31. Mabuk Kepayang

1663 Words
Hujan baru reda sekitar pukul setengah sepuluh malam, jadi lah aku baru meninggalkan kostan Kemal jam segitu. Ia sudah berganti dengan celana panjang, dan kali ini, ia memaksaku memakai jaket bombernya yang tebal. Yaudah, aku kan anak baik ya? Nurut aja deh jadinya. Eh iya, aku gak ngapa-ngapain loh sama Kemal di kostannya, sumpah, cuma ciuman doang. Emm, itu itungannya ngapa-ngapain ya? Yaudah, pokoknya intinya itu. Ciuman juga Kemal yang narik diri pas udahan, soalnya aku gak mau berenti sih hahahah bibirnya enak. Astaga! Sepanjang perjalanan pulang, kami berdua diam, aku masih membayangi ciuman tadi. Ampun dah, kenapa terngiang-ngiang gini? Si Andin norak banget dah! Kaya baru ciuman sekali! Ledekku pada diri sendiri. Tapi ya gimana ya? Kayaknya ini ciuman terenak yang pernah aku rasain. Kaya... seluruh tubuhku tuh tersengat listrik. Tapi listriknya gak bikin gosong kaya kesamber petir. Listriknya bikin bahagia. Hadeh, beneran deh aku norak banget ini. Coba aja aku masih temenan sama Mia, udah curhat dari A sampe Z kayaknya soal ciuman ini. “Aku langsung balik ya? Gak enak udah malem,” ucap Kemal ketika kami sudah sampai di depan rumahku. “Iya siap, makasi yaa, udah ajak jalan-jalan,” kataku. “Sama-sama, aku seneng main sama kamu,” “Sama, heheheh! Kamu hati-hati baliknya ya? Kabarin kalau udah sampe rumah,” “Sip, aku hari ini balik ke rumah tapi, gak ke kostan,” “Ohh okaay, emang rumah kamu di mana?” “Distrik 15!” jawabnya membuatku terkejut, buset... itu jauh banget, pantesan dia ngekost, ya emang rumahnya masih di kota yang sama, tapi ujung ke ujung. Dari rumahku aja ke distrik 15 bisa hampir dua jam. “Kamu balik semalem ini ke Distrik 15? Gak kemaleman? Takut gak sih? Kan lewat hutan sawit kan?” Setahuku, orang dari distrik 13 sampai 15 itu banyak yang bercocok tanam karena topografi wilayahnya emang pas buat berkebun. “Dari SMA udah biasa aku, gak apa kok,” “Mau bekel air minum gak? Takut haus,” tawarku. “Boleh deh,” “Yaudah, tunggu bentar ya, masuk dulu, duduk dulu aja,” “Siap!” Meninggalkan motornya di depan pagar, Kemal masuk ke dalam bersamaku, ia duduk di teras sementara aku masuk ke dalam rumah. Ada Papa masih menonton TV, ketika aku muncul matanya langsung melirik ke arah jam dinding. “Gak telat kan?” kataku, menghampiri Papa untuk mencium tangannya. “Oke sih oke!” “Tadinya mau pulang cepet, cuma neduh dulu,” “Okeee,” “RCTI?” pancingku, “Okeee!” “Hih! Udah ah, Andin mau siapin bekel buat Kemal, dia balik ke Distrik 15 coba, Pa?” “Hah? Semalem ini?” Aku mengangguk, kemudian meninggalkan Papa. Aku menuju dapur, mengambil satu botol minum ukuran satu liter kemudian mengisinya dengan air dari dispenser. Aku buka kulkas juga, tapi bingung mau bekelin apa, dia kan bawa motor ya? Kudu fokus, gak bisa sambil makan juga. Jadi yaudah, aku hanya menyiapkan air minum untuk Kemal. Ketika aku kembali, Papa ternyata sudah di teras, menemani Kemal mengobrol. “Air aja nih, bingung mau bawain kamu apa,” “Ya emang air aja, Din.” “Masa Kemal Papa suruh nginep sini gak mau? Mau tetep pulang katanya, padahal kan ngeri ya?” ucap Papa padaku, mengadu. “Emang, tadi aku udah tawarin juga, tapi gak mau,” sahutku, kulihat Kemal tersenyum kecil. “Bukan gitu Om, saya udah ada janji pagi nanti mau ngajak anak-anak di sekitar rumah hiking liat matahari terbit, sambil belajar, gak enak kalau batal,” Makin meleleh gak sih punya pacar yang jiwa sosialnya tinggi begini? “Yaudah, kalau kaya gitu Om juga gak bisa ngelarang, hati-hati kamu ya!” ucap Papa kemudian masuk ke dalam rumah. Menyisakan kami berdua, kuberikan botol air kepada Kemal, ia langsung menerimanya. “Makasi yaa!” “Kamu hati-hati sayaang,” “Iya siap, pasti hati-hati, kok!” Aku mengangguk. “Yaudah, aku balik ya?” “Sippp, kabarin ya?” “Aku share live location aja mau? Sekalian kamu jadi bisa mantau aku ada di mana,” usulnya. “Boleeh,” Kemal mengeluarkan ponselnya, tak lama kemudian ponselku berdenting. Masuk lah live locationnya. “Makasih!” kataku. “Makasih buat apa?” “Gak tahu, hahaha!” “Lucu kamu tuh, aku berangkat ya?” “Sip, hati-hati!” kataku entah untuk yang keberapa kali. Kuantar Kemal sampai depan pagar, lalu menunggunya bersiap-siap. “Eh iya, ini jaket mau diambil gak? Biar kamu double, kan anget jadinya, baru kelar hujan begini dingin Sayang udaranya,” kataku mengingat jaket Kemal yang kupakai. “Simpen aja sama kamu ya, cukup kok ini,” katanya, emang sih, dia pakai parka yang lumayan tebal. “Yaudah kalau gitu, aku simpen ya?” Kemal mengangguk, ia sudah siap, motornya pun sudah menyala. Kulepas dia dengan lambaian tangan, setelah ia tak terlihat, aku pun masuk ke dalam, tak lupa menggembok pagar dan mengunci pintu rumah. Langsung masuk ke kamar, ketika aku menyalakan lampu, kaget dong anjir tiba-tiba ada boneka teddy bear gede banget di kasurku. Bingung sendiri aku. Dari mana imi boneka? Melepas tas kemudian menggantungnya, aku mendekat ke si boneka raksasa ini. Baunya masih bau toko. Dih? Ini dari mana? Kugendong boneka ini, meletakkannya di lantai, di depan lemari. Kemudian aku melirik meja belajarku, ada sebuah kotak berisi cokelat mahal. Di atas cokelat ini ada sebuah note. “Gimana? Enak kan? Abis main sama pacar dapet boneka sama cokelat?” - Genta ❤ Pengin teriak aku rasanya. Ini anak psycho, sumpah! Siapa pula yang naro di sini? Mama? Papa? Ya ampun gak suka aku kaya begini ihhh. Kaya mengkhianati Kemal tau gak. Merasa bersalah aku. Kuabaikan cokelat beserta note tersebut. Memilih berganti baju lalu masuk kamar mandi buat keramas doang. Biar kepalaku gak pusing akibat air hujan. Selesai keramas, aku membungkus rambutku dengan handuk lalu berbaring di kasur, memantau Kemal dari ponselku sambil mengiriminya pesan singkat. Me: Makasi ya sayang buat hari ini Udah ajak aku jalan-jalan Kamu hati-hati di jalan I love you ❤ Ehehehe, aku senyum-senyum sendiri liat pesanku. Apa sih? Segala bilang I love you, pacaran aja baru dua minggu. Tapi, yaudah lah yaaa. Buat sampai hubungan yang bertahun-tahun kan emang butuh hari-hari dan minggu-minggu menyenangkan seperti ini. Aku sudah agak mengantuk, cuma Kemal belum sampai, jadi aku masih terus memantau Kemal, sampai akhirnya ponselku berdering. Panggilan darinya. “Hallo?” “Kamu belum tidur?” “Nunggu kamu sampe rumah,” “Kalo ngantuk tidur aja ya sayang?” “Gampang itu, besok kan hari minggu, jadi santai,” kataku. “Ini aku abis isi bensin, duduk dulu sebentar sambil minum,” “Yaudah jangan kecapekan, kalo ngantuk jangan dilanjut bawa motornya, bahaya,” “Siap, gak ngantuk kok aku, ini aku mau lanjut ya? Biar sampe rumah gak lewat jam 12 malem,” “Oke sayaang, hati-hati!” “Siap, I love you too!” Aku melongo mendengar itu, tapi panggilan langsung terputus. Ihh, Kemal nih gimana sih? Bikin aku gemes sendiri deh jadinya. Doh ini sih aku beneran dibikin tergila-gila sama Kemal. Huh! Mabuk kepayang lah kalo kata orang jadul mah. Hahaha! Sambil menunggu Kemal sampai di rumah, aku membuka sosial mediaku, meng-upload fotoku dengannya tadi di pasar malam dengan sebuah caption semanis gulali yang kumakan di foto. Aku tersenyum kepada foto tersebut. Senang karena sempat mengabadikan momen ini dengan foto. Jadi kenangannya gak cuma dalam kepala, tapi bisa dibagikan juga. Mataku sudah lima watt ketika pesan singkat dari Kemal masuk. Kemal❤: Sayang? Udah tidur belum? Aku sampe rumah nih Kamu tidur geh Aku juga mau tidur nih Kudu bangun subuh soalnya Good night Andin Sayaang ❤ Sleep tight xx Aku tersenyum membaca itu, tapi mataku sudah tak kuat kalau harus membalas mengetik, jadi kubalas dengan pesan suara berisi ucapan selamat malam dan selamat tidur sepertinya, di akhir juga pake mwach-mwach-mwach gitu biar heboh, dan setelah itu, aku ketiduran. ** Pagi hari, ketika aku terbangun, ponselku sudah penuh dengan kiriman gambar dari Kemal. Foto matahari terbit di sela-sela perkebunan teh. Foto sileut 5 anak-anak dengan background matahari yang baru saja lahir dari rahim cakrawala, indah sekali. Dan tentu saja, ada foto Kemal yang tersenyum pada kamera. Me: Bagus banget itu Mau dong ke sana Pesanku tak terbaca, mungkin dia lagi sibuk kali ya? Pagi ini, seperti minggu pagi biasanya, aku work out dulu 15 menit doang, abis itu baru deh ke kamar mandi dan ikut sarapan sama Papa dan Mama. Ketika bergabung di meja makan, aku bingung kok Papa sama Mama udah rapi banget. “Pada mau kemana?” tanyaku seraya mengambil selembar roti tawar, memakannya begitu saja. “Kondangan anak temennya Papa, kamu di rumah gak apa-apa kan?” “Bagi duit dong, Andin pengin ke toko buku nanti siang, bosen kalo di rumah sendiri,” “Yaudah nanti Mama kasih,” Aku mengangguk. Lanjut memakan rotiku sementara Papa dan Mama menyelesaikan sarapannya. “Nih dek, sebelum pergi tolong cuci piring ya?” ucap Mama sambil meletakkan tiga lembar uang lima puluh ribu di atas meja. “Siap Ma! Hati-hati yaa!” seruku. “Oke, kamu jangan lupa kunci pintu ya?” “Siaap!” kataku lagi. Mama dan Papa pun berangkat, aku mendengar suara mesin mobil lalu suara pagar yang dibuka, tak lama setelah itu, mobil pun berjalan dan suaranya tak terdengar lagi. Aku keluar rumah, menutup pagar yang ditinggalkan Papa dan Mama, lalu masuk ke dalam sambil mengunci rumah, balik ke meja makan, melanjutkan sarapanku. Selesai sarapan, aku mencuci semua piring, menyusunnya di rak piring sebelum akhirnya naik ke kamarku lagi. Ketika membuka ponsel, eh ada balasan dari Kemal, dengan semangat aku membukanya. Sebuah video dia dan 5 anak lelaki sedang belajar di 'saung' di tengah-tengah kebun teh, enak banget keliatannya. Kemal❤: Nanti aku ajak ke sini yaa Tapi kudu nginep tau Jauh soalnya Me: Boleeeeeehhhhhhhhh Aku mah kan mau-mau aja yaaa, tempatnya bagus banget abisnya. Kayaknya seumur-umur belum pernah aku bangun tidur di tempat yang udaranya super sejuk begitu. Fix lah, mau banget aku. -tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD