Penyerobotan Vania

1369 Words
Adrian benar-benar geram. Setelah ia mendapatkan bukti-bukti video CCTV dari Hotel Diamond, ia langsung bertolak menuju ke perusahaan Vania. Sayangnya Vania tidak ada di tempat. Hingga sore ia menunggu di lobi perusahaan, tapi Vania tidak kembali ke perusahaannya. Adrian bahkan minta nomor telepon Vania, sayangnya ketika Adrian menghubunginya dan memberitahukan kalau dirinya adalah Adrian Marchetti, nomornya langsung diblokir oleh wanita tersebut. Adrian tak patah arang. Ia berusaha menghubungi Vania dari lobi dan ketika Vania mengetahui kalau dirinya yang berbicara, CEO cantik itu pun langsung menutup panggilannya. Benar-benar wanita sialan. “Kenapa begitu sulit berkomunikasi dengannya, sih? Kenapa dia begitu keras kepala?” gumam Adrian kesal. Pada akhirnya Adrian pusing memikirkan cara untuk menemui Vania. Ia pun pulang dan berusaha untuk tidur, tapi sia-sia. Hampir semalaman ia terjaga, memikirkan cara menemui dan membalas Vania hingga tak sadar hari sudah menjelang pagi. Adrian terpaksa melupakan Vania untuk sementara waktu. Fokusnya kembali ke perusahaan, sekaligus ingin mengetahui apa yang terjadi dengan lima orang calon klien nakal yang akan membantu 10 proyek apartemen, resort yang sedang ia garap. Tak mengindahkan lingkaran matanya yang menghitam karena memikirkan cara untuk mengalahkan Vania, Adrian pun pergi ke perusahaannya. Namun, bukan perasaan senang yang ia dapatkan ketika ia tiba di perusahaan, tapi sebuah berita buruk tepat ketika ia masuk ke dalam ruangannya di mana Tomi, Fikri, Ana juga Feri sudah menunggu dengan raut cemas di sana. “Ada apa lagi ini? Tidak bisakah kalian menyambutku dengan wajah senang? Jangan katakan kalau terjadi sesuatu kemarin ketika aku meninggalkan perusahaan?” “Memang terjadi sesuatu yang besar, Pak.” Fikri membuka pembicaraan. “Apa lagi?" tanya Adrian kesal. Calon investor yang sudah anda sarankan itu tidak mau menerima kerja sama dari kita. Sekuat tenaga kami berusaha meyakinkan mereka, tapi mereka tetap tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kita.” Fikri menjabarkan. “Apa!? Tidak mungkin. Itu tidak mungkin.” Adrian tak percaya. “Itu benar, Pak. Bahkan saya beserta manajer Fikri sudah menawarkan penawaran yang gila-gilaan. Kami menawarkan keuntungan 80 persen, tapi mereka tetap tidak mau.” Ana ikut menambahkan. “Apa yang terjadi di sini? Apa kamu tahu yang terjadi, Tomi?” Adrian bertanya. “Seperti biasa, Vania pasti sudah menghasut mereka berlima dan menunjukkan bukti-bukti yang buruk tentang perusahaan ini sehingga mereka berlima tidak mau bekerja sama,” tebak Tomi lelah. “Dari mana kamu tahu itu?” tanya Adrian heran. “Aku mewawancarai mereka berlima langsung setelah manajer Fikri dan Sekretaris Ana ke sana dan tidak mampu melobi mereka. Aku akhirnya turun tangan berusaha meyakinkan kalau perusahaan kita baik-baik saja, kita masih punya proyek-proyek besar yang bisa menguntungkan dan tidak akan terjadi apa-apa pada perusahaan ini, tapi tetap saja lima orang itu tidak percaya. Mereka malah menjelaskan kalau mereka lebih memilih bekerja bersama dengan Vania,” tambah Tomi lagi. “Ini tidak masuk akal,” ujar Adrian geleng kepala. “Aku juga tidak percaya kalau Vania mampu melobi perusahaan lima CEO b******k itu, mengingat Vania tidak suka dengan laki-laki nakal alias laki-laki murahan seperti kalian.” “Nggak usah menghinaku, ya?” sembur Adrian emosi. “Itu fakta. Tidak usah emosi, itu kenyataan. Pada kenyataannya Vania begitu dendam padamu dan rela mendatangi lima orang b******k itu, bahkan memberikan penawaran yang fantastis, membuat mereka berlima tidak lagi menoleh ke arah kita. Ini benar-benar gawat, Adrian. Sebentar lagi perusahaan kamu benar-benar akan hancur.” “Tidak ... aku tidak boleh membiarkan itu terjadi. Tidak boleh.” Adrian menyugar rambutnya kasar dan meraup wajahnya berkali-kali. CEO tampan itu benar-benar stres bukan main sekarang. Yang ada dipikirannya saat ini adalah kehancuran perusahaannya pelan-pelan dimulai dari seminggu hingga dua minggu ke depan dan seterusnya perusahaan ini akan dilelang. Adrian akan kehilangan satu-satunya mata pencahariannya, satu-satunya warisan dari sang papa yang didirikannya setengah mati. “Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kalian harus membantuku. Kalian harus membantu agar perusahaan ini setidaknya bertahan dan tidak pailit. Aku tidak mau perusahaan warisan papa ini hancur berkeping-keping. Aku tidak mau ...” jerit Adrian. “Sudah terlambat kamu mengatakan itu. Seharusnya sebelum kamu meniduri Vania, kamu pikirkan lagi apa yang akan terjadi,” tandas Tomi kesal. “Sudah kubilang aku tidak tahu kalau dia Vania.” “Kalau dia bukan Vania, kalau ternyata dia adalah anak seorang presiden atau anak seorang menteri, kamu juga akan mengalami hal yang sama. Intinya nafsu birahi kamu menghancurkan bisnis kamu sendiri. Semoga ini bisa menjadi pelajaran yang telak untuk kamu, Adrian. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Lawan kita bukan lawan biasa,” pungkas Tomi realistis. Adrian memegangi kepalanya yang serasa mau pecah sambil menggeram frustrasi. “Aku tidak bisa membiarkan ini ... tidak ....” *** Vania tertawa terbahak-bahak di dalam ruangannya mendengar keluh kesah serta stresnya orang-orang di perusahaan Adrian lewat ponsel yang terhubung ke alat penyadap di ruangan CEO nakal tersebut. Kemarin, seharian penuh ia berkeliling melobi lima CEO b******k yang dimaksud oleh Adrian dan berhasil memberikan penawaran yang fantastis yang tidak merugikan sama sekali. Hanya saja ia benar-benar jengah karena lima orang laki-laki itu memang laki-laki mata keranjang. Mereka berlima memindai seluruh tubuhnya kala meeting bersama kemarin. Namun, Vania tidak peduli. Yang penting ia bisa menghancurkan Adrian. Ia rela bernegosiasi dengan lima buaya darat didampingi oleh Nick dan juga manajer Rully. “Selamat, Bu Vania. Sebentar lagi perusahaan itu akan hilang dari peredaran.” “Aku benar-benar senang, Rully. Aku benar-benar bahagia.” Nick yang berada di sana pun ikut gembira melihat keceriaan sahabatnya. “Aku juga turut bahagia mendengar berita bagus ini, Vania.” “Itu semua karena bantuan kamu, Nick. Kalau bukan karena bantuan kamu, aku tidak akan mungkin sampai ke sini. Ada gunanya aku menjadikan kamu tangan kananku. Bahkan aku akan mengangkatmu jadi sekretarisku mulai saat ini. Kamu akan aku beri gaji bulanan, juga aku kasih bonus ketika kamu membantuku menyelidiki semua kasus dan masalah terkait musuh-musuh perusahaan.” “Dengan senang hati aku akan menerimanya,” sahut Nick riang. “Selama ini aku tidak pernah menerima sekretaris di perusahaan hanya mengandalkan manajer Rully dan para staff yang lain karena aku bisa mengandalkan kamu meskipun kamu tidak secara khusus bekerja di perusahaan ini. Namun, semakin kemari semakin ke sini kinerja kamu semakin bagus. Orang seperti kamu tidak boleh dibiarkan begitu saja di luar sana. Kamu harus diberi naungan agar kamu bisa menjadi orang yang sukses, Nick.” “Thanks, Vania. Tanpa bekerja di sini pun aku sudah sukses gara-gara kamu.” Vania menggeleng pelan. “Bukan karena aku, tapi karena kecerdasan kamu dan kesetiaan kamu padaku.” Rully mengangguk setuju. Nick memang benar-benar memberikan sumbangsih yang besar pada perusahaan. “Saya senang mendengarnya. Memang sudah sewajarnya Anda didampingi oleh sekretaris yang bisa melakukan apa saja dengan kecerdasannya dan kesetiaannya seperti Pak Nick, Bu Vania.” “Benar, Rully. Sekarang kamu fokuslah dengan sekretaris kamu untuk mengatur dan mengawasi semua proyek yang sudah aku rebut dari Adrian! Kalau kamu mengalami kendala dan kekurangan staf, kamu boleh merekrut yang baru. Semuanya aku serahkan padamu. Urusan melobi klien biar aku dan Nick yang akan melakukannya.” “Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi.” Vania mempersilahkan Rully kembali ke ruangannya karena harus mengurus hal-hal penting yang sudah ia handle, yaitu proyek apartemen, mall, hotel dan juga taman bermain yang sudah ia rebut dari Adrian. Ini adalah waktunya menikmati kesengsaraan dari dua perusahaan yang sudah ia hancurkan. Perusahaan Heri tinggal menunggu waktu serta perusahaan Adrian yang akan hancur sebentar lagi. “Apa kamu puas?” tanya Nick menelisik isi hati sahabatnya. “Aku sangat puas, meskipun Hati kecilku merasa benar-benar pilu karena dengan menghancurkan dua perusahaan itu pun, aku tetap tidak bisa mendapatkan kehormatanku kembali.” Nick menepuk pundak sahabatnya. “Kamu tetap wanita terhormat karena kamu tidak melakukan itu dalam keadaan sengaja.” “Iya, sih, tapi aku tidak yakin ada pria yang mau menerimaku lagi, Nick.” Vania merasa insecure. “Siapa bilang? Akan ada banyak pria yang mau menerima kamu apa adanya. Kecerdasan kamu, status dan kehebatan serta kepiawaian kamu memimpin perusahaan akan membuat laki-laki jatuh cinta dan tidak akan peduli dengan masa lalu kamu. Fokus saja ke depan, Vania! Aku akan selalu mendukung kamu.” Vania tersenyum lembut menatap sahabat tampannya, merasa memiliki kekuatan. “Makasih sudah membersamaiku selama ini, Nick. Teruslah bantu aku memajukan perusahaan dan menghancurkan musuh-musuh kita!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD