"Nggak ingat, aku cuma ingat pas aku ulang tahun, papa mama kecelakaan pesawat."
"Hanya butuh waktu untuk mengingatnya lagi. Sekarang aku minta, kamu harus lebih bahagia lagi dengan keluarga baru."
Nyaman? Tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Sama halnya dengan Hana yang harus perlahan menerima keluarga barunya, sekarang dia tidak lagi merasa sendiri dan kesepian. Mudah-mudahan secepatnya Hana merasa kalau Alan adalah orang yang tepat bersamanya.
***
Ke esokan harinya, rutinitas pagi di rumah Alan sama sekali tidak terlihat rumah orang yang begitu sibuk. Rumah sebesar ini hanya di isi Ayah dan anak saja, selebihnya hanya asisten mengurus rumah.
Suara ketukan pintu di kamar Hana terdengar nyaring hingga terbangun dari tidur lelapnya.
"Nona Hana...." ketuk salah seorang asisten.
"Iyaaa, sebentar...." Hana bangkit dari tempat tidurnya, berjalan pelan menuju pintu. Saat pintu terbuka Hana melihat jelas seorang asisten rumah Alan berdiri tegap di hadapannya.
"Emmm, ada apa ya Bu? Emmm maaf ya saya bangunnya kesiangan." Kata Hana sambil memancarkan senyum getir, bagaimana tidak, bisa-bisanya dia bangun jam delapan pagi. Mungkin ini efek semalaman dia tidak bisa tertidur hingga subuh.
"Saya harus menyiapkan air hangat untuk mandi Nona Hana. Boleh saya masuk Nona?" Sambil membawa beberapa perlatan pedikur dan wewangian bunga mawar.
"Apa yang Nona suka dari wewangian ini? Ini perintah dari tuan muda."
Hana mencoba menciumi aroma satu persatu wewangian yang diberikan oleh kedua asisten rumah Alan.
"Emmm, saya sepertinya suka bau ini, mbak. Harum dan nggak terlalu menyengat." Kata Hana. Siapa sangka ternyata wewangian yang Hana pilih adalah wewangian yang persis seperti yang disukai mendiang ibu Alan dulu
"Vanilla Rosse? Ini kesukaan dari mendiang nyonya."
Lalu sang asisten menuangkan cairan wangi itu ke dalam bathup yang akan di pakai Hana untuk mandi.
"Aduh, maaf ya mbak ngerepotin, seharusnya biar saya aja yang nyiapin ini. Mbak bisa kok kerjakan pekerjaan yang lain. Maaf ya, Mbak."
"Sudah tugas saya di sini untuk melayani Nona. Setelah mandi nanti ada perawatan tubuh lainnya, silahkan berendam Nona."
Hana benar-benar dibuat gugup setengah mati. Bagaimana ini? Dia benar-benar merasa sangat canggung.
"Pak Alan mana, Mbak?"
"Sudah menunggu dibawah, mau saya panggil beliau ke sini Nona?"
"Emmm, nggak udah mbak. Masa di suruh ke sini." Hana bergidik ngeri. Yang benar saja Alan ke sini dalam keadaan dia begini?
"Emangnya nanti saya mau diapain lagi, Mbak?"
"Pedikur, hair stylist, make up dan pilih baju Nona yang cocok."
Berjejer aneka sabun yang memiliki varian wangi yang berbeda. Juga lilin pengharum ruangan yang sangat menyengat.
Satu jam Hana mendapatkan perawatan tubuh dari para asisten rumah Alan. Sekarang Hana benar-benar diperlakukan bagaikan seorang ratu oleh Alan. Rasanya tidak pantas Hana menyakiti laki-laki sebaik Alan.
Belum lagi keluarganya yang begitu baik. Mereka seakan percaya sepenuhnya bahwa dialah yang mampu membahagiakan Alan.
"Saya pilih baju ini aja, Mbak." Hana memilih dress putus berbahan halus, yang Alan pesan semalam. Sebuah dress cantik asal Korea yang Alan beli semalam. Baju limited edition. Mungkin sekarang baru Hana yang memiliki baju itu di Indonesia.
Mulai merias diri dengan make up dan perawatan kuku. Juga, rambut Hana yang di tata rapih sesuai ke inginan dari Hana. Loose curls hair menjadi semakin cantik nan anggun, gaya rambut ini sangat di sukai perempuan muda.
"Apa Nona mau memilih sepatu juga? Ini di pesan langsung dan hanya memiliki satu pasang saja."
Beberapa pasang sepatu mahal terjajar rapih meminta untuk di pakai dan pilih secara suka hati.
"Mau yang mana Nona? Ada tas juga, semoga nona suka ini."
"Aduh, saya jadi pusing, Mbak. Yang mana ya, bagus semua soalnya. Menurut mbak saya cocok pakai yang mana? Atau, Alan. Iya, suruh Alan pilihan aja, Mbak."
Mungkin dengan begini Hana bisa menunjukkan pada Alan bahwa dia menghargai kehadiran Alan dalam hidupnya dan memberi peluang bagi Alan untuk memilih sesuatu terbaik untuknya
"Sesuaikan dengan Nona yang memakainya. Tuan muda selalu mengingatkan agar tidak menekan Nona Hana, jadi pilihlah sesuai kenyamanan Nona juga."
"Tapi saya pengen dia yang milih, Mbak. Soalnya saya bingung. Semuanya bagus."
"Baik, saya panggil Tuan muda untuk memilih sepatunya."
Hana di dalam kamar menunggu Alan untuk segera datang.
"Di sini cuma Alan sama Pak Mario aja ya mbak? Padahal rumahnya besar."
Tidak lama setelah itu, pintu terbuka menampakan seorang Alan sudah rapih dengan Jas setelan yang rapih dan kasual.
"Kenapa? Susah cari sepatu yang cocok atau ada yang kurang suka?" Ucap Alan.
"Iya, aku bingung mau pakai yang mana. Bisa bantu pilihin gak?"
"Sesuaikan ukuran kakimu, warna yang cocok dengan dress yang kamu pakai."
"Nomor 36, jadi yang mana? Nggak mau bantu pilihin? apa aku harus telfon teman kerja aku? Dia cowok."
"Ck! Aku pilih berdasarkan sesuai dengan karakter kamu, bukan aku tolak keinginan kamu. Pilih warna cream!"
"Oke," Hana mengambil sepatu berwarna creame
"Bagus gak
"Bagus! Semuanya cocok asal kamu bukan memilih dari pilihan laki-laki yang di teman kamu itu."
"Iya-iya, becanda doang kok. Ini mau kemana emangnya? Kenapa aku disuruh pakai pakaian kayak gini? Mau ada acara?"
"Nggak, aku mau ajak kamu fitting baju pengantin. Cari kebutuhan lain juga."
"Oohhh, yaudah. Boleh,"
Sesuai dengan jadwal yang di miliki Alan, memang benar seleranya sangat fashionable mengikuti trend yang sedang kekinian. Sebelum itu Akan membawa Hana di kantor pusat Grand Alan terlebih dahulu.
"Kita mampir ke kantor dulu."
"Mau ngapain emangnya? Ada perlu ya?"
"Iya, sekaligis mau perkenalkan seluruh rekan kerjaku juga. Akan ada banyak tamu yang datang hari ini, kamu siap?"
Mereka tiba di kantor Alan super megah dan sangat nyaman untuk dikatakan sebagai tempat kerja.
"Kalau kamu merasa nggak nyaman, jangan jawab apapun dari mereka. Biar aku yang jawab."
Hana hanya diam dan menganggukkan kepala. Tangannya terus melingkar di lengan Alan seakan enggan untuk melepasnya.
Mereka sampai di lantai bawah, semuanya disambut hangat oleh para karyawan Alan. Menyapa Alan dan memberikan rasa hormat sebagai bukti bahwa Alan adalah atasan mereka.
Tidak sedikit yang terkejut melihat penampilan Hana yang berubah drastis, terlebih sekarang dia bergandeng dengan Alan, persis seperti sepasang kekasih, mungkin lebih tepatnya bisa disebut sebagai sepasang pengantin baru.
"Gila, itu beneran si Hana. Lanjut juga ya peletnya." Bisik seseorang perempuan pada temannya. Perempuan yang mendapat bisikan itu pun ikut dibuat terkejut, matanya juga tak lepas memandang Alan. Belum lagi barang-barang yang menempel di tubuh Hana, semuanya sangat mewah. Hana benar-benar berubah 180°.
Penampilan yang biasanya sederhana namun tetap cantik, sekarang berubah elegan bak putri raja yang kaya raya.
Mata perempuan itu turun kebawah, melihat sepatu yang Hana kenakan. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
"Kalau gak salah itu bajunya mahal banget, gila. Si Hana mainnya nggak nanggung-nanggung, anak bos incarannya.x
"Kenapa Han? Ada yang merasa nggak nyaman? Kita naik ke lantai 10."
Alan memasuki lift menekan tombol lantai 10.
"Hana?"
Hana yang sudah sangat grogi dan terlihat tidak nyaman. Sangat jelas sekali Alan melihat kalau Hana memang sangat tertekan dengan kedatangannya ke kantor Alan.
"Jangan pikirkan semua omongan orang lain, aku bisa pecat mereka yang membuat kamu merasa tertekan di sini."
Hana masih diam, tidak merespon apapun pembicaraan Alan.
Sekali lagi, Alan memanggil, Hana. Akhirnya Hana melirik kesamping, memandang wajah Alan yang lebih dulu menatapnya
"Mereka benar, Pak. Nggak seharusnya saya bersanding dengan Bapak. Banyak perempuan di luar sana yang jauh lebih baik dari saya."
"Bahagia kita yang kita cari bukan untuk menyenangkan orang lain, bedanya mereka hanya bisa mencibir dan tidak bisa menjadi kita. Kalau kamu terlalu memikirkan mereka, itu artinya kamu jauh lebih rendah darinya." Jelas Alan.
Lift baru melewati 3 lantai, hendak melintas di lantai 4 tiba-tiba lift tidak lagi berfungsi.
"Ada apa?! Liftnya rusak!"
Alan berusaha keras menggedor pintu lift yang terbilang tebal, hanya terbuka satu senti meter saja.
Melalui celah ini kemungkin ada yang mendengar bahwa ada orang di dalamnya.
"Ada orang di luar!?"
Hana perlahan mundur ke belakang saat lampu di dalam lift mati secara otomatis. Ruangan sempit itu berubah menjadi gelap. Tidak ada udara sama sekali. Pemasukan udara sangatlah tipis.
Bagian keamanan CCTV lantas mengirim suara melalui radio yang ada di dalam lift
"Pak Alan, sepertinya sedang terjadi kesalahan pada lift kita, saya akan segera kirim bagian teknisi untuk membenarkan lift kita."
Tidak lama setelah itu terdengar helaan napas Hana yang berat. Dadanya sesak seketika. Hana yang sangat fobia dengan gelap mendadak tidak bisa bernapas dengan normal.
"Huhhh, mmphhh, Pa---pak..."
"Kenapa Han? Kamu takut gelap? Sebentar.... TOLONG SECEPATNYA PERBAIKI SAYA TIDAK MAU MENUNGGU! DI SINI ADA YANG TRAUMA RUANGAN GELAP!"
"Aaaa....aku, aku nggak bisa, be--bernafas..." Kata Hana tertatih-tatih.
Masih belum ada tanda-tanda, pintu lift akan terbuka.
"Pak, kami akan segera membuka pintu liftnya."
Alan memeluk Hana dengan perasaan yang panik.
"Cepat!!"
Segala macam alat di percoba untuk membukanya tapi berlangsung lama dan tidak juga kunjung terbuka.
"PANGGIL AHLINYA! HUBUNGI SYSTEM ENGINEERING YANG HARI INI KERJA!"
"A--alan, a--aku," napas Hana benar-benar tidak teratur, dadanya sangat sesak sekali. Rasanya seperti ingin mati.
"Atur napasnya, tarik dari hidung keluar perlahan dari mulut, kamu harus rileks dan bayangkan kita ada di atas awan, penuh cahaya matahari. Kamu dengar Hana?"
Hana menggenggam tangan Alan dengan sangat, kuat. Matanya terpejam rapat.
Melakukan hal sesuai instruksi dari Alan. Mencoba rileks dan tenang.
Deru napas Hana sudah tak terdengar lagi, hampir 30 menit akhirnya pintu lift berhasil dibuka secara paksa.
"Astaga, pak Alan? Anda baik-baik saja kan?"
"Ini kenapa bisa error?! Kalau saya terjebak di dalam 1 jam lamanya, kalian tahu akibatnya?! Saya selalu katakan tolong cek semua systemnya!" Alan masih terlihat kesal dengan kejadian lift mati ini.
"Niko!"
Kalau sudah menyebut nama sekertarisnya pasti berujung pemecatan dadakan.
"Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu. Astaga, itu, Hana?"
Hana sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun dia masih berada di dalam dekapan Alan.
"Alan, ini cuma kecelakaan. Aku nggak apa-apa."
"Kamu urus mereka! Tau kan maksud saya? Tidak ada pertimbangan apapun. Selesaikan secara adil, saya hanya terima beres!"
"Oh ya, satu hal lagi. Panggilkan dokter untuk keruangan saya secepatnya!"
"Baik, Pak." Niko langsung memproses apa yang Alan katakan.
Sementara itu, Hana yang masih lemah dipapah oleh Alan untuk keluar dari dalam lift.
"Aku baik-baik, aja, Alan."
Sampai di ruang kerja milik Alan di lantai 10. Alan membaringkan Hana di sofa untuk menenangkan agar tubuhnya tidak shock dengan traumanya.
"Biar dokter yang periksa kesahatan kamu. Jangan khawatir, kejadian ini nggak akan terulang lagi."
Hana menganggukkan kepala.
"Maaf, aku udah bikin kamu repot, Alan. Nggak seharusnya aku bikin semuanya kayak gini."
"Ini hanya kelalaian kerja, mereka sudah Niko urus semuanya. Harusnya aku lebih tegas lagi, itu bisa sangat mengancam nyawa orang lain. Seandainy bukan kita berdua yang di dalam mungkin sudah ada korban jiwa lainnya."
Tidak lama setelah itu dokter yang Alan panggil sudah datang, mengecek kondisi Hana. Beruntung tidak terjadi apa-apa.
"Semuanya baik-baik saja, Pak. Anda tidak usah khawatir."
"Apa ada rasa trauma yang lainnya? Biasanya penderita ada trauma tersendiri dengan wilayah yang gelap." Kata Alan.
"Mungkin ada beberapa orang yang memiliki trauma akan satu hal. Tugas anda yang ada di dekatnya adalah membawanya keluar dari zona ketakutan itu. Misal, anda membuatnya tenang, membuatnya yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kalau hal ini terjadi lagi, setidaknya anda beri dia sedikit penerangan, seperti cahaya hape. Itu bIsa sedikit membantu."
Alan mengangguk paham.
"Terimakasih atas waktunya Dok."
Ang dokter berpamitan.
"Kamu yakin baik-baik saja Han? Sebaiknya kamu memang harus ada di rumah bukan begitu?"
"Aku baik-baik aja, kamu nggak percaya sama aku?"
"Bukan begitu Han, trauma kamu memang bisa berbahaya. Kalau kamu merasa perlu untuk lebih nyaman lagi aku bisa bawa kamu terapi. Sejak kapan kamu trauma ruangan gelap"
"Sejak aku kecil. Aku beneran baik-baik aja, Alan. Kamu nggak perlu khawatir. Kamu nggak liat aku sekarang udah bisa ngomong?"
"Aku rasa lebih baik dari sebelumnya, kamu bisa tunggu aku di sini dulu? Ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum hari pernikahan tiba."
"Pekerjaan apa? Mungkin aku bisa bantu kamu?"
"Kalau kamu bisa selesaikan laporan hasil tahunan, boleh kamu coba. Ada di meja map biru."
"Yang mana? Pasti bisa lah, apa sih yang nggak Hana bisa. Buktinya bikin anak bos klepek-klepek aja bisa." kata Hana dengan pedenya, namun dalam kalimat itu masih ada nada bercanda
"Hahaha oke, buktikan. Aku selesai meeting harus siap dan nggak ada yang salah."
"Jadi kalau aku gagal kita juga gagal nikah ya?"
"Apanya yang gagal nikah?! Udah, kerjakan itu dulu. Kalau salah aku ajarin sampai kamu bisa."
"Iya, iyaa okee." Hana kemudian duduk di atas kursi memegang berkas-berkas yang ada di atas meja.
Hana menggigit bibir bawahnya pertanda bahwa dia sedang kebingungan. Alan sudah pergi meninggalkan ruangan.
"Yang benar aja? Ini harus diapain? Astaga."
Ketukan pintu dari luar membuyarkan kebingungan Hana.
"Permisi, Pak Alan nya ada? Ini saya bawa berkas untuk siang nanti. Tolong cek ya, dan ini ada proposal desain yang harus di cek juga." Ucap karyawan Alan.
Meletakkan 2 map dokumen yang harus mendapat persetujuan dari Alan.
"Haa, eehh iya iya, nanti saya bilangin ke pak Alan. Taro aja di situ."
Hana benar-benar bingung, memangnya Alan tidak lelah? Mengurus hotel dan perusahaan. Apa sih isi otaknya sampai bisa menghandle semua pekerjaan hingga rapi.
Hitungan hari lagi dia akan menikah dengan Alan. Tanpa diduga-duga ternyata suaminya adalah bos nya sendiri. Seseorang yang selama ini tidak pernah bertegur sapa dengannya.
Hana memegang liontin berbandul love yang menggantung di lehernya. Saat liontin dibuka, ada foto Dimas dan dirinya.
Hana membuka kalung yang dia Pagai agar bisa lebih jelas melihat foto Dimas.
"Hai, sayang. Kamu apa kabar di sana. Udah lama banget ya kita gak ketemu, aku selalu kangen sama kamu." Hana mengusap pelan foto Dimas berukuran kecil yang tersemat di liontin itu.
"Aku mau cerita sama kamu, beberapa hari lalu, aku ketemu sama seorang laki-laki, aku nggak sengaja pecahin botol minum diam. Kamu tau dia siapa? Dia itu bos aku, aku pernah liat dia sekali pas acara peresmian di hotel tempat aku kerja dan aku nggak nyangka kalau aku bakal bisa dekat sama dia. Aku juga gak nyangka kalau dia malah mau nikahin aku, Dim. Menurut kamu gimana? Aku tau hidup emang harus berjalan, tapi aku masih terlalu cinta sama kamu, Dim. " Hana mengusap air mata yang jatuh ke pipinya
"Tapi aku sadar, aku gak mungkin nyakitin hati dia, dia terlalu baik, Dims. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku nikah sama dia? Jika suatu saat aku harus lepas kalung ini, aku minta maaf. Aku nggak bisa makai kalung ini seterusnya."
Ruangan rapih milik Alan memang bergaya santai seperti rumah. Tumpukkan buku dan map-map berjajar rapih persis seperti pemiliknya yang selalu perfect dalam segapa hal.
Di sisi tembok kanan bersebelahan dengan rak buku, ada foto keluarga Alan, Ayah, Ibu, Adiknya dan Alan.
"Permisi.." ketukan pintu lagi-lagi terdengar.
"Saya celaning service. Mau membersihkan ruangan Pak Alan." Ucap seorang cleanning service ini.
Sudah lengkap dengan peralatan pembersih lainnya.
"Ohh iya, silakan Mas." Hana kembali memakai kalung liontin pemberian Dimas. Tidak terasa sudah satu jam Alan pergi, berkas yang ada di atas meja tidak disentuh sama sekali karena memang dia tidak mengerti.
Setelah 1 jam lamanya, Alan datang. Bukan seorang diri, melainkan dia membawa sepupunya masuk keruangannya. Dia adalah Sara.
"Haha Lan, besok atau kapan-kapan kita harus reuni teman satu kuliah kita deh! Semuanya pasti ingat kekonyolan kita dulu."
Kening Hana berkerut saat melihat perempuan yang bersama Alan. Siapa lagi dia?
"Pak Alan? Udah selesai?" tanya Hana saat Alan tiba
"Hai, sudah. Gimana? Selesai tugas yang aku suruh?" Alan mengusap puncak kepala Hana dengan lembut.
"Ini..... Hana yang selalu kamu ceritain dulu Lan? Kalian cocok deh..." ucap Sara melihatnya sangat gemas.
Alan menganggukkan kepala.
"Emmm, belum. Aku nggak ngerti soalnya. Yaudah aku biarin aja deh, maaf ya."
"Mau belajar? Atau kamu perlu bimbingan?" Alan berposisi tepat di belakang kursi yang di tempati Hana.
"Coba, ini gimana caranya emangnya? Aku bingung tau, nggak ngerti beneran."
Sara yang memperhatikan mereka sempat mengabadikan foto dua sejoli ini.
"Perlu ku bantu juga Hana?" Ucap Sara.
"Nggak usah, biasanya mulut embermu itu selalu bicara yang bukan-bukan." Ucap Alan.
Tangan Alan berada tepat mengempal di kursor mouse mengarahkan pada layar komputer.
"Huh dasar, mentang-mentang udah gak jomblo malah ngeledek. Gak usah nikah sama dia Hana, orangnya baperan." Kata Sara mengompori Hana.
Hana hanya tertawa pelan mendengar pernyataan Sara.
"Kamu paham? Hanya cek bagian yang harus kamu hitung bagian nirlaba dan kerugian aja, selebihnya revisi kata-kata di setiap paragraf. Kamu bisa hitung lagi kalau mampu."
"Kamu pendidikannya apa sih, Hana?"
Hana melirik ke arah Sara.
"Kalau aku kasih tau, pasti kamu kaget."
"Sara!" Alan menekan suaranya.
"Nggak usah dengar ucapan Sara. Hana memang aku daftarkan dia Universitas Negeri di Jakarta. Kenapa?" Alan beralih bertanya pada Sara.
"Udah, nggak apa-apa kok. Aku cuma lulusan SMA. Jadi, aku nggak begitu paham."
"Nggak ada kata terlambat untuk belajar lagi, aku sudah daftarkan kamu ke Universitas Negeri Jakarta."
"Kapan kamu daftarin aku? Kok aku nggak tau?"
"Yaa maaf, Lan. Nggak maksud kayak gitu kok. Sorry ya..."
***