For a while, I hate what I like...

1552 Words
Bukan hanya apa yang dibenci akan berubah menjadi suka karena suatu alasan. Lalu setelah itu membencinya lagi. Tapi apa yang disuka pula akan berubah menjadi benci karena suatu alasan juga. Paras tampan itu tengah menghiasi layar kaca sebuah TV yang terpajang di dinding. Seulas senyum dan setiap kali berucap, aktor Korea itu membuat Hana tersenyum-senyum. Ini dia aktor namja Korea idolanya. Siapa yang tidak tahu dengan Song Joong Ki si Captain Yoo menggemaskan dalam serial drama Descendants of the Sun? Drama ini sangat mengasyikan. Sosok Captain Yoo yang berwajah imut dan tampan, serta tatapannya yang menarik perhatian si peran perempuan yang bernama Dr.Kang yang diperankan oleh Song Hye Kyo, si Queen of Drama di Korea. Drama yang mengangkat cerita kisah cinta tentang seorang tentara dan dokter. Setiap kali Hana menontonnya, selalu membuanya terbawa suasana. Tertawa, menggelikan, menakutkan, menegangkan, bahkan menyedihkan, semuanya tercampur menjadi satu. Tidak heran jika drama ini mendapat sambutan hangat dari para penikmatnya. Drama ini pun laku keras saat setiap kali ditayangkan di stasiun TV berbagai Negara. Tidak hanya itu, sebelumnya Hana memang sudah tertarik akan sosok Capain Yoo. Dalam serial yang sudah lama ia tonton dengan judul Innocent Man/Nice Guy, aktor itu sudah menyita perhatiannya. Hana sendiri sangat menyukai drama bergenre romance dan melodrama itu. Drama yang sungguh membuatnya susah berpaling pada drama yang lain. Butuh waktu yang cukup lama untuk melupakan kesukaannya pada drama itu. Sukses membuat Hana terkagum-kagum akan sosok yang membuat cerita sebagus itu. Kisah cinta segitiga yang sangat unik. Karna keasyikannya itu, Hana tidak menyadari bahwa ponsel yang tergeletak sembarangan di atas kasurnya berkedip-kedip menandakan bahwa ada panggilan masuk. Bahkan sebelumnya juga ada pesan yang masuk pada ponselnya itu. Hanya bergetar dan tak bersuara hingga Hana tidak mendengar apa-apa. Dia hanya sibuk memperhatiakn tontonan yang tengah ia ikuti. Tak boleh tertinggal dalam setiap detiknya. Kadang terdengar tawa dari mulutnya itu. Di tempat lain, seorang pria berdiri di luar menikmati semilir angin malam. Ia simpan ponselnya di atas meja setelah sekali menelfon seorang yang ia inginkan kehadirannya di sini. Untuk menikmati kopi hangat berdua. Sangan menyenangkan, mungkin. Tapi biarlah, mungkin dia tidur di atas kasur empuknya. Ini memang sudah larut malam. Dimas duduk di atas kusi, menyeruput secangkir kopi s**u di tangannya. Membuat tenggorokan yang dingin dialiri kehangatan. Ini memang tidak seenak apa yang selalu Dimas minum, tapi cukup membuat badan seperti dililiti selimut di musim dingin. “Tumben kamu gak ke bar,” suara itu memecahkan keheningan, karena sedari tadi hanya embusan angin yang bersuara. Dimas menoleh ke samping. Dia sudah tahu bahwa yang tadi berbicara itu adalah kakaknya, Rere. Perempuan yang awalnya hanya melipatkan kedua tangannya di bawah d**a kini mulai melangkahka kaki mendekat. Lalu duduk di satu kursi yang masih kosong. Yaah memang, seharusnya kursi itu ditempati oleh Hana. “Apa kamu udah mulai mau dengerin permintaan Hana sama kakak? Gak akan pergi ke tempat itu lagi.” Sang adik hanya diam. Tidak menggubris apa-apa. Bahkan anggukan pun tidak ia perlihatkan. Hanya terdengar helaan napas kecil dari hidungnya. Secangkir kopi di tangannya ia simpan kembali di atas meja. “Apa yang bakal kamu lakuin saat dia tau kalu kamu punya pacar banyak selain dia? Ninggalin dia atau kamu tetep pertahanin dia, ngejar dia, walaupun Hana marah banget sama kamu?” tanya kak Rere yang lagi-lagi membuat Dimas mengalihkan pandangannya. “Bukan aku yang seharusnya dapetin pertanyaaan itu, tapi Hana sendiri,” jawab Dimas santai sebelum ia menggeleng gelengkan kepalanya. “Kamu sendiri? Kamu cinta Hana?” “Iya.” “Terus kenapa masih terus terusan berhubungan sama cewek lain?” “Karena aku suka mereka.” Jawaban itu terkesan enteng. Dan akan membuat hati seorang perempuan yang mencintainya sakit. Luka dalam hati akan tiba-tiba muncul. “Berarti kamu gak setia,” komentar kak Rere. “Iya, kak. Aku emang gak setia. Tapi ini hidup aku. Aku emang cinta sama Hana, tapi saat aku jauh dari dia, aku butuh yang lain. Kalau aja Hana bisa terus terusan ada di samping aku, gak akan ada kesempatan buat aku pacaran sama perempuan lain,” jelas Dimas. “Segampang itukah kamu bilang gitu, Ren? Kakak kalau jadi Hana, gak tau nanti bakal gimana saat tau semuanya. Kamu pinter Ren, bisa bohongin dia sampai selama ini. Tuhan baik banget sama kamu. Iya kakak tau, karena Hana jarang ada di sisi kamu. Kalian jarang jalan berdua, gak kaya pasangan lain. Tapi kakak tau, setiap kali Hana dateng ke sini, kakak bisa liat dari bayangan matanya. Dia bener-bener khawatirin kamu saat dia tau kalau kamu pulang malem lagi. Kakak bisa liat juga pancaran matanya yang bilang kalau dia itu cinta dan sayang banget sama kamu. Dia tulus banget sama kamu. Itu sebabnya dia gak pernah ada ujungnya nyuruh kamu berhenti ngejalanin hal-hal yang nanti bikin kamu rugi. Dia sayang kamu, Ren.” Perempuan yang menjadi sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya itu sepertinya mencoba untuk membujuk adik satu-satunya. Membujuk untuk menjadi pria yang setia pada wanitanya. Wanitanya yang sangat peduli akan kehidupan kekasihnya. Jangan sampai dia menyakiti seorang perempuan, karna itu akan mendatangkan beban baginya. Beban yang disebut sebagai hukuman cinta, kelak. Kak Rere juga sempat merasakan sakit atas sebuah pengkhianatan dari seorang pria. Itu sebabnya ia tidak ingin adiknya melakukan hal yang sama seperti yang lain. Dia yang meniggalkan kekasihnya sesuka hati, atau malah melukai hatinya dengan selingkuh di belakangnya. Mereka itu laki-laki jahat. Lebih jahat dari seorang monster. “Suatu saat kamu bakal kehilangan dia. Jangan salahin orang lain kalau itu terjadi,” lanjut kak Rere lagi dengan volume suara yang menurun. Tapi tak membuat isi hati Dimas berubah sedikitpun. Seolah daun telinganya itu tak ingin mendengar apa-apa. Tampak cuek dan tidak penting. Pria itu telah dalam menikmati sensasi sentuhan tangan dan bibir dari banyak wanita. Membuat otak kembali lebih fresh dan menghilangkan banyak penat. Sungguh dia bosan dengan Hana, dia terlalu sibuk dengan dunia kerja dan drama-drama Koreanya. Sehingga waktu untuk berdua sulit sekali didapatkan. Tapi jujur, tautan hatinya dengan gadis itu sangat erat. Dimas sangat mencintai Hana, tapi ya begitulah, seperti apa yang dikatakan sebelumnya, dia belum bisa menjadi pria setia. Pria yang hanya mencintai satu orang perempuan. Dan pria yang memberikan seluruh cintanya pada sang pasangan. Dimas belum bisa menjadi seperi itu. *** Tangan Hana menggapai ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Ia nyalakan dan tertera tulisan ‘1 Panggilan tidak terjawab’ di atas layar. Tak lupa dengan tulisan ‘1 Pesan belum dibaca’ dibawahnya juga. Kedua mata hitam beningnya membulat sempurna. Dengan cepat ia menyentuh kotak pesan dalam layar ponselnya. Munculah beberapa rangkaian kata yang membentuk kalimat di sana. ‘Tadi pagi, apa kamu cuma mau nasihatin aku doang? Tanpa ada hal lain lagi? Setelah aku pikir-pikir, mungkin nggak. Kamu punya maksud lain, tapi kemarahan kamu atas tolakan permintaan kamu buat aku ngebuat kamu pergi dan lepasin niat. Sini, Mel, malam ini aku ada di rumah. Kita nikmatin kopi anget berdua. Kamu mau?’ Kira-kira itulah isi pesan yang tergambar jelas dalam tangkapan mata Hana. ‘1 Jam yang lalu’ Ahh. Ini sudah terlalu lama! Hana bedecak kesal. Bodoh sekali dia! Benar-benar bodoh! Baru kali ini Dimas mengajaknya bertemu di malam hari. Tapi kesempatan itu telah dilewatkannya. Tapi sesuatu terlintas dalam benaknya membuat dia ingin sekali datang ke rumah itu. Tak peduli tentang langit yang sudah menggelap. Dengan cekatan, Hana menyambar jaket yang berada pula di atas ranjangnya. Mulai berlari meninggalkan kamar dalam keheningannya. Apa bisa pria itu menunggu? Jika kopi yang tadi dibuatkan Dimas sudah dingin, bisakah dia membuatnya lagi? Dimas benar, hari ini dia ingin sekali pergi berkencan dengannya. Tapi akibat pertengkaran kecil itu, malah menjadikan keinginannya seketika lenyap. Terdengar suara decitan mobil dari sana akibat ban mobil yang bergesekan dengan aspal yang tengah dihujani air. Dalam perjalanan, hujan datang tanpa pembertahuan. Tidak cukup deras tapi membuat Hana merasa sebal. Kedua mata Hana melihat sekeliling rumah kokoh di samping mobilnya itu di balik jendela yang kini dibuliri air bening. Pagar rumah itu tertutup rapat dan lampu dibiarkan terang di luar teras. Tak ada siapa-siapa di sana. Kosong. Hanya dua buah kursi kayu dan meja di tengah-tengahnya. Dan hanya terdengar suara rintikan air hujan. Gadis itu menghembuskan napas pelan. Mungkin Dimas sudah kembali ke dalam dan melupakan ajakannya. Pria itu tak mungkin menunggunya lama-lama. Yah, bahkan hanya satu panggilan yang terkirim. Jika memang ingin bertemu sekali, seharusnya bukan angka satu yang tertera, bisakah menjadi 10 atau bahkan 20? Tidak mungkin. Tak perlu menunggu apa yang tidak pasti. Hana kembali menghidupkan mobilnya bermaksud untuk kembali pulang ke rumah. Tak ada gunanya dia tetap di sini. Lampu mobil sedan hitam itu mulai menyala-nyala dan terdengar deruan kecil dari belakang. Kakinya menginjak pedal gas, keempat roda itu menggelinding mulus meninggalkan tempat yang dipijaknya tadi. Bukan hanya apa yang dibenci akan berubah menjadi suka karna suatu alasan. Lalu setelah itu membencinya lagi. Tapi apa yang disuka pula akan berubah menjadi benci karna suatu alasan juga. Gadis dengan keelokan indah pada parasnya ini mulai merebahkan diri di atas ranjang. Matanya belum terpejam. Jika saja ia tidak asyik menonton, pasti sekarang ia masih berada di sisi Dimas. Menikmati angin malam ditemani minuman hangat. Hanya berdua. Ini mungkin tak akan terjadi dua kali. Apakah masih ada harapan di hari berikutnya? Karena ini, karena inilah detik ini Hana kesal pada tayangan drama Korea yang selalu dicintainya. Karena tayangan tersebut telah membuatnya lupa dan tak melirik apa-apa. Drama yang khas dengan cerita menariknya telah menguncinya rapat rapat. Sangat disayangkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD