Bab 9

2962 Words
Kantor polisi sudah seperti tempat wisata sehari-hari. Orang-orang saling berlalu-lalang keluar masuk dari tempat berkumpulnya manusia-manusia jahat itu. Mereka yang melaporkan kejahatan atau para pencopet lain sebagainya yang s**l karena berhasil ditangkap. Ditambah para korban yang protes akan kerugian yang mereka timpa.. Tempat itu selalu saja terlihat ricuh yang dibumbui dengan berbagai macam kasus. Sosok Hana berjalan meninggalkan Dimas yang masih ditahan dan dikurung di tempatnya. Sehabis menemuinya tadi, dia bermaksud untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan Dimas dan mencoba membebaskan pria itu dari sana. Untung saja kak Rere mau memberikan kesempatan untuknya. Dia sangat berterima-kasih pada kakak perempuan dari kekasihnya itu, dia sosok kakak yang sangat baik dan dewasa. Kak Rere benar, seharusnya biarkan saja Dimas dihukum supaya dia dapat berpikir. Tapi apa daya, Hana tak ingin melihat orang tercintanya terkurung lama di tempat menjijikan itu. Tapi ia berjanji, sebagai ucapan terima kasihnya untuk kak Rere, dia akan menepati janjinya sendiri. Dia akan berusaha keras untuk mengubah keadaan Dimas dan merubah sikap keanak-anakannya. Sebuah janji harus ditepati. Seorang gadis dengan tubuh ramping dan bermodis cantik berdiri di depan Hana hingga langkah gadis itu terhenti. Dia berdiri memperhatikan Hana dengan wajah ‘so’ cantiknya. Merasa dirinya berada di tingkatan paling atas. Iris cokelatnya memandang perempuan di hadapannya dari kaki hingga ke atas. “Nona, apa kita bisa bicara?” Hana terdiam sejenak. Siapa wanita ini? Mengapa dia tiba-tiba saja mengajaknya bicara dengan logat menantang seperti itu. Pemilik wajah yang ternyata Vale itu semakin menampakkan keinginannya untuk berbicara dengan Hana. “Saya lagi sibuk dan saya sama sekali gak kenal kamu. Jadi aku tolak permintaan kamu itu,” ketus Hana sinis lalu kembali membawa tungkainya lagi menuju tempat tujuan. “Ada hubungan apa kamu sama Dimas? Apa kalian punya hubungan spesial?” Pertanyaan tak senonoh itu kontan membuat Hana menghentikan langkahnya untuk kesekian kalinya lagi. Kedua lingkaran kecilnya membulat sempurna. Perlahan, tapi pasti, dia kembali menoleh ke belakang. Yang paling mengundang perhatiannya adalah, saat gadis di belakangnya itu menyebutkan nama ‘Dimas’. Mengapa bisa? Vale berjalan mendekati Hana lagi dengan lipatan tangan di bawah dadanya. Bahkan dia tak menyangka, ternyata Dimas mempunyai gadis secantik ini. Benar-benar cantik dan terlihat begitu elegan. Wah! Dimas itu memang bodoh! Kekasihnya seperti perempuan yang berasal dari keturunan orang kaya. Tapi sepertinya sikapnya begitu dingin. Dimas masih saja bermain cinta dengan perempuan lain dan selingkuh di belakangnya. Padahal, pacarnya yang satu ini rela membuang-buangkan uang demi mengeluarkan pacar brengseknya itu dari penjara. Apa dia belum tau apa-apa? Fikir Vale menebak-nebak namun sudah pasti jawabannya. Setelahnya, mereka memilih mengobrol di tempat yang lebih sepi. Gadis itu mulai menceritakan kejadian dua hari yang lalu tanpa menunggu lama-lama lagi. Saat pertama kali dia Dimas mengajaknya pulang bersama, Vale memulai pembicaraannya dari sana. Ekspresi Hana berubah drastis kala itu juga. Mulai penasaran dengan cerita selanjutnya. Seperti menunggu episode selanjutnya dalam sebuah drama. “Dia godain gue, dia godain gue abis-abisan dan akhirnya dia ngajak gue jadi pacarnya. Waktu di perjalan pulang, kita mesra-mesraan dan kita ciuman dalam mobil itu. Dan akhirnya, kecelakaan itu terjadi.” Hana pucat pasi. Mulutnya terkatup rapat. “Tapi setelah itu dia malah mutusin gue. Tapi karena gue gak terima sama permainan cintanya sama gue, gue langsung laporin dia ke polisi,” gadis itu tampak menjeda ucapannya menarik napas pelan. “Itu yang terjadi,” paparnya lagi. Hana yang mendengar pernyataan itu seketika melemas lalu menggeleng-gelengkan kepala belum percaya. Ini tidak mungkin, ini pasti salah. Gadis itu pasti tengah berbohong dan bercerita opini. “Bohong!” sentak Hana penuh percaya diri. “Jadi kamu gak tau?” Gadis yang sudah tak ingin mendengar apa-apa lagi mengangkat telapak tangannya, “Cukup.” “Jadi lo gak tau kalau selama ini Dimas itu sering main-main sama cewek lain? Selingkuh di belakang lo? Hellooow, Dimas punya pacar banyak. Gue kira lo sama aja kaya cewek lain, mau aja diselingkuhin,” Vale tertawa miris. Miris melihat wanita yang tengah dilanda rasa bingung di depannya. Gadis yang sangat terliha begitu bodoh. “Lo masih gak percaya? Buat apa gue bohong? Gue cuma ngasih tau lo doang tentang kebenarannya. Supaya nanti lo gak nyesel karena udah ngeluarin dia dari sini. Yaah kecuali, emang lo udah tau tentang Dimas lebih dulu. Tapi kalau belum, setelah ini lo harus berterima kasih sama gue. Karena gue, kebohongan Dimas terbongkar. Lo masih tetep mau cinta dan sayang sama dia?” Hana masih bergeming. Pandangannya berada pada tanah-tanah yang dipijaknya. Ia masih bingung, apa dia akan mempercayai ini atau tidak. “Gue kasian sama lo,” gadis itu menepuk-nepuk bahu Hana beberapa saat. Lalu akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Hana dalam kebingungannya. Apa tadi yang ia dengar itu adalah sebuah kenyataan? Atau gadis itu hanya ingin merusak hubungannya bersama Dimas? Tapi hati Hana berkata, itu semua benar. Ia sama sekali tidak melihat kesandiwaraan yang diwujudkan gadis tadi. Suasana hati Hana sangat tidak berkompromi dengan keinginannya sekarang. Ini tanda tanya besar, sulit untuk diketahui apa jawabannya. Tampak seorang pria dan wanita yang berjalan meninggalkan kantor polisi dengan saling membelakangi. Dimas memandang punggung Hana yang berjalan pelan itu dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Pandangan gadis itu lurus ke depan dengan ekspresi datar. Sesuatu yang baru saja diketahuinya membuatnya menjadi seperti ini. Langkahnya juga tidak seperti biasa, membuat Dimas bertanya-tanya pada hatinya. Tidak biasanya Hana seperti itu. Jika tidak terjadi sesuatu, dia tidak mungkin mendiaminya. Pasti gadis itu akan mengeluarkan kemarahan dan nasihatnya seperti seorang ‘Ibu’. Dia tidak melakukannya. Langkah gadis itu terus maju, tak sekalipun menoleh apalagi berkata sepatah katapu n. Ini aneh. Ada raut kemarahan yang tergores di wajah teduhnya. Bahkan ia pun masih bimbang dengan ini semua. Semenjak di kantor polisi tadi, mendadak Hana menjadi sosok yang pendiam. Melahirkan kecurigaan di benak Dimas. Pria itu mulai merasakan setitik demi titik rintikan air hujan yang turun dari langit. Ini juga aneh, mengapa cairan itu malah jatuh saat langit dalam keadaan terang? Dimas segera berlari kecil menghampiri Hana yang sudah meninggalkannya cukup jauh. Hujan gerimis mulai turun. Tapi Hana tidak mempedulikan itu. Sampai akhirnya Dimas membuka jaketnya dan menutupi kepala Hana, memberi penghalang agar cairan yang paling dibenci gadis itu tidak mengenai tubuhnya yang halus, atau membasahkan rambut hitam-nya. “Kamu kenapa, Mel?” Dimas mulai mempertanyakan kejanggalan yang dirasakannya. “Aku gak papa,” jawab Hana singkat tanpa memberikan pandangannya pada Dimas. “Apa kamu gak bawa mobil? Ini hujan. Bukannya kamu gak suka hujan? Kenapa kamu malah terus jalan tanpa cari tempat buat berteduh?” sementara bajunya kini sudah mulai basah, rambutnya pula. Lagi-lagi gadis itu tidak membuka suaranya. Membuat Dimas semakin dibuat penasaran. Muncul kerutan di keningnya. Apa yang terjadi dengan Hana? “Ayo kita naik taksi. Aku bakal anter kamu...,” Seketika Hana menghentikan langkahnya. Saat itu pula Dimas juga ikut terhenti. Perlahan gadis itu mulai mengalihkan pandangannya pada Dimas dan mendongkak. “Gak usah, Ren. Aku bisa pulang sendiri. Jalan rumah kita kan bertolak belakang. Mending sekarang kamu juga pulang,” seulas senyum tergambar dalam lukisan wajahnya yang cantik. Tangannya terangkat, menarik jaket yang dipegang Dimas untuk menutupi kepalanya. “Kamu pakai jaket kamu, jangan sampai kamu sakit,” sekarang giliran Hana yang memakaikan jaket hitam itu di tubuh Dimas yang mungkin mulai merasa kedinginan. Gerimis semakin terasa di wajah dan sekujur tubuhnya. Dimas merasa sesuatu telah terjadi, tapi entah apa itu. Rasanya Hana berbeda. Terdapat raut rasa penuh tanda tanya dari lekukan pria itu. Gadis itu membalikan badannya dan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melewati mereka. Dia lantas masuk ke dalam tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada Dimas. Hanya terdengar suara gerimis dan hembusan angin yang menggoyangkan pepohonan. Mobil bercorak biru itu melesat menghilang dari pandangan Dimas. Selang beberapa detik, pria itu baru menyadari bahwa sedari tadi dia belum mengucapkan terima kasih pada Hana. Ucapan terima kasih karena dia ingin membantunya supaya bisa keluar dari penjara. Dan mungkin saja Hana sedang megalami banyak pikiran, itu alasannya mengapa sikap gadis itu berubah. Harusnya tadi dia marah-marah dan mengomel, mencecarnya abis-abisan, tapi ini tidak sama sekali. Dimas mencoba membuang jauh-jauh rasa penasarannya. Tidak penting juga, yang jelas sekarang dia sudah keluar dari tempat menyebalkan itu. Dimas segera berlari mencari taksi untuk untuk dijadikannya tumpangan, kendaraan yang akan membawanya ke sebuah tempat. Gerimis datang dalam jangka waktu yang singkat, perlahan cairan yang berasal dari awan yang menguap itu mulai reda. Ternyata dengan masuknya dia ke dalam sel penjara tak sedikitpun membuatnya jera. Pria itu kini sudah berada dalam sebuah bar. Dia ingin sekali merayakan ini. Merayakan keluarnya dia dari tempat paling menjijikan. Meminum dengan teman-temannya dan para wanita pula. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah atau mencoba memperbaiki keburukannya. Dia tertawa terbahak-bahak melepaskan bebannya di depan mereka, mengannggap ini adalah sebuah kemenangan. Sudah dua hari dia tidak melakukan hobinya ini, tentu saja membuatnya rindu akan bau-bau alkohol yang sudah dihisap oleh alat penciumnya. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Hana. *** Seorang pria tengah membawa secangkir kopi cappucino di tangannya. Sambil memperhatikan keadaan di luar lewat kaca jendela di lantai dua. Sesekali ia menyeruput minuman hangat itu. Hujan sudah reda, tapi masih meninggalkan jejaknya yaitu udara dingin. Selang beberapa detik, kedua matanya menangkap sebuah taksi yang berhenti di depan halaman rumah. Keluarlah sosok tubuh Hana yang mungil dari sana. Pengacara Kim menghembuskan napas lega. Akhirnya perempuan itu pulang juga. Tapi--- Ekspresi pria itu mendadak berubah. Kembali berbeda seiringan dengan jalannya Hana yang malah masuk kembali ke dalam mobil miliknya. Kemana lagi dia akan pergi? Bukankah dia baru saja pulang setelah melewati hari yang mungkin melelahkannya? Mobil itu keluar dari halaman rumah dan pergi menjauh dari jangkauan mata Pengacara Kim. Kini rasa penasaran dan kekhawatiran bergelayut memenuhi penatnya. Matahari yang awalnya tertutupi oleh awan kelam, kini kembali menerangi buminya. Dan munculah pelangi di atas langit dengan warna-warna indahnya. Moment yang harus dilihat oleh mata kita. Ya begitulah proses yang selalu terjadi di atas sana. Sambil menyetir mobilnya, Hana bersikeras ingin sekali untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Menjawab semua kecemasan dan keraguannya. Ia ingin ini berakhir sekarang juga. Gadis itu ingin tahu apa kekasihnya memang selalu berselingkuh atau tidak. Saat fokus menatap ruas jalan di depan, tiba-tiba--- SHIIIT... Terdengar suara decitan mobil yang berasal dari rem yang mendadak Hana injak. Di titik ini, tak sengaja kedua bola matanya menangkap seorang yang memang tengah ia cari keberadaannya. “Dimas,” gumamnya pelan. Gadis itu melihat Dimas yang baru saja keluar dari sebuah bar. Yang mengejutkan, dia menggandeng seorang perempuan! DEG! Saat itu juga jantung Hana berdetak hebat. Kedua lingkarannya melebar seketika. Kakinya gemetar tak beraturan. Ini sulit untuk dipercaya. Tampak di sana Dimas mesra menggandeng seorang gadis cantik dengan pakaian seksinya, apa mungkin dia kekasih Dimas? Apa mungkin dia salah satu dari selingkuhan pria itu? Sebuah percakapan kembali memutar dalam benaknya. “Jadi lo gak tau kalau selama ini Dimas itu sering main-main sama cewek lain? Selingkuh di belakang lo? Hellooow, Dimas punya pacar banyak. Gue kira lo sama aja kaya cewek lain, mau aja diselingkuhin.” Gadis itu mengedipkan-ngedipkan matanya dengan cepat dalam keadaan tubuhnya yang menegang. Berusaha tetap tenang. Ia kembali meyalakan mobilnya lalu menyimpan kendaraan itu di sisi jalan raya. Berniat untuk mengejar Dimas diam-diam. Jangan sampai dia kehilangan jejak pria itu. Hana buru-buru keluar dari sana dan memilih untuk berjalan saja. Mengikuti kemana Dimas akan pergi dengan wanita selingkuhannya. Tapi sekarang tungkainya terasa begitu lemas. Mungkin, dia masih belum siap untuk menerima kenyataan pahit ini. Terlihat mereka begitu mesra. Dimas merangkul gadis dengan balutan rok selututnya. Dengan sengaja pria itu tidak terlalu banyak minum anggur, dia ingin berkencan dulu dengan wanitanya. Kedua anak manusia itu dengan indahnya memamerkan kemesraan mereka. Seperti tidak melakukan dosa apa-apa. Langkah Hana terus mengikuti kemana mereka berjalan dengan pancaran wajah tidak percayanya. Gadis itu berusaha menahan kemarahannya. Jarak antara Hana dengan mereka hanya dihalangi oleh rumput yang berada di tengah-tengah jalan, membelah kedua jalan itu. Saking asyiknya, pria itu tidak menyadari bahwa Hana memperhatikannya sejak tadi. Sesekali dia menciumi pipi dan punggung tangan kekasihnya dengan pesona tajamnya. Hana tersenyum getir melihat pemandangan yang bahkan lebih buruk dari pada tumpukan s****h ini! Dimas menoleh ke samping, Hana segera bersembunyi di balik pohon. Pohon yang berada di sana dalam setiap jarak 50 cm. Beberapa detik kemudian, Hana kembali menampakkan dirinya. Melihat aksi yang akan segera mereka lakukan lagi. Keduanya semakin memanas saja. Berjalan semakin menjauh hingga tiba di sebuah tempat perhentian. Hana memutuskan untuk diam saja di tempatnya, tetap mengawasi mereka dari kejauhan. Gadis itu sudah tak sanggup lagi melihat pengkhianatan ini. Di bawah pohon besar itu, gadis selingkuhan Dimas mencium pipi pria itu. Dimas malah membalasnya lebih, dia mencium bibir wanita itu, melumatnya habis-habisan dalam segala kenafsuannya. Tangannya benar-benar mencekram kedua pipi wanita yang tengah ia cumbui itu. Tubuh Hana melemas tak tertahankan. Hatinya bagai teriris pisau yang paling tajam. Jantungnya berdetak cepat. Rasanya kaki itu sudah tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Ini benar-benar sakit. Sungguh menyakitkan. Napasnya mulai tersengal-sengal. Sesak sekali. Buliran bening berdesakan keluar dari pelupuknya. Ia sungguh tidak percaya ini, ternyata benar apa yang dikatakan gadis yang ditemuinya di kantor polisi, Dimas..., memang sering berselingkuh. Dia selalu selingkuh di belakangnya. Mengapa Dimas begitu kejam padanya? Gadis itu meremas area dadanya yang masih terasa begitu menyesakkan. Rahangnya mengatup keras-keras, menahan emosi yang semakin membuncah. Setetes air mata pun lolos jatuh dari iris hitamnya. Tanda sebuah pengkianatan cinta, air mata pedih akan jatuh tak tertahankan. Gadis itu membuka mulutnya, susah payah mengeluarkan napasnya yang tarasa begitu berat. Tenggorokannya ikut perih hingga Hana terbatuk kecil. Gadis yang tengah tersakiti itu menekan lututnya yang menggetar hebat hingga tubuhnya membungkuk. Langit seolah mengerti akan kehancuran gadis itu. Ikut menangis menumpahkan bebannya. Kali ini langit tengah bersahabat dengannya. Dia menemani gadis yang merasa paling bodoh itu menangis. Hujan, bagi Hana hujan selalu membawakan kabar buruk untuknya. Ketulusan cintanya dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Kisah yang begitu miris untuk di dengar. Mengapa pria itu begitu jahat padanya? Dia sangat jahat. Gadis yang tengah kalut itu mulai membuka pintu mobilnya dengan sorotan wajah tak bersahabat. Dia duduk di kursi pengemudi, tubuhnya masih terasa kaku untuk melajukan kendaraan ini. Setelah apa yang tadi ia lihat, cukup membuatnya hancur berkeping-keping. Hana mengerjapkan matanya, hingga sisa cairan bening yang masih berada dalam kantung matanya kembali jatuh membasahi area pipinya. Pemandangan saat kekasihnya berciuman dengan wanita lain mulai bermain kembali di benaknya. Hatinya terlalu sakit untuk mengingat itu semua. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka kembali. Yang Hana lihat sekarang adalah, jendela mobil depannya yang sudah dihinggapi buliran air hujan dan beruap. Sehingga ia tidak dapat melihat suasana di depannya. Dengan cepat ia menghidupkan mesin mobilnya, membelokan stir supaya masuk ke area tengah jalan. Hana langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi, tanpa menyingkirkan uapan udara dan bulatan-bulatan air hujan yang menempel di dinding jendela mobilnya itu. Lagi-lagi otaknya berputar, memutar kejadian di mana ia bertemu dengan pria bernama Dimas di sebuah bioskop. Pria yang sungguh menyebalkan. Lalu pertemuan kedua, mereka kembali bertemu saat dalam keadaan hujan. Dari pertemuan itu, pria b******k itu mulai mengambil hatinya. Hati yang awalnya tak akan ia bagi pada lelaki manapun. Tapi dengan gampangnya dia mampu merebut hatinya dengan setiap kata dan perlakuan romantisnya. Jadi ini maksudnya, ini maksudnya mengapa dia membuatnya jatuh cinta, dia hanya ingin mempermainkan dan menyakitinya. Bodoh! Hana merasa sangat bodoh! Bisa-bisanya dia tertipu oleh pria buaya itu. Selama ini dia hanya menganggapnya sebagai ilusi semata. Saat ketulusan cinta di balas dengan sebuah pengkhianatan, apa yang kamu rasakan? Sakit, bukan? Saat pria yang sangat kita percayai ternyata menyimpan banyak nama wanita di hatinya. Apa yang kamu rasakan? Perih, bukan? Saat pria yang sangat kita cintai dan sangat kita banggakan ternyata dia sering berselingkuh di belakang. Apa yang kamu rasakan? Sudah pasti hancur. Itulah yang tengah dirasakan Hana sekarang. Matanya memancarkan kemarahan yang amat luar biasa, wajah putihnya memerah. Deruan mesin mobil semakin terdengar kencang. Sekarang kemarahannya sudah berada di tinggat maksimum. Bahkan air matapun sudah tak sudi lagi untuk ia keluarkan dari mata merahnya. Matanya bukan tempat untuk menangisi pria jahat itu, sama sekali bukan. Tak peduli dengan risiko yang akan dihadapinya sekarang, yang jelas sekarang hatinya benar-benar telah remuk tanpa ampun. Seperti kertas tanpa noda dan lipatan yang tiba-tiba saja diremukan oleh tangan seseorang, tak akan pernah kembali seperti semula. Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu nekad memilih jalur berlawanan. Membanting stir ke samping, menyalip beberapa mobil di depannya dengan picingan mata tajam. Berharap dia akan menabrak pria yang sudah menghancurkan semuanya. Dia terus menginjak gasnya dengan penuh penekanan, mengeluarkan semua amarahnya lewat mobil yang dikemudikannya, mengeluarkan semua emosi yang sedari tadi memenuhi penatnya. Mengeluarkan kebencian dan kemuakkannya pada Dimas yang semakin menggebu-gebu. Mengatup rahangnya sekeras mungkin, mata itu seketika memerah. Tanpa disadari, sebuah truck besar melaju ke arahnya dengan kecepatan cepat pula. Sontak membuatnya kaget, kontan gadis itu lagi-lagi membanting stirnya, menghindari truck tersebut. Hana sudah tidak bisa lagi mengendalikan laju mobilnya lagi, hingga mobilnya pun menerobos keluar dari area aspal, lalu.... DUARRRR! Suara hantaman keras menggema keras di jalan itu. Mobilnya menghantam pohon besar yang berada di sisi jalan. Langit mulai menggelap meninggalkan siangnya seiringan dengan berhentinya rintikan hujan. Langit kelam itu menjadi saksi kecelakaan besar yang dialami Hana. Orang-orang yang berada di sekitar jalan tersbeut saling berlarian mendekati area yang menjadi tontonan utama itu. Entah apa yang terjadi dengan pengemudi mobil itu. Dalam mobilnya, Hana masih dalam keadaan setengah sadar dengan dahi yang terbanting ke permukaan stir. Cairan merah bercucuran dari kepala dan keningnya. Pecahan kaca ternyata merasuki kening gadis itu, sangat sakit. Sementara hidungnya pun ikut mengeluarkan banyak darah. Sekujur tubuhnya terasa begitu keram. Terdengar napas yang detik demi detiknya menurun dan tak beraturan. “Sakit...,” lirihnya yang merasa sudah berada di ambang kematian. Kedua matanya mula terpejam, telinganya sudah tak bisa menangkap suara apa-apa lagi, senyap dirasakan. Gelap dan akhirnya hilang kesadaran. Semuanya hening! Kata sakit yang dilontarkan bibirnya bukan karena kecelakaan ini, melainkan hatinya yang sudah patah, mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD