“Selamat datang! Ada yang bisa saya buatkan untuk kamu?” tanya Keanu, laki-laki berparas tampan, sekaligus pemilik kafe bernuansa pedesaan itu.
“Boleh saya lihat dulu daftar pesanannya?”
“Tentu, silakan dilihat terlebih dulu.” Keanu menyodorkan buku menu yang sebenarnya sedari tadi sudah berada di genggaman tangannya, hanya saja ia sedikit terpana akan paras cantik Livia.
Ada debaran tak dapat dijelaskan, tetapi mampu membuat Keanu merasa sangat senang.
“Aku mau pesan kopi saja, sama camilan yang ini ya,” ucap Livia, seraya menyerahkan kembali buku menu yang tadi ia dapat, disertai dengan senyuman.
Keanu mencatat sebentar pesanan yang diminta oleh Livia, lalu kembali berujar, “Baik, ditunggu sebentar ya. Nanti pesanannya akan diantar.”
Sedari tadi, Livia tidak terlalu focus dengan apa yang tengah dilakukan oleh Keanu, sebab pandanan kedua matanya saat ini justru disibukkan oleh beberapa lukisan yang berada di dinding kafe tersebut.
Tanpa basa-basi, Livia langsung mengutarakan pertanyaan. “Lukisan ini sangat cantik. Siapa kira-kira pelukisnya?”
Keanu tersenyum ramah, hatinya semakin berdebar mendapat pujian seperti itu dari perempuan cantik, pelanggan barunya. “Itu, saya sendiri yang melukisnya.”
“Terima kasih atas pujiannya,” ucap Keanu lagi.
Livia terlihat sangat terkesan dengan bakat lain yang dimiliki oleh Keanu. “Lukisan ini sungguh indah, aku suka sekali melihatnya!”
Keanu kembali tersenyum, ia tersipu malu dipuji berkali-kali seperti itu oleh Livia. Ini adalah kali pertama ia mendapat pujian secara langsung, biasanya beberapa pengunjung yang datang ke kafe Sunset Lake miliknya, hanya memuji secara spontan.
“Terima kasih banyak atas pujiannya … boleh kah saya tau nama kamu?” Keanu dengan sangat percaya diri mengulurkan tangan kanannya, berharap sekali supaya perempuan yang sedrai tadi berbicara dengannya mau untuk menanggapi.
Livia tersenyum, lalu ia menjabat tangan Keanu, seraya berkata, “Aku Livia, kalau kamu?”
“Livia, nama yang sangat cantik. Saya Keanu. Kebetulan, saya memang suka melukis di saat saya punya waktu luang dan lukisan ini adalah pemandangan danau di sebelah sana, saat matahari terbenam.”
Livia mengangguk. “Saya suka sekali warna-warna yang kamu gunakan, terlihat sangat harmonis.”
“Saya senang sekali kalau kamu suka dengan karya saya.” Keanu tersenyum sebentar, lalu kembali berucap, “Sebentar ya, saya akan buatkan pesanan kamu dulu, setelah itu kalau kamu mau, kita bisa melihat lukisan saya yang lain?”
Livia menganggukkan kepala, menerima tawaran menarik dari Keanu. Hal itu pun membuat Keanu pamit untuk membuatkan pesanan terlebih dulu, sedangkan Livia masih tetap melihat beberapa lukisan tersebut.
Tak membutuhkan waktu lebih lama, Keanu kembali datang, dengan kedua tangan yang membawa pesanan milik Livia.
“Silakan dinikmati terlebih dulu,” ucap Keanu mempersilakan, seraya meletakkan pesanan tersebut di atas meja.
Livia tersenyum dan berucap, “Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Kalau begitu saya kembali lagi ya, kalau kamu sudah selesai dan ingin melihat lukisan karya saya yang lain, bisa langsung temui saya aja. Okay?” Livia kembali menganggukkan kepala sebagai jawaban atas perkataan Keanu barusan.
Namun, baru saja Keanu maju satu langkah, Livia justru kembali berkata, “Keanu, tunggu.”
“Ada apa, Livia?”
“Bagaimana kalau kita melihat lukisan kamu yang lain sekarang aja? Saya sangat ingin tahu.”
Keanu tersenyum mendengar pengakuan dari Livia barusan. “Boleh, yuk kita ke atas!”
Livia mengikuti langkah kaki Keanu menuju ke studio lukisannya yang berada di lantai dua dari kafe tersebut. Di tempat tersebut, terdapat banyak lukisan yang sudah terpajang rapi. Livia terpesona dengan karya-karya milik Keanu.
“Wow! Kamu sungguh sangat produktif, Keanu!” kata Livia.
Keanu tersenyum mendengarnya. “Saya melukis untuk menghilangkan stress dan mengekspresikan diri.”
Kedua kaki Livia langsung bergerak untuk menuju ke arah salah satu lukisan yang berada di sana, yang berhasil menarik perhatian Livia. “Lukisan ini seperti menggambarkan kenangan yang sangat indah. Apa inspirasinya?”
Pertanyaan dari Livia yang seperti itu membuat Keanu terdiam sejenak, lalu pada akhirnya ia pun menjawab, “Itu tentang cinta pertama saya.”
Sejenak Livia cukup terkejut mendengar penuturan dari Keanu yang seperti itu, tetapi rasa penasarannya akan cinta pertama milik Keanu lebih besar, sehingga berani untuk bertanya, “Saya ingin tahu bagaimana tentang cinta pertama kamu itu, boleh kamu ceritakan?”
Keanu tersenyum nostalgia. “Namanya Kaelyn. Kami bertemu di tempat ini, tepatnya di danau yang ada di sana. Kaelyn memiliki senyum yang sangat indah dan juga hati yang baik.”
Livia terpesona, lalu ia pun bertanya, “Lalu, apa yang terjadi dengan Kaelyn?”
Keanu menghela napas. “Dia pergi tanpa pesan. Saya tidak pernah melupakannya.”
Menyadari adanya kesedihan yang ada di mata Keanu, membuat Livia langsung berkata, “Maaf, saya tidak bermaksud untuk menggali luka lama.”
Keanu menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Saya senang berbagi cerita dengan kamu.”
“Saya paham betapa sakitnya kehilangan seseorang yang dicintai,” ucap Livia penuh dengan empati.
Keanu melihat Livia dengan rasa penasaran. “Maaf, apa kamu juga pernah mengalami hal yang serupa?”
“Ya. Saya juga pernah merasakan kehilangan orang yang saya cintai.”
Keanu mendekat ke arah Livia, lalu mengusap pelan lengan perempuan tersebut dan berkata, “Mungkin, kita bisa saling memahami dan juga mendukung.”
Livia mengambil napas cukup dalam, lalu memejamkan kedua matanya sebentar, sebelum akhirnya ia berucap, “Saya kehilangan pacar saya, Namanya Alex. Saat itu terjadi kecelakaan, sudah lama sebenarnya, beberapa tahun yang lalu, tetapi saya masih merasa bersalah karena mengapa tidak saya saja yang berada di posisinya.”
Keanu mendengar dengan penuh empati, ia pun turut dapat merasakan kesedihan, sebagaimana apa yang dirasakan oleh Livia. “Tidak ada yang menyalahkan kamu, Livia. Kamu jangan merasa sendirian dalam kesedihan ini ya.”
Mendengar respon dari Keanu yang seperti itu, Livia merasa lega telah berbagi cerita yang selama ini membuat dirinya merasa terus-menerus bersalah. “Terima kasih Keanu, kamu membuatku merasa lebih ringan.”
Keanu tersenyum mendengar itu dan menjawab, “Jangan bersedih terus ya, saya di sini untuk kamu kalau mau berbagi cerita atau apa pun itu.”
Mereka berdua kembali melihat-lihat lukisan yang berada di ruangan tersebut, hingga akhirnya Keanu memiliki ide untuk mengajak Livia untuk menuju ke suatu tempat yang special.
“Kamu mau saya tunjukkin suatu tempat atau tidak?”
“Boleh. Ke mana? Jauh dari sini atau tidak?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, justru membuat Keanu tersenyum, lalu berkata, “Udah, ikut saya dulu aja. Saya yakin sekali kamu pasti suka dengan tempatnya.”
Tangan kanan Keanu langsung meraih tangan milik Livia, menggandeng lembut, dengan kedua kaki yang melangkah untuk menuju ke arah di mana tempat yang dimaksud.
Sebuah pantai tersembunyi di dekat danau yang tempatnya tak jauh dari kafe milik Keanu, menikmati matahari yang sebentar lagi akan terbenam, menciptakan pemandangan romantic untuk mereka berdua.
“Sungguh, tempat ini sangat indah!” kata Livia, terpesona. Raut wajahnya sumringah.