4. Tersenyum

2101 Words
Me: Ayok! Mumpung besok gue gak ngejar guru Aku membalas chat Genta malam hari, setelah selesai makan. Tanpa diduga, ternyata ia langsung membalas pesanku itu. Genta IPA3: Oke good Nonton? Mall mana nih? Gue anak baru banget Pilih aja mau di mana? Aku langsung menyebutkan mall yang salonnya mau ku kunjungi, biar bisa sekalian gitu kan yaaa. Genta IPA3: Okay! Rumah lo di mana? Mau dijemput gak? Me: Janjian aja kita Mau nonton yang jam berapa? Genta IPA3: Okay! Gue abis liat jadwal Nonton yang jam 3 aja ya? Biar keluar bisa sekalian cari makan malem Me: Okeh! Genta IPA3: Okay! Setengah 3 udah sampe ya? See u~ Aku tak membalas pesan tersebut, tentu saja aku langsung menelepon Mia, dan ia langsung histeris. “Ya ampun Din! Mantep banget dah lo! Besok gue pake baju apa ya?” “Yailah, jangan lebay, cuma mau nonton, santai aja!” “Ya tapi kan ini dia liat gue gak pake seragam Din, jadi ya harus bagus.” “Coba lo tanya kakak lo aja dah, gue mana ngerti.” “Besok lo pake baju apa?” Tanya Mia. “Kaus biasa, sama celana jeans, sepatu cads, dah kelar.” “Bawa tas?” “Bawa ransel kecil yang biasa paling, buat naro dompet, payung sama powerbank!” jawabku. “Oh yaudah, oke, oke! Makasih ya Din, beneran sohib terbaik sih lo!” Aku tersenyum, lalu mematikan sambungan telepon ini. Dah lah, aman yaaa. *** Keesokan harinya, setelah makan siang, aku langsung siap-siap. Karena janjian aku mau nyamper Mia dulu, biar kita berangkat bareng. “Ma, bagi uang dong.” pintaku ketika akan berangkat. “Buat apa?” “Kan semalem udah bilang, mau ke salon.” “Mending kamu udahan aja deh paskib-nya Dek. Kamu perawatan seminggu sekali, tapi dijemur seminggu 5 kali ya percuma sayang.” “Ya kan Ma, Andin suka paskibra.” kataku. “Tapi ini tahun terakhir ya? Paskib terlalu banyak nyita waktu kamu. Kelas XII udah gak lagi ya? Fokus belajar,” “Pindah ekskul gitu maksudnya?” “Ya terserah, tapi ya gak usah ikut lomba lagi, kamu kira Mama gak kasian liat nilai raport kamu anjlok? Ngejar-ngejar guru buat perbaikan nilai padahal Mama tau kamu pinter?” Aku mengangguk. “Iya, Ma.” “Gak usah paskib lagi ya? Kelas 2 ini terakhir ya?” Aku mengangguk lagi. Lalu, Mama membuka dompetnya, memberikan uang yang kuminta, bahkan lebih, aku langsung salim kemudian pamit berangkat. Dengan bus, aku menuju rumah Mia. Untung rumah Mia nih gak terlalu jauh, hanya melalui 2 halte saja, dan jalan kakinya juga gak jauh. Aku tersenyum ketika sampai di depan rumahnya Mia, dia sudah siap dan terlihat sangat cantik. Dia bahkan berdandan tipis. “Niat lo yaaa!” kataku. “Yuk mau langsung berangkat?” Aku mengangguk. Lalu, Mia berteriak pamit dari luar, ia menutup pintu rumah dan kami pun berjalan menuju halte bus. “Lo bilang Genta gue ikut?” “Engga, kan biar kejutan dong!” “Ihhh baik banget emang lo!” “Kalo nanti lo berdua gue tinggal, terus gue nyalon, gak apa kan?” “Gak apa-apa lah Din, makin seneng gue berduaan sama Genta.” “Hahaha najis lu, kesemsem segitunya banget sama dia!” Kami sudah berada di bus, hanya butuh sekitar 15 menit sampai ke mall tempat aku janjian sama Genta. Dan sesuai perkiraan waktu, pukul 14:30 aku dan Mia sudah sampai. “Itu Genta, Din!” seru Mia pelan, menunjuk kursi tunggu di dekat toilet. “Yuk!” Aku mengangguk, kemudian kami berdua berjalan menghampirinya. “Hey, Gen!” sapaku, ia menoleh, tersenyum, tapi langsung kaget saat tahu aku tak sendiri. “Eh? Lo ngajak temen?” tanyanya, agak kaku gitu. “Iyaa, gak apa kan?” Genta mengangguk, “Gak apa, tapi... ini gue beli tiket cuma dua, gimana?” “Oh yaudah, gak apa, gue beli lagi aja satu, bentar ya!” Kataku. “Eh tunggu Din, ini row D nomor 11-12 lo cari yang nomor 13 aja, biar duduknya deketan.” ujar Genta. “Oke siap!” Kutinggalkan Genta dan Mia. Asli, padahal aku gak niat nonton bareng mereka, kenapa pula ya aku make acara mau beli tiket gini? Menghampiri counter pembelian tiket, aku berdiri di antrian paling belakang, gak banyak sih, hanya 3 orang yang ada di depanku. Begitu tiba giliranku, aku menyebutkan film dan jam tayang yang sesuai dengan tiket yang sudah Genta beli, dan ternyata... semua kursi sudah penuh. “Ada yang jam selanjutnya, gimana, Mbak? Mau?” tawar mbak penjaga. “Waduh, gak deh, Mbak. Makasih ya!” Aku keluar dari antrian, lalu kembali berjalan ke arah Genta dan Mia yang terlihat sedang asik mengobrol. “Gak dapet tiket, penuh semua, dah lo berdua aja ya yang nonton.” kataku. “Ehhh?” “Gue ke salon aja ya? Entar janjian kalau kalian udah kelar, oke?” Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik meninggalkan keduanya. Mantap lah, rencanaku berjalan dengan baik, aku terselamatkan karena kursi bioskop yang penuh. Hahahaha! Di salon, aku langsung pilih paket whitening sebadan, iya... biar kulitku yang gosong ini bisa terawat dengan baik lah yaa. Kasian juga ini kulit, diajak panas-panasan mulu. Entah berapa lama aku di salon, karena aku gak liat jam dan gak cek HP, tapi pas keluar... ya walaupun aku masih item, tapi aku ngerasa lebih bersih aja gitu. Serasa semua daki dan dosa-dosaku rotok deh, mantep. Mengecek ponsel, ternyata ada pesan masuk dari Mia dan Genta. Miaw: Lo di mana? Kita udah keluar nih Asli Genta wangi banget ye? Hahahaha Din? Lo di mana Din? Din? Gue sama Genta ke foodcourt Sini nyusul Pesan terakhir dikirim 10 menit lalu, jadi kayaknya mereka masih di sana. Aku langsung naik lift menuju foodcourt yang satu lantai sama bioskop. Begitu sampai di lantai 5, mataku celingukan mencari Mia dan Genta. Sambil berjalan pelan mengitari foodcourt, aku melihat keduanya, ada di dalam resto steak gitu, jadi langsung saja aku menghampiri mereka. “Hay!” sapaku. “Sini Din, duduk!” Mia langsung bergeser, memberikanku tempat duduk. “Gimana filmnya, seru?” tanyaku pada mereka berdua. “Ya gitu lah,” ujar Genta. “Seru Din, hehehe gemes gue, ada sedihnya sih tapi!” jawab Mia. “Lo pesen makan nih, gue sama Mia udah pesen.” Genta memberikan buku menu padaku. “Thanks! Ini pesennya manggil mbaknya apa langsung ke sana?” tanyaku. “Langsung ke sana.” Jawab Genta. “Ohh, okay!” Aku melihat menu sekilas, setelah memutuskan mau makan apa, barulah aku berdiri, berjalan menuju kasir yang sekaligus tempat memesan makanannya. Setelah memesan, aku kembali ke kursiku, tapi anak dua ini malah sibuk sama HP-nya masing-masing. “Liburan gini gak ada rencana main lo, Gen?” Aku membuka bahan obrolan, dari pada diem. Terlihat Genta langsung meletakkan ponselnya. “Gue murid baru, waktu libur 2 minggu mending gue pake buat kenalan sama anak-anak sekolah, adaptasi sama lingkungan baru.” “Ohh, iya, sebelumnya lo di mana?” tanyaku dan Genta menjawab satu kota yang lumayan jauh, kota yang terkenal orangnya tajir-tajir. “Terus kenapa pindah?” tanya Mia. “Eh sorry, kalo itu gak bisa jawab.” jawab Genta pelan. Aku dan Mia mengangguk. Jadi kami bahas hal lain. Ketika asik membahas ekskul, makanan pesanan Genta dan Mia datang, tapi punyaku belum. “Kalian makan duluan aja,” “Gak ah, bareng aja.” ujar Mia. “Iya bareng aja,” sahut Genta. Aku mengangguk. “Terus lo lolos, masuk basket tim inti?” tanyaku, melanjutkan obrolan tadi. “Lolos dong, ternyata Coach-nya kenal sama coach lama gue, mereka pernah di tim yang sama gitu.” jawab Genta. “Cool!” sahutku. Akhirnya, pesanan makananku datang, dan karena kami semua sudah lapar, jadi tanpa basa-basi kami langsung makan, sambil sesekali Genta nanya tipe-tipe guru di sekolah. “Pak Rohim udah paling best sih!” seru Mia. “Iya, wali kelas gue sama Mia, ngajarnya enak, terus kalau ada yang gak bisa ngucapnya dibenerinnya gak pake diledek, enak deh!” tambahku. “Terus kalau yang killer?” “Emmm, killer banget sih kayaknya gak ada, tapi Bu Wahyu, wali kelas kamu, pelit nilai mampus deh.” ujar Mia. Aku agak mengangguk sedikit. Gak mau komen karena kemarin aku dapet nilai 85 dari Bu Wahyu. “Kalau pelajaran pilihannya ada apa aja?” tanya Genta lagi. “Ehh? Kita gak ada pelajaran pilihan, yang boleh milih si ekskul. Tapi kalau pelajaran tambahan kaya Bahasa Jerman, Bahasa Arab sama Bahasa Daerah ya ada.” Jawabku. “Ohhh, okee-okee. Di sekolah lama gue ada bahasa Jerman, kayaknya sih gue bisa adaptasi, tapi kalo bahasa Arab sama Bahasa Daerah? Matik nih gue.” ujar Genta. “Nih, Mia jago bahasa Arab, dia pas SMP pesantren soalnya.” kataku. “Wah seriusan? Terus kenapa gak lanjut?” “Emmmmm, ibuk aku ngerasa aku di pesantren gak banyak berubah, malah menurut aku nih ya, pergaulannya lebih ganas dari sekolah biasa, menurut aku loh yaa, soalnya serem-serem ngeliat anak SMP udah ada yang dikeluarin gara-gara hamil.” “Hah? SMP hamil?” Genta syok, aku yang udah pernah diceritain Mia sih santai, udah tau soalnya. “Makanya kan? Pas lulus SMP dah lah, sekolah biasa aja.” “Eh tapi emang pesantren tuh ada dari SMP? Bukannya biasanya SMA?” tanya Genta. “Ih tempat aku sih ada, program mandiri 6 tahun sampe lulus SMA juga ada.” “Tapi gak ada yang anak SD kan?” “Kalau SD yayasannya buka sekolah biasa kok, Madrasah Ibtidaiyah.” jelas Mia. Aku tersenyum, seneng interaksi antara Genta dan Mia jadi banyak. Ketika kami selesai makan, Genta mengajak main dulu ke timezone, tapi sayangnya aku sudah ditelepon Mama. Disuruh pulang. “Kalian berdua aja deh ya?” kataku. “Ih gue balik juga deh, nanti kalo balik sendiri takut.” ucap Mia. “Yaudah kalo pada mau balik, ayok gue anter.” “Eh? Lo mau anter? Emang lo naik apa?” “Gue bawa mobil, ayok gue anter aja.” ajak Genta. “Yaudah yuk, gak apa kan Mi, balik?” aku memastikan. “Iya ayok, udah jam 7 juga, sedeng lah balik jam segini.” ucap Mia. “Yaudah Gen, gak apa lo nganterin? Soalnya rumah gue sama rumah Mia gak terlalu searah.” “Santai lah, sekalian gue ngehafal jalan.” Aku dan Mia mengangguk, lalu kami bertiga pun turun ke parkiran tempat Genta meninggalkan mobilnya. Berjalan dalam diam, aku dan Mia membuntuti Genta yang berjalan duluan di depan, sampai akhirnya ia berhenti di sebuah mobil jeep besar berwarna cream. Bukan mobil jeep yang familiar kita lihat di jalan tapi jeep yang gede banget itu loh, yang suka buat off-road gitu. “Siapa mau di depan?” tanya Genta. “Mia aja.” ucapku. “Ohh, okay!” Genta membuka pintu depan, karena tipe mobil dia nih cuma dua pintu jadi kalau mau duduk di belakang, ya kursi penumpang depan dimajuin dulu. Setelah Genta menggeser kursi ke depan, barulah aku masuk. Ketika aku sudah duduk aman di belakang, yang ternyata banyak barang kaya kunci-kunci gitu, baru lah Genta merapikan kursi depan, sehingga Mia bisa duduk. “Ini rumah siapa dulu yang paling deket?” tanya Genta ketika mobil sudah keluar parkiran mall. “Aku dulu deh, Gen. Barusan Ibuk juga chat nih suruh balik.” ucap Mia. “Yaudah Mi, rumah lo juga lebih deket dari sini.” kataku. “Okay, Mi. Tunjukin jalannya ya.” Mia mengangguk. Aku duduk di belakang dalam diam, membiarkan Mia menjadi navigatornya Genta. Sesekali aku melihat jalan, cek udah sampe mana. Dan tak lama kemudian, kami sampai di rumahnya Mia. “Duluan yaa!” “Siap Mi!” seruku. “Kalian hati-hati, makasi ya Gen udah traktir nonton sama makan.” “Eh iya, sama-sama Mi!” “Bye!” seru Mia lagi, dan ia pun turun dari mobil. Ketika Mia sudah masuk rumah, Genta memutar balik mobilnya. Kami berdua diam sampai di gerbang komplek rumah Mia, Genta menghentikan mobilnya. “Eh? Kenapa Gen?” tanyaku. “Lo gak mau pindah ke depan gitu?” “Duhhh, ribet gak sih? Lo kudu majuin kursi itu dulu?” “Loncat aja, bisa kan?” “Hemmm, pake sepatu gak apa nih injek jok mobil lo?” “Iya gak apa!” “Oke, oke!” Aku mencoba bangkit dari dudukku, lalu mengatur posisi sedemikian rupa supaya kakiku bisa kuangkat pindah ke bangku depan. Baru kaki sebelah mau napak, eh ankle ku keplitek, bikin aku hilang keseimbangan dan hampir nyungsep ke bagian depan, tapi untungnya Genta menahan tubuhku. Eh, gak untung deh.... ini tangannya dia kenapa nahannya di d**a? Tuhan!!! ****** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD