30. Berteduh

1970 Words
“Coba, tadi itu maksudnya apa?” jantungku langsung dag-dig-dug-jer, Kemal tiba-tiba merangkulku ketika aku menunggu gulali pesananku jadi. “Kenapa bukannya jawab mukanya malah jadi merah?” tanyanya, aku masih diam. Kebelet pipis ya lord! “Makasi, Pak!” kataku ketika penjual gulali ini memberikan pesananku, gulali warna biru, full, gak dicampur warna pink atau kuning. “Sama-sama Neng!” Mendapatkan gulali, aku mencari bangku taman biar bisa duduk enak. Sialnya, bangkunya penuh semua, hanya ada satu yang kosong, agak diujung, deket Rumah Hantu. Tapi, yaudah lah, duduk di situ aja. Kemal mengikutiku, tapi ia membeli sebotol air mineral dulu sebelum menghampiriku dan duduk di sampingku. “Aku salah apa? Kok dikasih silent treatment?” tanyanya, aku menoleh, yakin sekali kalau wajahku makin memerah. “Kamu gak salah, aku malu,” kataku jujur. “Malu kenapa?” “Ya menurut ngana?” “Pada gak sadar juga kali ih, orang pada fokus nontonin motor,” katanya. “Tapi kan tetep aja, malu,” “Tapi kan aku belum bales,” Makin merah muka aku denger dia ngomong begitu. Aduh, ini kenapa deg-degannya sama kaya pas mau ciuman pertama ya? Aku diam, bingung harus menanggapi ucapan Kemal bagaimana. Kalau ditanya mau gak ciuman sama Kemal? Ya jawabnya tentu saja aku mau, hehehe. Tapi, masa ciumannya di tempat umum begini? Ya, aku tahu sih, dulu aku pernah ciuman sama Gaftan di bioskop. Tapi itu kan gelap ya? Aku tahu, aku tahu, banyak orang yang kesel sama anak kaya aku yang ciuman di bioskop. Katanya... kaya gak ada tempat lain aja. Ya emang iya. Gak ada tempat lain. Ya gimana dong? Kan masih anak SMA. Kalau ada yang bilang 'get a room!' Astagfirullah, aku gak seberani itu buat ngapa-ngapain di kamar. Makanya, dulu tuh bioskop jadi 'tempat aman' untuk berciuman. Pilih kursi paling atas, pojok. Dah tuh, aman. Hahaha! Kacau juga ya aku. “Kamu kok malah bengong sih Yaang?” “Gak, aku gak bengong, aku lagi makan gulali,” kataku beralasan. “Boleh gak?” “Boleh apaan?” “Bales yang tadi?” tanyanya. “Emmm, ya boleh aja sih, tapi jangan di sini!” “Terus di mana?” “Ya gak tau,” kataku karena gak mungkin dong aku menyarankan bioskop. Hehehe! “Di mana yaaa?” ujarnya dengan nada berfikir, aku gak menjawab ucapan Kemal itu, malah teringat lagu BLVD milik Adam Ragsdale ”I remember when we were just kids, roaming the town finding places to kiss,”. Duh, semoga kisah cintaku gak sengenes lagu itu. Soalnya, aku udah kecintaan nih sama Kemal. “Ya gak tau di mana,” sahutku akhirnya, sambil asik makan gulali. “Kamu mau?” kutawari gulali biru milikku, Kemal mengambilnya secubit. “Manis,” “Ya namanya juga gulali, bep,” “Hahahaaha betul, betul, kalo cuka asem yaa?” “Iya, kalo garem asin!” sahutku, “Salah, kalo garem itu dosa!” ucapnya bikin aku bingung. “Kok dosa?” “Iya soalnya garem itu a-sin!” Pengin marah, tapi sayang, gimana coba ini? Help! Kemal kenapa garing banget ya lord? Kenapa pula aku kecintaan sama dia? “Gak jelas banget lu!” “Udah, kalo mau ketawa ya ketawa aja, jangan ditahan,” katanya, membuatku mengerucutkan bibir. “Ngambekan ih,” ucapnya lalu merangkulku. “Engga, gak ada yang ngambek, sok tahu yeee!” “Yaudah, masuk rumah hantu mau gak? Mumpung deket nih,” “Kamu kalau mau masuk, masuk aja, aku nunggu di luar,” “Lha? Ngapain amat aku masuk sendiri?” “Uji nyali!” “Uji nyali mah nyium pacar di tempat umum,” ledeknya, membuatku mencubit kecil tangannya dan ia malah tertawa. “Udah atuh ih, aku kan malu!” Kemal masih tersenyum, kali ini ia ikut memakan gulali bersamaku. Sesekali aku melirik ke arahnya. Asli sih, gemes aku tuh sama Kemal. “Eh iya, aku mau bilang sesuatu, lupa deh aku,” katanya. “Apa?” “Minggu depan aku tiga hari ke Talaud ya?” “Talaud? Di mana tuh? Ngapain?” tanyaku. “Sulawesi Utara, Sayang. Jadi guru volunteer gitu, tiga hari doang,” Aku menatap Kemal penuh minat, gilak ini cowok kenapa idaman banget ya? “Yaudah, semangat yaaa!” “Maaf ya kalau pas di sana gak bisa sering kabarin, pasti jarang pegang HP,” “Gak apa-apa,” kataku, Kemal tersenyum, lalu mengangguk. Gulaliku sudab habis, aku mencari tong sampah untuk membuang biting-nya. Setelah itu kembali duduk bersama Kemal. “Minum nih,” ia memberikan botol air mineral, dan aku meminumnya beberapa teguk. “Laper gak? Mau makan atau masih mau naik wahana?” Aku melirik ke sekitar. Pengin naik ombang-ombang, tapi takut pusing, lalu naik komodi putar, kok kayanya aku udah terlalu besar ya? Naik apa dong? “Gak deh, yuk, cabut aja, langit juga gelap tau, mau ujan kayaknya,” kataku. “Langit gelap ya karena udah malem, Sayang,” “Ih maksud aku tuh gak cerah, gak ada bintang, mendung gitu loh,” “Yaudah, yaudah, mau makan apa nih?” tanyanya. “Apa ya?” “Seafood mau?” “Seafood kerang-kerangan apa kaya udang cumi asam manis, goreng mentega gitu?” tanyaku. “Ya bebas, kamu maunya apa?” “Aku sih pengin makan kwetiau nih,” “Yaudah yuk, ada kwetiau enak deket kampusku, gak jauh juga dari sini!” “Cusss!” Aku dan Kemal bangkit dari kursi yang kami duduki, berjalan bergandengan tangan menuju lahan parkir yang ada di seberang areal pasar malam ini. Sampai di motor, seperti biasa Kemal membantuku memasang helm, lalu aku pun naik ke boncengannya. Benar kata Kemal, jarak pasar malam dengan kampusnya tidak terlalu jauh, jadi dengan motor hanya ditempuh waktu sekitar lima belas menit. Tempat makan yang kami datangi ini ruko dua lantai yang disulap menjadi resto. “Kwetiau goreng?” tanya Kemal, “Iyap?” “Apa nih? Ada sosis, bakso, ayam, spesial, seafood sama ati-ampela,” “Seafood aja,” “Okeh, minumanya?” tanyanya sambil mencatat pesananku. Eh anjir ya, tulisan tangan dia bagus banget. “Teh tawar anget aja,” “Serius nih minumnya mau yang gratisan aja?” “Iya, emang kenapa?” “Gak apa-apa,” ia nyengir. Lalu Kemal pun menulis makanan pesanannya, kemudian ia berikan kertas pesanan ke seorang pelayan. “Bener kata kamu,” “Kenapa?' tanyaku. “Mau hujan,” “Semoga hujannya turun pas udah sampe rumah aja ya?” “Lha? Terus aku balik hujan-hujanan?” “Engga, nginep aja di rumah, tidur di kamarnya Kak Adam,” “Ya gak enak dong, Sayang. Tuan rumahnya gak ada,” “Yailah, Kak Adam doangan, santai,” kataku, namun Kemal tak lanjut membahas, ia hanya tersenyum. Emang gak mau kayaknya nginep di rumah. Hanya menunggu sekitar sepuluh menit, makanan pesanan kami datang. Aku menyesap teh hangat dulu sebelum makan. Kami makan dalam diam, sesekali melihat ke luar karena khawatir turun hujan, soalnya sudah mulai terdengar bunyi guntur, walaupun gak kencang. “Mau langsung balik?” tanyanya ketika kami selesai makan. Aku melirik jam tanganku, baru pukul 8, padahal kan jam malamku itu pukul 11. Huh, kemana ya? Tapi ngeri juga ini, langit sudah super gelap. “Yaudah ayok, langsung balik,” kataku. “Okay!” Kemal bangkit, ia menuju meja kasir terlebih dahulu, aku sendiri berjalan menuju parkiran, biar nunggu dia di samping motor aja. “Mau pakai jaket aku? Kamu dingin gak?” tawarnya, namun aku menolak. “Engga kok, gak dingin,” kataku berbohong, dingin sih sebenernya, tapi dia yang bawa motor, angin pasti lebih kencang ia rasakan, jadi ya mending Kemal yang pakai jaket. Aku sih kan di belakang, bisa ngumpet sambil memeluknya. “Kalo dingin bilang ya?” “Siaap!” Lalu aku naik ke boncengan motornya, memeluk Kemal erat dari belakang. Kemudian, baru jalan beberapa puluh meter, hujan tiba-tiba turun deras tanpa aba-aba, membuat kami seperti mandi di bawah pancuran shower. Kemal melajukan motornya lebih kencang, membuatku memeluk lebih erat. Tapi tak berapa lama, motornya berhenti dan kami sudak kehujanan lagi. Aku yang sedari tadi di belakang ngumpet akhirnya mendongkak untuk melihat sekitar. “Neduh di mana ini?” tanyaku. “Kostan-ku, masuk aja yuk, basah, ganti baju dulu,” ajaknya. Kami turun dari motor tapi jantungku malah makin berdetak tak karuan. Mampus lah ini aku, diajak ke kostan segala. Kok tegang ya? Tapi ya juga penasaran. Kemal membuka pintu kamar nomor G4, lalu mempersilahkan aku masuk. Membuatku terkejut karena kamarnya rapi banget. Dan kamarnya juga enak, nyaman gitu kerasanya. “Mau ganti baju, Din?” tanyanya. “Gak usah, Yaang. Aku gak basah kok, kan tadi ketutupan kamu, rambut doang nih agak sedikit basah,” “Yaudah pakai handuk ya? Atau mau keramas biar gak pusing?” “Handuk aja,” kataku, ia langsung membuka lemari dan berjongkok, menarik handuk dari tumpukan bawah. “Ini, sebentar ya, aku ganti baju dulu, basah nih, takut masuk angin,” Aku mengangguk. Kemal lalu kembali ke lemarinya, menarik beberapa lembar pakaian lalu ia berjalan ke arah belakang. Kamar mandi sepertinya. Di kamarnya Kemal gak ada kursi, jadi aku duduk di karpet. Kasurnya dia pun emang yang tipe di lantai gitu, meja belajarnya juga rendah, yang tipe buat duduk di lantai. Tapi, semua tertata rapi. Tak lama, Kemal keluar dari kamar mandi, sudah berganti kaus, memakai celana pendek dengan rambut yang sedikit basah dan berantakan. Sumpah, seksi banget sih menurutku. “Dingin gak?” tanyanya, ia duduk di karpet sepertiku, bersandar pada lemari. “Engga kok,” jawabku pelan. “Gak apa kan di sini dulu?” Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaannya itu, di luar memang terdengar suara hujan sangat lebat. “Pake ini deh!” Kemal mendekat, bikin aku makin deg-degan, tapi ia ternyata menarik selimutnya, lalu membungkus tubuhku. “Yakin aku, kamu pasti kedinginan, bajunya tipis gitu, cuma sampe lutut pula,” Aku tersenyum. Selimutnya Kemal nih lembut banget, wangi molto lagi, enak. “Mau denger lagu? Kamar aku gak ada TV soalnya,” “Boleh,” kataku, biar gak sepi banget kan ya. Lalu, kulihat Kemal menyambungkan ponselnya ke speaker kecil yang ada di meja belajar, lalu memutar sebuah lagu. Aku tahu lagunya, kami memang sering tukeran playlist, dan sepertinya dia lagi nge-play lagu-laguku. Lagu duet antara Ashe dan Finneas, 'till forever falls apart. Emang enak banget sih lagunya. “Aku lagi ngafalin nih, part cowoknya, enak lagunya,” katanya, ia lalu mendekat, duduk di sampingku. “Lagu-lagu di playlist kamu juga enak. Matthew Mole yang Kilimanjaro sama You Are Loved, itu enak banget,” kataku. “Sini deh, nyender,” Kemal sedikit menarikku ke arah kasur, biar bisa bersandar di dinding, dan duduk santai dengan kaki menyelonjor. Tapi ya, jantungku tetep gak mau tenang ini. Gimana dong? Aku dan Kemal sama-sama bersenandung ketika lagunya ada di reff terakhir. Sampai akhirnya berganti ke lagu lain. “Din?” “Hemm?” “Boleh bales yang tadi gak?” Longsor udah jantungku pas denger itu. Pengin sih sebenernya, asli, cuma... takut. Gimana ya? “Emm, ta-tapi, ciuman aja kan?” tanyaku, membuat Kemal tersenyum. “Ya emang mau apa?” Aku diam, menggeleng, bingung mau jawab apa. “Yaudah, nanti aja deh, kapan-kapan ya? Kamunya mendadak pucet gitu, ngeri aku,” katanya dengan suara seperti menahan tawa. Aku menarik napas panjang, lalu menoleh ke Kemal, mendaratkan bibirku di bibirnya. Kali ini, aku gak langsung menarik diri seperti tadi, tapi menunggunya membalas ciumanku. Ketika bibirnya melumat bibirku, aku otomatis memejamkan mata, membiarkan bibir dan lidah kami bergerak dengan latar belakang lagu Stay With Me milik Anson Seabra. Aku menarik diri sebentar, untuk mengambil napas dan melihat wajah Kemal. Ia juga memejamkan mata ternyata. Jadi aku mendekat lagi, kemudian terpejam lagi. Ciuman Kemal nih lembut, gak yang buru-buru, gak yang basah juga, enak deh pokoknya, bibirnya juga manis. Ya ampun, gak mau berenti nih aku. -tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD