Bab 31

2234 Words
*** Dalam perjalanan, sudah lebih dari 2 jam Alan berkendara di tol Cipularang menuju Bandung. "Kamu kenapa masih kaku begitu sama keluarga aku? Kan sama aja mereka juga keluarga kamu, Papa juga Papa kamu..." "Keluarga kamu banyak banget, aku canggung. Nanti kalau aku main dekat-dekat aja Taku dibilang sok akrab. Maaf ya, aku nggak bisa langsung dekat sama keluarga kamu." "Buktinya si kembar Alula, Lala, Nenek, tante, semuanya akrab sama kamu. Jarang moh bisa dekat sama Nenek." "Kan aku baru ketemu mereka kemarin. Mungkin nanti setelah beberapa waktu aku bisa akrab sama mereka. Emmm, ini masih jauh ya? Kok makin sepi? Ini kita mau ke hutan?" "Kita mau ke Bandung, Desa Lebakmuncang kecamatan Ciwidey. Kamu suka yang berbau pedesaan kan?" "Suka banget. Apalagi kalau ada sungai, pasti seru. Di sana bisa mancing gak?" tanya Hana refleks, seakan kembali tergiur dengan hobi lama yang suka sekali memancing ikan. "Ada dong, ini kampung halamannya Kang Yono supir pribadi Papa. Kamu betah deh kayanya, cukup nggak bajunya? Biar suruh kirim paket aja nanti." "Cukup, kan nanti kalau kotor bisa dicuci. Terus nanti kalau kita lama-lama di sana kerjaan kamu gimana? Kasian oh Papa kerjanya jadi banyak." "Pakai email pun bisa. Oh ya, rencana kamu mau buka toko rotinya dimana?" "Aku belum tau, soalnya aku bingung mau cari tempat di mana." "Hhmm yaudah, nanti kita bisa pilih tempat lagi." Setelah lama perjalanan dari Jakarta menuju Desa Lebakmuncang Ciwidey. Udah sejuk semakin terasa menerpa kulit, kini Alan dan Hana sudah tiba di desa yang mereka tuju. Di tugu pintu masuk desa harus mendaftarkan diri dulu, karena Alan bukan penduduk desa ini jadi harus wajib lapor. "Waahhh ini aja udah segar banget, sungainya dekat gak sama tempat tinggal kita?" Sesudah melapor di post satpam, Alan kembali mengendarai mobilnya menuju villa milik keluarganya. "Dekat, aku harap kamu betah di sini." Hana keluar dari dalam dilihatnya villa dengan bangunan klasik. Terbuat dari pohon jati dan mahoni. Tidak hanya itu, atapnya juga bebahan ijuk. Sudah pasti di dalamnya akan terasa sangat sejuk sekali. Tinggi bangunan yang sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah itu benar-benar terlihat sangat bagus sekali. "Ini udah lama atau masih baru, Lan?" "Udah lama kok, memang di rawat baik sama Papa." Mereka baru tiba di halaman villa. "Eh si Aa! Nggak telepon dulu sama saya ya?" ucap Kang Udin adik Kang Yono supir dari Mario. Beliau di tugaskan untuk mengurus villa agar terawat. Hana Saudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam. "Ayooo masuk. Aku mau naik ke atas." "Iya sebentar. Kang ini langsung bawa masuk aja kopernya ya." "Siap, Aa. Eh Aa, ini teh siapa? Cantik pisan ey..." "Istri saya kang, oh ya nanti istri kan udin bisa temani istri saya juga di sini ya. Itung-itung biar ada teman ngobrolnya." "Waahh, kapan nikah, Aa? Ih kok saya gak diundang, tau-tau si Aa udah nikah aja." Lelaki itu tampak tak menyangka kalau Alan akhiry mau menikah "Tenang, Aaa, pasti kok nanti saja suruh si Neng buat temanin istrinya Aa." "Iya makasih ya Kang, bukannya di kasih tau sama Kang Yono? Kemarin loh saya nikahnya, yaudah saya masuk ya Kang. Mari..." sapa Alan dengan ramah. Sesampainya di dalam, Hana dan Alan langsung masuk ke dalam kamar. Tempat tidur sudah tertata rapi dengan sprai berwarna putih. Tempat tidur yang terbuat dari kayu seakan menambah kesan mewah. "Keren banget, Villa. Kamu ke sini pas kapan aja?" "Yang paling sering Papa sama Mama dulu. Kalau aku mungkin kalau ada dinas di sekitar Bandung aja baru bisa ke sini. Memangnya kenapa?" Alan membuka gorden yang mengarah ke hamparan sawah yang hijau. "Alan, itu, itu habis nanam padi ya? Liat padinya pada mungil, lucu banget tau." Kini Alan dan Hana sudah berdiri di balkon kamar. Di sebelah kiri juga ada sungai yang airnya sangat jernih, langsung dari atas bukit. "Sebentar, aku kok kayak dengar air terjun, ya. Di sini ada air terjunnya juga?" "Ada, tapi aku buat desainnya semirip mungkin seperti air dari gunung." Alan membuka gorden di sebelah barat. Di bawahnya tepat sekali ada air terjun buatan sama persis seperti air terjun dari alam. "Waahhhh, bagus banget. Kayaknya aku betah di sini deh. Gimana dong?" "Boleh, kamu mau kita tinggal di sini? Terus rumah kamu gimana?" "Yaa nggak tinggal di sini. Maksudnya, kalau dua Minggu di sini pasti aku betah. Kita tetap tinggal di rumah aku." Hana kemudian duduk di atas tempat tidur, meski hanya duduk di mobil tetap saja Hana merasa pegal saat perjalanan ke sini. "Iya boleh, kapanpun kamu mau. Biasanya tiba-tiba turun hujan tanpa mendung, kalau malam sudah pasti dingin banget." "Yaudah, kan ada selimut, ada kamu bisa minta dipeluk kan?" "Hahaha, harusnya kita nggak perlu bawa selimut. Kan cukup aku yang di peluk." Alan mendekap Hana kedalam pelukannya. "Tetap aja kita butuh selimut." Hana membalas pelukan Alan sehingga pelukan itu semakin erat. Puncak kepala hanya tepat berada di bawah dagu Alan. Bunyi perut Alan terdengar jelas di telinga Hana. "Hmmm.... kayanya aku lapar." "Mau cari makan di mana? Kan kita gak bawa apa-apa untuk di masak." "Kita makan di warung nasi dekat sini ada, cuma harus motor." "Yaudah, yukk. Aku juga lapar banget, kalau nggak makan nanti kita mati." Hana terkekeh pelan mengatakan hal itu Alan dan Hana turun. Terlihat kan Udin sedang memangkas rumput yang merambat di pagar. "Kang, motornya saya pinjam dulu ya. Mau makan di warung nasi depan pegadaian itu Kang." "Oohh iya den, boleh-boleh. Ini kunci motornya." Udin memberikan kunci motor miliknya pada Alan. "Makan yang banyak den, Diar sehat. Haha...." Situasi seperti ini jarang terjadi, meski motor milik Kang Udin terbilang motor bebek dan sudah usang, kalau boncengan dengan istri terasa menaiki kereta kencana. "Dingin nggak?" Sedikit mengeraskan suaranya agae di dengar Hana yang berada di belakang. "Lumayan, makanya aku peluk biar nggak terlalu dingin. Nanti kita makan yang hangat-hangat aja ya, sup ada gak kira-kira." Pelukan Hana pada Alan semakin kencang. Angin yang bertiup menerbangkan rambut Hana ke belakang. Dari arah berlawanan ada seorang gembala bebek yang menggiring bebek ternaknya berbaris rapih di samping bahu kanan jalan. "Sebentar lagi nyampe nih!" "Ada bebek tuh, teman kamu, Lan. Hahaha, soalnya baunya kayak kamu." Lagi-lagi mereka bercanda di atas motor. "Awas jangan sampai ketabrak, nanti kalau ketabrak aku nggak mau ya ikutan ganti rugi." Hana mencubit pinggang Alan "Emang kamu cium badan aku? Kan aku wangiiii...." "Enggak ah, baunya sama kayak bebek, bau banget." Akan tertawa pelan. Kini mereka sudah sampai di warung yang dituju. "Banyak juga ya yang beli. Warung ini rame terus ya? Kamu sering makan di sini dulu?" "Ehhh, nak Alan. Apa kabar, kok udah lama sih nggak ke sini. Eh ini siapa? Kok ibuk baru lihat sih? Pacar atau udah jadi istrinya nih?" "Baik buk, ini istri saya. Kebetulan ke sini mau berlibur, Bu Yanti masih jualan keliling nggak kalau pagi buk?" Alan dan Hana duduk di bangku depan. "Wah, udah nikah aja. Selamat ya nak Alan. Akhirnya udah menikah. Iya masih jualan keliling kok, tapi bukan saya. Karyawan saya yang jualan keliling." Bu Yanti berjalan mendekati Hana dan Alan "Mau pesan makanan apa?" "Nasi liwet dua porsi, lalap sambal kemangi 1, ikan gurame nya 1, sup tulangnya 2 porsi." "Siap, tunggu sebentar ya nak Alan, mbak cantik." Bu Yanti pun langsung bergegas menghidangkan makanan yang Alan mau. "Lumayan ramai ya, Lan. Padahal di desa, aku kira nggak bakal seramai ini loh. Warungnya sederhana tapi ramainya ngalahin tongkrongan anak-anak remaja." "Bisnisnya kecil, tapi rasa masakan sundanya nggak kalah enak seperti restoran Italia. Dilihat dari letak warungnya, target Bu Yanti memang untuk petani di sini. Lihat aja, banyak petani yang beli makan di sini." Alan memilih untuk duduk lesehan berada paling depan dekat dekat sebelah kirinya sawah. "Eh, itu bukan anaknya pak Mario ya? Kok bawa perempuan ke sini. Nempel begitu, kan dia belum nikah tuh." Bisik salah seorang ibu-ibu yang juga petani. Alan yang mendengar cuma membalas senyum. "Ooh yang pemilik villa itu ya? Yang istrinya orang sini itu ya?" "Iya. Lapor aja sama pak RT. Dari pada m***m di kampung kita!" "Eehh! Sembarang kalau ngomong ya! Ke sini sama istrinya, nikah baru kemarin hari minggu!" Bu Yanti membela. Satu nampan besar penuh pesanan milik Alan. "Masa sih udah nikah? Kok nggak ada kabarnya. Jangan-jangan bohong tuh, Bu. Masa iya orang nikah baru kemarin sekarang malah ke kampung. Orang kaya biasanya kan ke luar negri tuh." "Mulutnya hati-hati! Itu si Neng Iis kerja di kantornya, di undang kok. Kalau nggak tahu carita aslinya jangan dulu menghakimi!" Para ibu-ibu itu hanya memorotkan bibir. Tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibu Yanti. Hana hanya diam, enggan meladeni ibu-ibu yang sepertinya kelihatan kasar mulutnya. Tersaji pesanan Alan siap untuk di santap. Rupanya ibu-ibu ini masih menggosip tentang Alan. Dengan logat bahasa sunda, sedikit Alan mengerti apa yang mereka maksud. Tetapi memilih tidak merespon mereka. "Makan yuk." "Kok mereka jadi ngomong bahasa sini? Aku nggak ngerti mereka bilang apa?" "Nggak usah didengar, orang-orang di kampung memang begini adanya." Hana hanya menganggukkan kepala. "Eh, tapi beneran ya, enak banget ini. Sup nya kerasa khas banget. Kayak bikinan mama aku. Waktu kecil aku suka dimasakin sup begini. Pasti makannya nambah." "Yaudah, nambah gih. Sekalian beli buat Kang Udin makan. Kalau kita selalu dengerin omongan orang lain, pasti nyaris nggak ada kata-kata yang benar di telinga kita. Biarkan mereka berkomentar, kita cuma mendengarkan." "Oke. Eh tapi katanya ke Air terjun, jadi nggak?" "Jadi, kita habiskan dulu makannya nanti kita ke sana." Mereka pun menyantap makanan dengan lahap. Setelah selesai makan mereka kembali ke rumah, memberikan makanan untuk para penjaga villa mereka. "Ini kita jalan kaki aja nih? Kok kamu buka sendal? Nanti kalau keinjak benda tajam gimana?" "Sendalnya masukin ke kantong plastik aja, ini jalanannya agak licin berlumpur. Kamu mau pake sepatu gitu?" "Bentar, aku lepas dulu." Hana melepas kedua sepatunya. Dimasukkan ke dalam kantong plastik. "Dingin banget loh airnya." Mereka berjalan menelusuri jalan setapak penuh lumpur karena setelah hujan memang licin. Persawahan, parit, rindang pepohonan mereka lalui. Hingga sampai ke pelosok hutan barulah mereka sampai di sungai yang benar-benar indah, air terjun mengucur deras dari aliran mata air langsung dari pegunungan. "Awas licin!" Alan tidak melepas pegangan tangannya dari Hana. "Batu-batu gede banget loh, aku takut jatuh." Sepatu yang Hana jinjing lepas "Ehhh sepatu aku. Yaaaah hanyut kan." "Udah biarin, nanti kita beli lagi. Kamu pakai sendal punyaku dulu." Mereka berdiri di atas bebatuan besar. "Dingin banget ya, ini kok nggak dijadiin tempat wisata? Padahal bagus banget loh, Lan." "Hm... aku ada tantangan buat kamu. Berani nggak kamu lompat dari batu yang kamu pijak ini sampai ke batu yang ada di depan?" "Aduh, licin banget loh, nanti aku jatuh. Nggak berani ah." "Yakin nggak berani? Yaudah kalau nggak berani, kamu harus turuti kemauan aku, tapi kalau kamu sanggup lompat, aku yang akan turuti semua keinganan kamu." "Aku nggak berani. Yaudah, iya apa kemauan kamu asal jangan suruh aku loncat." Alan selangkah lebih dekat dengan Hana. Matanya menatap secara halus dari hati ke hati. "Kamu siap menerima permintaan dari aku?" Hana menganggukkan kepalanya pelan. "Apa?" "Sekarang kamu sepenuhnya milik aku, dan aku harus meneruskan wasiat dari Papa kamu. Untuk bisa menjaga kamu, ya mungkin pada saat itu aku masih belum paham apa maksud ucapan dari mendiang Papa, tapi sekarang keadaan sudah berubah. Kamu nggak perlu lagi merasa kesepian atau pun merasa sendiri. Kamu boleh bercerita apapun yang kamu lalui hari ini, besok atau lusa, aku siap mendengarkan. Jadi, aku cuma minta satu hal yang sangat penting dari kamu Han. Apa kamu bisa mempercayai aku sepenuhnya? Tolong, singkirkan Dimas dari hati kamu. Tolong terima aku sebagai prioritas utama kamu, kali ini saja...." Alan benar-benar ingin membuka hati Hana yang makin tertutup apabila Alan menyentuh. Hana masih diam, dia memberikan kesempatan pada Alan agar Alan mengungkapkan seluruh isi hatinya. Kali ini, dia berjanji akan mendengarkan apa pun yang Alan katakan. Sebab bagaimanapun apa yang dikatakan Alan benar, dia sudah menjadi milik Alan, dan Alan adalah suaminya. "Apa kamu bersedia melupakan Dimas? Tolong beri aku tempat di hati kamu." "Iya. Aku bakal lupain Dimas. Aku bakal lanjutin hidup aku sama kamu, maaf kalau aku nggak bisa sempurna jadi istri kamu." Alan memeluk hangat Hana. Mereka masih berdiri di bebatuan besar di sungai. Gemuruh air terjun tepat tidak jauh dadi tempat mereka berdiri. Perlahan Hana merasakan wajah Alan semakin mendekat, Hana memejamkan matanya, saat itu juga dia merasakan sentuhan dari Alan. Bibir Alan mengecup lembut bibir tipis milik Hana. Beberapa detik dalam posisi seperti itu kaki Hana terpeleset hingga membuatnya jatuh ke dalam genangan air yang lumayan dalam "Aaaahhh." Hana menjerit, dia dan Alan sama-sama jatuh ke bawah. "Kamu bisa berenang nggak? Hahahah yaudah sekalian mandi!" Alan masih menahan tubuh Hana agar tidak tenggelam. "Nggak bisa, hampir aja aku mati." Hana mencipratkan air pada Alan. Tidak lama setelah itu para ibu-ibu datang untuk mencuci pakaian. Mereka tersenyum geli melihat Hana dan Alan. "Itu loh anak pak Mario sama istrinya. Bening banget istrinya." "Anak muda zaman sekarang loh bu, ya pasti bening atuh!" Celetuk ibu-ibu lain. Alan tidak menyadari kalau sedang menjadi perbincangan ibu-ibu. "Ini gimana ceritanya kita mandi nggak ada sabunnya?" "Nggak usah pakai sabun, nanti sampai villa kita mandi lagi." Kedalaman air yang ada di sungai sampai d**a Alan, itu artinya Hana sedang tidak berpijak pada dasar sungai. Tubuhnya terus menggantung pada Alan. Sangat intim sekali, sesekali terdengar lelehan pelan dari keduanya. "Udah yuk, pulang. Dingin banget." Kata Hana, dia sudah mengigil karena rasa dingin. Dengan cepat Alan menganggukkan kepala, sebab tidak ingin jika Hana sakit karena terlalu la kedinginan. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD