Bab 8

3593 Words
“Dimas!” *** “Mel, kenapa kamu gak minum obat dari tadi aja, sih? Kakek khawatir sama kondisi kamu. Bahkan, konsentrasi kakek waktu di kantor hampir ilang gara-gara mikirin kamu,” kakek tampak memandang cucunya penuh kecemasan. Gadis itu tengah menegak air putihnya, mendorong obat yang masuk ke tenggorokannya menuju perut. Setelah itu, Hana simpan gelas kosongnya di atas nakas. Kedua iris hitamnya ia alihkan pada sosok tua di dekatnya. “Aku males, kek. Gak selamanya sakit itu cuma bisa disembuhin sama obat-obatan itu. Obat bukan satu-satunya cara yang ampuh,” jawab Hana datar. Dia hendak kembali berbaring dan menarik selimut tebalnya. Rasanya dingin sekali. “Terus apa obat yang paling manjur?” tanya sang kakek dengan tampang penasarannya. “Kasih sayang sama perhatian seseorang. Seseorang yang kita butuhin buat ada di sisi kita.” “Siapa? Hm? Kamu kangen seseorang?” pria tua itu membelai halus rambut hitam pekat milik cucunya. Rambutnya tebal dan hitam. Gadis itu benar-benar merawat rambutnya dengan baik. Siapapun pria yang melihatnya, dia pasti akan langsung jatuh hati. “Kakek, misalnya,” ekor matanya melirik sang kakek yang sekarang mengerutkan kening. “Ooh, jadi kamu marah karena kakek malah pergi dan nggak nemenin kamu dulu?” kali ini pria itu yang memandang intens cucu gadisnya. “Aku kan bilang ‘misalnya’,” lidahnya menebalkan kata ‘misalkan’ yang tadi ia lontarkan. Kakek terkikik. Iya, seharusnya tadi ia tidak pergi bekerja. Seharusnya dia menyempatkan diri untuk menyapa cucunya yang sakit. Tapi apa daya, pekerjaannya tadi tidak bisa ditinggalkan atau mengulur waktu walaupun semenit saja. Yah, pria itu selalu saja sibuk. “Dimas,” nama itu terucap dari bibir tipis Hana. Tiba-tiba saja ia ingat akan pria itu. Pemuda yang ia inginkan akan kehadirannya sedari tadi. “Dimas? Kamu kangen dia?” tanya kakek menerawang. “Kalau aja Dimas ada di sini, kek. Mungkin rasa sakit itu bakal ilang dengan sendirinya. Mungkin itu yang namanya kekuatan cinta, kaya kebanyakan orang bilang,” gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Di luar, sore semakin menua dan berganti malam. “Bukannya dari tadi Pengacara Kim yang jaga kamu? Apa kamu gak tertarik sama dia? Apa dia gak bikin sakit kamu ilang?” kakek menjeda perkataannya beberapa detik. “Apa kamu tau? Dia bela-belain gak dateng ke pengadilan buat bela orang yang gak bersalah di sana, demi jagain kamu di sini,” pria itu seolah menarik perhatian cucunya untuk menyukai Pengacara Kim. Bahkan, pria itu tahu betul bagaimana perasaan pemuda yang berprofesi sebagai pengacara itu, pemuda yang dianggap memiliki sikap yang sangat baik di mata kakek. Kadang dia berniat untuk menyatukan kedua insan itu, tapi ya sudahlah, dia tidak dapat memaksakan sesuatu. “Tapi aku gak minta kan, kek?” “Itu berarti dia itu tulus sayang sama kamu. Dia udah anggap kamu kaya adiknya sendiri. Dan kamu seharusnya anggap Pengacara Kim kaya kakak kamu sendiri. Dari SMP, dia selalu jagain kamu. Almarhum orang tua kamu itu sahabat baik orang tuanya. Kakek seneng, dia mau tinggal di rumah ini, tinggal sama kita. Rasanya kakek gak terlalu kesepian. Punya dua cucu yang sayang sama kakek. Pengacara Kim itu sosok yang mandiri sampai akhirnya dia sukses jadi pengacara sampai saat ini. Apa gak ada ketertarikan sedikitpun dari kamu? Selain kakak, mungkin.” Hening sesaat. Hana mulai meresapi ucapan-ucapan kakeknya barusan. “Kek, dia itu orangnya gak asik. Aku ajak dia ke bioskop aja dia gak mau. Gimana mungkin aku nyaman dan tertarik sama dia?” “Yaah, cinta itu emang gak bisa dipaksain. Sampai kapanpun, kakek gak mau maksa kamu. Keputusan tentang jalan hidup kamu nanti, itu cuma kamu yang berhak nentuin.” Jemari gadis itu mulai ia tautkan ke dalam jari jemari kakeknya. Menggenggamnya erat. Ia tersenyum kecil memandang kakek kesayangannya. Orang tua satu-satunya yang Hana punya. Dia tidak ingin kehialngan laki-laki paruh baya ini. Meski ubannya sudah mendominasi warna rambutnya, dia masih terlihat sosok yang gagah di mata Hana. Sanggup membesarkan cucunya sampai sebesar ini dengan segala kasih sayang dan cintanya. Pria itu juga mengerti tentang cinta. Tidak pernah melarang cucunya untuk berhubungan dengan siapapun atau menyuruhnya untuk menyukai sesuatu bahkan seseorang, termasuk pria. Kakek yang sangat pengertian. Hana bangga. “Makasih, kek. Kakek gak pernah maksa aku buat suka sama Kimmy. Karena kakek percaya sama aku, pilhan aku gak mungkin salah,” seulas senyum kembali terlukis dalam paras cantiknya. Membuat warna pucatnya hilang seketik. “Kakek gak mungkin ngelarang apa yang kamu suka. Ini hidup kamu Hana. Kakek gak ada hak buat nentuin dengan siapa nanti kamu ngejalanin hidup. Yang penting kamu bahagia, kakek di sini juga ikut bahagia,” pria itu lantas membalas senyuman cucunya. Membuat goresan di wajahnya semakin mengerut. Dia pun membungkukkan badan dan mendaratkan bibirnya di kening sang cucu, mengecupnya lembut penuh kasih sayang. Hana bisa merasakan kasih sayang yang diluncurkan kakeknya lewat kecupan ini. *** “Apa kakak tau apa yang dilakuin adik kakak tadi sampai masuk penjara gitu?” tanya seorang gadis yang melipatkan kedua tangannya di depan d**a. Kini kedua wanita itu tak sengaja bertemu di depan kantor polisi. Wanita itu senang karena dengan gampangnya bisa menjembolskan pria b******k itu ke dalam penjara akibat kecelakaan besar tadi. Siapa suruh Dimas memutuskan hubungannya? Sekarang dia tahu sendiri kan akibatnya. Dan ini memang murni kesalahan Dimas. Jika bukan karena laporannya pun, para polisi itu akan tetap bisa menemukan Dimas dan menangkapnya tanpa sungkan. Banyak orang-orang protes kendaraannya hancur hanya karena kelalaian satu orang. Bahkan seorang kasir yang bekerja di sebuah minimarket kini dilarikan ke rumah sakit. Hampir saja Dimas melayangkan nyawa seseorang. “Harusnya kakak bisa jaga baik-baik adik kakak itu. Jangan mainin perempuan seenak jidatnya. Tadi saat kecelakaan itu, aku sama Dimas ada di mobil yang sama...” Kak Rere tetap bergeming. Telinganya sama sekali tidak tertarik untuk mendengar ucapan gadis ini. Tidak penting dan tidak berguna. Dia sudah pasti wanita yang diajak kencan oleh adiknya. Keduanya sama saja. “Dimas sibuk cium bibir aku sampai dia gak tau kalau dia lagi nyetir...” Wanita di depannya tampak tertegun sesaat. “Dan bussshhhh kecelakaan beruntun itu pun terjadi,” Vale pun tertawa meremehkan. Seolah telah menyaksikan atraksi yang begitu menggelikan. “Aku bahkan udah bilang sama dia loh supaya hati-hati. Tapi dia sama sekali gak mau denger,” gadis itu bisa melihat perubahan ekspresi dari wanita di depannya. Membuatnya mengulum senyum. Ya Tuhan! Jadi ini. Jadi ini alasannya kenapa Dimas bisa selalai itu? Kali ini bukan mabuk, tapi... tapi... wanita itu tampak tak sudi untuk menyebutkannya apalagi membayangkannya. Sekarang dia benar-benar sangat emosi. Adiknya sudah membuatnya merasa seperti kakak yang tidak becus menjaga adik satu-satunya. Vale yang kini tengah memainkan rambut merah pirangnya pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan wanita yang belum berkutik menahan kemarahannya. Meninggalkan kantor polisi ini. Dia merasa sudah menang. Gadis itu tidak terima saat di mana Dimas mengeluarkannya begitu saja dari mobil dan mengucapkan ‘putus’ dengan gampangnya. Padahal sebelumnya mereka sempat b******u mesra. Meski gadis itu tidak terlalu mencintai Dimas, tapi tetap saja, dia masih mempunyai kemarahan saat harga dirinya diinjak-injak. Air mata kak Rere kini mengumpul memenuhi kantung matanya. Ia tidak habis pikir, Dimas bisa seburuk ini. Bahkan, di dalam mobil pun dia masih sempat melakukan hal kotor hingga merugikan banyak orang. Anak itu begitu sangat nakal! Dia sangat keterlaluan. Kak Rere bergegas meninggalkan tempat yang dipijaknya. Berniat untuk menegur adiknya habis-habisan. Sebagai seorang kakak, apa dia harus diam saja saat adiknya melakukan kesalahan? Apa seorang kakak akan membelanya? Tidak. Sebagai seorang kakak yang memang menyayangi adiknya, dia harus berani menegur sang adik agar dia bisa memperbaiki kesalahannya. Bukan malah menyembunyikan kesalahannya. Sampai kapanpun, dia tidak akan menyadari betapa buruknya dia jika kakaknya bersikap sama saja. “Selama ini kakak udah diem ngadepin kamu, Ren! Tapi kenapa kamu terus-terusan ciptain kesalahan? Berulang-ulang kamu bikin kakak kecewa! Kenapa?!” wanita itu mengepal kedua tangannya dengan cengkraman keras. Dia sudah sangat kesal menghadapi Dimas, adiknya. Dimas hanya diam. Kedua tangan itu juga mengepal jeruji besi yang kini mengurungnya sementara. Tak ada raut rasa bersalah sedikitpun yang tergambar di wajahnya. Ini bukan kesalahannya, pria itu menyimpulkan. Jelas bukan kesalahannya. “Kamu udah bikin kakak malu! Iya selama ini kakak biarin kamu minum-minum di bar dan pulang malem seenaknya. Itu karena kakak ngerti posisi kamu dan kakak udah susah payah supaya kakak bisa sabar,” telapak tangannya menepuk-nepuk dadanya kasar dengan suara parau. “Tapi kali ini? Kesalahan kamu udah di luar batas. Kamu ngerugiin banyak orang, Ren! Kamu sadar itu? Kamu sadar atas kebodohan kamu itu?!” bentaknya lagi meluapkan segala emosinya yang semakin menggebu-gebu. Bahkan wanita itu sudah kesulitan bernapas. Tak ada tanggapan apa-apa dari Dimas. Dia tertunduk beberapa saat. Tautan tangan dengan besi itu semakin kuat. Dalam hati, dia tengah mengerutuki seseorang. “Apa pernah kamu dengerin kakak? Pernah kamu berpikir dewasa? Pernah kamu mikirin perasaan kakak? Nggak kan?! Selama ini kamu sibuk sama dunia gelap kamu! Dan sekarang? Kamu liat kan? Apa yang terjadi atas kebiasaan buruk kamu itu?” jari telunjuknya ia acungkan ke wajah adiknya yang berekspresikan datar. “Kamu bisa liat itu kan? Kamu sendiri yang rugi!” sekarang kak Rere kembali menyimpan tangannya lunglai. Isak tangis mulai terdengar dari mulutnya. Air mata berjatuhan begitu saja. Jauh di dalam ulu hatinya, dia lebih kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa karena tidak bisa mengarahkan Dimas pada jalan yang lebih baik. “Jangan salahin aku kak!” kali ini Dimas yang berteriak. Pria itu menatap kakaknya dengan iris hitam tajam. Membuat kak Rere kembali melirik Dimas tak habis pikir. Bahkan saat ini dia masih belum ingin disalahkan. Sebenarnya apa yang ada di pikiran dan hati anak ini? “Apa kata kamu, Ren?” “Ini bukan salah aku. Ini salah mereka, mamah sama papah. Kalau aja dulu mereka gak cerai, apa sekarang aku bakal ada di tempat ini? Apa sekarang aku udah jadi sosok adik yang buruk di mata kamu, kak? Jangan salahin aku atas semua yang udah terjadi! Ini salah mereka terutama mamah! Dia ninggalin kita demi pria lain. Aku gak butuh uang dari dia, karena yang aku butuhin itu cuma kasih sayang!” Kak Rere seketika bungkam. Entah harus beranggapan bagaimana. Apakah ucapan Dimas itu benar atau tidak. Tapi saat ini dia belum bisa mengelak bahwa dia masih marah besar pada adiknya. Mengenyampingkan kedua orang tuanya, tak ingin dulu membawa mereka. Wanita itu menyapu bersih-bersih pipi yang dijejaki air mata. “Kalau aja aku dapetin kasih sayang dari mereka, mungkin aku gak akan ancur kaya gini. Jadi siapa yang harus disalahin? Aku atau takdir?” pria itu merasa telah diporak-pondakan oleh takdir. Rasanya ingin berteriak pada kata itu. Berteriak bahwa ia juga lelah dengan keadaannya ini. “Tapi bukan kaya gini caranya, Ren. Bukan kaya gini caranya kita ngungkapin rasa marah dan kekecewakan kita. Bukan begini,” kak Rere menggeleng-gelengkan kepala lemah. “Kamu cari jalan lain,” sambungnya lagi. “Untuk kali ini kakak gak bisa maafin kamu. Terserah, mereka mau kasih hukuman seberat apapun sama kamu, kakak gak peduli. Ini semua kaka lakuin supaya kamu bisa mikir...,” perempuan itu mulai berbalik dengan langkah yang lemas. Membelakangi Dimas yang kini hanya diam tanpa kata. Pria itu tahu, kakaknya tidak mungkin mengambil keputusan secepat ini. Ia tidak mungkin membiarkan adiknya terkurung lama-lama di tempat seperti ini. Besok dia pasti akan kembali dan berusaha mengeluarkannya dari tempat menyebalkan ini. Dimas tahu betul sikap kakaknya, dia tidak akan sekejam itu pada adiknya. Setelah kakaknya sampai di rumah, dia akan berpikir jernih dan kembali memikirkan ucapannya tadi. Ini adalah kesalahan orang tua mereka. Bagaimana pun caranya, Dimas harus bisa cepat bebas. Pemuda itu tampak kekeh bahwa yang terjadi bukanlah sepenuhnya kesalahannya. *** Matahari tampak malu-malu muncul di balik gumpalan awan. Udara dingin di pagi hari terasa menyusupi sendi-sendi. Sebuah mobil melaju di atas aspal abu. Sepagi ini Pengacara Kim sudah berada di dalam mobilnya. Dia menatap lurus ke depan. Merasa tak percaya dengan sebuah berita yang tadi di dengarnya. Pria itu baru saja mendapatkan kabar bahwa Dimas, kekasih Hana ditahan oleh pihak kepolisisan akiba pelanggaran lalu lintas hingga merugikan banyak orang. Pagi ini Pengacara Kim mengunjungi kediaman Dimas, bermaksud untuk menanyai pria itu tentang hari kemarin. Kemarin laki-laki itu tidak datang menjenguk Hana yang sakit. Dan ternyata ini, ternyata ini alasan mengapa pria itu tidak memberi kabar. Tapi mengapa kecelakaan sebesar itu bisa terjadi? Apa itu memang kelalaian Dimas atau ada penyebab lainnya? Otak pria itu terus saja berputar. Kakak dari Dimas sepertinya sangat terpukul menghadapi masalah ini. Dilihat dari cara dia menjelaskannya dan kedua matanya yang sembab. Bisa dikatakan bahwa wanita itu tengah dilanda kekecewaan yang mendominasi ruang hatinya. Jika ini murni kelalaian Dimas, tapi mengapa kakaknya terlihat begitu bersedih? Lalu bagaimana cara mengatakan hal ini pada Hana? Pria itu menggigit-gigiti bibir bawahnya. Memutar stir ke samping di persimpangan jalan. *** Gadis itu merentangkan kedua tangannya, menggeliat dan menguap kecil setelah sinar mentari menyilaukan kedua matanya. Cahaya itu seolah membangunkan tidur damainya. Sekarang tubuh gadis itu terasa kembali segar jika dibandingkan dengan hari kemarin. Hari sudah pagi, Hana segera beranjak dari rangjangnya. Ia harus memulai hari-harinya seperti biasa, dan sialnya gadis itu ternyata kesiangan. Langkahnya sedikit sempoyongan lalu sesekali mengucek-ngucek matanya untuk memperjelas pandangannya. Tangan panjangnya mulai menggapai handuk, tapi suara ketukan pintu di luar menghentikannya. Kontan kadis itu mendengus sebal. Siapa ‘sih’ yang mengetuk pintunya? Sangat mengganggunya. Padahal ini masih terlalu pagi. Dia lantas berjalan menuju daun pintu. Ceklek Pintu terbuka setengahnya. Hana melihat seorang pria jangkung kini tengah berdiri tegap di depannya dengan ekspresi asing. “Ada apa?” tanya Hana to the point. “Mel...” “Baru aja aku mau mandi. Jangan dulu ganggu aku, oke? Apa kamu mau ngehirup bau badan aku yang dari kemarin belum mandi? Kalau ada perlu, bisa tunggu, kan di bawah?” selanya sinis. “Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu,” ujar Pengacara Kim dengan tampang serius. “Sepenting itu, kah?” Tanpa basa-basi lagi, dengan cepat pria itu mendorong tubuh Hana pelan. Memaksanya untuk masuk ke dalam kamar. Pintu terutup rapat-rapat dengan sekali hentakan tangan Pengacara Kim. Kini keduanya berada dalam beranda kamar itu. “Pengacara Kim!” sergah Hana dengan oktaf tinggi, sebagai respon tidak terimanya dengan tingkah pria menyebalkan ini. Berani-beraninya. “Ini jelas penting. Ini ada sangkut-pautnya sama kamu. Dan aku ngira, kamu gak akan diem aja setelah denger berita ini.” Raut muka gadis itu seketika berubah. Mulai terlihat luluh atas kekeras kepalaannya tadi. Rasa penasaran mengalir begitu saja dalam pikirannya. “Dimas ditahan polisi...,” “Apa?” iris hitam itu membola. “Iya. Tadi aku habis datengin rumahnya. Dan kakaknya bilang, kalau dia lagi ditahan polisi karena kelalaiannya. Dia yang nyebabin tabrakan beruntun di jalan raya itu, Mel,” sekarang pria itu baru ingat. Kemarin dia sempat menonton berita yang berisis tentang peristiwa kecelakaan itu. Gadis yang mulai mematung itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ditangkap polisi maksudnya? Dipenjara? Dimas? Perlahan sepasang matanya terlepas dari wajah Pengacara Kim. Mencoba mencerna kembali penjelasan yang dikemukakan pria di depannya. Pengacara Kim menganggukakkan kepala untuk memperjelas dan meyakinkan Hana. Pria itu mengatakan yang sebenarnya dan seadanya. Jujur yang sejujurnya. “Apa kamu lagi bohong?” tanya Hana kembali mempertanyakannya lagi, kembali mendongkak. “Buat apa aku bohong? Apa ada gunanya? Apa kamu pikir aku lagi jelek-jelekin Dimas di depan kamu?” Yah, Pengacara Kim tidak mungkin berbohong. Sebagai seorang pengacara yang tegas, dia tidak akan melakukan hal-hal yang tak ada gunanya sama sekali. Itu bukan sifatnya. Sekarang banyak sekali pertanyaan yang memenuhi benaknya. Seolah beban di otaknya bertambah. Mengapa Dimas bisa selalai itu? Apa dia mabuk lagi? Entahlah. Kali ini wajah putih itu tersirat kecemasan yang tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Detik berikutnya, gadis itu segera berbalik. “Nanti kita bicara lagi. Biarin aku bersihin badan dulu. Setelah itu aku bakal pergi ke rumah Dimas buat mastiin masalah ini,” pinta Hana dalam pijakannya. Pria di belakangnya mengerti. Mengedipkan kedua matanya seolah setuju dengan perintah Hana. Tapi gadis itu malah kembali menoleh ke belakang. Menatap dalam-dalam wajah Pengacara Kim, seolah ingin mengatakan sesuatu di tengah keheningan ini. “Dan aku minta tolong sama kamu. Jangan bicara tentang hal ini ke kakek. Aku mohon,” suaranya memelan, rasanya berat sekali berucap kata ‘mohon’ pada pria di depannya ini. Tapi dalam situasi ini, ia tidak bisa ‘gengsi’ lagi. “Kalau kamu sampai lakuin itu, jangan harap ada kata maaf dari mulut aku,” lanjutnya lagi dengan nada setengah ancaman. Hana kembali berjalan menuju kamar mandi, kembali membawa handuk yang tadi sempat tertunda. Sekarang Hana sudah menghilang dari jangkauan Pengacara Kim. Pria itu berpikir, untuk apa dia mengatakan hal ini pada kakek? Jika dia tahu, pria paruh baya itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang Dimas, berpikir bahwa dia bukan pria yang baik-baik. Biasanya sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi karena kelalaian pengemudi. Akan ada pertanyaan yang akan muncul di benak mereka. Apa pengemudi itu tengah mabuk atau tengah menggunakan n*****a? Mengemudi seenaknya tanpa pikir panjang. Jika kakek tahu, sama saja ia merusak kebahagiaan Hana. Kecuali kakek akan mengerti jika ini murni terjadi karena takdir. Tanpa meminta pun, pria itu akan tetap bungkam. Itu artinya, Pengacara Kim masih memberikan kesempatan untuk Dimas. Pria berjas rapi itu pun kembali keluar dari kamar yang sama sekali bukan miliknya. *** “Biarin Dimas ditahan, Mel. Ini anggap aja hukuman buat anak itu. Kakak pengen liat dia jera...,” “Tapi kan, kak. Biasa aja Dimas gak sengaja. Yang namanya di jalan itu, kalau gak ditabrak ya nabrak. Apa kakak gak mikir itu? Ayolah kak,” bujuk gadis itu memohon. Tiba-tiba kak Rere terpikirkan sesuatu. Sebuah percakapan kemarin terlintas kembali dalam benaknya. Kemarin, seorang gadis mengatakan, bahwa penyebab kecelakaan itu bukan atas kelalaian Dimas ataupun ketidaksengajaannya. Tapi, karena adiknya itu tengah b******u mesra sambil menyetir. Apa pantas itu disebut sebagai kelalaian? Ini jelas-jelas kesalahan yang sangat besar dan fatal. Ini akan lebih membuat hati Hana sakit saat ia tahu yang terjadi sebenarnya. Bagaimana Dimas bisa melakukan kecerobohannya, pasti gadis itu akan marah. Karena bukan karena minuman keras, tapi karena wanita selingkuhannya. Bagaimana bisa Hana meminta kekasihnya itu untuk bisa dibebaskan? Sementara dia belum tahu betul apa kesalahan Dimas. Hana menautkan kedua telapak tangannya. Membentuklah sebuah permohonan dengan mimik memelas. Ia sungguh tidak ingin Dimas berada dalam jeruji besi itu. “Kamu gak tau apa-apa, Mel. Biarin dia dipenjara. Kakak gak peduli. Supaya anak itu bisa ngerti dan jadi dewasa!” Kak Rere belum ingin menyakiti hati gadis ini. “Iya aku tau, kak. Apa karena saat itu Dimas lagi mabuk? Jadi dia yang udah ciptain kecelakaan beruntun itu. Kasih kesempatan buat dia, kak. Aku mohon,” kekeh Hana. Bukan mabuk Hana, tapi dia lagi ciuman sama perempuan lain. Kamu tau itu? Kak Rere membatin putus asa. “Kak ayolah. Biarin aku bebasin Dimas...,” “Nggak Hana!” seloroh kak Rere. Hana menarik napas berat. Mengapa wanita di depannya bisa semarah ini? Apa dia tidak berpikir, mungkin saja adiknya memang tidak sengaja. Mungkin saja dia mengantuk. Tapi mengapa dia malah membiarkan adik satu-satunya ditahan oleh polisi dan membekam di penjara. Sejahat itu, kah? “Mending sekarang kamu pulang. Kakak pengen Dimas ngerasain akibatnya. Anak itu emang harus dikasih pelajaran, biar dia tau rasa. Dia udah bikin malu kakaknya, dia udah bikin hati kakaknya sakit,” kata kak Rere tegas sambil memegang dadanya. Sakit karena adiknya sudah melakukan perbuatan hina hingga membuat banyak orang rugi. Bagaimana perasaan keluarga sang kasir yang nyaris kehilangan nyawanya? “Kamu pulang, ya. Jangan temuin Dimas atau coba buat bebasin dia. Ini permintaan kakak dan...,” Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, Hana sudah lebih dulu bertekuk lutut di bawah kaki kak Rere sambil tertunduk. Membuat suasana menjadi sangat hening, tindakan yang sangat tidak terduga. “Untuk pertama kalinya aku mohon sama seseorang. Untuk pertama kalinya aku berlutut di depan orang lain. Meski aku ngerasa aku bukan orang yang pantes untuk lakuin ini. Tapi untuk kali ini, aku gak peduli itu. Tolong biarin aku bebasin Dimas, kak. Aku mohon,” lirihnya pelan. Penuh harapan. Wanita itu tercenung mematung, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Hana sekarang. Gadis itu benar-benar memohon. Dia benar-benar memohon sampai menggunakan cara seperti ini, hanya untuk membela pria yang jelas-jelas salah. Mengapa dia seperti ini? Apa yang dilakukan Dimas padanya sampai-sampai dia menjadi gadis yang bodoh. Gadis yang berbeda dari karakter aslinya. “Aku janji kak. Setelah ini aku bakal nasihatin atau bahkan marahin Dimas. Aku bakal bikin dia berubah sebisa aku. Aku cinta dia, kak, biarin aku sendiri yang ngerubah sikapnya. Supaya dia bisa jadi adik yang patuh sama kakaknya. Dimas gak akan nyusahin kakaknya lagi. Aku janji, kakak boleh pegang janji aku ini,” pandangannya berada pada ubin-ubin putih di bawah sebelum ia mendongkakkan kembali wajahnya. Sekarangpun kak Rere masih berbaik hati pada adiknya. Tidak mengatakan bagaimana Dimas bisa mengalami kecelakaan itu. Tidak mengatakan bahwa selama ini Dimas selalu selingkuh di belakang kekasihnya sendiri. Perempuan itu masih belum ingin melihat hati adik lelakinya terluka. Tapi di sisi lain juga ia kasihan pada Hana. “Aku mohon,” lanjut Hana dengan intonasi paling rendahnya, terkesan sangat pelan. Merasa harapannya akan sirna begitu saja karena tak ada tanggapan apa-apa dari wanita tinggi di depannya. Dia tidak berucap apapun. “Aku mohon,” entah untuk keberapa kalinya gadis yang masih berlutut itu melontarkan kata itu. Kak Rere menatap langit-langit dengan sendu. Lidahnya kelu entah harus berkata apa dan bingung harus bagaimana. Hana tidak akan beranjak dari posisinya sebelum keiginannya terpenuhi. Tapi, suatu saat, gadis itu pasti akan sangat menyesal telah melakukan hal konyol ini. Sungguh, dia akan menyesal. Entah sosok apa yang merasuki Hana hingga menjadi sosok yang lemah saat dihadapi dengan seseorang yang dicintainya. Demi cinta, dia rela berlutut. Perbuatan yang cukup menurunkan harga diri seorang Hana si gadis yang selalu memamerkan tampang sinisnya. Sedikit angkuh dan keras kepala. Harga dirinya seperti diinjak-injak begitu saja. Bahkan, sebelum ini pun dia sempat meminta sesuatu pada Pengacara Kim. Padahal dia sangat berat untuk meminta atau memohon sesuatu. Cinta yang merubahnya menjadi seperti ini. Tak peduli wujud cintanya seperti apa, sejelek apapun dia, cinta akan tetap tumbuh tanpa melirik kesalahan. Cinta kadang membuat orang bodoh. Cinta seperti alkohol yang memabukkan penikmatnya. Dan, kadang cinta itu berbahaya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD