2-PAGI PALING GILA

1514 Words
Beberapa orang, pasti pernah mengalami malam paling menyedihkan dan keesokan harinya disambut dengan pagi yang paling gila. Yah, hal itu sering terjadi ke orang-orang yang sedang suntuk dan mencari pelampiasan tanpa pikir panjang. Bangun di samping seorang wanita, sebenarnya bukan hal pertama bagi Hio. Tidak, dia tidak sebrengsek itu juga. Beberapa kali mereka hanya tertidur untuk menghilangkan pusing karena terlalu banyak minum. "Tapi, semalem beda," gumam Hio sambil menoleh ke samping. Terlihat seorang wanita yang tidur menghadapnya dengan satu tangan menjadi sandaran kepala. Hio segera membuang muka dan menatap langit-langit kamar hotel. "Setelah sekian lama, gue ketemu dia lagi." Hioanda Gareda, lelaki lanjang yang tahun ini menginjak usia 29 tahun. Menjelang angka tiga puluh dan belum memiliki pasangan pasti dianggap macam-macam. Mulai dibilang tidak serius, dikasihani dan parahnya bisa dianggap belok. Sebenarnya Hio tidak peduli dengan percintaannya. Dia sudah lama hidup sendiri dan rasanya malas mencari pasangan. Segala hal pasti akan dibikin ribet. Terlebih, wanita jika mengomel membuat kepalanya pusing. Tetapi, orang-orang di sekitar Hio selalu memandangnya kasihan. Padahal, tidak perlu sampai seperti itu. "Huh...." Hio mengacak rambut lalu menatap Yesica yang masih tertidur pulas. Tanpa sadar Hio tersenyum. Yesica adalah mantan pertamanya. Yah, dia baru pertama kali pacaran dengan wanita itu, saat SMA. Hio agak lupa dulu pacaran berapa tahun, yang jelas sampai kuliah. Sebelum dia meninggalkan wanita itu. "Sekarang kita ketemu lagi setelah sekian lama," gumam Hio sambil memandang bulu mata lentik Yesica. Berbeda dengan mantannya yang lain, Yesica tipe wanita yang agak cuek dengan penampilan. "Bahkan sampai sekarang." Hio memandang bibir Yesica yang pink alami, tanpa polesan lipstick. Bulu mata wanita itu juga asli. Dia ingat banyak teman wanita itu yang iri dengan bulu matanya. Tangan Hio terulur, mengusap bibir yang semalam dia kecup. "Emhh...." Tidur Yesica terganggu karena ada sesuatu yang memegang bibirnya. Dia berusaha tidur lagi, tapi terdengar napas yang agak berat. Yesica mengernyit. Bertahun-tahun dia tidur sendiri dan tidak pernah mendengar helaan napas berat seperti barusan. "Tidur lagi," ujar Hio melihat kening Yesica mengeryit. "Sorry udah ganggu." Kalimat itu justru membuat Yesica membuka mata. "Hempp...." Lantas dia tersentak. Hio tidak kaget melihat ekspresi kaget Yesica. Dia merasa, ekspresinya juga seperti itu saat bangun tidur tadi. "Emm, nggak perlu dijelasin, kan?" "Perlu!" Yesica tanpa sadar duduk dan tersadar hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Dia segera menarik selimut itu dan menatap Hio yang terdiam. "Lo nggak lihat, kan?" "Sayangnya gue lihat." "Ihh...." Yesica memegang selimut itu erat lalu membuang muka. Jantung Yesica berdegup lebih cepat. Kepalanya terasa berat, tetapi dia seolah tidak memedulikan itu. Bagaimana mungkin dia memikirkan pusing jika ada yang membuat syok? Yesica memejamkan mata, tidak percaya bangun tidur di sebelah lelaki. Terlebih itu mantannya. Aduh, oma pasti marah banget. Bayangan kejadian semalam seketika berputar. Yesica ingat sekali saat berjalan terseok-seok dan ada Hio yang membantunya. Saat masuk kamar, Yesica seolah menjadi sosok lain. Dia bergidik, membayangkan betapa jijik tingkahnya semalam. Tapi, semua udah terjadi. Yesica melirik Hio yang masih berbaring miring. Dia mencengkeram selimut lalu mengedarkan pandang. "Ck!" "Gue ambilin baju lo," ujar Hio kemudian turun dari ranjang. Dia memakai celananya lalu mengambil milik Yesica. "Nih...." Hio mengulurkan, tetapi Yesica hanya diam. Akhirnya, Hio meletakkan pakaian itu di ranjang. "Thanks," jawab Yesica seraya mengambil pakaian itu. Dia lalu menoleh, mendapati Hio yang hanya mengenakan celana. Dia sempat melihat tubuh atas lelaki itu yang tidak berlemak. Tidak bisa dibilang berotot, tetapi perutnya tampak rata. "Mau mandi dulu?" "Lo duluan." "Oke!" Hio berbalik, tetapi ada sesuatu yang mengusiknya. "Jangan pulang sebelum selesai. Ada yang perlu kita obrolin." Setelah itu dia menuju kamar mandi. Yesica menatap ke arah kepergian Hio. Saat dirasa lelaki itu tidak akan keluar, dia segera mengambil pakaian dalam dan mengenakannya. Setelah itu dia berdiri dan memakai pakaiannya dengan cepat. "Aduh...." Yesica beberapa kali kehilangan keseimbangan, tapi dia berusaha keras mengembalikan dan berganti pakaian. "Jangan coba-coba keluar kamar, Yes!" teriak Hio. Tubuh Yesica menegang. Dia menunduk dengan air mata mulai menetes. Baginya ini pagi paling gila. Bagaimana mungkin dia seceroboh itu? Dia belum menyelesaikan masalahnya dengan Danas, tetapi dia membuat masalah lagi dengan Hio, mantannya. Yesica lantas mengusap perut, khawatir. *** Beberapa jam sebelumnya. Bip.... Yesica masuk lebih dulu lalu melepas tas begitu saja. Dia memandang Hio yang baru menutup pintu dan berbalik menatapnya. Yesica tersenyum lalu menggerakkan tangan. "Lo yakin nggak akan nyesel?" tanya Hio seraya mendekat. "Gue lagi suntuk." "Sama," jawab Hio. "Tapi, apa lo yakin? Lo dulu nggak kayak gini. Atau seiring kedewasaan lo berubah?" Kepala Yesica terasa berat, herannya tubuhnya seakan melayang. Dia maju selangkah dan melingkarkan tangan ke pundak Hio. "Malam ini terlalu kacau." "Apa yang terjadi?" Hio memegang pinggang Yesica, khawatir wanita itu akan limbung jika tidak dipegangi. "Gue ditinggal nikah." "Sama Bara?" Yesica menggeleng. "Bara udah ke laut, kali," jawabnya. "Pacar gue Danas. Nggak pernah ada cek-cok, tapi dia langsung ninggalin gue gitu aja. Padahal, tiga minggu lagi gue nikah. Gue harus ngomong gimana ke oma?" "Lo udah nyari dia?" "Udah. Dia kabur." Yesica mendengus sebal. "Itulah malesnya jalin hubungan serius," ujar Hio. "Males patah hati." Yesica menunduk dan tangisnya pecah. Hio menghela napas berat. Dia bisa mengurus wanita yang tidak sepenuhnya sadar, asal tidak menangis. "Ngapain nangis? Dia udah ninggalin lo." "Lo setega itu?" tanya Yesica sambil menyandarkan kening di d**a Hio. "Gue emang sejelek itu, ya?" "Sini lihat!" Hio berganti memegang kepala Yesica dan menariknya. Dia memperhatikan wajah berbentuk oval dengan hidung mungil itu. Dia menatap mata bundar Yesica, terlebih saat wanita itu fokus menatapnya. Bola mata kecokelatan itu terlihat bundar dan indah. Hio tersenyum lalu memegang pipi Yesica. "Enggak kok." "Tapi, kenapa gue ditinggal terus?" gumam Yesica dan tangisnya kembali pecah. "Jangan nangis." Tangis Yesica justru semakin kencang. Hio mengusap air mata itu dengan ibu jari. Tindakannya seolah percuma karena Yesica terus menangis. "Diem, Yes." Yesica menatap Hio yang menatapnya tajam. "Marahin gue?" "Enggak." "Tapi, barusan!" Sungguh sebenarnya Hio lelah. Sekarang, dia mulai menyesal tadi menawari Yesica. Harusnya dia tadi pulang setelah ketiduran di meja selama beberapa menit. "Enggak." "Mau hibur gue?" tanya Yesica sambil menarik Hio mendekat. "Gue butuh kebahagiaan, semalam. Gue butuh...." Sebelum Yesica menyelesaikan kalimatnya, Hio lebih dulu membungkam bibirnya. Yesica melotot merasakan sesuatu menekan bibirnya. Sedetik kemudian, dia sadar apa yang telah terjadi. Yesica memejamkan mata dan sedikit membuka bibir. Hio lantas menciumnya lagi. Hio tahu, cepat akan lambat pasti akan seperti ini. Kedua tangannya berganti ke pinggang Yesica lalu dia bergerak maju. Saat Yesica hampir terjatuh, dia segera mengangkat wanita itu ke dalam gendongan. Matanya melirik, mencari posisi ranjang. Kemudian dia membaringkan wanita itu. "Huh... Huh...." Yesica menatap Hio yang tampak menjanjikan. Entah, didorong oleh perasaan apa, dia segera menarik Hio. Di malam yang sepi, ruangan yang juga gelap dua orang yang pernah saling mencintai itu bertemu. *** "Harusnya semalem lo nahan gue." Lelaki dengan rambut yang masih basah, menatap wanita yang duduk di sofa. Penampilan wanita itu berantakan, terlebih bagian mata yang memerah dan bengkak. Rambutnya mengembang seperti singa dan bajunya agak lusuh. "Lo tahu gue banyak minum," ujar Yesica sambil menatap Hio yang terlihat segar sehabis mandi. "Gue masih nggak nyangka ketemu lo lagi. Makin nggak nyangka setelah apa yang terjadi semalem." "Lo yang semalem nawarin gue." Hio mengingatkan ajakan Yesica semalam. "Anggap gue lelaki paling buruk sekalipun karena manfaatin lo." Air mata Yesica seketika turun. "Ck!" Dia membingkai kepala lalu mengacak rambut, membuatnya kian berantakan. "Gue gila semalem." "Gue tahu kok," jawab Hio lalu tersenyum samar. "Maksud gue bukan yang itu...." Yesica tidak ingin Hio salah paham dengan kalimatnya. Ya, dia mulai ingat tindakannya semalam. Dia heran bagaimana bisa bertingkah seperti itu? Apakah memang naluri? Hio perlahan berdiri dan mengambil air mineral. "Jangan mikir buruk." "Itu yang pertama buat gue!" "Uhuk...." Hio langsung tersedak minumannya. Yesica menunduk. Dia tidak bohong jika semalam adalah yang pertama. Dia hidup bersama oma dan opanya, sebelum opanya meninggal dua tahun lalu. Dua orang itu mendidik Yesica dengan keras. Tiap dia pulang terlambat, pasti kena omel. Barulah saat Yesica mulai bekerja, dua orang itu mulai memberi kelonggaran. Tetapi, selalu menginterogasi Yesica tiap pulang terlambat. "Yes!" panggil Hio sambil menatap Yesica yang mulai menangis. "Tapi, bisa jadi...." "... gue mikir kemungkinan terburuknya." Hio menghela napas panjang. "Mau gue beliin pil?" Yesica sontak mendongak. "Harus banget lo ngomong gitu sekarang?" "Terus gimana?" Hio kembali ke sofa dan memandang Yesica. Dia menggaruk kepala, mulai khawatir. Padahal, sebelumnya dia tidak seperti itu. "Gue bakal...." "... tanggung jawab?" potong Yesica sambil berdiri. "Klise." "Tapi, mending gitu, kan?" "Gue aja ditinggal sama calon suami gue. Nggak mungkin lo nikahin gue karena anak," jawab Yesica seraya mengambil tas. "Oma pasti udah pasti nyiapin sapunya buat gue." Hio memandang Yesica yang kembali bersedih. Semalam, dia sempat mendengar wanita itu mengoceh, sebelum akhirnya tertidur. "Persiapan udah berapa persen?" Yesica menoleh. "Lebih dari tujuh puluh persen, tinggal nunggu hari H. Semua udah gue pesen, udah gue DP," jawabnya. "Mana gue yang DP duluan." Perlahan Hio berdiri dan menatap Yesica saksama. "Surat-suratnya?" tanyanya. "Dia nggak mau ngurus?" "Mana gue tahu. Dia kabur!" Yesica mengusap wajah, belum apa-apa sudah lelah membayangkan harus menyelesaikan semuanya. "Kita nikah," putus Hio. "Gue bakal nikahin lo." "Ha?" Bagi Yesica, ini lebih mengagetkan daripada telepon dari Danas semalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD