Cukup lama Adrian berpikir hingga rasanya kepalanya hampir pecah untuk mencari solusi perusahaan yang sebentar lagi akan bangkrut habis tak tersisa. Dalam waktu seminggu hingga dua minggu ke depan sudah dipastikan perusahaannya hanya tinggal nama saja. Mau tidak mau Adrian harus terus memutar otaknya, bagaimana cara mempertahankan perusahaannya, setidaknya mencegah terjadinya PHK massal.
Ia tahu staf eksekutif kepercayaannya sudah benar-benar pusing memikirkan solusinya. Kini waktunya Adrian menggunakan otak cerdasnya, otak yang diwariskan oleh sang papa di mana mendiang papanya tersebut benar-benar giat mendirikan sebuah perusahaan hingga besar seperti sekarang. Akhirnya Adrian mendapatkan sebuah ide yang sebenarnya tidak begitu menguntungkan, tapi bisa menyelamatkan perusahaannya.
“Hubungi lima orang ini secepatnya!” ujar Adrian sambil mengeluarkan lima buah kartu nama dari dompetnya.
“Siapa mereka, Pak?” tanya Fikri, manajer utama.
Adrian langsung menyebutkan lima orang yang ia kenal di mana lima CEO ini tidak akan mungkin menolak kerja sama dengannya meskipun tahu kalau dirinya adalah laki-laki nakal, pemain wanita. Itu karena lima orang ini memiliki sifat yang sama sepertinya.
Bahkan ada yang sudah memiliki istri, tapi masih suka main wanita. Kelimanya memiliki kehidupan yang bebas sama sepertinya.
“Yang benar saja? Masa ngehubungi lima orang ini, sih?” protes Tomi tak setuju. “Mereka ini benar-benar b******k, Adrian. Tak ada bedanya sama kamu.”
“Meskipun lima orang ini b******k, tapi mereka memiliki bisnis yang bagus. Mereka tidak akan mempermasalahkan rumor yang melanda perusahaanku,” tandas Adrian.
“Masalahnya mereka berlima adalah CEO yang licik dan licin, juga tidak mau rugi,” seru Tomi sedikit keberatan dengan usul atasannya.
“Justru itulah aku memilih mereka. Saat ini tidak usah memusingkan masalah keuntungan. Yang jelas kita harus mempertahankan perusahaan ini agar tidak ada satu orang pun yang di-PHK di sini dan proyek yang sudah kita bangun bisa berjalan dengan baik.”
“Maksud kamu apa, Adrian?” tanya Tomi diiringi tatapan penasaran dari Fikri, Ana dan juga Feri yang sejak tadi menyimak juga ikut memikirkan bagaimana cara mencari solusi yang terbaik untuk mengatasi semua permasalahan yang terjadi di perusahaan tersebut.
Adrian kemudian menjelaskan kalau lima orang yang ia maksud pasti mau diajak bekerja sama jika mereka memberikan keuntungan yang besar. Bahkan Adrian rela memberikan keuntungan 70 persennya untuk lima investor tersebut, sedangkan 30 persen untuk perusahaan.
Setidaknya 10 proyek itu akan selesai dan bisa dipasarkan sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan untuk mendanai proyek-proyek lain yang mangkrak yang ditinggalkan oleh para investor. Proyek yang sudah dimulai yang sudah mengeluarkan banyak uang tersebut tetap harus dijalankan, meski ada atau tanpa klien sekalipun.
“Idenya cukup bagus, Pak. Meskipun ini benar-benar berat bagi perusahaan kita, tapi setidaknya itu masih memberikan keuntungan meskipun cuma sedikit. Setidaknya perusahaan masih bisa selamat.” Feri menyetujui usul CEO-nya.
Tomi menghela nafas panjang lalu memerintahkan pada Fikri dan juga Ana untuk menjalankan semua yang diperintahkan oleh Adrian. Mereka harus segera menghubungi lima orang itu dan mengatur janji serta menyisipkan informasi untuk memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya pada lima CEO tersebut juga memberi perintah pada manajer keuangan untuk mengatur semua laporannya sebaik-baiknya.
“Bagus! Mudah-mudahan rencana kita ini akan berjalan lancar dan tidak akan didahului oleh Vania lagi.” Adrian berharap.
Tomi menimpali. “Mudah-mudahan saja. Kalau menurutku Vania tidak akan mungkin tahu dan tidak akan mau terlibat dengan lima orang laki-laki nakal itu. Biar bagaimanapun juga lima CEO yang kamu kenal ini adalah tipikal laki-laki maniak wanita. Vania pasti tidak mau berurusan dengan laki-laki b******k seperti mereka berlima. Setidaknya ini memberikan keuntungan pada kita untuk melobi lima orang ini tanpa gangguan Vania sama sekali."
Adrian tersenyum puas. “Benar, aku yakin perusahaan akan baik-baik saja.”
Adrian lalu pamit pada stafnya. “Aku pergi dulu. Aku mau mencari celah untuk mengancam balik Vania.”
“Kamu mau ke mana? Bukannya Kamu harusnya berada di perusahaan? Sewaktu-waktu ada wartawan yang akan mewawancarai kamu dan kamu harus menyangkal semuanya. Jangan tinggalkan kami sendiri! Kami juga akan sibuk mengurus lima orang tadi,” cegah Tomi.
“Wakilkan saja pada staf kita! Tegaskan kalau semua itu tidak benar. Tangkis semua rumor buruk tentangku dan tetap pertahankan reputasi perusahaan ini sebaik-baiknya!”
“Kamu mau ke mana?” tanya Tomi lagi.
“Aku akan beritahu nanti kalau sudah selesai semuanya. Aku tidak bisa beritahu sekarang karena ini belum pasti. Aku akan kembali besok pagi.”
Adrian meninggalkan perusahaan tujuannya ke Hotel Diamond, hotel di mana ia menghabiskan waktu dengan Vania semalam suntuk, mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari seorang wanita perawan yang meninggalkan kesan tersendiri di hatinya. Perasaan antara puas juga sakit hati berbaur menjadi satu.
Dirinya puas karena ia tidak pernah mendapatkan kesenangan seperti itu dari wanita mana pun, tapi juga kesal dan sakit hati karena gara-gara itu perusahaannya jadi taruhannya. Ia harus mendapatkan sebuah bukti yang menunjukkan kalau dirinya tidak terlibat sama sekali dengan Heri.
“Semoga saja Vania tidak sampai mencari informasi soal ini terlebih dahulu. Semoga saja Vania fokus untuk menghancurkan perusahaanku saja,” gumam Adrian.
Laki-laki berparas tampan itu akan fokus untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya malam itu sehingga ia bisa menggunakan itu untuk mengancam balik Vania agar kalian berhenti menyerang perusahaannya.
“Aku harus meminta salinan rekaman CCTV di sekitar kamar tempatku menginap waktu itu. Pasti ada bukti kalau Heri benar-benar menjebakku. Setelah aku menemukan bukti itu, aku akan membuat perhitungan pada Heri dan langsung menemui Vania agar menghentikan semua serangannya pada perusahaanku.”
Tanpa membuang waktu, Adrian segera mengunjungi hotel tempat ia biasa menginap dan dengan relasinya yang cukup baik di mana ia memang sering menginap di hotel itu, bahkan sering menyewa ruangan-ruangan di hotel tersebut untuk kepentingan perusahaannya, membuatnya dengan mudah bisa mendapatkan salinan CCTV di dua tempat di area sekitar kamarnya tempat ia menginap dengan Vania waktu itu, juga di Venue tempat pesta yang dihadiri oleh Vania.
Adrian baru menyadari kalau dirinya adalah bagian dari pesta tersebut karena diundang oleh salah satu relasinya dan betapa terkejutnya Adrian ketika mendapati kenyataan bahwa wanita yang ia sentuh berkali-kali, wanita yang sudah ia rebut keperawanannya, ternyata adalah wanita baik-baik. Terbukti saat ia melihat rekaman CCTV di mana Heri membubuhkan sesuatu di minuman dan minuman itu memang sudah diatur sedemikian rupa agar Vania mengambilnya saat lengah ketika sedang berbincang-bincang dengan relasinya.
Semua kronologi kejadian di mana Vania ikut melangkah bersama Heri itu kebohongan belaka. Yang sebenarnya terjadi Heri yang memapah Vania ke kamarnya dan karena pengaruh obat perangsang, wanita itu bertindak bukan sesuai dengan kesadarannya. Malam itu bukan Vania yang menawarkan diri pada Heri, tapi Heri yang menjebak Vania dan membawanya ke kamarnya, menyerahkannya bulat-bulat padanya.
“Astaga! Wajar Vania benar-benar murka pada Heri dan aku. Namun, biar bagaimanapun, aku juga korban di sini,” gumam Adrian di dalam mobilnya sesaat setelah berhasil mendapatkan salinan CCTV hotel.
Walaupun kenyataannya Heri yang bersalah, tidak bisa ditampik, dirinya juga tidak berpikir jernih malam itu, malah mengulangi permainan panas dengan wanita itu berkali-kali, padahal Vania kala itu tidak sadar sama sekali dengan apa yang dia lakukan.
“Apa pun itu aku akan membawa rekaman CCTV ini dan menunjukkannya pada Vania. Semoga saja Vania mengerti kalau aku juga korban di sini.”