bab 2. jealous

1091 Words
Keanu tersenyum senang mendapati bagaimana respon Livia yang girang seperti itu. “Saya sering datang ke sini untuk merenung. Tempatnya sangat cocok untuk saya supaya mendapatkan inspirasi.” “Apa yang membuat kamu merenung?” tanya Livia, setelah ia sudah berjalan untuk mendekat kea rah Keanu lagi. Keanu melihat Livia dengan tatapan mata yang sangat dalam. “Mengenang Kaelyn dan merenungkan arti kata cinta yang sebenarnya.” Livia merasa koneksi yang lebih dalam lagi dengan Keanu. Mereka berdua duduk di atas pasir, bersisian, menatap matahari yang perlahan terbenam. Sangat indah. Ditemani oleh angin yang berembus pelan. “Keanu, kamu membuatku tidak merasa sendirian,” ucap Livia dengan suara cukup pelan, tetapi terdengar cukup jelas. Kedua mata milik Keanu menatap Livia hangat. “Kamu juga membuatku merasa sama.” Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati keheningan dan juga kebersamaan yang tercipta saat ini. “Apakah kamu masih mencintai Kaelyn?” Livia memberanikan diri untuk bertanya perihal masa lalu Keanu lagi. Keanu terdiam, memandang ke horizon. “Saya masih menghargai kenangan kami, tetapi saya tidak terjebak dalam kesedihan itu lagi.” Jawaban dari Keanu yang seperti itu, membuat Livia tersenyum. “Saya senang mendengarnya, kamu layak bahagia.” Setelah itu, keduanya saling berbagi cerita tentang masa lalu, tertawa dan juga menikmati kebersamaan. Livia merasa nyaman saat Bersama dengan Keanu, begitu juga sebaliknya. Meskipun “Indah sekali, ya? Melihat matahari terbenam selalu membuatku merasa tenang,” ucap Keanu, seraya tersenyum. Livia menganggukkan kepala, membenarkan ucapan dari Keanu barusan. “Benar sekali, rasanya seperti semuanya berhenti sejenak, yang ada hanya kita berdua di sini.” Keanu menatap wajah Livia dalam diam, sampai akhirnya Livia tersadar jika ia tengah diperhatikan, lalu tersipu malu. “Terima kasih untuk hari ini, Keanu. Kamu udah ngasih hal yang baru buat saya,” ucap Livia, mencoba untuk menghilangkan ketegangan di antara keduanya. “Senang bisa bersamamu dan juga mengenal kamu,” jawab Keanu, seraya tetap memandang kedua bola mata Livia, dalam. Keanu dan juga Livia sama-sama berdiri dari posisi mereka berdua. Kembali melangkahkan kaki menuju ke arah di mana kafe milik Keanu berada. “Kamu pulangnya ke mana?” tanya Keanu, kala mereka berdua sudah tiba di kafe tersebut. “Dekat dari sini, lagipula saya ke sini membawa kendaraan,” ucap Livia, seolah ia mengetahui jika pertanyaan Keanu tadi adalah salah satu cara supaya dapat mengantar pulang. Keanu tertawa pelan, dengan kedua tangan yang bergerak untuk menyiapkan pesanan milik Livia lagi, karena pesanan yang tadi sudah terlalu lama untuk kembali dikonsumsi. “Sekali lagi terima kasih banyak ya,” ucap Livia, seraya menyerahkan satu lembar uang untuk membayar tagihan dari makanan yang akan ia bawa pulang, tetapi degan cepat Keanu menolak uang tersebut. “Karena kamu adalah pelanggan baru di kafe saya, maka dari itu kamu tidak perlu membayarnya, anggap saja tester.” Keanu tersenyum penuh arti. “Oh iya, besok saya ingin bertemu lagi,” ucap Keanu. “Bertemu dengan siapa?” Livia berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Keanu. “Besok, saya ingin mengajak kamu ke tempat favoritku juga, ada yang special juga di sana. Saya harap kamu mau.” Livia mengangkat satu alis miliknya. “Apa itu?” “Rahasia dulu, tapi saya yakin kamu pasti akan suka dengan tempat itu.” Livia kini mengulas senyum. “Baiklah, saya ingin tahu jadinya. Besok jam berapa?” “Jam 10 pagi aja, enggak apa-apa? Nanti saya jemput ke rumah kamu, bagaimana?” “Tidak perlu, Keanu, nanti saya ke sini dulu aja.” Livia tersenyum. Bukan apa-apa, hanya saja Livia tidak ingin merepotkan laki-laki yang baru saja ia kenal. Setelah perbincangan tersebut, Keanu pun mengantarkan Livia hingga di depan halaman kafe. Namun, ternyata Livia merasa sangat tidak tenang. “Ada apa dengan besok, Keanu? Kamu membuatku sangat penasaran,” ucap Livia. “Sabar Livia. Besok juga kamu akan tahu, yang penting adalah kamu siap dan juga berpakaian yang nyaman.” Livia tersenyum, merasa semakin penasaran dan juga bersemangat untuk menyambut hari esok. Ada apa sebenarnya. *** Livia sangat tepat waktu, bahkan ia tiba di kafe milik Keanu sebelum jam 10. Mereka berdua keluar untuk menikmati keindahan alam, Keanu membawa Livia menuju ke taman bunga, tetapi sebelum itu Keanu sudah menyiapkan buket bunga untuk diberikan pada perempuan tersebut. “Saya ada sesuatu untuk kamu,” ucap Keanu, saat mereka baru saja melakukan perjalanan menuju ke taman bunga. “Apa itu?” Tangan kiri Keanu bergerak untuk meraih buket bunga yang ada di tempat duduk belakang, sengaja ia siapkan lebih dulu, supaya memberikan kenangan manis pada Livia. Mendapat buket bunga secara tiba-tiba, tentu saja membuat Livia terus menerus tersenyum, tak lupa juga ia mengucapkan, “Terima kasih banyak, Keanu.” “Sama-sama. Kamu suka?” Livia menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang jadi pertanyaan Keanu barusan. Saat tiba di taman bunga yang menjadi tujuan, Keanu tak segan untuk meraih telapak tangan Livia dan menggenggam sembari berjalan mencari tempat duduk yang pas. Baru saja Livia akan menunjukkan bahwa ada tempat duduk yang nyaman, tetapi terlebih dulu ada suara yang berseru, “Keanu, lama kita tidak bertemu!” “Ini siapa, teman baru kamu?” tanya Rachel, seraya tersenyum pada Livia. “Halo, aku Rachel. Teman Keanu juga, salam kenal ya.” Rachel langsung menyodorkan tangan kanannya, ia memang sangat ramah. Karena memang pembawaan Rachel yang ramah, tentu Livia juga menanggapi dengan ramah. Ia menjabat tangan Rachel, seraya tersenyum dan berkata, “Saya Livia. Senang bisa bertemu denganmu.” Setelah itu, Keanu dan juga Rachel asik berbincang seakan-akan tidak peduli adanya Livia di situ. Tentu saja hal itu membuat Livia merasa tak nyaman karena merasa terpinggirkan dalam percakapan mereka. “Keanu, saya ada perlu untuk ke sana sebentar ya,” kata Livia, bersiap untuk melangkahkan kaki menjauh dari Keanu dan juga Rachel yang sedari tadi asik sendiri. Keanu terkejut, lalu bertanya, “Apa ada yang salah, Liv?” Livia tersenyum tipis, lalu ia menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak ada, saya memang ada perlu, sebentar saja.” Tanggapan Keanu akhirnya mempersilakan Livia untuk pergi. Akhirnya, Livia pun berjalan sendirian tak tentu arah, mencari hal yang mungkin akan menjadi pengalaman baru untuknya. Sementara itu, Rachel dan juga Keanu tetap asik berbincang mengenai masa lalu mereka berdua. “Kamu terlihat sedih, apa yang terjadi?” ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba saja berada di samping Livia dan berjalan beriringan. Livia tidak memberi respon apa pun, ia hanya melirik sebentar, lalu melanjutkan langkahnya, tanpa peduli laki-laki yang baru saja mengajaknya berbicara justru mengikuti. “Aku Adrian, boleh tahu nama kamu?” “Saya Livia. Kenapa ngikutin saya?” tanya Livia, dengan nada bicara yang tidak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD