Hati Adrian benar-benar lega. Ia akhirnya bisa mendapatkan kucuran dana yang begitu besar dari Pedro yang secara sukarela membantu tanpa jaminan sama sekali. Ternyata mendiang papanya pernah melakukan hal yang sama pada Pedro ketika perusahaannya dilanda krisis keuangan dan itu benar-benar membantu Adrian untuk menyelesaikan semua masalahnya.
“Bagaimana, Adrian?” tanya Tomi penuh harap.
“Semuanya beres. Sebentar lagi dananya akan segera masuk. Om Pedro akan mengirimkannya kemari setelah itu atur semuanya sedemikian rupa dan selesaikan semua proyek itu secepat mungkin lalu pasarkan. Kita harus mengembalikan uang om Pedro, baru kita bisa melobi klien yang lain. Om Pedro juga merekomendasikan kita pada beberapa kliennya untuk membuat proyek baru dengan kita.”
Tomi bernafas lega. “Syukurlah! Ini benar-benar angin segar. Perusahaan ini akan selamat.”
“Aku juga benar-benar senang. setidaknya krisis ini akan segera teratasi.”
“Untung kita sudah merusak alat penyadap itu sehingga Vania tak akan tahu langkah kita selanjutnya. Terus, masalah Vania gimana?”
“Aku akan menemuinya, tapi aku ingin menemui Heri terlebih dahulu. Aku harus memberi pelajaran pada laki-laki sialan itu. Karena dia semua jadi begini. Karena dia aku bertemu dengan wanita itu dan karena wanita itu perusahaan ini hampir rata dengan tanah.” Adrian menggertakkan giginya geram.
Tomi mengerti. Sahabatnya harus meluapkan kekesalannya. “Pergilah! Setelah itu bersenang-senanglah! Kamu benar-benar sudah stres beberapa minggu ini.”
Adrian akhirnya bisa tersenyum. “Tumben kamu ngertiin aku.”
“Asal jangan main wanita aja!” tegur Tomi mengingatkan.
“Aku enggak janji. Aku sudah lama puasa dan semua itu gara-gara Vania. Gara-gara memikirkan perusahaan ini, aku bahkan puasa minum alkohol.”
“Terserah kamu. Aku ingatkan, mainlah dengan wanita klub malam saja! Jangan pernah menerima wanita-wanita hadiah dari orang lain! Jadikan pelajaran hidup kamu kalau orang di sekitar kamu bisa menjebak kamu sedemikian rupa,” saran Tomi bijak.
“Kamu benar. Aku tidak akan sudi merayu wanita di luar klub malam lagi. Sekedar untuk melampiaskan hasrat, untuk apa aku mau pilah-pilah wanita?” Adrian akan lebih berhati-hati ke depannya nanti.
“Coba dari dulu kamu mikir kayak gitu, pasti enggak bakal kayak gini,” cibir Tomi menyindir Adrian.
“Udah, deh, jangan bawel! Aku cabut dulu. Heri harus merasakan pukulanku terlebih dahulu sebelum aku menyeretnya menemui Vania agar dia bisa menjadi saksi kalau aku tidak terlibat sama sekali dengan penjebakan obat perangsang yang dilakukan olehnya.”
Tomi tersenyum, mempersilakan atasannya melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan. Dengan perasaan gembira, Adrian langsung bertolak menuju ke perusahaan Heri dan setibanya di sana, betapa terkejutnya Adrian melihat kacaunya perusahaan Heri.
Ketika ia sampai di ruangan Heri, Adrian melihat ruangan laki-laki itu, tak beda jauh dari ruangannya tadi sebelum dibereskan oleh para stafnya.
“Apa kabar, Heri?”
Heri yang saat ini penampilannya benar-benar kusut dengan rambut yang berantakan, sama sekali tidak menjawab sapaan dari Adrian.
“Kenapa? Kamu pusing?” ledek Adrian.
“Pergilah! Aku sedang tidak butuh teman saat ini. Aku tidak ingin bicara dengan siapa pun.”
“Kenapa? Kamu baru merasakan akibatnya, ya?” ledek Adrian senang.
“Akibat apa?” Heri menatap Adrian kesal.
“Kamu pikir aku bodoh apa? Kamu menjebakku, membuatku terlibat dengan Vania dan ujung-ujungnya perusahaanku hampir hancur lebur karenanya.”
“Kamu juga kena?” Dengan santai Heri balik bertanya.
Adrian seketika geram. “Juga kena? Santai sekali kamu bilang begitu. Kamu memang benar-benar kurang ajar, ya! Kamu yang memiliki masalah intern dengan Vania, tapi kenapa kamu mengajak-ajakku?”
“Aku tidak mengajak kamu. Aku hanya menghadiahkan sesuatu untukmu.” Heri tak merasa bersalah sama sekali pada Adrian, membuat CEO blasteran Italia itu emosi.
“Yang kamu hadiahkan itu adalah wanita perawan yang benar-benar menjaga prinsipnya selama ini. Akibatnya aku dikira bekerja sama denganmu. Kamu sudah tahu ‘kan bagaimana watak Vania karena kamu lebih mengenalnya dibanding aku? Perusahaanku hampir hancur dan semua itu gara-gara kamu.”
“Terus kamu mau apa?” sahut Heri cepat. Masalahnya lebih rumit sekarang sehingga ia tak mengindahkan celotehan Adrian lagi.
Darah Adrian naik ke ubun-ubun. Dengan santainya Heri menanggapi kemarahannya.
“Aku mau ini,” ujar Adrian melayangkan tinjunya ke wajah Heri.
Sejak tadi laki-laki tampan itu menahan geram. Ia langsung menyarangkan pukulannya pada Heri bertubi-tubi. Tak cukup sampai di sana, ia menendang kaki Heri, meninju perutnya beberapa kali hingga laki-laki paruh baya itu tersungkur ke lantai.
“Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu memukulku?” teriak Heri berusaha untuk bangkit saat Adrian berhenti memukulnya.
“Ini saja belum cukup, tahu kamu? Perusahaan yang didirikan oleh papaku setengah mati, hampir hancur gara-gara kamu. Kalau kamu tidak menghadiahkan Vania padaku, aku tidak akan mungkin diserang olehnya bertubi-tubi,” sembur Adrian berapi-api.
“Dia menyerangku, bukan menyerang kamu. Lihat! Perusahaanku juga sudah hancur. Aku sudah menjual asetku, tapi tetap tidak bisa menutup semuanya.” Heri tak mau disalahkan.
“Itu salah kamu kenapa bermain-main dengan wanita yang sudah kamu tahu persis kalau dia sangat cerdas dan berbahaya. Aku yang tidak tahu apa-apa jadi ikut kena imbasnya. Aku bersyukur kamu pailit karena kamu hampir membuat perusahaanku bangkrut juga.” Adrian meluapkan kekesalannya dan rasa syukurnya atas hancurnya perusahaan Heri.
“Aku tidak yakin kamu bisa bertahan. Vania benar-benar gencar. Relasinya benar-benar luas dan dia memiliki skill untuk melobi semua klien untuk mendekat padanya. Semua relasiku sudah menarik sahamnya. Perusahaanku hancur. Sebentar lagi perusahaan kamu juga akan hancur,” cibir Heri merasa mendapatkan teman yang akan hancur bersamanya.
“b******k!” Adrian kembali mengayunkan tinjunya ke wajah Heri bertubi-tubi membuat Heri meraung kesakitan.
“Hentikan! Kamu bisa membunuhku,” pekik Heri.
“Memang aku ingin membunuhmu. Namun, alangkah ruginya aku masuk penjara, sedangkan perusahaanku baru akan bangkit kembali.”
“Mana mungkin perusahaan kamu bangkit kembali,” celetuk Heri menyangsikan.
Adrian tertawa miring. “Kamu tidak tahu aku memiliki relasi yang tidak diketahui oleh Vania, sedangkan kamu tidak memilikinya, kan?”
Heri kesal hanya dirinya yang bangkrut di sini. “Keluar dari perusahaanku! Keluar atau aku akan panggilkan security!” usirnya lantang.
“Dengan senang hati. Satu yang kamu harus tahu, aku sudah mendapatkan bukti kamu membubuhkan obat perangsang di minuman Vania dan bukti kalau kamu memboyong Vania yang sedang mabuk, membawanya ke kamarku. Aku akan menunjukkan kepada Vania agar Vania semakin menghukum kamu.”
“Tidak ... jangan lakukan itu, Adrian! Tanpa kamu melakukan itu saja, perusahaanku sudah hancur. Kalau kamu memberikan bukti itu aku bisa diseret ke penjara.” Heri berlutut memegangi kaki Adrian, memohon agar tidak menambah masalah baru baginya.
“Kamu berpikir begitu? Aku rasa tanpa adanya bukti dariku juga Vania pasti berniat menjebloskan kamu ke penjara. Setahuku kamu itu memiliki masa lalu yang buruk,” sindir Adrian.
“Apa maksud kamu? Jangan bicara sembarangan, ya! Jangan menjelek-jelekkan aku!”
Adrian tertawa lebar. “Kita berdua kurang lebih sama. Hanya saja aku tidak sebejat dan selicik kamu. Aku tidak pernah membunuh seseorang,” tegas Adrian lantang.
Meskipun dalam hati kecilnya berdetak karena ia pernah tidak sengaja membunuh nyawa tidak berdosa. Semoga saja Vania tidak pernah menemukan kesalahannya di masa lalu di mana ia pernah meminta wanita yang sering tidur dengannya menggugurkan kandungannya.
Ia membubuhkan obat tidur di minuman wanita tersebut bertujuan untuk membawanya ke rumah sakit untuk mengadakan tes DNA karena ia tidak yakin bayi yang dikandung oleh wanita itu adalah bayinya, mengingat wanita itu bukan wanita baik-baik. Namun, sayang kandungan wanita itu begitu lemah. Obat tidur yang tidak tepat dosisnya tersebut malah membuat wanita itu pendarahan dan keguguran di depan matanya.
Adrian berharap semua itu terkubur dan tidak akan diketahui oleh siapa-siapa karena semuanya sudah tertutup dengan rapi. Wanita itu sudah ia berikan kompensasi yang begitu mahal dan tidak akan berurusan dengannya lagi. Semoga Vania juga tidak menemukan bukti-bukti tentang kejadian itu untuk menyerangnya lagi.
“Kamu jangan bicara sembarangan, ya!” geram Heri kesal.
“Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu pernah membunuh wanita yang kamu hamili, padahal kamu sudah punya istri?” skakmat Adrian telak.
Heri menggeram kesal. “Tidak usah sok suci, deh. Kamu juga pasti pernah menghamili wanita.”
“Bedanya aku tidak membunuh orang. Aku tidak seperti kamu. Para pebisnis seperti kita pasti sudah mengetahui keburukan masing-masing. Tinggal buktinya yang harus ditutup agar tidak diketahui oleh musuh. Meskipun aku tidak bisa mendapatkan bukti-bukti tentang hal ini, tapi aku tahu kamu pernah melakukan kejahatan kelam di masa lalu. Bagaimana juga dengan selingkuhan kamu, istrinya CEO Rendy?” sindir Adrian lagi.
“Kurang ajar! Bagaimana kamu tahu?” Heri membelalak tak percaya.
Adrian tergelak senang melihat Heri ketakutan. “Makanya kalau main itu yang rapi. Untuk kasus itu, aku sering melihat kamu tidur bersama istrinya Rendy. Kamu lupa kalau aku juga sering keluar masuk hotel dan klub malam. Aku sering melihat kalian check in berdua dan aku tahu persis apa yang kamu lakukan dengan istri orang.”
“b******k!?” Heri menggeram emosi.
“Laki-laki b******k seperti kita tidak usah saling mengejek, deh. Intinya aku tidak pernah melakukan kejahatan pembunuhan seperti kamu. Bahkan kamu tega menjebak seorang wanita suci untuk kamu jadikan alat,” desis Adrian kesal.
“Itu karena dia benar-benar mengesalkan. Dia selalu saja mencampuri urusanku—”
“Itu karena urusan kamu memang bermasalah. Kamu selalu saja menyalip klien orang dengan cara kotor. Sekarang kamu diberi pelajaran, kan? Vania menyerobot semua klien kamu. Kalau kami bersaing secara profesional, tidak menggunakan cara licik seperti kamu yang selalu menyerang musuh menggunakan hasutan, juga menyebar rumor-rumor tidak bagus membuat para klien mundur. Apa kamu pikir aku tidak tahu soal itu?” potong Adrian lantang.
“Sialan!” Heri berniat memukul Adrian, tapi Adrian langsung menangkis tangannya lalu memuntirnya, membuat Heri menjerit kesakitan.
“Terimalah nasibmu! Bukan hanya perusahaan kamu yang akan hancur, sebentar lagi kamu akan masuk ke dalam penjara. Bukti ini akan aku berikan pada Vania walau aku yakin Vania juga sudah mendapatkan bukti-bukti yang jelas tentang kebusukan kamu, tentang pembunuhan yang kamu lakukan. Bersiap-siaplah membusuk di penjara, Sialan!”