“Ehhh, sorry, sorry, sorry!” seru Genta, dia yang sadar tangannya ada di mana langsung menarik diri, dan itu sukses membuatku nyungsep ke tempat kaki di kursi depan.
“Ehh, sorry lagi, sorry, sorry, sorry!” kini ia menarik tanganku, membantuku keluar dari celah sempit itu.
Buset dah, dari kaki doang yang sakit sekarang bahu juga, mana ulu-ati aku sakit lagi gara-gara mendadak kelipet gitu badannya. Ngerti kan?
Aku meluruskan kakiku, untungnya ini mobil atapnya tinggi, jadi kakiku bisa lurus tanpa kepalaku membentur atap.
“Kenapa lu?” tanyanya khawatir.
“Bentar, uluati gue sakit ihhh, dikit lagi sembuh.”
“Tahu dari mana dikit lagi sembuh?”
“Kerasa kok, ini dia syok kayaknya gara-gara gue nyungsep barusan.” jelasku.
“Sorry,” entah ini sorry keberapa yang Genta ucapkan.
“Gak apa, bukan salah lo juga.”
“Tau gitu gue gak nyuruh lo loncat.”
“Yaudah, kan lo gak tau.”
“Udah enakan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.
“Gue jalan lagi ya?”
Aku menjawab dengan anggukan lagi.
Sepanjang jalan, aku masih memegangi perut bagian atas, takut uluatinya sakit lagi, asli, gak enak banget rasanya, kaya organ dalem yang diremas gitu.
“Masih sakit? Lo mendadak pucet itu, Din.”
“Udah engga kok, cuma masih kebayang aja sakitnya.”
“Sorry,”
“Gak apa, bukan salah lo juga.”
“Terus kaki lo gimana?”
“Gak apa, nanti minta bokap urut dikit paling.” kataku.
Kulihat Genta mengangguk.
Kami sampai di persimpangan, aku langsung menyuruhnya belok ke kiri, masuk ke komplek rumahku.
“Gue ngajak lo nonton, kenapa lo ajak Mia?” tanya Genta tiba-tiba, aku langsung menoleh, bingung, dan kulihat ekspresinya kaya gak nyaman gitu.
“Eh? Kan gue udah bilang kan ke elo kalau Mia suka sama lo?”
Genta mengangguk.
“Terus kenapa masih nanya?” tanyaku lagi.
“Kalo gue sukanya sama lo, gimana?” Aku syok mendengar pertanyaannya itu. Gilak kali ya? Kan dari awal aku udah judulin, kalau Mia yang suka sama dia. Kenapa pula dia malah suka sama aku?
“Ya gak bisa lah,” kataku tegas.
“Kenapa gak bisa? Gue berhak dong suka sama siapa aja? Dan gue sama Mia juga gak ada hubungan apa-apa.” ujar Genta.
“It's a girls-code! Mia nunjuk gue buat jadi wingman dia deketin elo, kalo lo malah suka sama gue dan gue ladenin elo, dah bukan manusia gue namanya.”
“Hah? Girls-code, wingman? Apaan sih?”
“Lo browsing sana wingman apaan! Kalo girls-code itu kaya peraturan tak tertulis di persahabatan antara cewek-cewek di mana kita harus selalu saling menjaga, melindungi, support dan lain-lain.” jelasku.
“Gak jelas!” serunya dengan nada kesal.
“Itu, rumah gue yang itu.” Aku menunjuk pagar rumahku, dan Genta langsung meminggirkan mobilnya.
“So?” katanya tiba-tiba. Mobil sudah berhenti tapi mesinnya masih menyala.
“Kalo lo gak suka sama Mia, yaudah gak apa, gue juga gak bisa maksa, nanti gue bilang sama dia.”
“Terus lo?”
“Gue kenapa?” tanyaku.
“Gue barusan bilang gue suka sama lo.”
Aku melirik heran padanya. Aku nih yaa, pernah pacaran 2 kali, tapi kayaknya mantan-mantanku pas deketin ataupun nembak gak kaya gini deh.
“Yaudah, itu urusan lo. Urusan gue kan supaya gak sama lo karena sahabat gue yang suka sama lo!”
“Emang ada ya kaya gitu-gitu?” kini giliran Genta yang melirikku heran.
“Ya ada lah! Kemana aja lo baru sadar?”
“Gue sebelumnya sekolah khusus cowok, jadi gak tau tuh. Selama ini dapet cewek ya dikenalin temen kalo gak senior, suka terus udah!”
“Yaudah, lo minta sana sama senior lo. Dah ya? Gue masuk rumah, makasih loh udah anterin.”
Genta mengangguk, tapi ia belum membukakan kunci, ia malah tersenyum kepadaku, bikin aku penasaran aja.
“Gen? Bukain dong?”
“Tipe cowok lo kaya apa?” absurd banget ini makhluk, bukannya bukain kunci pintu malah nanya gak jelas.
“Gak ada tipe-tipean.”
“Mantan lo, kaya apa orangnya?”
“Duhh, bukan urusan lo itu!” Aku jadi risih sama kelakuannya.
“Tete lo, kenyel Din,”
Aku melotot mendengar itu, anjir, perlu banget itu diomongin?!
“Gen, bukain pintunya sekarang!” intonasi suaraku meninggi, asli, udah gak nyaman ini aku berdua dia begini.
“Okee, okee, see you di sekolah Din!” katanya, nada suaranya berubah kalem dan ia pun menekan tombol untuk membuka pintu.
Tanpa basa-basi, atau salam perpisahan, aku langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Astaga, ini jantungku tanpa terasa dag-dig-dug-jer parah! Sumpah!
“Dah pulang Dek?” Papa menyambutmu di ruang keluarga, sedang asik menonton berita.
“Udah, Pa!”
“Dah makan? Mama masak noh,”
“Udah, tapi masih pengin makan sih, soalnya tadi gak makan nasi.”
“Yaudah, sana gih!”
“Ganti baju dulu, Pah!” Aku langsung masuk ke kamarku, lalu menutup pintunya. Asli, jantungku masih gak karu-karuan, kebayang momen tadi jatoh dan tangannya Genta ada di daddaku. Terus obrolannya tadi.
Aduh! Kalau Mia tahu gimana?
Aku gak mau bikin Mia kecewa.
Gosh! Gak! Pokoknya engga!
*********
“Lo ada bahas gue gak pas di jalan pulang sama Genta?” tanya Mia.
Kegiatan belajar mengajar sudah mulai kembali. Ini hari pertama masuk di semester baru. Jadi jam pelajaran pagi disibukkan dengan gantian setiap kelas ambil buku paket dan LKS ke ruang tata usaha, karena di sekolahku ini, bukunya bukan per tahun, tapi per semester. Jadi ya begini deh.
“Engga, dia banyak nanya soal jalanan aja.” kataku berbohong.
“Dia gak nanya gitu?”
Aku menggeleng.
“Lo punya nomornya? Gue bagi dong, dia kemarin gak minta nomor gue.”
Kubuka ponselku, lalu langsung mengirim kontak Genta ke dalam room chat aku bersama Mia.
“Thanks, Din!”
Aku mengangguk.
Asli, kok ya aku ngerasa bersalah sama Mia ya? Aku tahu sih aku gak salah. Aku malah melakukan hal yang benar. Iya kan?
“Din? Katanya kalau udah semester dua gini, kita boleh loh ikut kakak kelas kalau mau party.”
Ya, di sekolahku ini, ada semacam kegiatan party gitu yang dilakukan setiap bulan sekali.
Jadi, para senior kelas tiga mewarisi rumah kontrakan yang sudah disewa selama bertahun-tahun, rumah aman itu ya markasnya kelas 3, cewek atau cowok, bebas, dan di situlah mereka biasa party. Nah, party-nya eksklusif buat anak kelas 3, dan anak kelas 2 semester akhir kaya aku gini. Kenapa boleh ikut? Tujuannya ya biar nerusin rumah kontrakan warisan itu.
Dan... aku sih kepo, rumahnya di mana, keadaannya bagaimana dan apa saja yang bisa dilakukan di sana.
Buat anak remaja yang lagi proses coba-coba dan pengin tahu banyak hal, tentu saja hal itu terdengar menarik.
Katanya lagi, banyak anak kelas 3 yang kehilangan keperawanannya di rumah itu. Entah yang pacaran sesama siswa sekolah ini, atau yang bawa pacarnya ke rumah itu.
“Din?” Mia memanggilku kembali ketika aku hanya bengong.
“Apa?”
“Party, ikut yuk? Kali aja kita bisa tau pergaulan-pergaulan yang begitu.”
Aku mengangguk.
“Yuk, kapan emang?” tanyaku. Ya, aku sih mau ikut kaya gituan, aku bukan anak yang terlalu straight dalam pergaulan. Pesen Papa sih cuma, aku harus bisa jaga diri dan gak terlibat sama sesuatu yang berbau kriminal. Udah, itu aja.
“Katanya minggu ini, hari Sabtu. Nanti dikasih tahu alamatnya di mana.” Aku mengangguk,
Kelas hari ini masih kosong. Sekalipun sudah ada jadwal pelajaran, tapi tetap saja, hari ini semua guru dan murid disibukkan dengan pembagian buku, jadi pembelajaran hari pertama belum efektif.
“Kantin yuk?” ajak Novi, teman kelas yang duduk di depan mejaku dan Mia.
“Boleh emang?”
“Ya gak ada yang larang juga sih, tapi pasti rame, sama senior.” sahut Mia.
“Yaudah deh yuk, tadi di rumah gue gak sarapan, kali aja bisa makan nasi uduk.” kataku.
Akhirnya, aku, Mia, Novi dan Selvi keluar meninggalkan huru-hara di kelas. Kami berempat berjalan menuju kantin.
Seperti dugaan Mia, kantin penuh dengan beberapa senior yang asik bercengkrama, dan aku langsung melihat Genta, ikut gabung di meja yang isinya anak-anak basket. Ada Gaftan juga, ketua tim basket yang merupakan cowok idaman di sekolah ini. Yang sialnya, dia adalah mantan pacarku pas aku kelas satu dulu. Ditembak pas MOS hari terakhir, kebayang kan semalu apa? Dan kalau dia kutolak malunya bakal double?
“Tengah aja ya? Pojok pada penuh.” ucap Selvi dan kami semua menurut.
“Makan? Apa minum aja sambil nyemil gorengan?” tanya Novi.
“Gue makan sih, laper banget soalnya.” kataku, meninggalkan tiga temanku ini lalu berjalan ke kiosnya bu Kantin, pesen nasi uduk dan teh tawar hangat.
Kembali ke meja, aku agak kaget melihat Genta dan Gaftan ada di meja kami.
Yailah, mau apa sih?
“Din, baru dateng kamu?” tanya Gaftan. Aku tak langsung menjawab, hanya diam lalu duduk di samping Novi.
“Bareng kok kita, Andin abis pesen uduk.” jawab Selvi.
“Din kamu makin item aja, udah dibilang jangan ikut paskib.” Gaftan mulai sok care gitu, bikin eneg. Dulu, aku putus sama dia karena dia ngelarang aku ikut paskib. Gila kan ya? Ya aku gak mau lah dilarang-larang.
“Yaudah sih, emang kenapa?” kataku.
“Lo kenal deket sama Andin, Bang?” tanya Genta.
“Andin sama Bang Gaftan mantanan, Gen.” jawab Mia kalem.
“Ohhh, mantan. Udah gak ada hubungan lagi berarti?”
“Ya itu, hubungannya mantan.” jawab Gaftan, dan Novi bebarengan.
“Udah sih, kenapa jadi bahas hubungan?” tanyaku, risih.
“Ya kan mau memastikan. Mumpung sekalian ada Bang Gaftan, Din, gue sekalian izin.”
“Hah? Izin apa?” Kali ini aku dan Mia berbarengan menanyakan maksud perkataan Genta.
“Ya izin pacaran lah, kita kan udah jadian minggu lalu.”
Aku melotot mendengarnya, lalu menoleh ke Mia yang duduk di ujung kursi samping Novi, ia menatapku kesal, marah dan lain sebagainya.
“Apaan? Kaga!” seruku.
“GILA YA DIN? GUE KIRA LO SAHABAT!” bentak Mia keras, lalu ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan kantin.
Aku melirik penuh emosi ke Genta, kemudian berdiri, menyusul Mia untuk memberinya penjelasan.
Gosh!
Kenapa runyem gini sih?
********
TBC