Bab 25

1370 Words
"Apa bapak bisa kasih saya waktu? Sampai besok, besok saya akan kasih jawaban ke Bapak." "Kenapa harus besok? Aku mau secepatnya mendapat jawaban." "Saya mau kasih pertanyaan ke bapak, apa bapak mau jawab?" "Pertanyaan apapun akan saya jawab." "Kalau seandainya saya belum bisa mencintai Bapak, apa bapak masih mau menikahi saya?" "Biar saya yang mencintai kamu sampai benar-benar cinta saya terbalaskan." "Oke, sekarang apa yang membuat saya harus percaya sama bapak, kalau bapak benar-benar serius?" Alan merogoh saku kanan jasnya, setelah itu bersimpuh di hadapan Hana. Kotak cincin terbuka tepat di depan matanya. "Kamu tau artinya?" Hana menganggukkan kepala. Baiklah, mungkin sudah saatnya Hana mencoba walau dia sendiri tidak yakin apakah dia bisa berhasil mencintai Alan atau tidak "Iya, saya akan coba untuk menerima lamaran Bapak. Tapi, jangan beri tahu siapa pun, saya nggak mau kalau yang lain nanti justru semakin nyinyir dan menuding saya yang bukan-bukan? "Sa.. saya diterima?! Tunggu, kalau kamu merasa nggak nyaman. Kamu mau kita setelah menikah pindah ke luar negeri?" Hana menganggukkan kepalanya pelan. Pertanda dia memang menerima Alan. "Nggak perlu, Pak. Saya tahu bahwa pak Mario sangat membutuhkan kehadiran Bapak di sini untuk mengurus hotel-hotel di sini. Kasian kalau dia harus mengurus sendiri." "Aku mau membuat kamu nyaman berada di dekat aku. Jadi, mungkin kita perlu tempat baru untuk beradabtasi." "Nggak perlu, Pak. Kalau nggak ada yang tau, mungkin nggak akan heboh." "Maksud kamu kita harus tutupi status kita nanti?" "Seenggaknya sampai saya udah jadi istri Bapak." Alan yang tampak gusar dengan penuturan Hana, sangat tidak setuju. "Kenapa? Kenapa kita harus menutupinya. Aku mau seluruh orang tau kalau aku bukan penyuka sesama jenis. Aku ada istri." "Tapi gimana kalau mereka mengatakan kalau saya cuma mau harta bapak?" "Jangan pedulikan apapun apa yang mereka katakan!" "Kalau saya dibunuh gimana?" Tanya Hana setengah bercanda "Seribu pengawal nanti berada di dekat kamu!" "Ternyata Pak Alan orangnya lebay." "Bulan depan kita menikah, kamu siap?" "Bulan depan?" "Iya, bulan depan. Jangan ada penolakan apapun." "Yaudah, saya mau pulang. Mungkin bapak lapar, nanti di rumah biar saya masakin." *** Tiba di pekarang rumah Hana, di sambut halaman rumah yang luas. Gerbang yang sudah usang dan berkarat, jalan setapak berbatu kerikil, dua pohon rindang di sisi rumah bernuansa Belanda, khas sekali tembok batu menempel seperempat bagian tembok putih, kursi kayu memanjang di sudut kanan teras rumah tepat di sisi pintu. "Rumahnya unik, gaya belanda. Ini rumah orang gua kamu?" "Iya, ini rumah dari nenek aku, tapi rumahnya adem, Pak. Nggak perlu pakai AC." "Tapi jauh dari tetangga, apa kamu nggak takut sendirian?" "Nggak kok, banyak teman-teman aku, makhluk halus." "Cih! Masih percaya soal itu. Terus kamu pergi ke kantor naik apa?" "Biasanya saya naik motor, cuma tadi motor saya nggak bisa nyala. Saya pakai angkot deh." kata Hana. Dia membuka pintu utama yang yang lumayan besar. Di dalam ruangan banyak hiasan kuno yang terpajang di dalam lemari. "Bapak mau makan apa? Biar saya masakin." "Bisa masak apa? Saya paling suka rendang Padang, telur dadar Padang, sama gulai belut." "Bisa masak semua. Mau dibikinin gulai belut? Tapi kayaknya beli dulu di pasar depan. Biasanya jam segini masih ada belut. Kalau bikin gulai belut yang enak, belutnya harus dibakar dulu. Paling enak pakai tempurung kelapa, kita bikin apinya sendiri." "Oke! Kita ke pasar sekarang aja. Dekat dari sini kan?" Alan sangat bersemangat. Ternyata begini rasanya saat berbicara dengan orang yang kita sukai. "Deket kok, bisa jalan kaki. Bapak semangat banget kayak dapat hadiah undian." "Saya.... belum pernah ke pasar...." ucap Alan malu. "Yaa wajar sih, bapak kan suka ke mall, atau jangan-jangan suka ke Bar lagi." Alan membulatkan matanya lebar-lebar. "Apa! Hahaha..... segila itu pemikiran seorang Hana." "Siapa tau kan, kebayangkan CEO kan kayak gitu. Aku sering baca cerita novel. Si cowok anak orang kaya pasti kayak gitu. Untung cuma di novel. Pak Alan nggak gitu kan?" "Aku lapar, bisa di percepat?!" tanya Alan yang tak ingin membahas hal lain selain dia dan Hana. "Iya, iya. Galak banget sih." Hana dan Alan berjalan sejauh beberapa meter dari rumah, membeli bahan-bahan untuk dimasak. Bawang, cabai, belut, garam dan bumbu dapur lainnya. Keduanya seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah. Saat membeli bawang goreng, ibu-ibu penjual yang sudah mengenal Hana menggoda Hana sesekali. "Mbak Hana beberapa Minggu gak keliatan udah bawa suami aja ke sini, mana ganteng lagi. Mirip artis Korea tuh anak kesukaan ibu, siapa namanya ya kalau gak salah eemmmm, haaa iya Sehun. Bening banget, Mbak astaga." Kata ibu itu dengan euforia. Gemas sekali melihat Alan yang membawa tentangan belanjaan Hana. "Ibu, jangan gitu ah. Ini bawang goreng berapa jadinya seperempat kilo? Nggak baik kan?" "Naik lah mbak, semua serba naik. Bensin, minyak goreng duh semua serba naik." "Minyak goreng langka ya Bu." kata Hana sambil terkekeh pelan. "Bukan langka lagi, Mbak. Kayak menghilang dari permukaan bumi." "Haha ibu bisa aja, jadi bawang goreng berapa?" tanya Hana lagi. Dia sangat menyukai bawang goreng, baginya saat nasi putih dicampur bawang goreng bukan hanya sekedar wangi, namun menambah sensasi enak saat makan nasi. "Ini 30 RB mbak." Hana memberikan uang selembar lima puluh ribu. Setelah menerima kembalian, Hana dan Alan pergi membeli daging untuk dijadikan rendang "Bapak nggak capek kan?" "Enggak, kamu kurang nggak uangnya? Ada uangku, pakai aja." Alan membuka dompet mengambil beberapa lembar ratusan ribu rupiah. "Segini cukup?" "Ehh nggak, Pak. Nggak usah, masih cukup kok uang aku. Masih ada, kan habis gajian." "Uang kamu biar di simpan untuk kebutuhan yang lain. Pakai uangku buat beli keperluan memasaknya." "Nggak usah, Pak. Nggak enak, simpan lagi aja." kata Hana, dia tetap menolak. Enggan menerima uang dari Alan sebab Alan masih belum ada hubungan apa-apa dengannya. "Hana, tolong terima ini. Aku yang minta masakin banyak menu, ambil ini." Alan tetap memaksa Hana untuk menerima uang darinya. "Aku akan terima uang dari bapak kalau aku udah jadi istri bapak. Ayok, katanya mau masak, pulang yuk semuanya udah lengkap kan?" "Hana! Tolong terima ini." Alan tetap memaksa lagi. "Bapak tukang maksa ya." Hana terpaksa mengambil uang dari Alan, agar semuanya cepat selesai. "Berat gak belanjanya? Kalau berat aku bantuin bawanya." Alan membalas dengan senyuman. "Nggak kok, nggak ada apa-apanya dari menahan rindu." "Dih, tuh kan gombal. Dasar, cowok emang kayak gitu. Baru kenal, udah berani ajak nikah, maksa lagi. Terus sekarang gombal." tak bisa dipungkiri, Hana pun ikut tertawa mendengar gombalan Alan barusan Sepanjang jalan di pasar, memang Alan yang paling tinggi semampai dan putih. "Han, apa aku kelihatan aneh ya?" "Iya, aneh banget. Kenapa emang, Pak?" "Duuhh ganteng banget ya, tinggi lagi." Bisik para perempuan yang bersebelahan dengan Hana berjalan. "Kayanya suaminya orang tajir deh." "Tapi mereka gak sombong ya, mau belanja ke pasar. Suaminya pasti sayang istri tuh. Liat aja belanjaan aja dia yang bawa." Hana menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Udah yuk, cepat pulang." "Eeeh! Sebentar." Alan menghentikan langkahnya. "Kenapa?" Alan melihat pedagan ikan koi kecil bercorak bintik merah dan hitam. Ikan hias kesukaan Alan waktu kecil. "Ada yang jual ikan koi, lihat yuk!" "Bapak suka sama ikan kayak gituan? Yaudah, yuk." "Mas, ikan koi ada yang sepasang nggak? Saya mau yang coraknya hitam dan satunya full putih "Ada, Mas. Satunya lima puluh ribu, ini langka soalnya, bagus." "Beli mas sepasang ya! Sekalian sama pakan ikannya juga." "Baik, Mas. Jadinya dua ratus ribu." Alan membeli ikan iko untuk mengenang bersama Hana. Alan membayar sesuai harga yang patok pedagang. "Aku mau simpan koi ini di kolam belakang rumah kamu, boleh?" "Boleh, tapi nanti sering aja dikasih makan. Biar hidup ikannya." "Nggak apa-apa kan? Nanti kita pelihara ini sampai ikannya berkembang biak." "Oke, boleh. Jadi nanti kalau kita jadi menikah, tinggal di sini aja. Bapak mau?" "Kenapa kamu nggak mau pindah ke kota?" "Nyaman aja di sini. Bapak nggak suka ya di sini?" Tanpa mendapat izin dari Hana, Alan mendaratkan kecupannya di kening Hana. "Boleh..." "Bener? Pak Mario nggak bakal larang kan? Nanti malah nggak diizinin sama Pak Mario. Kan Pak Alan anak beliau satu-satunya." kata Hana, kemudian memalingkan wajahnya hingga hidung mancung Alan menyentuh pipinya "Saya diberi kebebasan untuk memilih pasangan hidup dan bersama siapa saya tinggali. Kalau begitu biar di buatkan villa yang nyaman buat kita nanti." Hana diam beberapa saat. Alan memang sempurna jika menjadi seorang suami. Apakah Hana benar-benar bisa membuka hatinya dan menerima Alan sepenuh hatinya? *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD