Hari ini adalah hari pernikahan Alan dan Hana. Semua tamu undangan udah datang memenuhi gedung dengan jumlah tamu yang ribuan orang.
Hana sekarang sudah lengkap mengenakan gaun pengantin yang mahal, senada dengan jas Alan yang berwarna abu-abu dengan kemeja putih.
Di sini hanya benar-benar Hana sendiri. Tidak ada wali yang menikahkannya.
"Bagaimana Alan? Sudah siap untuk menjabat tangan saya? Kita mulai ijab kobul."
Mengusung tema serba putih, dihiasi mawar dusty pink sangat serasi dengan dekorasi pernikahan yang manis dan cantik.
"Saya siap." Alan sangat yakin.
"Saudara Alan Pradika, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Hana Arumi Putri binti Almarhum bapak Rudi Irwanto dengan mas kawin sebesar emas 1000 gram dan uang tunai sebesar 15.000usd dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Arumi Putri Binti almarhum bapak Rudi Irwanto dengan mas kawin sebesar emas 1000 gram dan uang tunai 15.000 USD di bayar tunai!"
Alan mengucapkan dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya sang penghulu pada semua saksi. Mereka serempak mengusapkan kalimat sah yang artinya Hana sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Setelah itu Hana mencium tempurung tangan kanan Alan sebagai tanda hormatnya kepada suaminya.
"Akhirnya, cucu kesayanganku menikah juga. Nggak sabar nunggu keturunannya, pasti ganteng seperti Alan." Kata nek Catreen ambisius. Menanti kelahiran sang cicit adalah hal yang sangat dia nantikan. Sebab ini adalah cicit pertamanya.
Hana memakai baju pengantin akad dengan gaya klasik dan modern, hal itu menambah perpaduan kesan elegan, anggun dan bak princess. Kebaya pengantin lengan panjang, bahan brokat detail, serta bross dan aksesoris tertentu di kepalanya yang disebut siger sunda, juntaian melati panjang di bahu sisi kanannya, cantik sekali.
Alan memegang kedua pipi Hana kemudian mencium kening sang istri.
Hana hanya bisa diam, benarkah sekarang dia sudah menjadi istri Alan?
Setelah acara akad, Hana dan adalan masuk ke dalam ruang ganti baju. Hana dibantu oleh perias untuk mengganti gaun mewah yang akan dikenakan untuk acara selanjutnya.
"Ternyata nikah tanpa orang tua itu nggak enak ya, Mas. Bahagianya terasa kurang." kata Hana liris. Melodi yang sedang merias wajah Hana langsung menghentikan aktivitasnya.
"Iya, ekey tau kok gimana rasanya. Banyak pengantin yang sama seperti Hana ini."
Alan sudah siap dengan setelan baju pengantin ke duanya, bak pangeran di negeri dongeng, gagah tegap atletis selalu terpancar dari dalam diri Alan.
"Kita semua keluarga barumu, bukan orang asing yang singgah sebentar lalu pergi." Alan berbicara
Hana hanya tersenyum tipis.
"Eh nanti pas acara dansa ekey mau bikin Vidio ah, kalian mesra soalnya." Kata Melodi gemas.
"Sudah siap? Banyak tamu yang menunggu kita di depan."
"Udah."
Hana berjalan mendekati Alan. Tak hanya itu Alan langsung menggenggam tangan Hana. Sesampainya di atas panggung, semua para Tama undangan langsung fokus pada sang pengantin.
"Ini dia pengantin kita. Sangat serasi bukan? Cantik dan tampan. Bagaimana? Pada iri nggak nih? Ada yang mau cepat nyusul? Ayo bilang sama ayang nya, suruh cepat lamar, jangan mager." Kata MC yang juga ada di atas panggung.
Lantas sorak-sorai para tamu undangan terdengar.
"Oke, buat mempelai pria, mungkin ada yang ingin disampaikan untuk istrinya? Biar semua di sini menjadi saksinya." Lanjut lelaki itu, kemudian seorang perempuan memberikan mic kepada Alan.
"Terimakasih sudah hadir di acara pernikahan kami berdua, takdir tidak ada yang tahu kalau sekarang adalah jawaban dari segala usaha untuk mencarinya. Tentu semuanya yang ada di sini, sempat memikirkan bagaimana kita bertemu. Singkat saya akan menceritakannya, sudah sangat lama saya mengenalnya bahkan dari kecil. Kami berpisah untuk waktu yang lama, bertahun-tahun lamanya saya mencari, pada akhirnya bertemu karena peristiwa botol minum yang pecah, namanya Hana Arumi Putri. Putrinya Almarhum Bapak Rudi Irwanto, saya kenal. Beliau kenal dengannya sang Dokter yang pernah menangani masalah psikiater. Termasuk saya, beliau berpesan sebelumnya besok atau lusa saya harus menemukan kembali putrinya. Kejadian itu sudah lama tepatnya di Jepang, itu terakhir kalinya saya bertemu beliau. Saya masih kecil, bahkan tidak berpikir kalau saya bisa bertemu lagi dengan putri almarhum...."
Hana diam, dia melirik Alan beberapa saat.
"Jadi, itu definisi jodoh yang sesungguhnya." Kata sang MC lagi. Memang banyak cerita haru dari sang pengantin. bahkan terkadang ada yang lebih mengejutkan, pernikahan bisa batal saat sudah ada di gedung.
Alan belum selesai dengan kisahnya.
"....sampai hari ini, saya berterimakasih dengan beliau. Mungkin membutuhkan proses yang lama agar Hana bisa mengingat masa kecil kita yang pernah bersama. Sebelum saya mengakhiri sesi cerita bagaimana saya bisa bertemu istri saya, saya mau mengucapkan terimakasih untuk keluarga saya yang menerima Hana dengan penuh cinta, terimakasih untuk keluarga almarhum mertua saya, untuk tamu undangan yang saya hormati. Tidak ada kata yang paling mulia selain terimakasih dan ikhlas sudah datang di acara kami. Terimakasih untuk istri saya, doakan kami sampai akhir usia tetap bersama. Tidak ada cinta yang tulus dan abadi selain pernikahan, dia milik saya, sepenuhnya saya perlakukannya bak permaisuri di rumah, akhir kata.... maukah dirimu bersanding dengan ku?" Alan mengakhiri pidatonya.
Hana menganggukkan kepala.
"Aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau menerima aku. Sudah mau menunggu aku meskipun aku nggak sempurna. Makasih udah memberikan baku keluarga yang utuh."
"Semoga sampai mau memisahkan kedua pengantin kita ya teman-teman, yang mau menyusul cepat ya! Limited edition seperti Pak Alan ini memang susah di cari." Kata MC.
"Oke selanjutnya kita akan dansa, yang punya ayang ambil posisi yang gak ada ayang jadi penonton." MC itu tertawa terbahak-bahak.
Lampu yang terang benderang perlahan redup, alunan instrumen musik piano klasik mengalun indah. Yang memiliki pasangan mereka berdansa mengiringi irama, seakan mereka hanyut dalam setiap note lagu.
Alan dan Hana mulai berdansa, menggerakkan kaki ke kiri dan ke kanan, lalu mundur dan maju.
Kedua tangan Alan memegang pinggang ramping Hana, sementara tangan Hana menggantung di leher Alan.
Perlahan Hana merasakan napas Alan menerpa kulit wajahnya, dengan cepat Hana memalingkan wajah ke samping hingga bibir Alan hanya menyentuh pipi Hana
"Masih ada keraguan?" Alan bertanya lagi.
Hana menggelengkan kepala.
"Di sini banyak orang."
"Kenapa? Kamu malu? Atau aku terkesan memaksa kamu untuk menikah?"
Hana hanya diam, tetap melanjutkan dansa dan tidak merespon Alan sama sekali.
Alan memberanikan diri mendekatkan wajahnya, lebih dekat, hingga wajah mereka akan menyatu. Satu senti lagi bibir Alan menyentuh bibir Hana.
Lagi-lagi Hana kembali menghindar, entah kenapa rasanya tidak siap untuk membiarkan Alan menyentuh bibirnya.
Meleraikan tubuh Hana, sudah cukup pikir Alan. Butuh sesuatu agar emosinya tidak menjalar lebih buruk lagi.
Setelah beberapa detik, Alan menjauh dari area dansa. Lampu menyala, kembali duduk di kursi altar pengantin. Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut Alan.
"Aku minta maaf." Kata Hana, dia ikut duduk bersanding dengan Alan
"Hanya itu? Selamat bertarung untuk diri kamu sendiri Han. Sudah aku buktikan sendiri, selebihnya mau bagaimana sikap kamu, aku hanya bisa menonton." Kata Alan, setelah itu memilih berlalu dari kursi pelaminan. Ikut bergurau dengan teman-temannya yang lain.
***
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Hana. Kini mereka sudah berad di dalam kamar yang sudah dihias oleh bunga-bunga mawar dan lampu yang berkedip-kedip.
Alan tidur berada di posisi tepi kiri ranjang, membelakangi Hana. Sebenarnya dia belum tidur, hanya saja memilih untuk berpura-pura tidur lebih baik daripada menyulut emosi.
"Waktunya tidur, aku ngantuk."
"Iya, Maaf." Hana mendekati Ala. Kemudian memeluk Alan dari belakang.
Pagi menyapa, Alan sudah bangun lebih dulu dari Hana. Rumah pun kembali sepi karena belum sempat ada yang bangun lebih pagi.
"Nona Hana, sudah waktunya untuk perawatan kecantikan." Sapa salah seorang pelayan sudah menyambangi kamar Hana.
"Loh, saya. Saya baru bangun kok langsung gini?" Tanya Hana heran
"Iya, Nona harus tampil cantik dan segar. Yuk, mau pakai lulur dulu atau langsung berendam?"
"Emmm, lulur aja mbak. Makasih ya. Maaf kalau ngerepotin."
Sementara itu, di dapur sudah Alan siapkan semua menu yang tersaji di meja makan. Dia yang memasak dan mengolahnya sendiri.
"Hhmmmmm! Ini wangi banget nih, tante lapar jadinya Lan. Enaknyaa.... Hana mana?" Tanya Sabrina sudah rapih dengan dress floral berwarna nude.
"Masih di kamar Tante. Aku suruh dia untuk perawatan, tugas suami memanjakan istrinya kan?"
"Hahha iya iya, yaudah tante mau ke kamar temui Hana dulu."
"Mau ngapain? Tante mau ganggu dia?"
"Mau beri wejangan setelah menikah harus ngapain."
"Ohh oke, silakan. Asal jangan ganggu Hana."
Sedangkan Hana, sedang menjalani lulur untuk merilekskan badannya. Semerbak aroma vanilla rosse menjalar di hidung Sabrina kala membuka pintu kamar.
"Hai, oohh... lagi luluran ya?"
Melihat Hana yang sedang tengkurap di atas ranjang hanya berbalut kain menutupi punggung hingga batas paha saja.
"Ehh Tante. I...iya nih Tan." Hana hanya bisa tengkurap, sebab dia tidak mengenakan baju. Heran, kenapa tiba-tiba Sabrina bisa masuk ke dalam kamar
"Maaf ya ganggu, tante mau kenal sama kamu lebih jauh deh. Gimana setelah menjadi istri keponakan tante?" Sabrina bertanya. Ia duduk di samping kiri sisi ranjang.
"Emmm, senang tante. Aku masih nggak nyangka padahal aku baru kenal sama Alan. Aku kaget karena tiba-tiba dia ngajak aku nikah dan dia nggak nerima penolakan, aku tau. Mungkin itu salah satu bentuk keseriusan dia sama aku."
"Iya, dan tante bersyukur Alan bisa bertemu kamu. Pesan tante, jangan membuat celah orang ketiga masuk ke rumah tangga kalian, jangan membuat nyaman suami kamu ke wanita lain. Beri dia nafkah batin, selagi kamu bisa dan melayani dengan baik apa salahnya kan?"
"Iya Tante, makasih ya udah mau peduli sama rumah tangga aku dan Alan. Aku akan coba jadi istri yang baik buat Alan."
"Alan pernah cerita nggak? Dia pernah depresi berat setelah ibunya meninggal tepat di depan matanya."
"Kalau masalah ibunya meninggal dia pernah cerita, tapi kalau soal depresi aku nggak tau."
"Perlahan dia akan terbuka sama kamu, jangan lewatkan momen apapun bersama suami kamu Hana."
"Iya, Tante." kata Hana singkat. Sebab dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Hana telah selesai luluran dan berendam. Kini dia keluar dari dalam kamar dan melihat Alan yang masih ada di dapur.
"Alan, kamu ngapain di dapur?"
"Gimana? Sudah selesai? Aku masak untuk sarapan pagi, tunggu nenek dan yang lain bangun. Kamu siap-siap bawa baju seperlunya nanti kita mau pergi beberapa hari."
"Mau pergi ke mana emangnya?" Hana berdiri di samping Alan, ikut membantu Alan untuk memasak.
"Nanti juga tahu, yang penting sampai sana kamu harus bersenang-senang."
"Tapi kan pakaian aku ada di rumah aku. Aku ke sini nggak bawa apa-apa, cuma baju-baju yang kamu sediain di sini." Kata Hana lagi.
"Ini tangan kamu kenapa? Kok kayak melepuh? Kena minyak ya?"
"Oh ini, minyaknya terlalu panas. Yaudah, kita bisa mampir sebentar beli di mall. Beli yang kamu mau aja."
"Ntar aja masalah baju, ini tangannya diobatin dulu ya." Hana memegang jari Alan yang melepuh
Terdengar suara keras dari kamar nenek, seperti biasanya mungkin ada pekerja yang salah dengan kerjaannya.
"Ganti airnya! Jangan air dari kran langsung! Pakai air matang yang hangat!" Nenek dengan nada tinggi, masih berada di dalam kamarnya tapi suaranya nyaring terdengar hingga ke dapur.
"Loh itu nenek kok teriak-teriak, kenapa?" tanya Hana, dia kemudian berjalan menuju kamar nek Catreen.
Saat sampai di kamar benar saja, dia melihat nek Catreen tengah memarahi dua pekerja di rumah.
"Nenek, nenek kenapa? Kok marah-marah, nggak baik nek kalau marah-marah, itu bisa memancing tekanan darah tinggi." Kata Hana mencoba untuk memperingati nek Catreen.
Mengakibatkan semua orang seisi rumah terbangun, berkumpul di kamar Nenek.
"Biar aku dan Tasya yang urus ini. Lan, tolong kamu bawa dulu Nenek ke lantai atas." Ucap Sabrina.
Hana dan Alan membawa nek Catreen ke lantai atas.
"Nenek yang sabar ya, nggak boleh marah-marah. Nanti nenek bisa sakit." Kata Hana lagi, dia mengusap pelan lengan nek Catreen, dia berdiri di samping kiri nek Catreen sementara Alan berada di sisi kanan nek Catreen.
"Kenapa? Ada apa nenek marah-marah? Nanti biar Alan yang beri mereka peringatan."
Alan menyamai tinggi kursi nenek yang sedang di duduki.
"Nenek mau mandi! Harusnya dia hafal kalau nenek mandi pasti airnya harus hangat dan langsung dari air yang matang! Bukan dari kran."
Maklum sudah lanjut usia dan susah sekali dimengerti maunya apa.
"Iya, nanti Alan coba bicarakan baik-baik ya."
"Nenek mau aku bikinin air panasnya? Biar aku yang siapin ya, Nek." tanya Hana pada sang nenek.
Nek Catreen menganggukkan kepalanya pertama dia setuju. Hana pun langsung turun ke bawah, memasak air panas di dapur. Dia harus segera siap-siap juga. Sebab Alan tadi sudah memperingati agar dia segera siap-siap.
Kali ini, Hana hanya akan mengikuti perkataan Alan, sebab dia tidak ingin lagi membuat Alan marah.
"Mbak, ini air hangatnya buat nek Catreen, ya. Nanti saya boleh minta tolong buat dibawa ke kamar mandi nenek?"
"Boleh non, tapi nanti nenek marah nggak non? Den Alan nggak marah juga kan?"
Terlihat sangat takut, karena yang di marahi adalah pegawai baru.
"Enggak, ini soalnya air hangat yang diminta sama nenek. Eh ini airnya udah mendidih, langsung dibawa aja. Aku mau panggil nenek dulu ya." Hana kemudian kembali naik ke lantai atas.
Sementara di atas nek Catreen berbicara pada Alan. Agar Alan selalu menyayangi Hana. Sebab nek Catreen sudah terlanjur suka dengan Hana yang baik.
"Alan, kamu janji ya sama nenek, kamu sama Hana harus terus sama-sama. Kayak nenek sama kakek kamu. Jangan coba-coba kamu selingkuh. Walau kecil kemungkinan, tapi perempuan muda jaman sekarang suka goda sampai kelewatan."
Alan mengangguk.
"Nenek mau mandi sekarang? Kita turun ya, biar Hana yang bersihkan nenek."
Menggendong Nenek turun ke lantai bawah.
"Mama di gendong kenapa? Jatuh lagi di kamar mandi?"
Mario baru menampakkan dirinya setelah keluar dari kamar. Melihat Alan yang sedang membopong nenek turun.
"Tadi nenek marah karena masalah air panas, Pak. Tapi saya udah siapin kok air hangat buat nenek." kata Hana pada Mario.
"Itu biar pegawai lain yang bawa, awas itu panas Hana." kata Mario.
"Han, nenek mau mandi sama kamu, kita ke kamarnya lagi." Alan menggendong sampai ke kamar.
"Ohh, iya. Biar nenek sama aku aja."
Kini Hana dan nek Catreen sudah berada di dalam kamar mandi.
"Coba nenek pegang dulu airnya, udah pas belum? Kepanasan atau kurang panas?"
"Sudah sayang, makasih ya.... istrinya cucu nenek memang nggak ada duanya..." membelai lembut puncak kepala Hana.
"Nanti kalau sudah siap, langsung sarapan pagi. Aku keluar dulu Han."
Hana menganggukkan kepalanya.
"Tapi habis ini Alan ngajak aku pergi nek, apa aku tunda aja dulu?" Hana mulai membersihkan tubuh nek Catreen, mengusap tubuh nek Catreen pelan dengan sabun.
"Kakek kenapa belum keliatan, Nek? Nggak jadi datang ya?"
"Kalau kalian mau pergi, boleh asalkan bersama Alan. Kakek itu memang tidak bisa ke sini, nanti nenek kabari kalau kalian mau ke Jepang ya."
"Yaudah, Nek. Oh iya ini nenek mau sekalian keramas?"
"Boleh-boleh...." suaranya parau tertatih karena sudah sepuh.
Setelah selesai memandikan nek Catreen, Hana kembali masuk ke dalam kamar.
"Kamu udah siap-siap, Lan?" tanya Hana. Dia melihat satu koper yang sudah Alan letakkan di samping tempat tidur
"Sudah, aku nggak akan bawa kamu untuk pergi jauh. Cuma untuk kita berdua habiskan waktu bersama aja."
"Tapi kita belum minta izin sama yang lain? Gimana kalau mereka marah kita pergi?"
"Marah kenapa? Kan perginya sama aku, biar aku yang izin."
Alan sudah mengemas pakaian dalam koper dan turun ke bawah untuk berpamitan.
"Pengantin baru mau honeymoon, uhuy." Kata Alula dengan centil. Melihat Alan dan Hana sama-sama turun ke bawah.
Lula sebenarnya sudah menguping sejak tadi diam-diam senyum-senyum sendiri melihat Alan dan Hana.
"Aku tunggu ya Kak, ponakannya."
"Eehhh Alula, Lala! Jangan ikut campur urusan orang dewasa." Sabrina ikut gemas melihat dua anaknya suka kepo.
Nampaknya masakkan Alan memang tidak ada duanya, habis tak tersisa.
"Ini yang masak Alan nih pasti." ucap Dion suami Sabrina.
"Kasian kak Hana gak kebagian deh, tapi nggak apa-apa, kan kak Hana kebagian kak Alan." Lagi-lagi Alula menggoda, senang sekali rasanya.
"Emmm, kita langsung pamit aja yuk." bisik Hana di telinga Alan.
"Jadi kalian mau ke villa yang kamu bilang itu Lan?" tanya Mario.
"Iya pa, mumpung Alan belum padat kerjaan jadi kayanya harus hari ini. Mungkin satu minggu atau dua minggu kita refresing sebentar." jelas Alan.
"Ciieeee....." si kembar Alula dan Lala sangat senang menjahili pamannya.
"Yasudah, hati-hati kalian. Kalau ada apa-apa kabari papa segera, atau siapapun itu. Kalian senang-senang aja dulu. Sekalian, biar Hana nggak kaki lagi sama kita." Mario menyenggol lengan Alan, sedikit menggoda menantunya itu. Hana memang pemalu, jadi menurutnya wajar jika Hana masih kaget dan belum bisa beradaptasi.
Tapi, Mario senang melihat kedekatan nek Catreen dan Hana. Itu artinya Hana memang baik sehingga sang ibu yang biasanya tidak menyukai bidang batu justru malah menyukai Hana
***
Bersambung