Biggest Mistake...

1739 Words
Serapat-rapatnya bangkai tikus dismbunyikan, pasti akan tercium baunya. Sedalam-dalamnya seseorang menyembunyikan rahasia buruknya, pasti akan tercium pula aroma mencurigakannya. Sebisa-bisanya seseorang bersikeras untuk tetap menyimpan rahasianya, pasti akan terbongkar pula. Bagaimanapun caranya, itu pasti akan terjadi. Tuhan punya jalan yang tepat, dia yang mengatur semuanya. Dimas tidak merespon getaran ponsel di saku celananya. Ia tengah sibuk menyetir mobil mewah yang ditumpanginya. Sebuah mobil yang diberikan mamanya beberapa hari lalu. Dia memang seperti itu, sering mentransfer uang atau barang mewah, kecuali kasih sayang. Di sebelahnya ada perempuan cantik yang tak henti-hentinya menggoda Dimas, mencoleki dagu unik yang dimiliki pria itu. Tak ada bedanya dengan Dimas, dia juga ikut menggoda wanita itu dengan pesonanya. Tersenyum dan mengdipkan sebelah mata. Sesekali menciumi punggung tangan Vale yang wangi, ya gadis itu bernama Vale. Gurauan dan candaan kecil juga hadir dalam pembicaraan. Tak peduli sekarang mereka berada di mana, yang jelas kedua anak manusia itu hanya ingin bermesraan tanpa ada yang menganggu. Merayakan hubungan baru mereka. Wanita itu bergeser semakin mendekati kursi pengemudi, wajahnya ia majukan dan kini bibirnya di simpan di dekat telinga Dimas, sangat dekat. “I love you more Dimas Alvaro,” ungkapan itu terdengar begitu seksi. Dimas yang mendengarnya pun tertawa miring. Ini sungguh menyenangkan. “Love you to,” jawab Dimas akhirnya. Perlahan bibir itu lebih ia majukan lagi dan pipinya pun sudah berada di depan wajah Dimas. Bibir merahnya ia sentuhkan di bibir pria pujaannya itu hingga semakin menghalangi konsentrasi Dimas dalam menyetir. Tanpa pikir panjang, Dimas malah membalas tautan bibir itu. Bahkan memberinya lebih. Jangan sampai dilewatkan. Ini moment yang paling membuatnya puas. Karna asyik menikmatinya, Dimas tak menyadari bahwa seseorang tengah berjalan melewati jalan. Saat itu juga mereka melepaskan cumbuannya. Dimas terkesiap dan langsung memutar stir ke samping menghindari si pejalan kaki itu. Tapi karna tak terkendali, bukan orang yang ditabraknya, melainkan mobil di depannya. ‘BRUGGGG!’ Wajah kedua orang itu tampak panik tatkala mobil yang mereka pakai manubruk mobil yang tak kalah mewah di depan. Mobil di depannya pula ikut menubruk mobil di depannya lagi. Terus menerus dan berulang kali. Hingga terjadilah tabrakan beruntun dan menyebabkan kericuhan di jalan raya. Suara tubrukan demi tubrukan dan decitan demi decitan terdengar berulang kali. Bukan hanya mobil, tapi kendaraan roda dua lainnya. Wah! Lalu lintas sudah dibuat kacau oleh Dimas. Para pejalan kaki saling menjerit ketakutan. Tubuh Dimas menegang dan tetap fokus menyetir untuk segera kabur dari sini, sebelum ia benar-benar dikepung oleh massa. Perempuan di sebelahnya tampak gelisah dan mencibir tidak jelas. Kini bagian depan mobil yang mereka tumpangi sudah hancur tanpa ampun. Suara klakson dan asap-asap kendaraan semakin membuat suasana runyam. Kacau! Jelas, ini sangat melanggar lalu lintas. Orang-orang berlarian membantu mereka yang tampak terluka dan jatuh dari kendaraan roda duanya. Tanpa Dimas ketahui, akibat perbuatannya sebuah mobil mewah yang dikemudikan orang lain menerobos sebuah minimarket di sisi jalan. Sekarang Dimas sudah lolos dari area kacau itu. Dia dapat menghela napas lega. Apa tadi salah satu dari mereka sempat melirik mobil ini dan tahu bahwa itu semua terjadi karna mobil yang dilajukannya? “Gimana ini, Ren? Gimana kalau salah satu dari mereka tau kalau kamu penyebab utama utama kecelakaan itu? Bisa gawat! Kita bisa ditangkep sama polisi!” omel Vale yang tengah dilanda ketakutan itu. Sesekali kepalanya ia lirikkan ke belakang. Memastikan apakah situasi sudah aman atau belum. “Nggak. Itu gak bakal terjadi. Seumur hidup aku, aku gak pernah ditangkep sama mereka. Dan aku gak akan pernah mau itu terjadi!” Dimas tetap saja melajukan mobilnya dengan kecepatan paling tinggi. Ia menatap tajam ruas jalan. “Tapi ini situasinya beda! Ini murni kesalahan kamu. Di sana itu banyak saksi mata. Aku gak yakin kita bisa lari dari masalah ini,” ucapnya lagi belum bisa menenangkan diri. “Aku gak peduli yang jelas aku gak mau berurusan sama mereka. Lagian di sini juga kamu ikut salah. Ini salah kamu.” “Kok jadi nyalahin aku?!” tanyanya tak terima. “Kalau aja tadi kamu gak nyium aku, kejadian ini gak akan pernah terjadi. Aku gak mungkin nabrak mobil orang lain,” kali ini Dimas mencoba membela dirinya. “Siapa suruh kamu bales ciuman aku?” Dimas bergeming. Ia sudah tak ingin mendengar apa-apa terutama bertengkar dalam situasi terjepit seperti ini.. Sekarang pikirannya membuyar! Berantakan dan hampir kehilangan konsentrasi. Ia butuh ketenangan supaya bisa berpikir lebih jernih. “Kalau polisi sampai tau, kamu jangan pernah bawa-bawa aku! Siapa yang bawa mobil ini? Siapa pemilik mobil ini? Kamu, kan? Jadi kamu jangan coba-coba nyalahin aku,” gadis itu mendelik. Pria di sebelahnya mulai kesal. “Dimas. Jangan kasih aku ke masalah yang besar. Nanti reportasi aku sebagai model bisa ancur gara-gara kejadian gak penting itu!” Ahh! Wanita itu sangat menyebalkan! Tiba-tiba kakinya menekan rem secara mendadak hingga tubuh Vale ikut terdorong ko depan. Setelah itu kepala bagian belakangnya bersentuhan kencang dengan sandaran kursi. Dimas sudah tidak kuat lagi mendengar ocehannya. Dia pun cepat-cepat melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas keluar dari mobil. Membuat Vale meliriknya aneh dan geram. Dimas membuka pintu mobil bagian depan kiri dengan sekali hentakan tangan. Menarik tangan perempuan itu, menyeretnya keluar dari mobil dengan emosi yang malas diungkapkan dengan kata-kata. Perempuan itu bedecak hebat. “Apa-apaan kamu, Ren?!” “Kalau kamu terus ngomong dan gak mau ikut dalam masalah ini mendingan keluar! Aku juga gak butuh kamu!” Wanita itu menyipitkan mata tak mengerti. Apa pria ini baru saja mengusirnya dengan semena-mena? Wajah putihnya seketika memerah menahan emosi. Mengepalkan kedua telapak tangannya kencang-kencang. “Kita putus!” sentak Dimas. Dimas pun langsung menyingkir dari hadapan gadis menyebalkan itu. Berjalan hingga kembali masuk ke dalam mobil tanpa melirik perempuan yang kini memandangnya tajam. Laki-laki b******k! Umpatnya dalam hati. Tak lama kemudian mobil itu melesat jauh meninggalkan Vale yang masih berdiri di tempatnya. Terlihat gadis itu tertawa kecut. Dimas pikir dia masih membutuhkannya? Tidak sama sekali. Dia sama sekali bukan laki-laki yang keren dan punya banyak uang. Tak cukup dengan modal tampang saja. Tidak masalah jika pria itu memutuskan hubungannya. Tak membuatnya rugi atau langsung mati di tempat. Tapi Vale masih tidak terima dengan perlakuannya tadi. Sama saja dia mempermainkan cintanya yang baru saja dijalin tadi pagi. Semoga para polisi itu bisa menangkap Dimas dengan cepat. Gadis itu pun mulai beranjak pergi. *** Pria dengan kulit putih itu duduk di sebelah ranjang Hana. Memandang wajah cantik yang dipunyainya. Dia sosok yang mendekati sempurna. Gadis itu masih tertidur. Padahal belum sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perut kosongnya, apalagi obat. Sesekali pria itu mengganti kompresan yang berada di kening Hana. Tampak prihatin dengan dengan kondisinya. Mengapa gadis itu selalu keras kepala? Pemikiran itu selalu mengalir dalam benaknya. Kamar ini terasa begitu hening. Sedari tadi Pengacara Kim menunggu kehadiran Dimas. Tapi laki-laki itu tak kunjung menampakkan dirinya. Jika tak bisa datang, bisakah dia membalas pesan tau menelfon balik? Jika saja Dimas datang, mungkin Hana mau makan dan minum obatnya. Tidak didiamkan seperti ini. Dan jika saja gadis ini tidak hanya melakukan apa yang dikehendakinya, tidak akan pula sesulit ini. Kadang, Pengacara Kim ingin sekali membuat gadis itu luluh. Tapi harus bagaimana? Apa saja bentuk kekhawatiran yang diberikannya, selalu ditolak tan dianggap tak penting. Harusnya Hana sadar, bahwa Pengacara Kim sangat menyayanginya dan ingin sekali membuatnya bahagia. Jika cinta tidak didapatkan, mungkin dengan dianggap keberadaannya saja bisa sedikit membuat hatinya senang. Dia terlalu dingin. Hanya orang tertentu yang bisa mencairkan kedinginannya, terutama cinta. Iya, cinta. Bisakah cinta itu dimilikinya? *** “Bodoh! Bodoh! Bodoh!” decaknya sebal. Pria itu memasuki rumahnya dengan keadaan emosi. Tidak bisa tenang sama sekali. Sesosok perempuan baru keluar dari dalam dan mendapati adiknya yang kalut berantakan. Wanita itu mengernyit kening, menerawang tentang suasana hati adiknya yang mungkin tengah buruk. “Apa lagi, Ren? Kamu kalah judi? Gagal dapetin perempuan di diskotik?” tanyanya dengan berjuta pikiran buruk. Dimas tidak menggubrisnya. Tak ingin berdebat. Bibirnya diam tanpa gerak. Tapi sorotan matanya menandakan bahwa ia tengah marah. Pria itu kembali melangkahkan kakinya lagi yang sempat terhenti akibat pertanyaan bodoh yang dikeluarkan kakaknya. Kak Rere melirik punggung Dimas yang semakin menjauh. Setelah itu, dia mulai memantau keadaan di luar. Melihat mobil yang tadi dibawa Dimas. Jika adiknya berekspresikan dirinya begitu, berarti dia ada masalah dan sesuatu pasti baru saja terjadi menimpanya. Tanpa sengaja, kedua matanya terhenti pada sebuah titik. Di titik ini dia terpaku. Mobil bagian depan itu? Astaga! Mulutnya terbuka tanpa kendali. Telapak tangannya ia simpan di mulutnya, ini sebagai bentuk kekagetannya. Bagian kepala mobil itu remuk dengan keadaan yang sangat parah. Padahal itu mobil baru yang diberikan mamanya beberapa hari yang lalu. Mengapa jadi seperti ini? Apa yang dilakukan anak itu sebenarnya? Bodoh! Kak Rere segera berbalik untuk menanyakan hal besar ini pada adiknya sambil menahan emosi. Tapi--- “Permisi mbak.” Suara itu menghentikan langkahnya. Perlahan ia belokan kepalanya ke belakang, mencoba melihat siapa yang tadi memanggilnya. Dua orang dengan seragam keatasan abu-abu beserta atribut-atribut yang menempel di sana, celana panjang berwarna hitam. Seperti seragam polisi. Yah, mereka mungkin para polisi. Kedua sosok itu kembali melangkahkan kakinya lagi mendekati kak Rere. “Apa mungkin ini rumah dari saudara Dimas Alvaro?” Wanita itu seketika bungkam. Tubuhnya bergetar begitu saja. Apa maksud dari kedatangan mereka dan bertanya tentang keberadaan adiknya? Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan mobil Dimas yang hancur? Kecelakaankah? Berbagai pertanyaan kini turun berjatuhan di pikirannya. “I..., iya. Emang kenapa sama adik saya, pak?” pertanyaan itu terdengar begitu gemetar. “Kami dari pihak kepolisian. Kami baru saja mendapat laporan bahwa adik laki-laki anda telah lalai dalam mengemudi. Hingga menyebabkan tabrakan beruntun dan hampir melayangkan seorang kasir di sebuah minimarket. Untuk itu, kami akan membawa saudara Dimas untuk kami selidiki. Dia melanggar lalu lintas dan mencoba melarikan diri.” Penjelasan yang cukup membuat kak Rere terkejut bukan main. Jantungnya kembali berdegup kencang dan mulut itu lagi lagi terbuka. Jadi ini sebabnya mengapa mobil itu rusak? Dimas sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. “Bagaimana, mbak? Apa saudara ada di dalam rumah?” tanya sang polisi kembali. Kak Rere memegang area dadanya, mengusapnya sabar menenangkan diri. Perlahan sebuah anggkan mulai ia perlihatkan. Anggukan yang menjawab pertanyaan polisi tersebut beserta jawaban bahwa adiknya ada di dalam. Tangkap saja dia jika memang dia bersalah. Perempuan itu tidak bisa menahan mereka atau menyembunyikan Dimas dari kesalahannya. Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan, supaya Dimas bisa mengubah sikap dan sifat buruknya. “Tunggu, pak. Saya akan panggil adik saya,” dengan kaki masih gemetar, kak Rere mulai memasuki rumahnya dengan niat memanggil Dimas. Wanita itu harus bisa menahan amarahnya dulu. Anak itu sudah benar-benar kelewatan batas. Dia adik yang sangat tidak berguna! Kerjanya hanya membuat masalah. “Dimas!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD