...
Pertemuan singkat tak mengubah kenyataan bahwa seseorang bisa jatuh cinta dalam sekejam mata. Jatuh cinta itu wajar dan manusiawi bagi setiap insannya. Sekeras apapun dia, cinta akan dengan gampang meluluh lantahkan sebuah hati. Darah seketika berdesir saat dia yang kita cinta berada di dekat kita. Dan jantung pun ikut meloncat-loncat.
Sama seperti gadis yatim piatu ini. Tak butuh waktu banyak untuk merasakan getaran itu. Dia mencintai Dimas dengan waktu yang cukup singkat. Tak butuh kata romantis yang banyak terucap di bibir. Tak butuh tubuh untuk memeragakan sikap romantisnya seperti berlutut dengan setangkai bunga di tangan. Hanya dengan pertemuan kedua, semuanya seketika berubah. Ada kalanya seseorang membenci sesuatu, dan ada saat tertentu di mana dia malah menyukai apa yang dibencinya.
Seperi apa yang dirasakan Hana sekarang. Tepat pukul empat sore, hujan datang mengguyur perkotaan. Membuat para pejalan kaki rusuh dan segera berlari ke sana kemari. Mencari tempat untuk menyembunyikan badan dari percikan air-air yang kadang menyebalkan itu. Tapi, jangan sampai kita terlalu membenci hujan saat mereka datang, hujan itu rezeki untuk manusia. Jika tak ada hujan, bagaimana manusia bisa hidup? Bagimana cara mereka membersihkan baju yang kotor? Bagaimana cara mereka membasahi tenggorokannya yang kering. Air itu mempunyai peran yang paling penting dalam kahidupan ini.
Seorang pria segera berbagi alat peneduhnya di atas kepala Hana yang tengah gelisah saat hujan datang di waktu yang tidak tepat. Sebuah payung berwarna merah hati. Kini benda itu menahan buliran air yang akan jatuh membasai seluruh bagian badan gadis itu. Hana segera menoleh karna merasakan kejanggalan. Kulitnya tak merasa dejatuhi air lagi.
“Gak usah takut. Hujan gak seserem setan yang ada di bioskop kemarin,” pria itu memamerkan senyum. Membuat siapaun wanita yang melihatnya merasa terkagum-kagum bagai hentikan waktu. Dalam alam bawah sadarnya, gadis itu seperti melihat pangeran hedonis yang sangat tampan acap kali melihat senyuman yang sangat manis itu. Sama seperti di bioskop sehari yang lalu, pria itu selalu beberapa kali memberikan senyum dan tawanya.
Kenapa? Kenapa? Ada apa dengan Hana? Secepat itukah dia jatuh cinta? Jatuh cinta pada selain para aktor-aktor tampan yang selalu dilihatnya di layar TV. Sekarang jantungnya yang bekerja, ia tidak bisa memungkiri perasaan kagum ini. Ya Tuhan. Ini aneh. Apa pria itu memakai pelet? Pikirannya mulai ngasal.
“Mungkin kita jodoh. Kita ketemu lagi,” lanjut pria itu melambaikan tangan. Suara rintikan hujan menjadi penghalang ucapannya untuk sampai pada daun telinga Hana. Membuat gadis itu hanya tersenyum senyum kecil.
Beginilah Dimas, jika dia belum mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak akan berhenti untuk mendekatinya.
Hana, ini bukan diri kamu. Kenapa kamu harus senyum-senyum? Decaknya membatin. Tapi tak ada cara lain, pria itu sudah membantunya.
“Kita berteduh aja, payung ini gak cukup buat dua orang,” ajak pria itu riang. Sementara Hana langsung melepaskan pandangannya pada pria itu. Tak ingin terpikat lebih dalam oleh pesonanya. Hana mengangguk kecil sebagai tanda persetujuannya seraya mulai berjalan. Dia seperti bukan diri aslinya, ada sebuah roh yang masuk dan menjelma menjadi sosoknya.
Kini mereka sudah meneduhkan diri di bawah pohon besar. Daun yang lebat. Cukup untuk berteduh sementara sampai hujan reda. Untung hujan itu tak terlalu deras.
Tak ada suara apapun yang dikeluarkan gadis yang tengah memeluk tubuhnya dengan kedua lengannya itu. Sesekali menatap langit yang tengah menghujani buminya. Sempat terlintas dalam benaknya, hujan telah merenggut sebuah berlian berharga dalam hidupnya. Cuaca seperti ini yang menyebabkan keburukan bagi pesawat-pesawat yang melintasi langit kelam itu.
Cukup. Hana mengerjapkan mata beberapa detik. Ia tidak ingin mengingatnya lagi. Ia kembali menunduk. Dingin ini terasa menelusuk ke dalam tulang dan semua organnnya. Pria yang sedari tadi menyaksikan dalam goresan wajah Hana memilih untuk mencoba bersuara. Supaya tidak terlalu hening. Jangan biarkan hujan ini bermelodi dengan asyiknya sendirian.
“Oh ya, kemarin kita balum sempet kenalan. Siapa nama kamu, nona cantik?” pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Dimas. Tak ada kecanggungan apapun. Yah, dia memang pria yang pandai bergaul dengan lawan jenisnya. Pandai juga memuji dan menggoda. Hana sedikit menoleh, “Nde?”
Jawaban kecil itu membuat kedua halis tebal yang berada di atas mata Dimas mengerut. Tidak mengerti. Bicara apa gadis ini?
“Eh maaf,” Hana baru sadar bahwa tadi ia salah menjawab. Bagaimana pria ini tahu bahwa itu adalah kata ‘Ya’ yang diucapkan dengan bahasa Korea. Duh! Hana terlalu terobsesi dengan bahasa negara asing itu. Sampai mulutnya pun selalu meleset. Membuat orang lain yang mendengarnya merasa aneh dan bertanya-tanya.
“Nama aku Hana Anastasya, panggil aja Hana,” gadis itu tersenyum sesaat. Dimas mengangguk mengerti. Sekarang ia sudah tahu namanya. Hana kembali berpaling ke arah lain. Dalam hati Dimas bertanya, apa gadis ini tidak akan menanyakan balik namanya? Sungguh aneh.
Ya, perempuan itu juga ikut merasakan keanehan. Kemarin dia berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah tertipu oleh laki-laki manapun. Ternyata beginikah rasanya, saat rasa itu mulai terpikat oleh sesuatu. Rasanya nyaman. Ini untuk yang pertama kalinya. Bahkan Hana tidak tahu, bagaimanakah sifat asli pria ini. Apa maksud darinya mendekatinya seperti ini? Apa ini hanya sebuah kebetulan? Layaknya cinta yang juga datang kebetulan. Semuanya dijalankan oleh Tuhan, manusia tidak akan tahu apa-apa. Tak usah tahu apa maksud dari semua itu, jalani saja apa yang ada.
Dia sungguh berbeda dengan pria bernama Kimmy Carles. Jika seorang pria menyukai seorang wanita, langsung saja katakan atau sekedar mendekatinya saja. Tapi dia sama sekali tidak melakukan itu, hanya bersembunyi dan memperhatikan dengan diam-diam. Tak ada keberanian apapun.
Sepertinya Dimas pria yang cukup asyik. Ucapnya dalam hati.
“Kayaknya hujan udah mulai berhenti,” ucap Hana menghela napas. Udaranya benar-benar dingin. Seperti sebuah ruangan es yang tengah mengelilinginya. Salah satu hal yang membuat gadis itu tidak menyukai musim hujan.
“Seneng ketemu kamu, Mel. Apa kedepannya kita bisa saling ketemu dan kenal lebih deket lagi? Kalau bisa, jangan waktu hujan datang. Kita gak bisa kemana-mana. Cuma tempat berteduh kaya halte atau kaya pohon ini, atau cuma sekedar, yaaa, minum teh anget di Cafe. Kurang seru.” Melihat logatnya, dia tampak tengah mengajak Hana kencan kala hujan tak sedang mengguyur bumi lagi. Seperti lelaki kebanyakan.
“Iya kita bisa ketemu lagi,” jawaban itu terlontar tanpa kendali. Lidah ini benar-benar menyebalkan! Bersuara tanpa diperintah.
Tergambar senyuman yang menyempurnakan ketampanan Dimas. Dia senang, ajakannya diterima oleh gadis ini. Apa mungkin dia mengubah sikapnya dengan waktu yang tidak lama? Kemarin dia adalah sosok yang dingin dan pemarah. Tapi sekarang beda, berubah drastis. Apa Dimas sudah berhasil membuatnya jatuh cinta? Pertanyaan demi peranyaan berjatuhan di benak Dimas.
Hana memberanikan diri melirik lebih jelas pria yang kini tengah menutup payungnya untuk bergegas pergi. Saat menyadari pandangannya mendapat balasan, dengan cepat Hana memalingkan wajahnya lagi. Huh! Ketahuan! Ceroboh sekali dia. Dimas lantas tersenyum geli melihat tingkah gadis di dekatnya. Dia berusaha tetap jual mahal. Tidak ingin mengakui bahwa dia telah tertarik dengan seorang pria yang baru dikenalnya.
Iya, sekarang Hana akui. Untuk pertama kalinya rasa benci akan hujan itu seketika menghilang. Menyita semua pikiran jeleknya tentang hujan. Bisa dikatakan, cinta pertamanya datang di kala hujan tengah turun. Jatuh cinta dalam situasi yang paling dibencinya. Sungguh menyedihkan.
Untuk sementara, aku suka hujan. Hanya hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga.
***