntur. Itu tergantung Hana mau apa nggak dia ke Sidney, di sana juga belum tentu aman untuk Hana." kata Alan.
"Yaa seenggaknya kalian honeymoon, lah. Kan kemarin pas di villa nggak jadi, emang kalian udah?"
Sebisa mungkin sang Tante berusaha untuk membuat suasana lebih tenang.Hana dan Alan saling melempar pandangan. Mereka kembali melanjutkan makan malam.
"Maksudnya? Sudah apa tante?"
"Yaaa sudah begitulah. Emang belum ya? Cucu buat Tante gagal dong? Padahal pengen banget jadi nenek muda."
Mario dan Alan tersedak air minum yang hendak ditelan.
"Uhuk! Apa gimana?"
"Tuh kan pasti belum, yaudalah, kalian honeymoon ke Sidney aja. Biar langsung tuh, ingat Alan. Kamu itu udah 28 tahun, kamu harus segera punya anak."
Alan yang mendengar ini malu bukan main, kedua pipinya memerah.
"I..iya... iya.... nanti Alan pikiran."
"Malam ini kalian langsung gas aja, kamu juga loh Hana, itu hak suami kamu. Masa nggak dikasih."
Hana bergidik, malu dan geli atas ucapan Tante Sabrina dan Tante Tasya.
Pandangannya beralih pada Alan.
Alan hanya menyembunyikan tahan tawa saja. Dia paham, Hana mana mungkin mau.
"Nanti cucu Papa cowok ya Hana. Biar cepat dapet ahli waris dari kalian." kata Mario
"Tapi jangan satu, kita kan punya keturunan kembar, kalian program aja bayi kembar." Lanjut Sabrina lagi, terbukti kedua anaknya kembar karena memiliki garis keturunan kembar
"Ekhem!" Alan hanya berusaha mencairkan kerisihan dengan percakapan ini.
"Jangan malu-malu Han, kamu bisa tanya-tanya tentang kehamilan sama kami." ucap Tasya.
"Ta--tapi, tapi Alan kayanya nggak bisa bikin Tante." kata Hana dengan wajah polosnya.
Lagi, semakin tersedak makanan semakin pedas rasanya tenggokan Alan.
"Eehhh, minum-minum, dulu. Kamu kalau makan pelan-pelan dong." Hana memberikan segelas air putih pada Alan.
"Liat tuh mas, anak kamu kelamaan jomblo sekalinya nikah bingung kan, haduh. Masa kita harus turun tangan ngajarin, kan nggak mungkin." Sabrina kebingungan dan tidak habis pikir dengan kedua pasangan suami istri seperti Alan dan Hana
"Hahaha... ya biasalah pengantin baru, kalian waktu muda begini kan? Hahaha nggak usah aneh, nanti lama-lama juga mau. Iya kan Hana?" ucap Mario.
Alan masih sibuk tersedak.
"Aduh, eemm pah, kita ke kamar dulu ya."
Hana mengakhiri makannya, rasa lapar mendadak hilang karena dia juga sudah merasakan malu yang teramat.
"Alan, ayok."
"Nah tuh kan, ih gemes langsung ngajak ke kamar, jangan lupa matiin lampunya." Lagi lagi Sabrina menggoda
"Jangan dong, kalau gelap kan nggak keliatan." tambah Tasya lagi.
Mario dibuat tertawa terpingkal-pingkal karena ulah Tasya dan Sabrina.
Alan melempar sebutir buah anggur merah ke arah Papanya.
"Inget, baca doa dulu biar Hana nggak sakit hahaha." Mario masih menggoda.
Saat sampai di kamar Hana langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
Ternyata tidak sampai di situ, keduanya tantnya malah mengikuti mereka hingga menguping di depan pintu.
"Alan, Hana, semangat ya!"
Kedua bola mata Hana membuat praktis.
"Astaga, Tante Sabrina sama Tante Tasya!" Hana sedikit memelankan suaranya, hanya bisa di dengar oleh Alan.
"Udah nggak usah kamu dengar mereka! Nyalain aja tivinya, volumenya tinggiin."
Hana mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Tante Sabrina yang mendengar suara TV malah tertawa.
"Tasya, sepertinya mereka udah mulai, yuk kita tinggal biar cucu kita cepat jadi."
Melepas gesper, kancing kemeja yang dia pakai. Membuat Hana bergidik ngeri menatap otot kekar tubuh Alan.
"ACnya nyala nggak?"
'Kalau Alan se kekar itu, aku bisa patah tulang.' Kata Hana di dalam hati
"AC-nya nyala. Kenapa?"
"Panas banget ya, aku mau mandi dulu. Kamu mau mandi nggak?"
"Mandi bareng?"
"Boleh, kalau kamu mau." ucap Alan tanpa ada rasa canggung.
"Dasar, kamu aja gih duluan yang mandi. Malu lah, masa mandi berdua."
"Rugi loh nggak mau mandi bareng..." goda Alan.
"Apaan sih." Hana memukul pelan lengan Alan. Pipinya merona merah karena malu.
Alan berlalu berlalu menuju kamar mandi sembari melepas kemeja yang melekat di badannya.
Entah siapa yang menyiapkan, ada baju lengerie sangat terbuka tersimpan di lemari pakaian milik Alan dan Hana.
"Ini baju apa sih? Apa dipake aja ya?" Hana mengambil baju yang menggantung di lemari. Beberapa detik, pakaian itu sudah melekat di tubuhnya. Aneh memang, tapi seperti apa yang dikatakan oleh Tante Sabrina sebelumnya, Hana harus melayani Alan.
...
Cuap cuap akan ada sedikit perubahan mengenai perusahaan. Yaps, Hana akan tetap menjadi pewaris tunggal Victoria Grup. Cuma dia akan dibuat lebih hidup sederhana dengan perusahaan yang direbut oleh Jennie. Selamat membaca. Terimakasih.
***
Bersambung