bc

Suami Penggantiku adalah Mantanku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
city
like
intro-logo
Blurb

"Ayo, kita nikah!" usul Hio. "Nikah kontrak!"

"Tapi, kan lo mantan gue!"

Yesica dibuat kalang kabut saat calon suaminya mendadak memutuskan hubungan lewat pesan singkat, di saat persiapan pernikahan mereka sudah 80%. Di saat sedang kalut, dia bertemu dengan Hio yang dibuat bingung atas permintaan terakhir Oma yang memintanya untuk segera menikah. Mereka saling kenal dan bahkan saling mencintai di masa lalu. Atas dasar itu, Hio mengajak Yesica untuk menikah. Solusi dari masalah yang mereka tengah hadapi.

Lantas, apakah setelah kontrak itu berakhir mereka akan kembali menjadi mantan?

chap-preview
Free preview
1-MALAM PALING BURUK
Pukul sebelas malam, wanita berambut panjang dengan bandana yang hampir melorot itu baru sampai rumah. Pinggangnya terasa agak kaku, setelah membantu memindahkan stok tas ke gudang. Itu semua tidak akan terjadi jika karyawannya tidak tiba-tiba izin pulang. "Ck! Gue terlalu sabar apa, ya, jadi bos?" keluh Yesica sambil melempar tas hitamnya ke ranjang. Setelah itu dia mengambil air mineral dan menegaknya haus. Usai menghilangkan dahaga, Yesica duduk di lantai samping ranjang dan mengambil tasnya. Dia mengeluarkan ponsel sambil tersenyum. Terbayang kebiasaan setiap harinya setelah pulang kerja menelepon seseorang. "Eh, dia udah chat duluan," gumam Yesica melihat notifikasi. Tanpa ada rasa curiga, dia membuka pesan itu. Danas: Ca, sorry. Gue nggak bisa lanjutin ini. Danas: Gue nggak bisa nikah sama lo. Sorry gue ngecewain lo. Danas: Semoga hidup lo makin bahagia tanpa gue. "What?" Yesica seketika berdiri dan tanpa sadar melempar ponsel itu ke ranjang. Dia terdiam dengan jantung berdegup lebih cepat. Napasnya mendadak tercekat dan tubuhnya terasa begitu panas. "Dia lagi ngerjain gue, kan?" Yesica mengambil ponsel dengan tangan bergetar. Dia yakin barusan salah membaca. Ah, tidak, bisa jadi Danas sedang bermain truth or dare bersama temannya. "Ini nggak bisa dibiarin!" gumam Yesica lantas menghubungi Danas. Tutt.... Bahu Yesica naik turun mendengar sambungan telepon. Dia berjalan menuju jendela dan menyibak gorden yang sejak pagi tidak dia buka. Lantas menatap langit gelap, tanpa bintang dan bulan. "Halo...." Suara Danas kemudian terdengar. "Lo lagi main game?" "Gue serius!" "Hahaha...." Yesica menggeleng tak percaya. "Sekarang bulan apa? Bukan April! Jangan ngerjain gue." "Huh...." Danas terdengar menghela napas berat. "Gue serius, Ca. Gue ngerasa belum siap nikah sama lo. Banyak hal yang bikin gue ngerasa nggak siap. Gue harap lo mau ngertiin gue, Ca." Duar.... Tubuh Yesica berjingkat karena petir tiba-tiba menyambar. Tidak hanya itu, ucapan Danas juga membuatnya syok hebat. Bisa jadi dia lebih kaget dengan ucapan lelaki itu daripada petir barusan. "Lo nggak serius, kan?" "Emang kedengarannya gue bercanda?" Yesica terdiam dengan tubuh bergetar. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Napasnya semakin memburu dan membuatnya sesak. Lantas kepalanya tertunduk dan bahunya bergetar hebat. "Apa salah gue?" "Gue yang salah, bukan lo." "Terus, kenapa waktu itu lamar gue?" teriak Yesica. "Kita tiga minggu lagi nikah, loh." "Masih ada waktu kok." "Wah!" Yesica menarik bandananya dan melempar asal. "Segampang ini lo batalin pernikahan? Gue ngomong ke oma gimana? Persiapan kita gimana? Nggak ada otak lo." "Sorry, Ca." Yesica mendongak, berusaha menahan isak tangisnya. "Ada cewek lain?" "Nggak ada." "Terus?" tanya Yesica. "Kemarin lo masih baik-baik aja. Apa cuma akting?" "Ca, gue harap lo ngerti." "Enggak! Gue nggak bisa ngerti!" "Ini telepon terakhir kita. Semoga lo bahagia." Setelah itu sambungan terputus. "Woy! Danas!" teriak Yesica tidak peduli sekitar. Dia menjauhkan ponsel dan kembali menghubungi. Tetapi, sudah bisa ditebak jika lelaki itu segera menonaktifkan paket datanya. Yesica menggeleng, tidak terima diperlakukan seperti itu. "Ck! Awas lo!" Dia berbalik, mengambil tas di ranjang dan memakainya dengan asal. Dia keluar rumah dan menuju mobil yang jelas mesinnya saja belum sepenuhnya dingin. Lantas, dia mengemudi ke rumah Danas. Beberapa saat kemudian, Yesica sampai di sebuah rumah berlantai satu dengan papan skate board berjajar di dekat pintu. Rumah itu sepi dan gelap. Tetapi, Danas lebih sering seperti itu. "Habis lo!" gumamnya sambil turun dari mobil. Yesica mengetuk pintu dengan kepalan tangan. "Danas! Keluar lo!" Tidak ada tanggapan. Yesica sudah kepalang emosi. Dia berjalan menuju jendela samping dan mengintip. Matanya memicing, tidak melihat perabot di dalam rumah itu. Tubuh Yesica menegang. Apakah Danas sudah kabur? "Danas!" teriak Yesica sambil menggedor kaca. "Keluar nggak lo?" "Kak Danas udah pergi, Kak." Yesica sontak menoleh. Di dekat gerbang ada seorang lelaki yang mengenakan hoodie sambil membawa kantung putih yang dia tebak adalah makanan. Dia cukup tahu lelaki itu karena sering keluar jam sembilan malam untuk mencari makanan di ujung komplek. "Pergi?" tanyanya sambil mendekat. "Ke mana?" "Nggak tahu," jawab lelaki itu lalu menggeleng. "Tadi sore sempet pamit gue." Air mata Yesica seketika turun. Jadi, Danas benar-benar meninggalkannya. Lelaki itu membatalkan pernikahan secara sepihak dan mendadak. Seketika dia teringat, bagaimana nasibnya? Bagaimana dengan nasib undangan yang sudah dipesan? Bagaimana dengan gedung, pakaian dan makanan yang sudah dia DP? "Saya permisi, Kak!" Lelaki itu menjauh melihat Yesica hampir menangis. Yesica terdiam dengan napas memburu. "Padahal, lo tahu gue pernah ditinggalin," gumamnya. "Dan lo dengan tega ninggalin gue!" Air mata Yesica mengalir deras. Dia menghapus air mata itu dengan kasar lalu tubuhnya meluruh. Sungguh, Yesica tidak menyangka hubungannya dengan Danas berakhir seperti ini. Dua kali dia ditinggal saat akan menikah. Kali ini, Danas meninggalkannya dengan cara yang cukup parah. Yesica memeluk lututnya dengan erat. Dia menyembunyikan wajahnya dan menangis di depan gerbang rumah mantannya. "Awas lo, Danas! Gue bakal lebih bahagia dari lo!" *** Datang ke tempat hiburan malam dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans panjang memang agak berbeda dari yang lain. Belum lagi, tidak mengenakan riasan dengan rambut berantakan. Tetapi, terkadang ada pengunjung seperti itu. Tujuannya kebanyakan sama, ingin melepas penat yang memenuhi kepala. "Huh...." Yesica menyangga dagu setelah memesan minuman dengan asal. Dia tidak pernah datang ke kelab, terlebih memesan minuman. Dia hanya menunjuk menu yang diberi tanda jempol tanpa mencari tahu. Yesica mengecap beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa pahit yang masih berada di lidah. Dia heran, bagaimana bisa minuman pahit itu banyak dipesan? Baginya, lebih nikmat es teh yang menyegarkan. "Tapi, lebih pahit hidup gue!" gumam Yesica sambil berganti menyangga kening. "Nasib banget dua kali gagal nikah." Usai dari rumah Danas, Yesica segera mencari tempat untuk melepas penat. Ketika melewati sebuah kelab, tanpa pikir panjang dia menuju sana. Dia yakin, jika omanya tahu pasti dia akan dipukuli dengan gagang sapu. Yesica kembali menangis, membuat matanya kian memerah. Setelah diputuskan sepihak, tidak ada tindakan lain selain menangis. "Kenapa lo kayak gini, Dan?" Dia kembali mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Yesica dan Danas berpacaran selama dua tahun. Lelaki itu dari awal terlihat menunjukkan keseriusannya hingga Yesica mulai percaya. Tetapi, lelaki itu justru menyakitinya. "Gimana gue bisa percaya cowok kalau kayak gini?" geramnya sambil mengangkat kepala. Dia mengambil botol minuman pesanannya dan menguangkan ke gelas putih. Lantas menegak minuman pahit itu. Tubuh Yesica bergidik merasakan sensasi hangat saat minuman itu masuk tenggorokan. Dia menuangkan lagi dan menegaknya cepat. Setelah itu dia menatap depan dengan pandangan menerawang. "Apa gue jelek, ya?" gumam Yesica sambil mengusap pipi. "Tapi, kayaknya gue nggak sejelek itu." Bibir Yesica mengerucut. "Apa gue bau ketek?" Lantas dia mengangkat lengan dan menghidu ke arah ketiak. "Agak, bau sih. Tapi, kan karena belum mandi." Yesica menatap botol di depannya dengan isi yang tinggal setengah. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya agak berputar. Tetapi, dia memilih mengambil botol itu dan menegaknya langsung. "Lo cantik kok." "Hempp...." Yesica hampir tersedak mendengar kalimat itu. Dia menurunkan botol dan menoleh ke lelaki di sampingnya. Matanya memicing, melihat lelaki berkemeja biru yang menelungkupkan kepala di meja bar dan tengah memperhatikannya. "Jangan hibur gue." "Gue lebih butuh hiburan daripada hibur lo." "Ck!" geram Yesica lalu meminum minumannya lagi. "Semua orang di sini suntuk?" Dia mengedarkan pandang, melihat beberapa orang yang mengobrol riang. Kemudian dia menatap ke sudut, terlihat sepasang kekasih yang bermesraan. Yesica segera membuang muka. "Kayaknya cuma gue yang suntuk." "Lo nggak sendiri. Gue juga." Lelaki itu mengangkat kepala lalu menggeser kursi tingginya ke sebelah kanan. "Lo Yesica, kan?" "Ha?" Yesica mengerjab. Dia mengucek mata dan menatap lelaki di depannya. Sayangnya, wajah lelaki itu terlihat tidak jelas. "Mata gue minusnya nggak parah, loh." "Lo udah banyak minum." "Gitu?" Yesica tidak tahu sensasi apa yang dirasakan sekarang. Dia merasa di antara tidur dan terjaga. Ya, rasanya seperti orang yang dipaksa bangun tidur tetapi sangat mengantuk. "Minumannya mahal," gumamnya lalu menegak minuman itu lagi. "Jangan, udah terlalu banyak." Yesica hendak protes, tetapi lelaki itu menahan tangannya. Dia memajukan tubuh, berusaha melihat wajah lelaki itu. "Mata gue melek, kan?" "Melek!" Lelaki berambut taper fade itu mengambil alih botol minuman Yesica dan menjauhkannya. "Emang lo nggak bisa lihat gue?" "Bentar...." Yesica kian mendekat dan membuat keseimbangan kursi itu goyah. "Eehh...." Tubuhnya terdorong, tetapi ada tangan hangat yang melingkar di pinggangnya. "Hati-hati." Tengkuk Yesica meremang mendengar bisikan itu. Dia mengerjab lalu mendongak, berusaha menatap lelaki yang mengetahui namanya. Perlahan dia melihat bibir agak tipis yang tersenyum samar itu. "Manis," gumamnya tanpa sadar. Kemudian dia melihat sebuah hidung mancung dan lurus. "Lo lupa gue, Yes?" tanya lelaki itu. Yes. Panggilan itu terdengar tidak asing. Memang banyak orang yang memanggilnya seperti itu, tetapi logatnya agak berbeda. Yesica berusaha sekeras mungkin agar melihat lelaki itu. Hingga kali ini terlihat jelas, wajah berbentuk oval dengan alis tebal. Dia memperhatikan wajah itu secara keseluruhan hingga teringat dengan wajah seseorang. "Lo kayak mantan gue," ujar Yesica lalu terkekeh. "Tapi, nggak mungkinlah." Dia mendorong lelaki itu dan kembali menghadap meja. "Mantan lo siapa?" "Hio," jawab Yesica tidak sepenuhnya sadar. "Ikan Hio yang dulunya ninggalin gue!" Dia mengepalkan tangan setiap mengingat mantannya. Dari tiga mantannya, semuanya meninggalkannya, tanpa alasan yang jelas. "Gue emang Hio." Yesica sontak menoleh dan menatap lelaki itu lamat-lamat. Semakin dilihat, wajah lelaki itu semakin terlihat jelas. "Aduh...." Yesica menutup mulut, tidak menyangka dipertemukan lagi dengan Hio, mantannya pertamanya. "Lo suntuk, kan?" tanya Hio sambil turun dari kursi. "Gue bisa hibur lo!" Kemudian dia merangkul Yesica dan mengangguk. Yesica terdiam, menatap Hio yang terlihat semakin tampan. "Mau hubungan semalam?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.2K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.6K
bc

TERNODA

read
200.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook