Bab 24

1139 Words
*** Hana benar-benar di antar pulang oleh Alan. Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali. Begitu pun dengan Alan, namun sesekali mata Alan melirik Hana yang ada di samping. "Kamu masih memikirkan perkataan teman kerja kamu? Kalau kamu sampai mengundurkan diri, siap-siap saja orang itu akan bernasib sama seperti Ika." Kening Hana berkerut, kemudian dia memalingkan wajah dan melihat Akan yang sedang fokus menyetir. "Jangan, Pak. Kalau Bapak tiap hari mecat karyawan Bapak, nanti yang ada Hotel Grandnalan bisa bermasalah." "Masih banyak yang bisa diterima bekerja di hotel saya. Saya tidak akan rugi kehilangan karyawan yang seperti itu." "Iya, iya, saya tidak akan mengundurkan diri." "Bagus." kata Alan singkat. Kedua sudut bibirnya ketarik ke samping. "Pak, boleh kita ke pemakaman dulu?" "Pemakaman?" "Iya, saya kangen kedua orang tua saya dan Dimas." "Dimas almarhum kekasih kamu?" "Iya." "Kamu setia sekali, dia sudah meninggal kamu masih mencintai dia." "Kadang, kita sendiri tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Aku juga nggak pernah milih untuk jatuh cinta sama Dimas bahkan sedalam ini. Kadang, kalau aku lagi kangen sama dia aku suka curhat sama Allah. 'Ya Allah Dimas lagi apa ya di sana? Dimas tau nggak ya kalau aku lagi kangen sama dia, ya Allah bisa nggak bilangin ke Dimas kalau aku itu masih cinta banget sama dia' aku suka dia kayak gitu." Kata Hana menyebutkan apa saja doa yang dia sampaikan pada Tuhan saat merindukan Dimas "Kadang, aku suka kirim pesan w******p ke dia. Kayak suka curhat apa yang aku alami sehari-hari. Padahal aku tau itu nggak akan ada balasan. Tapi ngelakuin hal itu aku kayak ngerasa lega aja. Kayak aku itu lagi benar-benar curhat sama dia. Kayak orang stress emang ya, tapi hal itu jauh bikin aku lebih lega." Hana mengusap air matanya. Sesak sekali dadanya terasa saat setiap kali menyebutkan tentang Dimas. "Udah berapa tahun dia pergi?" "Udah lima tahun." "Selama itu kamu masih terus melakukan hal yang sama?" Hana menganggukkan kepala. "Dia beruntung sekali bisa mendapatkan cinta dan hati kamu sepenuhnya. Tapi bagaimanapun kamu harus keluar dari kesedihan kamu itu. Hidup kamu masih panjang, apa kamu tidak ada niatan sedikitpun untuk membuka hati bagi laki-laki lain yang siap membahagiakan kamu?" Hana menggelengkan kepalanya. "Terkadang menurut saya sendiri jauh lebih baik, Pak. Saya nggak perlu takut untuk kehilangan orang yang berharga di hidup saya, karena saya udah nggak sanggup harus dihadapi dengan hal seperti itu. Semua orang yang saya sayangi sudah pergi dari dunia ini. Seandainya saya memulai hidup dengan orang lain, bagaimana jika Tuhan kembali mengambil dia? Saya nggak akan sanggup lagi, Pak. Hidup terus-terusan ditinggalkan orang yang saya sayangi." "Sebesar itu rasa takut kamu?" "Ya...." "Kamu tau apa alasan saya tidak menikah padahal usia saya sudah cukup?" "Kenapa?" "Karena saya hampir memiliki pikiran yang sama seperti kamu. Ketika saya berusia 5 tahun saya melihat jelas bagaimana kematian ibu saya yang tragis. Sejak saat itu juga saya melihat bagaimana hancurnya Papa saya. Saya berpikir bagaimana jika saya dewasa dan menikah saya akan mengalami hal yang sama seperti yang papa saya alami. Hingga membuat saya tak ada minat sedikitpun untuk jatuh cinta pada wanita apalagi sampai menikah. Tapi suatu ketika ternyata pandangan itu berubah. Saya justru ingin mengenal cinta dan siap mengambil resiko untuk apapun yang akan terjadi kedepannya. Hidup ini cuma sekali, sayang sekali kalau tidak dinikmati." Hana hanya diam. Apa pun itu tidak akan mempan bagi Hana untuk menyembuhkan luka-luka karena kehilangan yang pernah dia lalui. Sesampainya di pemakaman Hana langsung mendatangi makam kedua orang tuanya. "Assalamualaikum, Mama, Papa. Maaf ya Hana udah lama nggak ke sini." Tangan Hana terangkat untuk mengusap batu nisan sang papa. Kedua orang tuanya sudah terkubur sejak lama di sini, bahkan ketika Hana masih begitu kecil. "Ma, Pa. Kenalin, ini Pak Alan. Dia anak pemilik hotel tempat aku kerja. Orangnya baik, Ma, Pa. Nggak galak kayak bos-bos lain." Alan tersenyum tipis. Rasanya sangat senang saat Hana mengenalkannya kepada mendiang kedua orangtuanya. "Kamu benar-benar tinggal sendiri?" "Iya, Pak. Dulu setelah mama meninggal aku tinggal sama kakek. Tapi sekarang dia juga udah nggak ada. Jadi, aku benar-benar sendirian." Ada rasa iba yang Alan rasakan saat melihat Hana yang hidup sebatang kara. Bagaimana kalau tengah malam dia tiba-tiba sakit? Siapa yang akan membantunya? Alan ikut berjongkok di hadapan makam kedua orang tua Hana. "Hallo Om, Tante. Tadi Hana udah kenalin saya, kan? Saya mau lapor, Hana ini orangnya ternyata keras kepala, ya. Om sama Tante tau? Dia udah pecahin botol minum saya. Tapi tidak masalah, kalau bukan karena botol minum itu mungkin saya nggak akan pernah kenal dengan Hana." Hana memukul pelan lengan Alan. "Apaan sih, Pak." Alan kembali terkekeh pelan. "Hana, kali ini saya ingin berbicara serius dengan kamu. Di hadapan makam kedua orang tua kamu. Ya aku tahu mungkin pertemuan kita sangat-sangatlah singkat. Tapi entah kenapa saya benar-benar merasa nyaman dengan kamu. Saya melihat diri saya di dalam diri kamu." Hana terdiam mendengar perkataan Alan. Perlahan dia menggelengkan kepala. "Tapi ucapan saya benar-benar serius, Hana. Kamu perempuan yang berhasil membuat jantung saya berdebar lebih kencang. Saya tahu kamu tidak bisa mencintai saya dengan mudah. Tapi apa kamu tidak ingin memberi saya kesempatan untuk mengenal kamu. Kamu lihat kedua orang tua kamu. Di atas sana dia pasti sedih melihat kamu yang memilih hidup sendirian. Saya buka tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta, tapi saya percaya pertemuan kita pasti sudah direncanakan oleh Tuhan." "Pak, saya it...." "Dengarkan saya, kamu diam dan biarkan saya bicara." kata Alan memotong pembicaraan Hana. "Saya ingin kamu menjadi kekasih saya, apa itu salah? Kamu tidak perlu memikirkan apapun tentang omongan karyawan di Hotel. Biar itu menjadi urusan saya. Di hadapan kedua orang tua kamu saya ingin mengatakan bahwa saya ingin memiliki kamu, memiliki hati kamu." "Saya nggak bisa, Pak." "Kenapa? Kamu mencintai Dimas? Saya tidak akan melarang kamu, Hana. Tapi tolong buka hati kamu. Biarkan saya masuk, kasih saya jalan dan saya akan sembuhkan luka kamu. Kamu bisa memastikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan kamu. Saya akan meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawa saya satu hari setelah tuhan mencabut nyawa kamu. Agar kamu tidak merasakan sakit karena kehilangan saya." Air mata Hana jatuh. Ada apa ini? Kenapa bibir dan hatinya bertolak belakang? Kenapa hatinya terasa tidak sanggup untuk menolak Alan? "Papa saya sudah membicarakan hal ini dengan Papa saya. Dia sangat setuju jika saya dan kamu menjalin hubungan. Saya bukan orang yang ingin bermain-main dalam urusan cinta. Saya akan langsung melamar kamu jika kamu tidak keberatan." "Me--melamar?" "Ya, apa salah?" "Saya bukan orang kaya seperti Bapak." "Kaya dan miskin itu hanya jabatan saja. Tidak ada yang membedakan itu di mata Tuhan " Hana kembali diam, ini rasanya terlalu cepat sekali. "Saya tidak ingin menyakiti hati bapak karena saya masih terjebak dengan masalalu saya." "Saya akan ambil risiko itu, saya pastikan kamu akan mencintai saya." kata Alan tegas "Jadi, apa kamu mau?" tanya Alan untuk kesekian kalinya. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD