Bab 23

1523 Words
*** "Emmm, nggak apa-apa kok, Pak. Saya yang nggak enak, nanti bisa-bisa Bapak diomongin sama karyawan yang lain." "Jadi kamu memang nggak suka kita berdua makan bersama? Biasanya banyak yang memimpikan bisa makan berdua bersama presdir hotel terkenal seperti saya." "Bukan gitu, Pak. Biasanya kita gak pernah kayak gini. Ntar saya yang ada dibully lagi karena dekat-dekat sama Bapak, atau bisa jadi nanti pacar bapak labrak saya atau lebih parah istri bapak yang labrak saya." Alan hanya tertawa mendengar penuturan dari Hana. "Sejak kapan beredar gosip kalau saya punya pacar apalagi punya istri?" "Yaaa siapa tau, Pak." Hana duduk saat mereka tiba ditempat tujuan, mereka memilih meja nomor 03. "Biasanya kan orang-orang kayak bapak punya istri kontrak, kayak yang ada di novel-novel tuh." kata Hana dengan wajah datar. Beberapa waktu lalu dia sempat membaca sebuah novel yang menceritakan seorang CEO yang menikahi perempuan dengan pernikahan kontrak hanya untuk mendapatkan keturunan. "Jangan aneh-aneh, kamu pikir saya laki-laki seperti itu? Sudah, mau makan apa? Saya nggak akan batasi apapun yang kamu pesan." "Samain aja deh sama Bapak, saya nggak mau makan yang macem-macem. Ntar uang bapak habis lagi." kata Hana setengah bercanda. Alan tertawa terbahak. "Oh tenang, saya bisa beli restoran lain untuk bisa masuk ke hotel saya." "Ternyata pak Alan orangnya sombong ya. Pantas jomblo." "Kenapa? Kamu mau jadi pacar saya?" Hana benar-benar tersedak atas ucapan Alan barusan. "Ma--maksud bapak? Jangan aneh-aneh, Pak. Gimana mungkin Bapak ngajak saya pacaran, Bapak aja tau saya baru kemarin." "Kenapa? Apa itu tidak mungkin bagi saya? Atau kamu yang malu dekat dengan saya?" "Pak, saya pernah kehilangan seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Sejak saat itu saya memutuskan bahwa dia yang akan jadi cinta terakhir saya. Saya tidak pernah merasakan cinta setelah kepergian dia. Rasanya, saya sangat tidak pantas buat bapak yang begitu sempurna. Pasti ada perempuan lain di luar sana yang jauh lebih baik untuk menjadi kekasih bapak." "Oh ya? Kamu seyakin itu saya bisa mendapatkannya? Kamu menolak saya secara halus?" "Saya yakin, pasti ada yang jauh lebih baik dari saya untuk menjadi pendamping bapak." Alan tampaknya tidak suka dengan jawaban dari Hana. Ada rasa kecewa yang dia rasakan. Alan tahu, mungkin dia baru mengenal Hana kemarin. Namun Hana benar-benar berhasil menarik perhatiannya. "Bapak bisa berdoa sama Allah agar Bapak segera dipertemukan dengan jodoh bapak." "Kalau nyatanya kamu jodoh saya bagaimana?" "Nggak mungkin lah, Pak. Becanda mulu." "Oke, saya akan berdoa. Dengan begitu doa saya pasti akan naik ke langit menembus langit yang berlapis-lapis, biar saja doa saya yang bertajuk di atas sana sampa Tuhan mengatakan bahkan kamu memang jodoh saya." Alan hanya melanjutkan makan siangnya setelah menjawab pertanyaan dari Hana. Hana kembali diam. Sungguh, sebenarnya ada sedikit kesamaan antara mendiang Dimas dengan Alan. Sama-sama keras kepala dan suka memaksa. "Pak... Itu, di sudut bibirnya ada sisa makanan." "Sisa?" Alan meraih tissue yang ada di samping kirinya. "Masih ada ya?" "Sebelah kiri, Pak." Hana menunjuk pipinya sendiri untuk menunjukkan posisi sisa makanan Alan Sorot mata karyawan lain sempat memandang geli Hana yang terlihat dekat seakan memiliki hubungan khusus. "Masih ada, Pak. Emmm, maaf." Tangan hanya kemudian terangkat dan bergerak untuk mengambil sisa makanan yang ada di pipi Alan. Kedua mata mereka saling beradu. Sungguh, jantung Alan berdetak abnormal. Sebab, ini kali pertamanya dia merasakan detak jantung yang berdebar saat menatap seorang perempuan. "Hmm...a.. hehehe.. maaf." Alan tersipu malu dengan kejadian ini. "Hari ini pulang pukul berapa? Nanti kita pulang bersama." "Jam empat sore, Pak. Bapak yakin? Masih lama loh. Saya nggak enak sama bapak. Terus apa kata Pak Mario nanti," "Serius, saya tunggu kamu sampai selesai jam kerja. Papa saya tidak ada masalah apapun dengan siapa yang saya dekati." Hana mengembuskan napas pelan. Ternyata benar, Alan benar-benar orang tukang maksa. "Liat tuh si Hana, berhasil singkirin si Ika, eh sekarang malah kegatelan dekatin si Bos!" kata salah satu karyawan di hotel Alan. Kalimat itu memang pelan, namun masih kentara terdengar oleh Alan. Alan melirik arah pembicaraan dua perempuan itu, mereka berada di pojok kiri kantin arah menuju toilet. Jaraknya hanya 10 meter dari tempat Alan dan Hana duduk. "Besok saya ada dinas di Bali, jadi kita nggak bisa bersama dulu. Terimakasih sudah mai manjadi teman makan saya." "Ohh, iya, Pak. Semoga sukses acara di Bali nanti. Tapi, ini lagi musim hujan, apa penerbangan aman?" "Kenapa dengan hujan?" "Orang bilang hujan itu rahmat dari Tuhan. Saya percaya itu, tanpa hujan mungkin nggak akan ada kehidupan di bumi ini. Cuma, saya sangat benci saat hujan turun. Bagi saya, hujan itu selalu mengingatkan saya tentang hal-hal yang menyakitkan. Hujan merenggut orang-orang yang saya sayangi. Kedua orang tua saya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat pulang menuju Indonesia. Itu terjadi karena hujan badai. Dimas, lelaki yang saya cintai, lelaki yang hampir berhasil membuat saya menyukai hujan, tapi lagi-lagi hujan mengambil dia dari saya." Alan tertegun mendengar penuturan dari Hana. Rasanya dia sama persis dengan peristiwa saat usia Alan menginjak 5 tahun. Dimana hujan juga telah merenggut sang mama. "Ah saya malah jadi curhat. Udah selesai kan pak makannya? Atau bapak masih mau nambah?" "Terimakasih untuk hari ini Hana." "Iya, Pak. Sama-sama." Setelah Alan membayar makan siangnya dengan Hana, dua teman yang memperhatikan gerak gerik Hana yang sangat dekat dengan Alan membuat rasa penasaran temannya semakin menjadi. *** "Hana, kamu ada hubungan apa sama Pak Alan? Kayanya pake pelet ya. Bisa-bisanya Pak Boss di deketin karyawan rendahan." "Pakai pelet gimana maksud kamu?" "Terus kenapa kamu dekatin Pak Alan? Jangan-jangan cuma porotin harta aja." Cibir Nina teman satu tim Hana. "Terserah kalian, emang aku peduli gitu?" "Hahaha yakin? Biasanya setelah pacaran di tinggal lagi, secara Pak Alan orang terpandang Han, jangan ngarep deh!" "Siapa yang berharap? Lagian aku sama pak Alan cuma berteman. Apa itu salah? Nggak selamanya orang dekat itu pacaran dan ngarep-ngarep. Kalian risih? Kalau kalian risih biar aku yang ajuin pengunduran diri." "Yaudah sih, kok jadi ngomel. Suka ya sama Pak Alan?" *** "Alan, boleh papa bicara sama kamu?" "Bicara tentang apa, Pa?" Mario mengambil napas dalam-dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. Dia bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati putranya yang duduk di atas sofa "Selama ini papa tidak pernah sekalipun melihat kamu segitu pedulinya sama perempuan. Tapi dengan perempuan bernama Hana, kenapa kamu mau peduli?" "Maksud papa?" "Seperti yang kita tahu, kamu nggak pernah tertarik berurusan dengan perempuan, termasuk perjodohan saja kamu tidak mau peduli. Apa ini perkembangan bahwa kamu sudah mau memikirkan pasangan hidup?" "Aku juga tidak tahu, Pa. Rasanya aneh saat aku ada di dekat Hana." Mario tersenyum malu. Jika memang sang anak jatuh hati pada perempuan bernama Hana, itu artinya ini adalah sebuah perkembangan yang sangat baik, sang anak sudah mau membuka hati dan memikirkan urusan pasangan. Sebab bagaimanapun Alan harus memiliki keturunan. Apalagi sekarang usianya sudah memasuki 30 tahun. "Lanjutkan, Papa akan dukung kamu. Apa kamu mau dijodohkan dengan dia?" "Memangnya papa bisa?" "Apa sih yang tidak bisa papa lakukan? Setelah semua urusan kita di Bali selesai, papa akan atur semuanya. Papa pastikan kamu kamu akan bersatu dengan perempuan pujaan hati kamu itu." "Jatuh cinta seperti ini ya rasanya? Dulu aku nggak percaya jatuh cinta pada pasangan pertama, tapi setelah aku bertemu Hana, aku malah merasakannya. Seakan-akan aku kemakan omonganku sendiri." Mario terkekeh pelan mendengarnya. Haru dan bahagia, Mario sampai heran apa yang Hana lakukan hingga berhasil mencuri hati Alan yang begitu sulit di dapatkan. Tidak lama setelah itu ketukan kembali terdengar. Alan mempersilahkan seseorang di luar untuk segera masuk. Kemudian dia melihat sosok Hana kembali muncul "Hana?" tanya Alan bingung. Melihat Hana saja Alan sudah cukup senang. Mungkin kali ini Alan benar-benar sudah jatuh cinta. "Permisi, Pak." "Iya, ada apa?" "Maaf pak Alan, Pak Mario. Saya, saya ingin mengundurkan diri dari hotel ini." Kedua bola mata Alan terbelalak kaget. "Apa? Kenapa?" Tidak hanya Alan, Mario juga ikut kaget dengan pernyataan Hana barusan. "Hana, kamu marah dengan saya?" tanya Alan tak mengerti "Tidak, Pak." "Lantas kenapa?" "Saya tidak ingin memancing keributan di sini, Pak. Sesuai dugaan saya, banyak orang yang mengira hal yang bukan-bukan terlebih tadi kita sempat makan bersama." "Apa ada orang yang mengganggu kamu?" "Bapak jangan pecat mereka lagi, cukup Ika saja. Biar saya yang keluar dari sini." "Tidak bisa, Hana." Mario akhirnya angkat bicara. "Kamu sudah tanda tangan surat kontrak, kamu tidak bisa memutuskan hubungan kerja secara sepihak saja. Kecuali kamu resign karena menikah, itu tidak masalah." Hana hanya diam. Mata Alan tak berhenti menatap Hana. Ada rasa takut tidak bisa bertemu lagi dengan Hana. "Tapi, Pak..." "Kamu mau melanggar perjanjian dengan saya?" tanya Mario tegas. Dia tahu kepanikan Alan, Mario tentu tidak ingin pula kehilangan calon menantunya. "Apa yang mereka katakan tentang kedekatanmu dengan Alan?" "Tidak apa-apa, Pak. Jika memang bapak tidak mengizinkan saya resign, baiklah. Saya akan melanjutkan hingga kontrak kerja saya habis." "Bagus, jika hari ini kamu lelah dengan omongan mereka, kamu bisa pulang. Alan, kamu antar Hana, pastikan dia sampai di rumah dengan selamat." Hana benar-benar menjadi tidak enak. Sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh Hana bahwa dia akan ada di situasi seperti ini. Belum lagi pernyataan Alan tadi yang mengajaknya untuk berpacaran. Bukan perihal mereka yang baru saling mengenal, namun Hana takut jika dia tidak mampu membalas perasaan Alan dan akan mengecewakan Alan seperti dia mengecewakan Kim dulu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD