Bab 29

2162 Words
Kini, mereka kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Saat sampai di rumah Alan, ternyata semua kerabat Alan sudah tiba di rumah. Baik dari luar kota mau pun luar negri. Kabar pernikahan putra tunggal dari Mario benar-benar menggegerkan keluarga besarnya. "Alan, akhirnya kamu kembali juga. Ini, ini pasti calon istri kamu kan? Ah, kamu dapatin dimana? Cocok banget sama kamu, Alan." kata Tante Tasya. Dia adalah adik almarhum ibu Alan yang selama ini tinggal di Sidney. "Guntur nggak bisa pulang, nih. Maklum istrinya lagi hamil besar. Jadi bahaya kalau ke sini." kata Tasya lagi. Guntur adalah anak tunggalnya yang sudah menikah dengan perempuan asal Sidney. Senang sekali sebab sebentar lagi akan memiliki seorang cucu "Jadi Guntur kirim salam aja, sama sekalian minta foto pernikahan kalian. Nanti Guntur suruh datang loh ke Sidney, katanya mau kasih hadiah honeymoon buat kalian." Tasya memang sangat cerewet sekali, persis sepertinya Emely, mendiang ibu Alan. Wajahnya juga hampir sama, jadi setiap melihat Emely, Alan bisa melepas rindu pada sang mama. Hana benar-benar terkejut, melihat rumah Alan yang sebelumnya ramai kini mendadak penuh. Belum lagi perempuan tua yang kini berjalan mendekatinya. "Oh, Alan. Nenek rindu sekali denganmu. Akhirnya, kamu mau memutuskan untuk menikah. Pasti calon istri kamu baik sekali, sehingga kamu mau membuka hati." Mereka berdua seakan dihujani oleh ribuan pertanyaan. Hana diam mematung, masih kaget dengan orang-orang asing ini. Ternyata keluarga Alan sangat banyak sekali. Alan memeluk hangat sang nenek melepas rindu yang sangat lama bahkan bertahun-tahun. Neneknya, Catreen memang tinggal bersama suaminya di Jepang. Sesekali pulang ke Jakarta hanya melepas rindu pada cucunya dan keluarga lainnya. "Baik Nek, nenek apa kabar? Eh, ini Hana Arumi Putri calon istri Alan. Cantik kan Nek?" Alan tahu betul kalau Hana saat ini sangat terkejut bahkan bingung. Mario yang mengundang semuanya, bagaimana pun selalu menjadu prioritas utama dalam keluarga adalah menanti keluarga baru yang masuk. "Cantik Om! Lala yakin sih, nanti akan jadi top model produk Mama ya kan Ma?" Tanya Lala pada Sabrina. "Nanti ya Han, jadi top model tante tungguin aja deh!" Kata Sabrina. Hana merasa kalau dirinya memang dari asal muasal orang asing yang tidak tahu keluarga besar Alan. Kali ini harus menerima sebagai anggota keluarga baru. "Nanti ada ivent yang akan datang boleh deh, Om tunjuk istri kamu Lan jadi brandambassador wedding organizer Om deh." Kata suami Sabrina. "Kok jadi ngomongin skincare sama bisnis sih! Kan mau nikah mereka aneh deh!" Kata Alula kembaran Lala. "Sini-Sini, nenek mau peluk calon cucu menantu nenek." Hana langsung mendapat pelukan dari nenek Alan. Dia yang selama ini sendiri justru mendapatkan keluarga yang sangat lengkap. Dia pikir hanya ada Alan dan papanya saja. Hana membalas pelukan sang nenek. "Nenek sehat?" tanya Hana basa-basi "Sehat, sehat sekali. Apalagi pas dengar kabar Alan mau nikah. Duh nenek tuh udah ancam mau mati kalau Alan tidak menikah. Dia tetap nggak mau, makanya pas dengar Alan mau nikah nenek gak sabar mau ketemu sama perempuan yang udah berhasil bikin cucu nenek jatuh cinta. Eh ternyata sangat cantik," Hana merasakan pipinya disentuh lembut oleh sang nenek. "Dan kamu, Sabrina. Masa mau menjadikan Hana model, tanya dulu sama suaminya dikasih izin apa tidak. Palingan Alan tidak akan izinkan istrinya untuk bekerja " "Siapapun istri Alan, tidak ada yang boleh bekerja. Dia fokus mengurus anak dan suami saja nantinya. Kalau mau perkerjaan, yaudah nanti bikin bisnis kecil-kecilan. Ya kan Han?" Alan bertanya pada Hana. "Usaha Lan? Boleh tuh, Papa yang jadi investornya. Kuliner atau brand baju?" Mario antusias. "Usaha apa sih? Eh tante Sabrina dan tante Tasya mau dong ikut!" Sabrina juga sangat antusias. Perihal bisnis, memang keluarga Alan banyak menjalani bisnis selain propertu atau pun makanan. "Eh bikin Cafe aja, nanti kita berdua yang jadi waitersnya." Kata Lala. "Kalian kan sekolah, nggak ada. Fokus sekolah dulu baru boleh berbisnis." Kata Sabrina mengingatkan lagi. "Toko kue aja deh kayaknya, kalau Kafe kayaknya aku nggak bisa." "Kamu bisa bikin kue sayang? Wah nenek suka sekali bolu. Kamu bikinin ya?" tanpa persetujuan Alan, nek Catreen membawa Hana ke dapur. Dia memang suka sekali membuat kue. "Nek... biar Hana istirahat dulu. Kasihan dari pagi belum istirahat, kita sibuk dari fitting baju sampai ke kantor lagi. Besok pikih gedung juga, biar Hana istirahat dulu." Kata Alan. "Nenek kamu memang orangnya suka dengan orang baru Lan." Kata Tasya. "Enggak apa-apa kok, Lan. Biar aku bikinin kue buat nenek aja." "Yakin? Kamu nggak capek? Tadi di mobil kamu keliatan capek banget, Nek... biar Hana bersihkan badan dulu. Nanti kita masak kue ya...." Alan berusaha memberi pengertian pada Neneknya. "Nenek tunggu di dapur ya, kalian mandi dan ganti pakaian dulu." Kata Nenek. Hana di perlakukan bukan seperti orang lain, begitu langsung di sabut baik oleh keluarga Alan, Hana sangat merasa nyaman dengan suasana seperti ini. Suasana yang sangat di rindukannya. Alan dan Hana pergi berlalu mengantar Hana ke kamarnya. "Kamu bersih-bersih dulu, istirahat sebentar. Nenek memang orangnya begitu, kalau sudah bilang suka, akan susah di arahin bagaimana pun caranya. Dia jarang nyaman dengan orang baru, tapi kamu mampu buat Nenek merasa nyaman." Di kamar, suasananya bukan seperti kamar pada biasanya. Megah, cat tembok berwarna putih, di hiasi lampu tidur yang temaram, sangat persis kamar tuan putri dongeng. "Yaudah, aku mau mandi dulu. Mungkin nanti bisa langsung segar. Aku bisa kok kalau cuma bikin kue, habis itu kan bisa istirahat. Aku nggak enak sama nek Catreen. Dia udah senang banget masa bikin kuenya gak jadi." Hana merenggangkan otot-otot. Pegal sekali memang, tapi tidak masalah baginya selagi hal itu bisa menyenangkan hati keluarga Alan. "Kamu aja yang istirahat, capek kan tadi banyak kerjaan." Hana kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Hana berdiri di depan cermin. Entah kenapa rasanya masih ada keraguan di hatinya untuk melanjutkan pernikahan dengan Alan. Hana tau, dia memang sudah memutuskan untuk mau melanjutkan pernikahan ini namun entah kenapa hatinya masih berkata lain. Hatinya seakan masih belum mantap untuk melanjutkan pernikahan ini dengan Alan sebab sampai saat ini dia masih belum bisa mencintai Alan padahal hanya tinggal hitungan hari dia akan menjadi istri Alan. Namun saat melihat perlakuan keluarga besar Alan membuat Hana tidak tega jika harus mengecewakan keluarga ini yang sudah begitu baik kepadanya. "Aku akan tetap jalani ini semua, lagipula hati seseorang nggak ada yang tahu, jadi Alan nggak perlu tahu apa yang aku rasakan sebenarnya." Lirih Hana pelan, sangat pelan. Semoga saja kedepannya dia bisa mengalahkan hati ya dan memantapkan cinta untuk Alan. Kurang lebih setengah jam Hana membersihkan diri. Dia kembali keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju dapur. Si sana sudah ada nek Catreen dan kedua tante Alan. "Nenek, Tante maaf ya aku lama ke sini. Nenek sama Tante mau dibikin kue apa?" Dapur yang serba mewah dilengkapi alat masak yang canggih, sudah tersedia mixer kue otomatis, oven yang sudah mengeluarkan bau aroma harum khas kue, meja kitchen yang penuh tepung dan bahan lainnya untuk memulai membuat adonan. "Ini kita mau bikin kue jahe, kamu tau resepnya Han? Ini kue yang jadi favorit keluarga kami." Kata Tasya. "Aduuhhhh Nenek kalau di rumah Alan itu suka nggak bisa diam mulutnya, asistennya banyak tapi nggak ada yang rapih kalau mau bersihin perabotan dapur." Oceh nenek. Memang terkenal cerewet dan suka sekali membuat suasana nyaman menjadi ricuh entah itu kesalahan sedikit saja atau hanya sepele. "Han, sini. Tante juga mau bagi resep. Mau buat kue pai labu juag, resep dari tante Sabrina nih hehe." Kata Sabrina. Alan yang baru saja keluar dari kamarnya sangat dibuat heran dengan suasana rumah yang berubah ramai, terlebih aroma kue yang sedap dihirup. "Aku bisa kok Tante. Dulu almarhum nenek aku juga suka nih bikin kue bolu jahe kayak gini." Hana mulai mengambil tepung dan membuat adonan baru, kali ini mereka akan membuat beberapa kue bolu. Hana memecahkan empat butir telur, memasukkan gula pasir dan mulai memixer adonan hingga mengembang. Selama lima belas menit, Donan sudah mulai mengembang, perlahan Hana memasukkan tepung terigu secara berkala. Setelah merata Hana memasukkan bubuk jahe. "Emmm, ini mentega cair ada kan Tante? Masukin ya setengah gelas aja. Biar pas lembutnya. Nanti dikasih air empat sendok teh." "Ada nih," Tante Sabrina memasukkan mentega cair ke dalam wadah adonan yang sudah jadi "Alan kamu ngapain berdiri di situ? Mau jadi penonton? Harusnya ya calon penganten nggak boleh ketemu, tapi yasudah lah, nenek juga tidak akan biarkan Hana keluar dari rumah ini." "Alan yang cicipi, nanti hasilnya gimana biar dewan juri yang menilai." Alan bergurau. Melihat pemandangan ini sangat susah ditemukan, calon menantu yang akrab dengan keluarga sangat susah dijumpai dimana pun, terkadang keluarganya baik, menantunya yang bertolak belakang. "Tadi tante ada kabar dari Marissa, dia juga mau ke sini. Kita tunggu aja, soalnya tante titip bahan kue juga." Jelasnya Tasya. Mendengar tentang Marissa, nenek sangat sensitive apalagi mengingat kalau marissa pernah tergila-gila dengan Alan. "Merissa? Nggak! Alan, kamu masih berhubungan sama dia?!" Pungkas nenek. "Kenapa emangnya sama Marissa nek? Bukannya dia itu sahabatnya Alan?" tanya Hana pada Nek Catreen. Hana mulai memasukkan adonan kue ke dalam baking pan, kemudian memanggangnya di dalam oven. Hana kembali pokus menatap nek Catreen sebab merasa bingung kenapa nek Catreen berbicara seperti itu "Memangnya Alan belum cerita apapun? Dia berani kurangajar dengan keluarga Nenek. Semua keluarganya itu penjilat! Udah ya, nenek nggak suka ada Marissa di sini." Alan memilih tidak merespon, yang jelas dia memang tidak ada hubungan apapu dengan Marissa. "Dulu, dia memang suka Alan. Tapi keponakan tante ini memang susah di dekati. Bisa dibilang terlalu cuek Han." Jelas Tasya. "Udah lanjutin bikin kuenya, nanti gosong tuh!" Alan membela diri. "Jadi Marissa itu pernah ada hubungan khusus sama Alan? Atau, aku udah rebut Alan dari Marissa? Tante, Nek. Kalau memang ada perempuan lain yang memang berharap sama Alan, kenapa nggak dilanjutkan? Aku nggak mau dituding sebagai perebut. Alan nggak pernah cerita apa-apa tentang Marissa ke aku." Hana tidak tahu harus bagaimana. Marissa yang sudah lebih dulu mengenal Alan. Bagaimana jika suatu saat kehadiran Marissa justru jadi Boomerang di dalam rumah tangganya dengan Alan? "Aku juga takut kalau suatu saat dia justru menjadi masalah antara hubungan aku dengan Alan." "Nggak ada hubungan apapun, Marissa sendiri yang suka Alan. Tapi di tolak langsung sama Alan, yaudah. Nggak ada yang perlu di takuti lagi dong. Kamu takut Alan berpaling atau bagaimana Han?" Ucap Sabrina. Alan yang mendegar penuturan dari Hana, jelas sekali Hana ingin menolak pernikahannya dengan Alan. "Apa kamu keberatan dengan pernikahan ini?" Alan langsung pada point penting ucapannya. Hana menggelengkan kepala tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia masih ragu untuk melanjutkan pernikahan dengan Alan. "Kenapa kamu bicara seperti itu Alan? Nggak ada ceritanya pernikahan kalian batal. Semua orang sudah tau. Nenek nggak mau tau!" Kata nek Catreen tegas. Semua media bahkan sudah meliput kabar pernikahan mereka. Alan memilih untuk menjauh dari pembicaraan ini. "Tuh, kalau kamu mau tahu Alan seperti apa. Bisa dilihat dari pertanyaannya barusan, itu tandanya dia udah nggak mau berdebat panjang lebih memilih menjauh." Ucap Tasya. "Emmm, aku. Aku susul Alan dulu ya Tante." Hana kemudian langsung menyusul Alan yang ada di taman belakang rumah. "Alan. Kamu marah?" Lampu taman menghiasi setiap sudutnya, sausana malam seperti ini sangat nyaman menyendiri di taman belakang rumah. Secangkir kopi latte hangat menemani Alan mendinginkan pikirannya. "Kenapa?" Duduk di bangku taman. "Katanya kamu siap nunggu aku sampai aku bisa cinta sama kamu. Dan katanya kamu akan terus cinta sama aku sampai aku bisa cinta balik sama kamu." Hana masih berdiri dibelakang Alan. "Kita masih punya waktu Alan. Kalau kamu emang nggak bisa nunggu aku, kita bisa batalin pernikahan ini." "Semudah itu?" Alan berdiri sejajar dengan Hana. "Justru kamu yang seharusnya aku tanyakan, mau sampai kapan kamu harus stay di zona nyaman kamu itu. Zona yang menunggu balasan cinta yang sudah lama mati. Aku sabar Han, sesabar aku mengikis rasa sakit yang kamu tanam sendiri di hati kamu. Nyatanya, yang masih mengisi di hati kamu hanya Dimas dan Dimas." "Aku udah tanya sama kamu sejak awal. Kalau aku belum cinta sama kamu, apa kamu bisa terima aku? Dan kamu sendiri yang jawab kalau kamu bisa. Aku nggak akan marah, kamu emang pantas benci sama aku. Karena aku juga sedang berusaha untuk keluar dari zona itu." Hana mengembuskan napas pelan. "Aku bakal masuk ke dalam, dan aku bakal bilang kalau kita gak bisa lanjutkan ini." "Han, aku sendiri selalu bertanya-tanya! Apa kamu sebegitu bodohnya menunggu orang yang sudah lama meninggal, aku menerima kamu, aku menerimanya dengan ikhlas! Tapi balasan kamu hanya tetap stay mencintai Dimas, aku bisa apa?! Aku bisa mengemis cinta kamu untuk sepenuhnya milik aku sendiri. Tapi coba kamu tanyakan diri kamu, sudahkan kamu sepenuhnya membuang perasaan yang sudah lama mati itu?! Aku cuma mau kamu fokus ke tujuan kita, bukan memikirkan hal yang nggak penting!" "Terus aku harus lakuin apa? Biar kamu percaya kalau aku mau keluar dari zona itu dan lupain Dimas. Aku udah lepas kalung pemberian Dimas, aku udah terima kamu. Apa itu belum cukup?" "Buat aku se yakin mungkin kalau kamu benar sudah lepas dari masalalu kamu." "Kamu mau aku lakukan apa biar kamu percaya?" "Kita lihat nanti, di resepsi pernikahan kita." *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD