Bab 26

3084 Words
"Bener? Masalah Villa nanti nanti aja, jangan dibicarain sekarang." Tidak terasa mereka sudah sampai kembali di rumah. Hanya mencuci belut yang sudah sempat dibersihkan, namun menurut Hana masih saja tetap kurang bersih. "Ini kita bakar di belakang yuk, Pak." Alan dan Hana membakar belut dengan cara metode seperti ini akan terasa lebih gurih dan lebih terasa nikmat saat di santap. "Boleh saya menginap disini?" "Ha? Nginap?" Tanya Hana. Dia terkejut dengan pertanyaan Alan barusan. "Iya, aku... aku nggak seperti yang kamu kira kok, nggak akan berbuat macam-macam sebelum kita menikah nanti." "Tapi Pak Mario dikabarin?" Tanpa sengaja tangan Hana terkena bara api saat memanggang belut. "Awsshhh!" Alan langsung sigap memberi pertolongan pertama, hal pertama yang di lakukan Alan mengompresnya dengan es. "Apa masih terasa panas?" "Udah, nggak apa-apa kok. Makasih ya Pak. Ini Kita langsung masak aja yuk. Santan yang tadi bapak taro dimana?" "Biar aku yang masak, kamu yang ngarahin apa aja yang harus dimasaknya." "Kita kan masak berdua, udah nggak apa-apa. Cuma luka sedot aja kok. Emmm, bapak motong belutnya aja gimana? Mau gak?" Sebagai bentuk mengolah belut agar mudah, Alan memberi garam satu sendok ke dalam wadah berisi belut. "Ada teman kamu yang main ke sini?" "Nggak ada. Aneh ya aku gak punya sahabat juga? Pokoknya selama lima tahun ini aku benar-benar sendiri. Karena itu ngerasa aku jauh lebih nyaman." "Caranya seperti apa agar kamu merasa nyaman di dekat saya?" Emang ini masih kurang dekat, Pak. Apa dengan Nerima bapak itu belum cukup? Jangan ngomong terus nanti makanannya jadi nggak enak. Ini rendangnya hampir matang, kecium nggak baunya? Nanti kalau bapak pulang bawa aja rendangnya, coba kasih ke Pak Mario." Hana mengaduk-aduk rendang yang hampir matang. Aroma wanginya sudah berhasil mengubah selera. "Besok ku ajak kamu ke rumah, nanti akan ada orang datng ke sini untuk merias kamu sedikit." "Emang mau ngapain? Kok pakai dirias segala pak?" Hampir satu jam mengerjakan semuanya, kini sudah selesai. Semua makanan sudah terhidang di atas meja makan. "Kayaknya bapak mandi dulu aja deh, biar enakan. Aku punya baju alm kakek. Mau pakai gak?" "Boleh, memangnya kenapa kamu nggak mau di rias? Saya mau memperkenalkan kamu di keluarga saya." "Kayak aneh aja, Pak. Kita benar-benar baru ketemu dalam hitungan hari loh, Pak. Baru hari Minggu kemarin. Terus bapak benar-benar langsung ngajakin aku nikah dan nggak masalah kalau aku belum cinta sama bapak. Terus aku mau dikenalin ke keluarga bapak. Aku canggung banget loh." kata Hana. Benar-benar sungkan dengan keluarga Alan yang notabennya terkenal dan terpandang. Sementara dirinya hanyalah yatim-piatu dan tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. "Jadi kamu belum siap? Iya saya paham, mau bagaimana pun tetap akan tahu juga siapa yang menjadi pelabuhan terakhir saya. Kalau hanya main-main saya nggak akan merasa seperti ini." Hana hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Alan lagi. Dan lebih memilih menyuruh Alan untuk membersihkan tubuhnya. Begitupun dengan Hana, dia juga membersihkan tubuhnya di kamar mandi miliknya. Setelah selesai, mereka menikmati makanan yang sudah disiapkan. "Enak nggak?" Alan tidak merespon, dia hanya sibuk menyantap masakan yang dibuat olehnya dan Hana. Setelah selesai makan. Hana pun langsung membereskan meja makan "Oh iya, Pak. Itu kamarnya udah saya bersihin. Bapak bisa tidur di situ." "Oke, terimakasih, Hana." *** Esok paginya Alan berpamitan untuk pulang. "Satu jam lagi ada yang datang ke sini untuk merias kamu. Harus mau dan tidak ada penolakkan apapun." "Jadi hari ini aku nggak masuk kerja gitu?" "Nggak, biar sekertaris saya yang mengurus surat izin kamu. Jangan khawatir, keluargaku nggak akan merendahkan status kamu." Hana perlahan menganggukkan kepala. "Yaudah, bapak hati-hati. Jangan ngebut." "Jangan lupa, beri makan ikan kita." "Iya, nanti pasti bakal dikasih kok." Saat perpisahan, rasanya Alan sangat tidak ingin pergi walaupun untuk pulang. Setibanya dia di rumah, sepertu hari biasanya. Rumah sepi, hanya di huni oleh ayah dan anak saja, sang asisten rumah tangga hanya bertugas siang sampai sore saja. "Alan? Kamu semalam kemana? Kenapa tidak pulang?" "Alan menginap di rumah Niko, banyak client yang harus di temui jadi tepaksa menginap." "Tapi kemarin kamu antar Hana sampai rumah kan? Gimana? Kalian sudah dekat? Ah papa nggak sabar punya menantu." "Iya, Alan yang antar sampai rumah. Oh ya, besok Alan mau bawa Hana ke rumah. Perkenalan untuk seluruh keluarga kita." "Serius? Kamu benar-benar mau menikah? Akhirnya!" Mario bersorak ria. Sekian lama akhirnya Alan mau menjalin hubungan dengan seorang perempuan. "Kenapa tidak dari dulu sih, Alan?" "Baru ketemu yang nyaman Pa, cuma Hana yang mau dekat sama Alan." "Gimana sih awal ketemu, ceritain dong." Kata Mario sambil menggoda sang anak Tengah bergurau dan becanda bersama sang ayah. Suara perempuan muda memecahkan perbicangan keduanya. "Alan?" Ucap Merissa, perempuan yang menyukai Alan sejak dulu tetapi tidak pernah mendapat jawaban dari Alan. "Loh Marisa? Tumben kamu ke sini?" tanya Mario terheran-heran. "Ahhh iya, Marisa, sebentar lagi om bakal punya menantu loh." "Marisa baru sampai di Jakarta om, dan langsung mampir ke sini. Hai Lan, apa kabar?" Menjabat tangan. Alan hanya tersenyum tipis, dibalasnya jabatan tangan Marissa sebentar. Alan tahu, sekarang dia harus lebih eksra menjaga jarak dengan perempuan mana pun "Mbak, masak apa hari ini?" Ucap Alan menarik perhatian pada yang lain. "Masak banyak, Alan. Ada sayur, Aya ayam bakar, ada ikan, ada semur ayam. Semua ada" "Besok jangan masak apapun, nanti akan asa acara keluarga. Semua pakai katering." Masih ada Marisa yang memperhatikan Alan sejak tadi. "Kamu kenapa liatin aku terus?" "Hmm? Kenapa? Aku cuma pastiin kamu menikahi perempuan baik-baik Lan. Oh ya, aku mau kenal juga boleh kan? Siapa tahu nanti kita bisa jadi teman dekat." Jelas Marisa. "Ku tanyakan dulu, dia orang yang begitu introvert. Bahkan susah untuk bergaul, siapapun memang bisa menjadi teman. Tapi tidak selamanya teman itu saling mengerti dan paham satu sama lain." Pungkas Alan. "Tapi, Lan. Apa aku salah kalau aku kenal sama dia? Kalau dia bukan orang yang baik bagaimana? Kamu itu pantas dapat yang terbaik, Alan. Aku gak ada maksud apa-apa kok." Entah ini rasa cemburu atau apa, yang jelas Marissa merasa sedikit sedih bahwa ternyata ada perempuan lain yang berhasil membuat Alan jatuh cinta. Padahal, selama ini Marissa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merebut perhatian Alan. Namun sejak dulu Alan bahkan enggan menyadari kehadirannya. "Aku kenal dia sudah lama, bahkan sejak usia 7 tahun." Alan memang sudah dari dulu mengenal Hana. Sejak Alan kecil Mario tinggal di villa hijau Bogor miliknya. Yang tidak lain di sana juga ada Hana kecil yang tinggal dengan kedua orang tuanya juga nenek, usia remaja Alan dan keluarga pindah ke kota untuk melanjutkan bisnis Ayahnya yang sempat tertunda. Jadi, karena ini lah Alan memutuskan untuk menikahi Hana. "Kamu kenal dia sejak lama? Jangan ngaco Alan. Kita yang sahabatan sejam SD aku bahkan nggak kenal dia." "Kamu pikir ini khayalan? Ya, tidak semua peristiwa yang aku lalui bisa saling berkaitan antara kita. Aku memiliki kisah tersendiri, bahkan untuk mencarinya sangat susah." "Alan, kamu kenal Hana sejak kecil? Gi---gimana ceritanya?" tanya Mario terheran-heran. Marissa hanya diam. Hatinya terasa sangat perih. Ya, Marissa tahu cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi kenapa rasanya tetap sakit? "Gadis kecil tetangga villa kita dulu, itu adalah keluarga Hana. Teman Alan sejak kecil dan pada akhirnya kita berpisah saat itu." "Tetangga kita yang di Villa? Anak perempuan yang waktu kecil suka berenang di kolam renang kita dulu? Dia yang doyan banget sama mangga?" "Iya, yang dulu sering ajak mancing ikan di sawah. Papa ingat? Dia Hana." "Kamu kok bisa tau kalau dia Hana yang itu? Itu kan udah lama banget. Orang tuanya mana? Papa mau ketemu." "Orang tuanya sudah lama meninggal sejak Hana masih kecil. Nanti Papa akan tahu kenapa Alan lebih mengenal Hana." "Ya Allah kasian sekali anak, Itu." Marissa berjalan mendekati Alan. "Coba kamu telfon dia. Tanya, apa dia mau ketemu sama aku? Sahabat kamu. Kalau dia baik pasti dia nggak akan mikir aneh-aneh." "Bukan waktunya, biar dia yang memilih untuk berinteraksi. Kenapa? Sepenasaran itukah?" "Apa aku salah?" "Sudah-sudah, kenapa kalian jadi ribut. Jadi gimana, Alan. Kamu nggak mau ajak Hana ke sini? Dari pada kalian pacaran yang buang-buang waktu mending kalian akad nikah dulu. Setidaknya sah di mata agama. Di mata hukum menyusul, kalian tinggal urus pernikahan secara hukum nanti." "Besok, tepat di acara keluarga. Hana ku ajak ke sini." "Langsung saja menikah, bagaimana?" "Lihat persetujuan dari Hana, aku sendiri nggak mau merasa menekan untuk Hana." "Ahh, Hana pasti setuju. Papa nggak mau menunggu lama untuk punya menantu." Alan hanya membalas tawa kecil selebihnya di masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. *** "Permisi." Ucap seorang petugas salon tata rias pesanan dari Alan untuk nerias wajah Hana. "Iya? Emmmm ini, petugas rias yang disuruh sama pak Alan ya?" tanya Hana. Dia melihat tiga orang laki-laki setengah perempuan. Seperti MUA pada umumnya, mereka jauh lebih terlihat lentik dari perempuan tulen. "Emmm, iya silakan masuk. Ini kok ada bawa-bawa baju gaun juga, buat apaan, Mas?" "Suruhan dari Pak Alan Pradikta untuk merias mbak Hana juga ini gaun special di buat khusus untuk hari ini." "Kok jadi pakai gaun sih? Aduh saya gak enak. Ini gaunnya pasti mahal. Kalau rusak gimana?" "Eehhh! Ini nggak ada penolakan semacamnya, nanti satu jam lagi Pak Alan ke sini! Ayo! Kita touch up!" Tidak ada pilihan lain, Hana benar-benar dirias sedemikian rupa cantiknya. Benar-benar anggun, sampai pada MUA ikut terpesona hebat. Mereka yang centil seperti perempuan seakan sadar kodratnya saat melihat rupa Hana. "Astaga, kalau begini mending ekey jadi lelaki tulen aja deh. Biar bisa nih jalan sama mbak cantiknya." Gau cantik berwarna dusty pink, full motif berpayet seluruh desain memang Alan yang minta. Style tanpa lengan, juga gaya rambut Hana yang dibiarkan terurai curly, cantik menawan. Riasan wajah yang soft dan tidak ada kesan berlebihan. "Sepatunya! Sepatu!" "Aduuhhh, aku aku jadi malu ini menor gak sih?" "Enggak dong! Ini sesuai Pak Alan minta. Semuanya sudah di atur sedemikian rupa, sukses ya mbak untuk acaranya hihi." Centil. "Hahah, iya udah makasih ya." tidak lama setelah itu benar saja, Alan tiba dan masuk ke dalam rumah Hana. Lelaki itu sempat terpana melihat Hana yang sudah berubah menjadi sangat cantik "Kenapa, Pak. Jelek kan? Aku kan udah bilang nggak usah dirias." Sejenak Alan sulit berbicara dan sulit mengedipkan matanya. "Bu....bukan.... bukan, maksud saya.... ka.. kamu.. cantik sekali." "Ca--cantik? Bapak yakin? Nggak nemor kan?" "Nggak! Kamu memang dari dulu cantik, gimana? Sudah siap?" "Udah. Aduh aku, aku jadi kaku begini, Pak." Meraih tangan Hana untuk menggandengnya. "Masih tetap kaku?" "Malu sih juga iya." kata Hana, dia sedikit tertawa saat bergandengan dengan Alan "Kamu yakin nggak ingat aku?" "Emang kita pernah ketemu gitu sebelumnya?" "Tetangga villa sebelah, kamu ingat? Mancing di sawah?" "A--aku, aku nggak ingat. Waktu aku SD aku pernah jatuh dan kepala aku dioperasi. Jadi masa kecil aku aku nggak ingat. Bapak tau dari mana kita pernah ketemu sebelumnya?" "Kita memang pernah bersama waktu kecil, kamu benar nggak ingat apapun?" "Bapak punya buktinya gak?" "Buktinya ada di foto yang terpajang saat aku menginap kemarin." "Itu kan foto saya, maksudnya bapak ada nggak foto aku pas kecil gitu?" "Iya ada, dan kamu punya. Coba kamu cek foto itu. Saya ada disitu." Hana mencoba mengingat, tapi tetap saja tidak berhasil. "Yaudah, nanti biar aku liat yang ada di rumah Bapak. Sekarang kita berangkat aja dulu, nanti make up saya luntur jadinya jelek." Saat tiba di rumah Alan, rumah megah seluas castle kerjaan berhias ornamen antik dan mahal terpajang rapih di sudut ruangan, bahkan lorong menuju ruang keluarga pun terhias pilar-pilar besar di sisi tembok, lukisan mahal, sofa terbuat dari kulit buaya terlihat sangat antik di duduki. "Kamu masih gugup?" "Pak, rumah ya gede banget. Bagus, saya benar-benar gugup pak, kalau saya pingsan gimana?" tanya Hana heran. Dia melihat ke sekeliling rumah Alan di sana ada keluarga Alan yang sudah berkumpul menatap Hana dengan suka cita "Jangan gugup." Setengah berbisik di telinga Hana. "Jangan panggil saya Pak. Panggil Alan." "I..iya, A..Alan." Hana memeluk lengan Alan. Sungguh benar-benar gugup sekali. "Astaga Alasan, calon istri kamu cantik sekali ternyata benar ya, pilihan kamu nggak main-main." Sabrina kemudian mendekati Hana memeluk Hana hangat. "Kok gugup sih sayang? Nggak perlu sungkan, di sini kamu itu disambut. Yuk kita makan dulu, ada hal yang perlu dibicarakan sama kamu." Hana melirik ke arah Alan. Kemudian tersenyum pada Tante Sabrina. "Iya, Tante. Makasih, Ya. Maaf saya udah ngerepotin." Merisa juga hadir dalam acara ini. Setiap satu tahun sekali rumah Alan memang mengadakan open house untuk acara-acara penting atau semacam perayaan lainnya. "Alan! Kamu bisa cari perempuan cantik begini dari mana? Nggak pernah tau kalau kamu punya pacar, tapi gosip mirip tentang kamu itu semuanya salah kan?" Alan hanya diam tak membalas dari omongan sang Paman, Dion. Mata Hana tertuju pada Marissa. Perempuan muda yang umurnya pasti setara dengannya. Siapa dia? Apa jangan-jangan Alan memili seorang istri? "Hai, kenalin aku Marissa, aku teman dekat Alan. Emmm maksudnya aku sahabat Alan. Aku senang ternyata Alan udah nggak jomblo lagi berkat adanya kamu." "Sekalinya bawa, dapat yang cantik..." ucap Sabrina. "Biar duduk dulu, kasihan Hana. Dia semakin canggung kalau banyak pertanyaan dari kalian." "Hahah maaf Alan. Maklum mereka-mereka tentu senang, liat anak papa yang udah jomblo dari lahir eh tiba-tiba punya calon istri." Hana duduk tepat di samping Alan. Alan tak henti-hentinya menggenggam tangan Hana. Sesekali Hana meremas jemari Akan saking gugupnya. Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi insiden yang memalukan? "Hana, Saya itu nggak tau apa yang udah kamu lakukan sampai Alan bisa melepas masa lajangnya, tapi saya akui kamu sangat hebat sekali bisa menjinakkan anak saya." "Emmm, saya nggak lakuin apa-apa, Pak. Semua terjadi kayak gitu aja." "Alan, kamu benar ya, ternyata pacar kamu emang pendiam, hehe." "Pendiam dan introvert tolong jangan keliru. Apa ada yang keberatan dengan Hana ada di sini?" Alan masih sedikit bertanya-tanya dengan situasi seperti ini. Ada Merissa yang sangat tidak enak di pandang raut wajahnya. "Siapa yang gak suka? Aku senang kok kamu bawa pacar kamu beneran, bukan boongan." "Udah, udah kamu ini. Mentang-mentang baru berpacaran kamu jadi over nih sama si cantik Hana." Kembali Sabrina menggoda Alan "Bagaimana Alan? Siap kan untuk akad nikah hari ini bersama Hana?" tanya Mario, dia meneguk segelas air putih untuk membahasi tenggorokan yang terasa kering Alan mengalihkan pandangannya pada Hana yang berada di sisi kanannya. "Kamu siap? Hanya orang-orang terdekat dan tidak ada tahu tentang ini." "Jadi kita nggak menikah secara hukum? Maksud bapak kita nikah sirih?" "Maksudku....." "Saya nggak mau, Pak." "Kita majukan tanggalnya bagaimana Hana?" Kata Mario. "Majukan tanggalnya? Apa bisa? Bagaimana dengan berkas-berkas? Data aku dan data Alan?" Marisa diam, sungguh hatinya sengat sangat sekali. Tapi di tidak punya pilihan lain selain mengikhlaskan Akan bersama Hana menikah "Minggu depan!" Tegas Alan. "Biar tante yang bantu kamu cari wedding organizer dan lainnya, suami tante juga punya usaha katering. Kita bisa bantu Hana." Sabrina. "Apa itu nggak terlalu cepat Alan?" tanya Marissa tiba-tiba. "Kalian nggak mau saling mengenal dulu? Hana juga biar kenal gimana sifat kamu dan sebaliknya, Lan." Ada benarnya ucapan dari Merisa. "Alan, kamu bilang Hana ini teman kecil kamu. Jadi sudah pasti tau tentang Hana kan?" Kata Sabrina. "Aku sebenarnya nggak ingat, Tante. Karena aku pernah mengalami sebuah kejadian yang membuat aku harus melakukan operasi karena cidera di kepala aku. Sejak saat itu aku lupa beberapa kenangan masa kecil aku. Aku cuma ingat terakhir kali pas aku ulang tahun yang ke-5 dan orangtua aku kecelakaan." Kata Hana mencoba menjelaskan "Sudah nggak perlu diragukan lagi, Minggu depan kalian menikah. Besok kita umumkan pernikahan kalian ketika acara hotel. Kamu juga ulang tahun kan? Kita umumkan saja." "Cepat atau lambat semuanya akan jelas mengingat. Kamu siap? Minggu depan? Jangan pikirkan hal lain, semuanya aku yang urus. Kamu hanya tinggal memilih mana yang kamu suka." Hana melihat semua keluarga Alan tampak berharap padanya. Kemudian Hana melirik ke arah Alan "Iya. Aku, aku siap." "Tante siap bantu kamu kapan pun ya Hana. Jangan sungkan kita semua keluarga ya kan Alan?" "Tentu. Dan kami Marissa, kalau kamu benar-benar ingin berteman dengan Hana. Kamu jangan bikin dia ragu." Marisa hanya membalas dengan senyuman saja. "Tentang pekerjaan, kamu cukup di rumah saja. Melanjutkan pendidikan kuliah lagi setelah menikah." Kata Alan. "Alan, aku pengen tetap kerja. Boleh, kan?" "Kita bicarakan nanti setelah semuanya selesai dengan pernikahan kita, nanti kita bahas lagi." Hana perlahan menganggukkan kepala. Selanjutnya mereka makan bersama. "Nanti Hana nginap di sini saja. Sampai kalian menikah, dan kamu Hana. Besok kita berangkat sama-sama ke hotel. Papa akan hubungi rekan papa, untuk bikin undangan pernikahan." "Juga, kamu jangan kaget dengan kesibukan Alan yang super padat." Acara keluarga masih terlihat kurang, karena hanya di hadiri Sabrina, dua anaknya yang masih remaja dan Marisa. Keluarganya yang lain memang belum sempat datang. Termasuk suami Sabrina, nenek dari Alan yang sudah sepuh. Hana diam, kalau seandainya Alan sibuk, bagaimana dengan dia yang akan mengenal Alan lebih dekat? Bagaimana caranya dia bisa mencintai Alan? "Iya, Pak. Saya ngerti kok." "Alan nggak sesibuk itu Pa. Nggak mungkin sepadat dulu." "Baiklah, apa pun papa serahkan ke kamu, Alan. Yang penting kamu menikah." Acara selesai dengan sesuai harapan. Kali ini Alan sedikit lega. "Aku saranin kamu tinggal dulu sementara disini." "Nanti aku bantu bersih-bersih ya. Nggak enak kalau cuma tinggal di sini aja." "Kok bantu bersih-bersih? Di sini ada yang mengurus rumah sampai 15 asisten. Kamu tinggal suruh mereka." "Terus sekarang aku harus ngapain? Aku, aku nggak enak sama Marissa, nggak tau kenapa aku kayak aneh aja dekat sama dia. Kamu nggak marah kan kalau aku nggak nyaman sama teman kamu?" "Nggak masalah, justru aku takut dia macam-macam. Jangan sungkan kamu mau apapun di sini, kalau kamu merasa canggung ada anaknya tante kamu bisa berteman, mereka masih remaja." "Aku nggak kebayang besok aku bakal dicecar habis-habisan kayaknya pas sampai di hotel kamu.* "Kenapa di cecar? Kan kita menikah bukan karena terpaksa." "Yaa aku dituduh incar harta bapak. Melet lah, goda lah.* "Lebih baik kamu berhenti dari pekerjaan yang sekarang, gimana kalau memulai bisnis?" "Bisnis apa? Jadi kita nggak bareng dong kerjanya?" "Bareng, kan kita kelola bisnis bersama juga. Gimana? Apa keahlian kamu selain memasak?" "Palingan bikin Kue. Tapi nanti aja ya, jangan sekarang." "Aku coba cicipi nanti, besok gimana?" "Boleh, sekarang ini ngapain lagi? Katanya punya foto waktu kecil. Mana? Aku mau liat." "Nggak ingat, aku cuma ingat pas aku ulang tahun, papa mama kecelakaan pesawat." Alan diam, baiklah gak apa. Yang jelas Alan akan membuat Hana kembali ingat pada masa-masa itu. "Ikut aku." Alan membawa Hana masuk ke kamarnya, memperlihatkan fotonya saat masih kecil. Alan kecil yang memakai kemeja kotak-kotak dan celana pendek selutut membaca pancingan. "Iya ya, ini aku. Tapi aku benar-benar nggak ingat saat ini. Mancing? Emang aku suka mancing?" "Papa kamu suka memancing ikan. Kamu nggak ingat?" Hana menggelengkan kepala. tapi dia berjanji akan berusaha mengingat biasa kecilnya kembali. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD