Bab 28

1764 Words
"Apapun bisa aku lakukan tanpa menunggu perizinan dari kamu." Kata Alan. "Dih, jadi ceritanya bisa lakuin apa aja gitu?" "Fungsi gue di sini apa ya? Kok jadi nyamuk gue?!" Kata Sara sambil mengomel karena cemburu melihat Alan dan Hana yang mesra. Sementara dirinya sampai sekarang masih saja jomblo. "Hahaha, jadi kamu mau nggak kuliah? Aku cuma mau kamu yang terbaik. Di sana juga ada Sara juga, iya kan Sar?" "Yaa mau, cuma aku nggak enak aja. Biaya kuliah bukan mahal." "Kan ada ayang hehe..." ucap Sara bergurau. "Kamu masih pikirin biayanya? Jangan pikirkan itu, kamu perlu pendidikan yang lebih tinggi lagi. Aku tau kamu mampu dan aku yakin itu." "Iya, iyaaaa sayang." kaya Hana siapa sangka perkataan Hana justru membuat Alan kaget bukan main. Senang dan sangat girang. "Ha?! Apa? Kamu bilang apa tadi?" Alan memasang telinganya mendekat ke wajah Hana. "Diihh, emang aku bilang apa?" tanya Hana pura-pura tidak tahu. Sara yang ada di sana menghentakkan kaki kesal dan gemas "Hahaha, mau makan siang? Sudah waktunya istirahat. Sar, mau ikut makan?" "Kagak ah, ntar gue jadi nyamuk. Bay!" Sarah pergi begitu saja. "Mau makan di mana emang?" tanya Hana pada Alan. Kembali tangannya merangkul lengan Alan. Tak apa, dia harus berlaku seperti ini agar hatinya bisa terbuka untuk Alan "Hhmmm kamu maunya dimana? Aku ikut kamu aja." "Cari mie ayam yuk? Aku tau tempat yang enak. Gimana? Mau gak? Tapi dipinggir jalan." "Boleh, kamu tunjuk jalannya ya." Alan yakin hati Hana perlahan terbuka untuk mengisi orang baru. Meskipun harus berproses dari awal. "Boleh, aku jamin kalau kamu nggak bakal bisa move on dari mie ayam itu. Enak banget, dia mienya bikin sendiri. Nggak ada pakai pengawet, loh. Sehat, bikin kita panjang umur." "Hahaha memangnya pakai mantra apa bisa panjang umur?" Mereka memalui lift yang lainnya, bukan milik Alan yang biasa mondar mandir yang rusak itu. "Kita pakai lift karyawan, kamu nggak takut lagi kan?" "Enggak mah kalau ada kamu. Mau tau mantra-mantra nya? Mantra ya itu...." "Apa?" Bisik Alan di telinga Hana. Hana masih merangkul lengan Alan. "Gini mantra-mantra, aku cinta kamu Alan." Alan menjadi salah tingkah, kedua pipinya pun terlihat merah sangat jelas di kulitnya yang putih. "Hahaha..." masih terbawa perasaan. "Hahaha, kamu kenapa? Ciee salting ya? Cieee ternyata seorang Hana bisa bikin pak Alan baper." Hana tertawa terbahak-bahak. Memegang perutnya yang sakit karena tertawa "Jadi itu cuma bercandaan kamu aja? Bukan dari hati dong namanya." "Nggak percaya dari hati aku? Dosa loh kalau buruk sangka sama calon istri." "Oh ya? Apa kamu sendiri sudah move on dari Dimas?" "Nggak bisa semudah itu, tapi aku janji aku bakal move on dari Dimas. Tapi aku butuh waktu." Selebihnya Alan tidak menjawab, itu haknya begitu pikiran Alan. Bukan hanya Alan dan Hana saja di dalam lift, setiap lantai selalu ada yang masuk menaiki lift yang sama. "Siang pak." Sapa karyawan Alan. "Siang..." jawab Alan singkat. "Ini siapa, Pak? Cantik banget. Pacarnya ya?" tanya salah satu karyawan Alan. Mendengar pertanyaan itu membuat Hana tersipu malu. "Iya, calon istri saya." Kata Laan menatap Hana di sebelah kanannya. "Bapak diam seperti jombo bergerak memperkenalkan jodoh ya." Hana mencolek Alan, pertanda bahwa dia sangat malu sekali. Setelah itu Alan dan Hana turun di lobi. Bukan main, visual Alan memang tiada tanding. Sejumlah wartawan pun sudah sejak pagi menyambangi kantor Alan. "Kok banyak wartawan, Lan." "Gosip aku akan menikah memang cepat beredar, ini pasti ulah dari Sara." "Kan bukan gosip, emang kamu mau nikahin aku karena gosip doang nih?" "Bukan, aku menutupi ini dari media. Memang Sara orangnya suka pamer apapun di media sosialnya. Ini jadi dampak buruk buat kamu, keseharian kamu jadi makin terganggu adanya wartawan, aku sendiri selalu menghindar dari mereka. Kehidupan aku sangat terbatas karena adanya pers seperti ini." "Sebentar..." Alan menelpon Niko asistennya untuk mengelabui wartawan sementara. "Bisa ke lobi? Ada wartawan di sini. Kita mau keluar tapi susah, bisa atur sebentar Nik?" "Ohh baik, Pak. Bisa. Saya akan langsung ke sana." Niko pun langsung bergegas menemui Alan yang ada di lobi. "Pak, ini mobil kantor, biar saya bawa mobil Bapak ke luar untuk mengalihkan perhatian mereka." "Oke. Saya bawa mobil kantor ini, kamu ikuti dari jauh. Saya kirim pakai share lokasi." "Kita mau kemana lagi emang ya, Lan? Jadi fitting baju pengantin?" tanya Hana pada Alan "Iya kita fitting baju, nanti Niko yang ikut kita dari jauh." Alan melepas jasnya untuk di pakaikan Hana. "Pakai ini, langsung masuk mobil warna putih di sebelah pos satpam. Aku dibelakang kamu." Hana pun mengikuti apa yang Alan katakan, masuk ke dalam mobil dengan selamat. Sebentar lagi mereka akan memakai baju pengantin. Hana melepas kalung liontin yang dia pakai kemudian dimasukkan ke dalam tas. "Dimas, aku bakal tetap simpan kok kalung dari kamu." Dari kaca mobil menanmpakkan siluet Hana disaksikan oleh Alan. 'Apa itu?' Pikir Alan dalam hatinya. Membuka pintu mobil bagian kanan kemudi Alan duduk, ingin rasanya menanyakan hal tadi yang dia lihat. "Nggak susah kan ke sini?" "Enggak kok. Kamu nggak capek kalau kita harus fitting baju? Kerjaan kamu banyak banget kayaknya." "Ada Niko yang handle pekerjaan aku, dia memang tugasnya kan begitu." "Ohhh, oke..." Hana hanya menganggukkan kepala mengerti. Kini mereka pergi meninggalkan kantor Grandnalan. Alan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Menuju lokasi tempat fitting baju, mereka beberapa kali melewati tenda-tenda hajatan orang yang menikah. "Lagi musim nikah kali ya, ini udah ketiga kalinya loh kita liat di rumah orang ada pesta pernikahan." "Memangnya kenapa? Kita resepsi di gedung bukan di rumah, kalau pun di rumah itu nggak akan mungkin muat tamu undangannya." "Ya nggak apa-apa, kan cuma bilang lagi banyak yang nikah. Kenapa Bapak malah jawab kayak gitu?" "Kenapa? Memang benar kan? Tadi aku lihat kamu melepas kalung itu." "Kalung pemberian, Dimas? Emang seharusnya aku lepas kan?" "Memang harus dilepas, kenapa? Susah move on? Seharusnya perempuan yang akan dipinang lelaki lain, tidak memikirkan mantannya lagi. Harus bisa menjaga perasaan pasangan sendiri, terkubur dengan masalalu hanya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri." Tepat sekali, mobil Alan berhenti di butik yang mereka tuju. Setelah mengucapkan itu, Alan langsung keluar tanpa mengajak Hana yang berada di dalam. Hana mengembuskan napas pelan. "Kamu pikir bisa semudah itu, Alan? Andai kamu tau, aku juga mati-matian mencoba bangkit dari kehancuran hati aku saat ditinggalkan Dimas. Ternyata benar, nggak akan pernah ada orang lain yang mau ngerti perasaan kita kecuali diri kita sendiri." kata Hana di dalam hati. Dia masih berada di dalam mobil, setidaknya menunggu warna merah di matanya hilang. "Haaiiii ganteng kuuuu... Alaannnn apa kabar gantengkuu...." ucap Melodi. Sang desainer langganan keluarga Alan, juga laki-laki setengah wujud perempuan. "Mel, gaun yang saya pesan gimana? Udah jadi?" "Ohh udah jadi dong, mana nih calonnya, biar diukur dulu. Kalau kurang pas seperti kebesaran bisa dibenerin secepatnya." Hana keluar dari dalam mobil beberapa saat kemudian. Melodi lantas berlari kecil mendekati Hana. Ditarik ya tangan Hana untuk segera masuk. "Ehh, aduh, pelan-pelan..." Ruangan yang penuh dengan manekin gaun pengantin entah itu pesanan orang lain atau memang sengaja di pajang hanya untuk menarik minat pelanggan, terlihat sangat cantik meski hanya di pakai oleh patung. Alan memilih desain pengantin sesuai dengan postur tubuh Hana. Dia tidak ingin meninggalkan kesan mewah dan elegan di setiap rangkaian acaranya nanti, haru tampil prima dan terkesan cantik saat di altar nanti. Gaun yang Alan pilih, ball gown off shoulder style dengan detail lengan panjang memadukannya dengan borkat full borkat putih pilihan Alan. "Yuk! Langsung coba aja, udah nggak sabar mau lihat calon pengantin pakai gaun eykee haha yuk!" Melodi menggandeng tangan Hana gemas. Benar saja, setelah Hana mengenakan gaun itu, kecantikan Hana semakin terpancar. "Ini bagian pinggangnya agak sedikit longgar, Mas." Kata Hana pada Melodi. Masih belum terlihat oleh Alan. Melodi juga memberi sentuhan hair stylist yang sangat cocok dan cantik di padupadankan dengan wajah dan gaun Hana kenakan. "Tunggu si ganteng lagi fitting baju juga ya, hmmmm! Cantik sekaliiiii...." sambung lagi Melodi. "Beneran cantik nih, Mas? Ntar cuma boongan lagi bilang saya cantik." "Mana bisa eyke bohongan?! Di bilang cantik kok nggak percaya, ck! Yaudah, tunggu Alan sebentar lagi." Hana hanya menganggukkan kepala. Dia berdiri di depan cermin sambil memperhatikan tubuhnya yang sudah dibalut gaun yang mewah. "Dim, kamu senang kan? Aku udah sampai di tahap ini?" Melodi memilih model hair stylist untuk Hana, ponytail dengan sedikit sentuhan rambut yang bergelombang dengan sasak di bagian atas rambut. Bersama dengan Alan yang keluar dari fitting room dengan setelan jas hitam dan celana hitam dengan aksen bunga putih di saku kirinya. Juga tak lupa dengan Hair bangs untuk gaya rambutnya. "Iiihhhhh cocok!" Kata Melodi sangat senang melihat dua insan yang sedang memakai setelan sepasang pengantin. "Gimana, bajunya cocok nggak sama aku?" tanya Hana pada Alan yang kini berdiri di hadapannya. Jujur Hana sangat kikuk sekali dalam keadaan posisi seperti ini. "Cantik." Alan masih terpaku melihat Hana. Matanya membuka lebar tanpa berkedip. "Sini, sini biar ekey foto dulu." Melodi menuntun mereka berdua agar lebih dekat lagi. "Peluk dong, tangan Alan tuh di sini." Melodi menuntun tangan Alah agar melingkar di pinggang Hana. Sementara tangan Hana dituntun untuk memegang d**a Alan. "Nah tahan posisi seperti ini ya biar ekey foto dulu." Beberapa foto diambil untuk sample. "Punya ku nggak ada yang perlu di kecilkan lagi kan Mel?" "Gimana sih, masa punyanya dikecilin, kasian dong Hana nya." kata Melodi genit "Jasnya Mel! Bukan apanya." "Ohhh yang jelas dong ganteng, kirain tadi itu." Melodi terkekeh pelan. "Mana yang kebesaran? Bagian lengan atau apa?" Alan bercermin. Menerka bagian bajunya mana yang terlihat besar dan perlu dikecilkan. "Nggak ada, menurut kamu gimana?" Alan bertanya pada Hana. "Emmm, ini bagian sini kekecilan nggak sih?" Hana memegang bagian ketiak jas Alan. "Tapi bisa dilepas juga kok, apa coba yang lain dulu ya?" "Tapi ini udah cocok warnanya. Nggak ngerasain sempit kan?" "Apa kemejanya di ganti aja? Mel, ini bisa ganti pakai dalaman T-shirt putih nggak?" "Bisa, dong ganteng. Sebentar, ekey cariin ya." Alan melepas jas dan kemeja yang melekat di badannya. Memperlihatkan otot kekar bahu, d**a bidang, lengan yang sangat atletis dibalut kulitnya yang mulus tanpa luka. "Iya kemejanya yang kekecilan ya?" Hana membantu untuk melepaskan jas yang menempel di tubuh Alan. "Kamu yang gendut, makanya gak muat." kata Hana bercanda, dia memencet otot Alan yang keras "Hahaha siapa bilang gendut, bilang aja sexy kan?" "Dih, seksi mah nggak gini. Tapi kayak aku. Kalau ini gendut, asli gede. Liat aja lengan aku sama lengan kamu, gedean lengan kamu. Lengan kamu kayak ya seukuran paha aku deh " Alan hanya merespon senyum saat memperhatikan Hana mengoceh sendiri. "Hahaha.... itu perlu pembuktian." "Pembuktian apa?" Hana kembali masuk ke dalam ruang ganti baju. Melepas gaun pengantin yang menempel di tubuhnya. Di luar Alan hanya terkekeh pelan melihat kelakuan calon istrinya. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD