BadBoy

2852 Words
... Saat seseorang melarang kamu untuk melakukan sesuatu, jangan anggap bahwa dia ingin mengatur hidupmu. Bisa saja dia ingin menjadikanmu yang terbaik, hingga nanti kamu bisa merasakan betapa baiknya dia karena sudah merubah hidupmu. Seorang pria dan wanita tampak susah payah berjalan menuju tepi ranjang dengan saling merangkul. Sementara tangan lainnya memegang segaelas wine. Pandangan mereka kabur akibat rasa pusing karena minuman berakohol itu. Bruk! Keduanya menyimpan tubuh mereka di pinggiran kasur. Ruangan itu tampak gelap. Suara-suara musik disko dan lampu yang menyala-nyala warna-warni tampak jauh dari jangkauan mereka. Kamar itu hanya didiami oleh kedua insan ini. Tangan perempuan dengan rambut bercat orange dan berpakaian seksi hanya menutupi bagian atas satu jengkal dari lutut itu tengah menelusuri d**a hingga leher pria di sampingnya. Dia tampak senang dengan sensasi indah ini dalam keadaan setengah mabuk. Sementara Dimas kembali meneguk minuman kerasnya. “Apa kamu puas sama kencan hari ini?” tanyanya setelah benar-benar menghabiskan satu gelas wine. “Aku bener bener puas, Ren! Kamu itu cinta aku. Lelaki pujaan aku. Ayo kita minum lagi, nikmatin malam ini. Cuma kita berdua.” “Oh,ya?” “Iya.” “Kalau aku gak mau gimana? Aku mau pulang.” “Aku gak akan segan-segan buat bunuh kamu,” jawabnya ngasal dengan badan sempoyongan. Dimas tertawa miring seolah meremehkan di tengah rasa pening yang melandanya. Gadis itu lantas kembali menuangkan cairan berakohol dari botol hitam itu ke dalam gelasnya, lalu gelas kekasihnya. Mereka pun beradu gelas. Lagi-lagi Dimas meminumnya sampai benar-benar habis. Entah mengapa pria itu sangat menyukai saat-saat seperti ini. Sekarang tingkat kemabukannya sudah berada di puncaknya gara-gara minuman gila itu. Ia bantingkan badannya yang sudah linglung ke permukaan ranjang tanpa motif itu. Gelas kosongnya ia biarkan lepas dari pegangannya dan tergeletak di sisinya. Matanya sudah benar-benar terpejam. Gelap dan senyap. Ingatan pun seketika pergi begitu saja dari otaknya. Lalu hilang! Perempuan yang masih setengah sadar itu juga ikut menidurkan tubuhnya dengan kaki menggantung di atas ubin. Dia memeluk kekasihnya dengan lengan halus tanpa kain yang menutupnya. Serasa dunia hanya milik berdua. Keduanya sangat menikmati malam indahnya. Inilah hobi dari seorang ‘Dimas Alvaro’. Menghabisi uang dan bermain mesra dengan para wanita p*****r. Tak ada wanita yang mau menolaknya. Tebar pesona dan wajah tampan mampu menyihir siapa saja yang melihatnya. Kepribadian yang memang tidak baik. Tapi inilah adanya. Berganti ganti perempuan sesuka hati. Tanpa memikirkan, dengan siapakah dia berhubungan sekarang. Apa pantas gadis itu dikatakan sebagai gadis simpanan? Pintar sekali Dimas. Menyembunyikan satu keburukannya di depan kekasih. Kekasihnya yang bernama Hana tidak tahu sama sekali tentang perselingkuhan yang selalu Dimas jalani. Yah kecuali tentang minuman itu, gadis itu tahu bahwa pacar laki-lakinya suka sekali minum. Sudah dua tahun lamanya Hana tidak tahu bahwa Dimas seorang pecinta wanita. Mungkin karena gadis itu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keasyikannya akan sesuatu. Menonton drama Korea. Lalu mengapa hanya Hana yang dianggapnya sebagai kekasih dan hubungannya dengan wanita itu yang paling lama dijalaninya? Entahlah. *** Pria dengan jaket kulit yang menutupi kaus putihnya berjalan gontai memasuki rumahnya yang tidak terlalu besar. Seluruh tubuhnya sangat terlihat kalut dan berantakan. Rambut yang tak tertata rapi layaknya pria tampan. Sungguh, ia sama sekali tidak memanfaatkan ketampanan di wajahnya. Dia terlihat sebagai pria paling bodoh. Tuhan sudah memberinya banyak kenikmatan atas hidupnya itu. Badan yang cukup tinggi, warna kulit putih dan hidung mancung, bahkan tidak kekurangan uang. Tapi mengapa dia tetap saja melakukan sesuatu dengan sesuka hatinya. Sesuatu yang sama sekali tidak penting. Tuhan pun sudah memberinya seorang perempuan cantik, dia masih tetap saja bermain cinta dengan wanita lainnya. Benar-benar menyesalkan! BRAK Pintu terbuka dengan lebarnya hingga memantul ke dinding, menimbulkan suara kencang. Tungkai kakinya memasuki kamar dengan tenaga seadanya. Dia benar-benar mengantuk, aroma mulut itu terkesan sangat bau alkohol. Minuman yang sangat menjijikan. Seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya baru saja tiba. Langsung melihat kelakuan adik semata wayangnya di ambang pintu. Ini sudah pukul enam pagi, mengapa pria tidak tahu diri itu baru menginjakkan kakinya di sini? Sungguh membuatnya kesal. “Dimas!” Pria itu kembali membanting tubuh sempoyongan nya ke atas kasur dengan posisi mengungkapkan badan tanpa mendengar panggilan dari sang kakak. Kini hanya punggungnya lah yang terlihat. Ia sama sekali tidak menyempatkan diri untuk membuka sepatunya atau mandi terlebih dahulu. Kak Rere menggeleng-gelengkan kepala prihatin. Mengapa adiknya selalu seperti ini? Dia sibuk dengan dunia gelapnya. Tidak berpikir dewasa atau mencoba mencari pekerjaan hanya sekedar menambah uang saku. Beginilah melihat dia yang kurang akan kasih sayang dari orang tuanya? Sama seperti Hana, kedua orang tua Dimas juga telah tiada. Bukan, bukan telah tiada karena meninggalkan dunia ini. Tapi mereka meninggalkan kedua anaknya begitu saja tanpa tanggung jawab. Kedua orang tua itu bercerai tujuh tahun silam. Pantas, kelakuan Dimas menjadi seperti ini. Hanya uang yang di dapat dari sang mama tanpa beberapa bongkah kasih sayang. Ibunya memilih tinggal di rumah suami barunya dan tidak membawa serta titipan dari Tuhan dari suami pertama. Ibunya hanya bertanggung jawab dengan kekayaannya saja, uang. Siapapun yang melihat Dimas, pasti akan merasa prihatin. Jangan mem-bully atau menjelek-jelekan mereka yang seperti itu jika belum tahu apa kejadian yang pernah dilaluinya di masa lalu. Mereka pasti mempunyai alasan tertentu. Sesuatu yang begitu menyakitkan. Pahit dirasakan dan sulit untuk dilupakan. *** “Apa?” Kening Hana berkerut tatkala mendengar jawaban dari kak Rere bahwa Dimas masih terlelap dalam tidurnya. Jam ini? Sudah terlalu siang untuk seorang yang memakai jam istirahatnya di ranjang menghangatkan itu. Apa dia pria malas-malasan? Ya, dia memang pria yang seperti itu. Hana sudah mengenalnya. Dia sudah sering datang ke sini menyempatkan waktu untuk menemui sang kekasih. Tapi hasilnya tetap sama, yang keluar dari pintu masuk pasti kak Rere, kakak dari pacarnya. Setelah itu mengatakan bahwa adiknya itu masih berada di alam mimpi. “Biarin aku masuk, kak,” Hana melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu. Kak Rere tidak bisa menahan dia. Biarkan saja adiknya terkena sembur oleh kekasihnya sendiri. Bagaimana perasaan Hana jika tahu bahwa Dimas selalu pulang malam bukan hanya minum di bar, tapi juga selalu b******u dengan gadis lain. Para p*****r dengan pakaian seksi. Selalu menggoda para kaum Adam. Hanya pria dengan iman kuat yang bisa menghindar dari godaan hina mereka. Selama ini Hana hanya tahu bahwa Dimas suka sekali minum alkohol. Meski berulang kali ditegur, pria itu tetap kekeh tidak ingin menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Ketika memasuki ruangan itu, yang dapat didengar hanya suara hembusan napas Dimas yang masih terlelap dengan posisi seadanya; tidak teratur. Kamarnya pun acak-acakan tak menentu seperti kapal pecah. Gambar-gambar menyeramkan, sesosok makhluk yang biasanya berada di film action dan fantasi dibiarkan menempel memenuhi dinding kamarnya. Berbeda dengan Hana, yang hobinya menempelkan sticker namja-namja Korea. Jika Dimas ingin, Hana lebih ingin membelikannya sticker yeoja yang artinya perempuan Korea. Sungguh, Hana tak akan cemburu sedikitpun. Pasti lebih enak dipandang. Mereka semua memiliki paras cantik, yaah meski begitu, banyak dari mereka yang melakukan operasi pelastik agar wajah terlihat lebih sempurna. Tak jau beda dengan namja-nya pula. Tetapi tetap saja, kualitas acting mereka tidak bisa diragukan lagi. Ditambah lagi, pria tidak suka dengan itu semua. Ini hanya sebatas keinginan Hana saja, sih. Hana dapat melihat jelas-jelas betapa badguy-nya pacarnya ini. Entah mengapa ada sebuah magnet yang terus menariknya agar tetap mencintainya. Kala itu. Sebuah tayangan horor tengah memenuhi layar studio bioskop dengan suasana gelap dan dingin. Suara yang awalnya hening tiba-tiba saja memburu membuat siapa saja yang melihat asal suara itu terkaget-kaget. Pekikan rasa takut pun selalu terdengar dari beberapa penonton. Sudah tahu seram, tetap saja dilihat. Di layar itu, tampak seorang wanita setengah baya, dengan memakai pakaian tidur warna putih tengah menelusuri lorong gelap di rumah angkernya. Terdengar suara aneh hingga membuat si penonton ikut merasa tegang dan menahan napas lama.Tapi wanita yang menjadi peran utama di film itu tetap saja memberanikan diri karena rasa penasarannya akan suara penuh tanda tanya tersebut. Hana salah satu dari pengunjung itu merasa takut setengah mati. Sampai-sampai ia menghentikan kenikmatannya saat memakan popcorn, makanan ringan yang menjadi menu utama di bioskop untuk menemani nonton. Satu biji popcorn terhenti di mulutnya. Tubuhnya menegang, dan... “Aaaaa!” pekiknya kencang memalingkan muka ke samping. Sosok hantu yang sangat menyeramkan kini benar-benar muncul di tengah-tengah layar lebar itu, sangat besar! Semuanya terkejut, ada pula yang menjerit. Saat Hana kembali mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk melihat tayangan itu, tanpa diduga sebuah telapak tangan terpajang memberi penghalang. Supaya gadis itu tidak ketakutan lagi. Hana tampak bergeming dan bingung. Ingin sekali menyingkirkan tangan itu. Tapi--- “Setannya belum ilang. Kayaknya kamu ketakutan. Lebih baik jangan diliat,” kata seorang pria memberi saran. Mengundang Hana untuk segera mengalihkan pandangannya ke samping. Tangan itu adalah tangan seorang pria. Setelah beberapa detik kemudian, pria itu kembali menyimpan tangannya lagi. “Aku gak minta itu. Aku gak takut, tapi aku cuma kaget aja. Jangan anggap aku perempuan lemah,” gadis itu mendelikan kedua bola matanya merasa terganggu. Lalu kembali menikmati film horor di depannya. “Ya kali aja. Kenapa gak dateng sama pacarnya? Mau aku temenin?” “Aku gak punya pacar.” “Kalau gak punya, kenapa berani banget nonton film ini sendirian? Gak ada tempat buat sembunyi saat setan-setan itu dateng,” terdengar suara kekehan pelan dari mulutnya. “Aku lagi nonton jadi gak usah so’ ngerayu, ya! Terserah aku mau nonton film apa juga. Bukan urusan kamu! Laki-laki aneh! Emang wajib nonton bioskop sama pacar?” tanyanya kembali menatap pria tidak tahu malu ini dengan picingan mata setengah marah. Pria itu mengangkat kedua alisnya. Yah, tampaknya perempuan ini susah untuk didekati dan diajak becanda. Saat Hana kembali memfokuskan penglihatannya pada layar, pria menyebalkan itu tersenyum-senyum. Sepertinya gadis ini layak untuk didekati. Sangat cantik walaupun sedikit sombong dan dingin. Sebenarnya, Hana sangat merasa tenang saat tangan itu menghalangi matanya untuk tidak melihat hantu menjijikan itu. Tidak terlalu membuatnya takut. Tapi ia ‘gengsi’ untuk mengatakan ‘terima kasih’, sulit sekali terucap dari bibir manisnya. Benar apa yang dikatakan dia. Jika saja ia mempunyai pacar, mungkin akan ada tempat bersinggah sesaat ketika sosok menyeramkan muncul. Yang membuat perasaan takut menjadi lega kembali walau dalam beberapa detik. Menjadi teman untuk mengobrol sebentar tentang film yang tengah ditonton. Mungkin, menonton bersama pacar akan lebih menyenangkan. Tadinya Hana datang ke sini bersama dengan Pengacara Kim, tapi pria itu sangat enggan untuk menonton film horor, terkesan penakut dan tak suka bertamasya. Itu sebabnya Hana sangat tidak menyukai Kimmy Carles, dia sama sekali tidak gaul! Lagi-lagi sosok setan kembali muncul dengan tiba-tiba tanpa adanya ada-aba. Membuat Hana kembali bersembunyi di balik kursi. “Katanya kaget, ini untuk kesekian kalinya setan muncul. Masih tetap kaget? Atau akuin aja kalau kamu emang penakut. Gak usah pilih film horor aja sekalian, mending film romantis. Cocok buat kamu yang jomblo.” Ada apa sih dengan pria ini? Selalu saja berkomentar tak jelas. Terus menerus membuat darahnya mendidih sesaat. Seperti air panas yang sudah bergejolak di atas kompor. “Kenapa diem? Jantungnya masih deg-degan?” “Apa bisa mulut itu diem tanpa kasih komentar?!” “Kalau kamu takut, kamu bisa sembunyi di sini,” ia simpan telapak tangannya di bahunya. Hana membalas dengan delikan mata sebal. Ia bukan cewek murahan yang ingin saja menerima tawaran cowok tidak dikenal apalagi cowok yang genit dengan lawan jenisnya. Pria bernama Dimas hanya tersenyum. Trik yang gampang jika harus menarik perhatian seorang perempuan. Apalagi gadis cantik, sudah menjadi makanan Dimas sehari-hari. Benar-benar tidak wajar! Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Sepertinya Dimas sangat tertarik dengan gadis di sampingnya ini. Sikap dinginya membuat Dimas ingin sekali lebih jauh mengenal sosok gadis itu. Penasaran. *** Mungkin pria itu sangat mengantuk. Terlalu dalam menyusup alam mimpi yang entah indah atau--- menyedihkan. Gadis si pemilik mata bulat bening itu memutuskan untuk membiarkannya saja. Ia tidak ingin menganggunya. Takut jika mimpi indahnya yang menyenangkan tiba-tiba terhenti karena dirinya. Yang ada dia malah marah. Sejenak ia balikan kembali tubuhnya dengan kaki yang mulai melangkah. Tapi--- tangannya merasa terkenal oleh sesuatu. Sesuatu yang menggenggamnya begitu saja. Membuat kedua lingkaran di wajahnya membulat indah dan bertanya akan satu hal. Apa pria itu telah bangun dari tidur damainya? “Buat apa ke sini kalau ujung-ujungnya pulang? Apa kamu gak punya kerjaan lain? Jangan bilang mentang-mentang kamu orang kaya terus dengan gampangnya buang-buang uang cuma untuk bayar ongkos.” Lontaran kalimat itu sukses membuat Hana berbalik cepat. Sungguh sebuah ucapan yang tak tahu harus ditanggapi bagaimana. Apa harus marah atau malah tertawa? Pria itu akhirnya membuka setengah kedua matanya dan mencoba bangun dari posisi sebelumnya yang tertidur. “Kamu udah bangun? Apa suara pintu yang aku buka ngeganggu kamu, Dim? Apa karena suara ketukan sepatu aku ini yang berhadapan sama lantai kamar kamu?” gadis itu duduk di tepi ranjang, di sebelah Dimas tanpa melepaskan pandangannya pada pria yang tengah susah payah menjelaskan alat penglihatannya. “Maaf,” lanjutnya lagi. “Apa kuping aku setajam itu, Mel? Nggaklah,” Dimas tertawa kecil mengundang senyuman merekah di bibir gadis itu. Untunglah. “Iya pendengaran kamu gak tajam, itu sebabnya kamu gak denger deringan telfon kamu, kan? Sampai otak kamu juga ikut mati, lupa kalau kamu janji mau jemput aku kemarin.” Gadis itu tampak langsung mengalihkan pembicaran pada topik lain. Hal yang ingin dibicarakannya sejak kemarin. Hal yang membuatnya marah di hari itu. Penjelasan Hana membuat Dimas seketika terdiam. Ohh dia benar-benar telah melupakan itu. Apa yang harus ia jawab ketika gadis itu bertanya ‘kemana?’ Hana masih menatap Dimas dengan pantauan penasaran. “Kemarin...” Dimas menjeda. Rasa ingin tahu Hana semakin memuncak. “Kemarin aku bener-bener lupa, Mel,” ucapnya meneruskan kalimatnya. “Dan sialnya Hp aku malah mati dan---“ “Tunggu-tunggu...” potong Hana merasa ada yang menjanggal. Keningnya berkerut di tengah kebingungannya. Membuat Dimas menelan air liur dalam sekejap. “Tapi suara jawaban itu bilang, kalau kamu emang gak bisa dihubungin. Bukan gak aktif,” ia pun menemukan sebuah jawaban. “Kamu bohong?” “Nggak buka gitu Mel. Maksud bukan Hp aku yang mati, tapi sinyalnya ilang. Itu sebabnya siapapun yang nelfon gak akan kehubung.” “Kemana?” “Aku pergi ke pedesaan. Ketemu temen lama. Dan aku bener-bener minta maaf, aku udah lupain janji aku,” Dimas memohon dengan sangat. Meski bibirnya itu berkata lain dengan faktanya. Kemarin dia sibuk dengan wanitanya yang lain. Wanita itu minta diantarkan pulang, rumahnya berjarak sangat jauh hingga menempuh waktu yang banyak. Jangan sampai Hana tahu. Dia sangat mencintai gadis ini, tapi rasa ketertarikannya pada gadis lain belum bisa dihentikan. Seperti ketergantungannya pada alkohol. Maaf Mel, aku belum bisa jadi cowok setia batinnya merasa bersalah. Sementara gadis yang mencoba percaya walaupun tak sepenuhnya dengan apa yang ia dengar hanya diam. Hanya matanya yang berbicara. Ia harus percaya pada Dimas. Dan dia sangat percaya Dimas. Jangan sampai pria itu menghancurkan kepercayaannya. Anggukan pelan mulai terlihat di kepalanya. Membuat Dimas lolos dari rasa takutnya. “Dimas. Apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?” “Apa?” “Berhenti minum...” Hana menjeda kalimatnya itu. Setelah pembicaraan sebelumnya telah tuntas dibicarakan, kali ini Hana ingin mencoba membujuk Dimas lagi. “Itu gak baik buat kesehatan kamu. Aku juga gak mau kalau mereka tau, kalau pacar aku ini suka dateng ke bar dan minum. Apalagi kalau sampai kakek aku tau. Aku gak tau apa dia bakal restuin dan suka sama hubungan kita atau nggak,” raut wajah itu seketika berubah. Menampakkan ekspresi kecemasan yang tidak dapat diungkapkan kata kata. Tapi pria yang mendengarnya ini tiba-tiba bungkam. Ada sebersit rasa kecewa yang melintas di kedua matanya. “Jangan marah. Aku mohon, Ren,” ucapnya lagi dengan tegas. “Apa ini risiko punya pacar? Dia yang selalu ngatur-ngatur pasangannya dengan alasan tertentu.” “Ini demi kebaikan kamu!” “Kamu malu punya aku yang kaya gini? Kamu gak suka?” Hana menggelengkan kepala ‘Tidak!’ Justru ia sangat bahagia memiliki kekasih seperti Dimas Alvaro. Cuma hanya satu keinginannya, dia ingin Dimas menjadi pria yang lebih baik lagi. Membuang kebiasaan buruknya. “Anggap ini sebagai ungkapan rasa khawatir aku, Dim. Jangan salah sangka dan nyebabin kita bertengkar. Aku harap kamu ngerti. Tadi kamu bilang sama aku, apa aku cuma bisa abis-abisin uang untuk dateng ke sini? Terus gimana sama kamu? Apa kamu juga buang-buang uang itu buat hal yang sama sekali gak penting? Apa kamu bisa lawan ketergantungan itu? Ayolah, Dim, coba aja. Aku yakin kamu bisa.” Pria itu tidak merespon apapun. Hanya picingan mata tajam yang ditangkap oleh perempuan berbulu mata lentik itu. Tak ada bedanya dari sebelumnya. “Satu kali lagi aku mohon.” Itulah ucapan terakhir yang Hana lontarkan sebelum berdiri dan pergi meninggalkan kamar ini. Sekarang suasana menjadi sangat hening. Apa dia hanya ingin mengatakan itu hingga harus datang ke sini? Tak ingin berkencan atau mengajak berbelanja? Kini pria itu tengah menatap punggung Hana yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangannya. Gadis itu sama sekali tidak menutup pintunya. Dimas mengerti, gadis itu menyuruhnya untuk segera bangun dan menjalani aktifitasnya. Dimas menggeleng pelan disertai senyum sinisnya. Sampai kapanpun ia tidak mau menghentikan apa yang menjadi kesukaannya. Hana sendiri, apa dia bisa menghilangkan kecintaannya pada pria-pria dan drama-drama Korea itu? Tidak, kan? Lalu mengapa dia selalu melarang-larang hobi seseorang? Meski pada pacar, tapi dia tidak berhak menuntut apa-apa. Dimas akan bersenang-senang sesuka hatinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD