***
Jika tidak bersuara, kapan hati akan mendengar? Jika tetap diam, kapan akan melangkah? Sebagai pria, dia harus berani. Berani dalam hal apa pun. Termasuk dalam kata ‘cinta’. Jangan bersembunyi.
***
Gadis itu tiba di kamarnya. Sebuah kamar yang di dinding atas ranjangnya terdapat sticker namja-namja Korea yang berarti laki-laki Korea. Sungguh dia sangat menyukai mereka. Hana melepaskan tasnya lalu ia lemparkan ke sembarang tempat di kasurnya. Ia akan langsung berkeramas. Tak peduli dengan keadaan di luar yang masih hujan.
Kecintaannya pada drama Korea sudah terlahir sejak menginjak kelas satu SMA. Wabah Kpop dan Kdrama semakin menyebar luas hingga ia pun ikut terbawa. Meski begitu, kamarnya tampak bernuansa rapi. Cat gading dan putih yang melengkapinya. Banyak yang bilang, jika kita terlalu mencintai para namja-namja Korea, sangat sulit untuk jatuh cinta pada seorang pria di negrinya sendiri. Tidak bagi Hana, dia tidak ingin menjomblo. Tak perlu dengan laki laki tampan dengan mata sipit yang tinggal di Negara Gingseng ‘Korea’. Nama ‘Dimas Alvaro’ sudah tersemat kokoh dalam hatinya. Dialah satu-satunya pria yang dapat membuat jantungnya berdetak cepat ketika sedang bersamanya.
Kini Hana baru saja keluar dari toilet. Bukan hanya berkeramas tapi juga bermandikan badan. Hanya kimono putih yang membaluti tubuhnya, dan handuk putih juga yang ikut meliliti rambut basahnya.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok Pengacara Kim yang sudah berada di dalam kamarnya sejak tadi.
“Nona Hana---“
“Kamu? Lagi ngapain kamu di sini? Huh?”
“Gimana keadaan badan kamu? Udah anget?”
“Ck! Pertanyaan macam apa itu? Pertanyaan kaya gitu itu cocok buat ditunjukin ke anak kecil,” Hana tertawa meremehkan.
“Aku ke sini atas perintah Kakek. Aku harus periksa keadaan kamu, apa kamu baik-baik aja atau nggak setelah kehujanan tadi,” ucap Pengacara Kim sesuai kenyataannya.
“Apa?”
“Maaf aku lancang,” pria itu tampak mencoba tetap bersikap hormat dan menunduk sedikit.
“Aku baik-baik aja. Mending sekarang kamu keluar. Aku gak butuh buat diperiksa. Emang kamu dokter?”
“Tapi Nona—“
“Keluar sebelum aku...,” perlahan tanganya mulai membuka tali kimono yang menutupi tubuh telanjangnya. Membuat pria di depannya bergidig kecil. Mau tak mau pria yang berprofesi sebagai pengacara itu pun mengiyakan. Tidak baik jika melihat tubuh perempuan yang bukan mukhrimnya. Dia pun bergegas pergi meninggalkan kamar. Lebih baik mengalah pada perempuan keras kepala itu. Hana tersenyum bangga mengindahkan kemenangannya itu. Ia tidak suka jika ada seseorang yang mengkhawatiri kondisinya, memang dia lemah? Dia perempuan kuat tanpa perlu kata ‘kasihan’ dari orang lain.
***
Tiga orang ini tampak tengah menikmati sarapan paginya. Suara garpu dan sendok yang saling bersentuhan dengan piring memberikan kesan suasana tak terlalu hening. Tak ada pembicaraan apa-apa yang diomongkan. Tidak baik jika sedang makan, mulut ikut bekerja.
Hana memasukkan sendoknya ke dalam mulut, matanya berada pada wajah Pengacara Kim. Pria itu cepat-cepat melepaskan pandangannya dari wanita di hadapannya yang tengah menyantap sarapannya. Tampak Hana yang mengerti, berapa lamakah pria itu memandangnya sedari tadi? Membuatnya jengkel.
“Pengacara Kim,” Hana membuka mulut. Membuat pria berwajah perpaduan Indonesia dan Inggris itu menetapkan bola matanya pada perempuan yang memanggilnya tadi.
“Kamu suka sama aku?---“
“Ekhem...,” terdengar dehaman keras dari mulut pria bernama Kimmy Carles itu. Lalu akhirnya terbatuk, seolah tersedak oleh makanan yang tadi melewati tenggorokannya. Membuat pandangan kakek beralih padanya. Tangannya segera meraih segelas air yang berada di sebelah piringnya. Lalu meneguknya kuat-kuat, menahan kerongkongannya yang terasa geli. Ini benar-benar sangat mengejutkan. Kakek lalu turut memandang kedua anak muda ini bergantian. Apa maksud dari pertanyaan cucu nya itu hingga menimbulkan rona merah di wajah putih milik Pengacara Kim?
Hana terkekeh pelan.
Tersnyum sinis.
“Aku tau Pengacara Kim. Sejak dulu kamu itu selalu liatin wajah aku. Mulai dari mata ini...,” ia tautkan telunjuknya pada cangkang mata miliknya sebelah kanan, “hidung ini...,” jemari lentik itu turun dan menyentuh alat pernapasan yang terlihat kecil nan mancung itu. Kedua bola matanya kini benar-benar menatap pria yang badannya tengah menegang itu.
“Daan..., bibir ini...,” ketiga jari itu tersimpan di bibirnya yang benar benar seksi. “Ups!”
Buru-buru pemuda yang sudah merasa tak tenang itu berpaling ke sembarang tempat. Gadis ini benar-benar tengah mengujinya. Untung tak ada yang tahu jika jantungnya ini tengah berdebar secara tak wajar, berdetak hebat begitu saja seiringan dengan darahnya yang berdesir kuat. Sangat melenceng dari sebelum-sebelumnya.
“Ada apa Han? Kok kamu godain Kimmy kaya gitu?” tanya sang kakek berusaha meminta jawaban.
“Nggak kok, kek. Cuma becanda,” lagi-lagi Hana tertawa geli setengah meledek, pria itu benar benar telah membuatnya lucu.
Hana tahu bahwa jika Pengacara Kim selalu memperhatikannya ketika mereka sedang bersama. Apa patut untuk dikatakan cinta? Hana kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya dan kembali mengunyah.
“Pengacara Kim,” panggil kakek. Yang dipanggil pun langsung menggerakkan kepalanya menengok pada asal suara, “Iya?”
“Apa hari ini kamu ada kerjaan? Ngurus kasus-kasus di pengadilan? Atau---“
Dengan cepat pria itu menggeleng. “Nggak. Hari ini mungkin hari santai saya, kek,” ia mengembangkan senyumnya.
“Oh. Kebetulan.”
“Maksud kakek?”
Hana tampak cuek dengan pembicaraan kedua pria berbeda usia sangat jauh ini. Ia hanya ingin menikmati sarapannya dengan santai tanpa ikut campur dengan mereka.
“Kamu bisa ajak Hana jalan-jalan di hari libur ini? Itu pasti seru!” Perintahnya riang.
Perempuan yang merasa namanya disebut itu langsung terbelalak ketika mendengar ucapan sang kakek. Bahkan Kimmy Carles pun ikut merasakan hal yang sama. Kaget. Jalan-jalan?
“Hah?” tanggap Hana dengan rautan wajah tak mengerti.
“Kenapa?”
“Jangan becanda deh, kek. Ini hari Minggu bukan berarti hari tempatnya foya-foya doang atau apalah itu. Lagian siapa yang mau jalan-jalan sama laki-laki pengecut dan lembek kaya dia?!”
Kening kakek berkerut,” Hey Hana. Sembarangan kalau bicara. Emangnya ada apa sama kalian? Sampai kamu bilang kalau Pengacara Kim itu pengecut. Selama ini kamu itu harus bersikap baik dan ngucapin terima kasih sama dia. Dia selalu jagain kamu dan ngurus semua keperluan kamu. Dia yang bantu kamu. Kamu harus anggap dia kaya kakak sendiri, berhenti bersikap kekanak-kanakan,” bantah kakeknya tak suka dengan komentar buruk cucunya. Menjelek-jelekkan Pengacara Kim yang jelas-jelas telah baik dan sabar padanya.
“Gak papa kok, kek. Ini udah biasa. Lagian bener apa yang dibilang Hana, saya orangnya gak asik. Selalu mentingin kerjaan jadi jarang seneng-seneng,” pria itu tak ingin mendengar keributan antara kakek dan cucu ini hanya karena hal sepele.
“Lagian aku gak butuh dia, kek. Aku bisa jaga diri aku sendiri,” Hana menggeleng-gelengkan kepala lalu meneguk segelas air putih di tangannya. Air itu benar-benar habis tanpa sisa. Ia kembali menyimpan gelasnya di atas meja. “Kalau urusan beli baju atau barang barang lainnya, aku bisa sendiri. Bahkan aku punya seseorang yang bisa aku ajak saat aku perlu. Aku gak bersikap kekanak-kanakan, cuma kakek yang selalu anggap aku kaya anak kecil! Aku gak suka dan cukup bikin aku marah.” Ia menarik napas kasar dan diam beberapa detik di tempatnya.
“Aku mau pergi dulu. Selamat nikmatin hari ini,” Hana beranjak dari duduknya hingga terdengar suara gesekan kursi dengan lantainya. Perempuan itu pergi begitu saja. Sosoknya semakin hilang dari pandangan Kimmy Carles dan kakek. Kakek tidak bisa menolak kehendak cucunya. Ia menoleh pada Pengacara Kim, seolah memberi kode untuk jangan memasukkan kata-kata Hana tadi ke dalam hati. Pria muda itu tersenyum kecil, mengerti. Tak peduli dengan ucapan ucapan kasarnya, dia tetap menaruh benih cinta pada gadis itu. Yah meskipun, dia telah mempunyai seorang kekasih . Tapi tetap, Tuhan yang telah menentukan dengan siapa seorang perempuan akan bersinggah.
mungkin kini perempuan itu memiliki cinta pada lelaki lain, bisa saja kedepannya dia memiliki kesempatan. Atau bahkan lebih konyol lagi mungkin saja ada lelaki lain yang akan menjadi cinta terakhir dari Hana nantinya. Entalah, semuanya masih belum bisa ditebak. Yang jelas dia hanya ingin mengikuti alurnya saja.
***