Menemukan Alat Penyadap

1644 Words
Kepala Adrian benar-benar serasa mau pecah, tidak bisa menemukan solusi dari permasalahan yang sedang ia hadapi. Stafnya pun sudah menyerah, tinggal menunggu waktu, perusahaan akan benar-benar hancur. Beberapa minggu ke depan ia tidak akan mampu menggaji para karyawan lagi. Semuanya akan benar-benar kacau balau membuat Adrian sudah tidak sanggup lagi berpikir. Laki-laki gagah itu pun mulai mengamuk, melempar semua barang-barang yang ada di dalam ruangannya, menjerit sepuas-sepuas-puasnya, menendang semua yang bisa ia tendang, memukul semua yang bisa ia pukul, melempar semua dokumen hingga berhamburan ke lantai. Tomi pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain membiarkan atasannya melampiaskan semua amarahnya karena ia pun benar-benar sudah menyerah. Yang dibutuhkan oleh perusahaan Adrian saat ini adalah kucuran dana, sedangkan kucuran dana itu tidak akan bisa didapatkan kalau semua klien yang didekati oleh Adrian selalu lebih dahulu diserobot oleh Vania. “Dasar wanita sialan! Wanita kurang ajar. Aku benar-benar menyesal tidur dengan wanita b******k itu. Kenapa dia begitu kejam menghancurkan perusahaanku?” teriak Adrian. Tomi tidak bisa membela salah satu pihak, tapi lebih memahami perasaan dari kedua kubu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi, Vania memang keterlaluan menghancurkan perusahaan yang sudah didirikan oleh mendiang papa Adrian. Namun, di sisi lain Tomi juga tidak bisa berkata apa-apa karena hal yang dijaga oleh seorang wanita suci benar-benar sudah diobrak-abrik oleh Adrian, membuatnya benar-benar murka. Yang ia tidak pernah sangka, Vania ternyata benar-benar wanita yang luar biasa, luar biasa pendendam. Adrian terus meluapkan emosinya hingga akhirnya ia kelelahan dan dalam kelelahannya, tiba-tiba ia terpikir sesuatu yang akhirnya membuatnya bisa menemukan apa yang terjadi dalam perusahaannya. “Tunggu ... tunggu! Sebentar ....” “Ada apa? Sudah puas ngamuknya? Udah capek?” sindir Tomi mendekati Adrian yang sepertinya sudah mulai lelah. “Maksud kamu apa? Kamu tahu aku benar-benar pusing, kan? Hanya ini yang bisa aku lakukan,” omel Adrian sewot. “Biasanya kamu minum-minum di klub bersama Sammy, sahabat kamu,” sindir Tomi lagi. “Apakah minum bisa menyelesaikan masalah?” sembur Adrian kesal. “Coba dari dulu kamu berpikir kayak gitu?” cibir Tomi. “Sudahlah! Jangan membuatku tambah emosi, Tomi!” “Terus mau kamu apa?” tanya Tomi kembali serius. “Aku baru saja mendapatkan sebuah pencerahan. Bagaimana mungkin Vania mengetahui apa yang akan kita lakukan? Bagaimana dia mengetahui setiap langkah yang mau kita ambil?” ujar Adrian. Tomi berpikir sejenak, kemudian mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Adrian barusan. “Iya, juga, ya? Seolah-olah Vania mendapatkan informasi langsung dari perusahaan kita.” “Itu maksudku,” seru Adrian menjentikkan jarinya. “Dia pasti mengirim seseorang kemari untuk memata-matai apa yang kita lakukan. Tidak mungkin setiap langkah yang mau kita ambil pasti diserobot duluan olehnya.” “Kamu benar, Adrian.” Tomi sependapat. “Sekarang juga suruh security kita menggeledah perusahaan. Temukan orang yang menyelusup di perusahaan ini, bahkan temukan alat-alat yang mungkin saja dipasang oleh Vania di dalam perusahaan!” titah Adrian. “Maksud kamu?” “Bukan tidak mungkin dia memasang alat penyadap, alat pengintai atau apalah itu untuk memata-matai perusahaan kita ‘kan sehingga dia bisa mengetahui rencana yang akan kita ambil?” tebak Adrian yakin. “Astaga! Kenapa aku nggak mikir sampai ke sana, ya?” “Karena fokus kita ada pada klien. Kita berkutat pada rekan-rekan bisnis yang bisa membantu perusahaan ini agar tidak tumbang, jadi kita tidak fokus ke masalah internal.” “Kamu benar. Aku akan perintahkan semua staf keamanan kita memeriksa seluruh penjuru perusahaan.” Tomi segera menghubungi kepala tim keamanan. Dan hasilnya benar-benar mencengangkan kala ia mendapati dua buah alat penyadap di ruangan Tomi dan di ruangan Adrian yang ditemukan oleh security mereka. “Astaga, wanita itu memang benar-benar gila! Kapan dia memasang kedua alat ini? Ini ilegal namanya.” Adrian tak percaya. “Ini memang ilegal, tapi kita tidak bisa menuntut Vania karena kita tidak punya bukti.” Tomi menjelaskan. “Dia benar-benar tidak waras,” seru Adrian tak habis pikir. “Dia benar-benar cerdas, Adrian. Untuk menjatuhkan sebuah perusahaan, tentu harus menggunakan alat ini sehingga setiap langkah yang akan diambil oleh perusahaan yang akan dia serang tidak bisa berkutik lagi. Artinya Vania menjatuhkan semua lawan-lawannya menggunakan taktik ini. Dia memiliki seorang tangan kanan yang mengetahui persis soal IT. Itu bisa dipastikan.” “Gila! Padahal dia perusahaan nomor empat di negara ini, bisa-bisanya dia—” “Sudah bilang dia melampaui sang papa, Pak Hadinata. Itu sebabnya dia memilih CEO cantik itu untuk menggantikan dirinya, bukan mendaulat anak sulungnya yang bernama Reza,” jelas Tomi memotong ucapan atasannya. “Dia punya seorang kakak?” Adrian mengernyit heran. “Kenapa bukan kakaknya yang jadi CEO?” “Kakaknya seorang dokter kandungan. Kakaknya sejak awal menyerah, tidak ingin mengambil alih perusahaan Hadinata. ia lebih memilih passionnya sebagai dokter kandungan.” Tomi menambahkan. “Apa pun itu, Vania adalah wanita yang benar-benar berbahaya. “Aku tidak peduli soal itu. Aku harus menemui Vania sekarang juga,” tekad Adrian. “Yang terpenting bukan menemui Vania. Kalau menurutku, kamu harus cari cara bagaimana memberi angin segar alias kucuran dana di perusahaan ini. Itu yang lebih penting. Setidaknya kita sudah menemukan dua alat penyadap ini. Ke depannya Vania tidak akan tahu apa yang terjadi dalam perusahaan ini lagi. Amankan saja perusahaan kita agar tak ada penyusup lagi!” saran Tomi. “Kamu benar. Segera perketat keamanan! Aku akan berpikir sejenak apa yang harus aku lakukan.” Lagi-lagi Tomi memerintahkan stafnya untuk memperketat keamanan, menjaga pintu keluar dan masuk perusahaan agar tidak sembarangan orang bisa masuk lagi karena Tomi yakin setelah ini Vania masih akan berusaha menerobos ke dalam perusahaan. Adrian memijat pelipisnya, berpikir keras siapa yang kira-kira bisa membantu mengucurkan dana yang cukup besar untuk membiayai sepuluh proyek di perusahaannya. Semua relasinya sudah diserobot oleh Vania. Reputasi perusahaannya juga sudah rusak. Di tengah keputus-asaannya Adrian mengingat seseorang yang tidak akan mungkin terjangkau oleh Vania. “Perusahaan ini akan baik-baik saja, Tomi.” “Ya, aku harap begitu, tapi ‘kan nyatanya—?” “Aku akan minta tolong sama Om Pedro,” tegas Adrian optimis. “Siapa dia? Kok, aku nggak kenal.” Tomi mengernyitkan dahinya. “Kamu nggak bakal kenal. Om Pedro adalah sahabat papa yang tinggal di Italia. Papa pernah memperkenalkanku dengannya. Aku juga pernah menginap di rumahnya di Italia. Tidak mungkin om Pedro tidak mau membantu meminjamkan uang padaku. Aku akan mengembalikannya setelah sepuluh proyek itu selesai dan berhasil dipasarkan. Bila perlu aku akan menggadaikan perusahaan ini sebagai jaminan agar om Pedro yakin menggelontorkan uang untuk perusahaan ini.” “Baguslah! Kalau bisa segera hubungi dia, Adrian. Perusahaan ini tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.” Adrian mengerti. Ia buru-buru menekan nomor telepon Pedro, kemudian menoleh sekilas pada sekretaris plus sahabat karibnya, meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. “Perusahaan papaku tetap akan berdiri. Aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa jika om Pedro sudah turun tangan.” *** “Nick, kenapa aku tidak bisa mendengar percakapan mereka lagi? Kenapa aku tidak bisa mendengarkan percakapan yang ada di ruangan Adrian dan juga Tomi lagi?” tanya Vania merasa aneh. Ia mendengarkan percakapan Adrian dan para stafnya beberapa waktu lalu dan tahu persis kalau Adrian mengamuk di ruangannya, membuatnya puas. Setelah itu Vania pergi membeli kopi dan camilan lalu setelahnya ia tak mendengar apa pun lagi. “Yang bener? Coba aku periksa!” ujar Nick mencoba memeriksa apa yang terjadi pada alat penyadap yang ia pasang dan sesaat kemudian pria tampan itu tahu apa yang terjadi. “Sepertinya mereka sudah menemukannya, Vania.” “Hah, kok, bisa? Aku tadi hanya mendengar dia mengamuk dan membanting semua barang-barang yang ada di sana. Masa alat penyadap itu ikut kebanting, Nick?” tanya Vania tak percaya. “Aku rasa tidak. Alat itu pasti ditemukan oleh mereka. Pasti mereka menyadari ada yang aneh.” “Maksud kamu?” “Mereka pasti mulai menelaah lebih jauh kenapa kamu bisa merebut semua klien mereka, sedangkan lima orang klien b******k itu baru saja ditemukan oleh Adrian kemarin dan kamu langsung bisa melobinya sepenuhnya. Otomatis mereka bisa curiga.” “Gawat! Bagaimana ini?” Vania sedikit panik. “Tenang saja! Aku akan memerintahkan anak buahku untuk memasang alatnya kembali.” Nick menenangkan. “Itu beresiko, Nick. Mereka pasti sudah antisipasi sekarang.” “Kita lihat keadaan.” “Kalau kamu tidak bisa memasangnya kembali, bagaimana kita bisa menghancurkan perusahaannya?” Vania sedikit pesimis. “Aku akan mencari cara lain untuk menghancurkan Adrian, bukan melalui perusahaannya.” Vania semakin tak mengerti. Gadis itu sontak mengernyitkan alisnya. Nick tertawa lalu menyentil pelan alis sahabatnya. “Kok, serius banget, sih?” “Isssh, aku benar-benar menanti jawaban dari kamu, Nick! Sejak kejadian itu, aku memang jadi serius banget, nggak bisa main-main dan ceria lagi,” omel Vania menepis tangan sahabatnya dari keningnya. Nick tersenyum lembut. “Kamu rileks aja, Vania. Aku akan membantu kamu sampai tuntas. Sama seperti Heri, Adrian pasti memiliki masa lalu gelap. Aku akan menggali semuanya untuk kamu. Aku pastikan dia akan hancur kurang lebih sama seperti Heri.” “Bagus, ini yang aku mau, Nick. Kalau sampai kamu tidak berhasil menyusup ke sana lagi, hanya itulah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan. Awalnya aku ingin melihat kehancuran perusahaannya dulu, baru mengirimnya ke penjara, tapi tampaknya dia harus masuk ke penjara bersamaan dengan Heri karena mereka berdua sama-sama b******k,” ujar Vania berapi-api. “Serahkan semuanya padaku! Aku akan langsung menyelidikinya sekarang juga. Aku yakin seratus persen, kita akan segera menemukan borok dari Adrian Marchetti. Jangan terkejut saja mengetahui kebusukan dari laki-laki sialan itu, Vania!” tandas Nick yakin. “Aku tidak akan terkejut, Nick. Aku sudah bisa membayangkan apa saja yang dia lakukan. Kemungkinan kurang lebih sama seperti yang dilakukan Heri.” “Bisa saja. Aku juga berasumsi demikian.” “Oke, berikan padaku buktinya secepatnya! Semakin cepat bukti itu ada padaku, semakin cepat aku bisa melaporkannya ke polisi. Dengan demikian bukan hanya perusahaannya yang hancur lebur, orangnya pun akan ikut hancur berkeping-keping di tanganku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD