Barang-barang di apartemen Adrian, terutama di kamarnya sudah berhamburan di lantai. Saking pusingnya Adrian dan tidak tahu bagaimana cara melampiaskan kemarahannya, membuat pria tampan itu mengamuk di kamarnya. Itu karena masalah yang dihadapi olehnya bukan masalah kecil.
Perusahaannya sebentar lagi akan hancur lebur di tangan seorang wanita yang memberikannya kepuasan luar biasa. Sayangnya wanita itu tidak berkenan dengan apa yang ia lakukan meskipun malam itu Adrian yakin mereka berdua sama-sama menikmati karena wanita itu benar-benar liar dan nakal.
Hingga sekarang pria blasteran Italia itu masih bisa merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan pada wanita mana pun seumur hidupnya. Tapi semua rasa itu sirna kala mengingat betapa kejamnya wanita yang bernama Vania Emilia Hadinata yang sebentar lagi sukses menghancurkan perusahaan warisan papanya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Adrian bingung.
Adrian pusing dan kehilangan kegembiraannya. Kenikmatan hidup Adrian sebagai casanova sirna. Biasanya Adrian akan menghabiskan waktunya di klub langganannya, tapi kali ini ia benar-benar tidak mood untuk main ke sana.
Itu karena ketika ia sudah sampai di klub malam, Adrian pasti akan mabuk dan main wanita, sedangkan sekarang ia tidak mampu melakukannya karena kekhawatirannya akan hancurnya perusahaannya jauh lebih besar dibandingkan menuruti hawa nafsunya.
Dalam kegalauannya, suara ponsel yang ada di dalam saku celananya pun berbunyi, membuatnya sontak mengangkat panggilan tersebut, mengira itu dari stafnya. Saat ini semua staf di perusahaannya pasti benar-benar sangat pusing. Meskipun sudah di rumah, Adrian yakin mereka semua sedang merasa gusar karena sebentar lagi semua urusan perusahaan akan kacau balau.
“Oh, Sammy ternyata! Kenapa dia menghubungiku?” gumamnya pelan.
Adrian malas menerima panggilan dari sahabatnya yang adalah seorang pemilik klub malam, tempatnya menghabiskan malam-malam panasnya selama ini.
Namun, karena sahabatnya tersebut cukup gigih menghubunginya berkali-kali, mau tidak mau Adrian akhirnya menerima panggilan suara dari sahabatnya tersebut.
“Ngapain nelpon? Aku lagi nggak mau ke klub.”
“Tumben. Biasanya tiap malam kemari.”
“Aku punya masalah besar yang harus aku selesaikan sehingga aku nggak main ke klub kamu dulu.”
“Yakin? Ada barang baru, lho! Kamu serius nggak mau kemari?”
“Aku nggak mood. Masalahku benar-benar besar.” Adrian menghela nafas berat.
“Mana ada, sih, masalah yang besar di dalam kehidupan Adrian Marchetti? Apalagi kalau sudah disuguhi sajian yang begitu luar biasa seksi.”
Suara tawa pun terdengar di telinga Adrian dan itu membuatnya kesal.
“Udahlah tutup aja teleponnya! Aku benar-benar malas berbincang-bincang soal ini.”
“Kenapa? Kamu udah tobat, nih? Sudah jadi biksu?” ledek Sammy.
“Siapa bilang? Pokoknya aku terpaksa menunda senang-senangku karena aku harus menyelesaikan masalah besar di perusahaanku,” pungkas Adrian sewot.
“Emangnya kenapa?”
“Kamu enggak bakalan ngerti, deh.” Adrian malas menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya.
“Sialan! Meskipun aku hanya mempunyai sebuah klub malam, bukan berarti aku enggak ngerti soal bisnis, ya! Aku juga punya banyak relasi. Tamu-tamu yang datang ke klubku juga bukan orang biasa. Kamu lupa klub malamku ini elit?” Sammy terdengar sewot, sepertinya tersinggung.
“Nggak usah ngomel, deh! Aku benar-benar lagi pusing sekarang.”
“Coba lihat dulu ponsel kamu! Aku baru kirim barang bagus. Aku yakin setelah kamu melihatnya, kamu pasti akan menghambur kemari. Aku barusan main sama dia dan dia benar-benar luar biasa. Dia pro kalau kamu mau tahu dan aku menyisakannya untukmu. Aku sudah membayarnya dua jam. Kamu tinggal menikmati sisa waktuku saja sampai puas, gratis.”
Adrian yang memang dasarnya adalah laki-laki maniak wanita, tentu saja tergiur mendengar cerita sensual dari sahabatnya. Ia langsung melihat layar ponselnya di mana ia disuguhi sebuah foto wanita tanpa pakaian yang sedang duduk di atas sofa menunjukkan semua lekuk tubuhnya.
Herannya, hasratnya sama sekali tidak bangkit. Biasanya melihat belahan d**a wanita saja ia langsung on, siap untuk bertempur. Namun, kali ini jangankan on, berdesir pun tidak.
“Seksi, kan? Bukan hanya itu, permainannya dahsyat. Kamu nggak bakal bisa melupakan permainan gilanya. Aku aja akan menjadikannya langgananku. Kita bisa bagi dua kalau kamu mau.”
Adrian memejamkan matanya sejenak dan pikiran tentang perusahaan yang akan rata dengan tanah kembali mendominasi otaknya sehingga ia kehilangan hasrat dan minatnya untuk bermain nakal saat ini.
“Ambil aja buat kamu! Aku nggak minat.”
“Yang bener?” Sammy sontak merasa heran.
“Aku beneran nggak minat.”
“Kamu nggak percaya apa yang aku bilang? Aku sudah mereview-nya buat kamu karena aku sudah cicipi dia tadi. Selama ini kamu nggak pernah nggak percaya dengan pilihanku.”
“Bukan soal nggak percaya. Aku sedang nggak mood.” Adrian menegaskan.
“Ada yang enggak beres sama kamu. Jangan-jangan Kamu udah nggak normal! Kamu udah mulai impoten, ya!” ledek Sammy, membuat Adrian emosi.
“Kurang ajar! Impoten dari mana? Bagaimana mungkin aku bisa impoten? Keturunanku itu keturunan gagah. Aku bukan warga lokal sini, apa kamu lupa?” sembur Adrian kesal.
“Habisnya kamu aneh. Biasanya melihat wanita dengan pakaian ketat saja kamu sudah nyosor ke mana-mana. Ini aku kirimin foto wanita tanpa busana, kenapa kamu sama sekali tidak on, tidak berkeinginan untuk menerkamnya dan datang kemari?” Sammy menyuarkan rasa herannya.
“Sudah kubilang permasalahanku benar-benar besar. Boro-boro on, minat aja nggak.”
“Kamu sakit, Adrian. Berobat gih ke rumah sakit! Ada masalah dengan organ vital kamu.”
Adrian tiba-tiba merasa geram dengan celotehan sahabatnya. “Dah, aku tutup, ya! Kamu bukan bikin aku santai, malah bikin aku tambah stres. Jangan hubungi aku lagi! Aku harus menyelesaikan masalahku terlebih dahulu. Sebelum masalahku selesai mungkin aku tidak akan main ke klub kamu lagi.”
Adrian menutup sepihak panggilan suara dari sahabatnya lalu langsung menghapus foto wanita yang dikirimkan padanya.
“Aku tidak mau terlena bermain wanita, sementara perusahaanku pelan-pelan akan rata dengan tanah. Aku tidak boleh membiarkannya begitu saja. Papa sudah benar-benar lelah merintis dan mendirikan perusahaan itu dari awal. Aku tidak mau perusahaan itu hancur. Kasihan Mama.”
Adrian lebih memilih keluar ke balkon apartemennya, menghela nafas panjang lalu berpikir dengan tenang, bagaimana cara melawan seorang CEO cantik yang ternyata begitu cerdas agar bisa mempertahankan perusahaan Marchetti tetap berdiri seperti sedia kala.
***
“Pak Tomi ... Pak Adrian ... gawat, Pak!”
Manajer Fikri dan beberapa rekannya menghambur masuk ke ruangan CEO mereka dengan raut panik.
“Apa lagi? Jangan sampaikan berita buruk lagi! Aku benar-benar stres beberapa hari ini.”
“Ini benar-benar gawat, Pak. Perusahaan mengalami krisis keuangan,” ujar Feri, manajer keuangan.
“Kok, bisa? Bukannya keuangan kita masih cukup untuk membiayai proyek-proyek mangkrak itu?” Adrian tak percaya.
“Kas kita habis, Pak. Para investor menarik saham mereka secara paksa. Akibatnya kita kehabisan uang untuk membiayai proyek yang sudah berjalan. Ada 10 proyek yang sebentar lagi hampir selesai, tinggal finishing saja. Masalahnya kita tidak punya uang untuk membiayainya.” Fikri menerangkan.
“Kenapa tidak bisa? Kenapa tidak ada uang untuk membiayainya? Bukannya kita punya dana cadangan,” cecar Adrian.
Manajer Feri kembali bersuara. “Harusnya kita punya, tapi masalahnya uang cadangan itu dipakai untuk menutup mulut serta membayar tim IT handal untuk menghapus video-video anda yang tersebar di mana-mana.”
“Maksud kamu?” Adrian mengernyitkan kedua alisnya.
“Ada video baru lagi yang tersebar dan ini bukan tersebar hanya di website kita saja, Pak,” jelas Fikri.
Adrian menggebrak meja di depannya, membuat Fikri, Feri dan Ana terkejut.
“Kurang ajar! Ternyata ancaman wanita itu benar adanya. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan semua aibku?” desah Adrian stres.
“Kan, aku sudah bilang sama kamu? Vania Emilia Hadinata itu adalah wanita yang cerdas. Semua musuh takut padanya karena itulah Heri memperalat kamu.” Tomi menegaskan.
“Aku tidak peduli soal itu. Sekarang kita harus mencari solusi permasalahan kita. Bagaimana kita harus menyelesaikan masalah ini? Aku tidak mau bangkrut. Kasihan mama. Sampai saat ini aku belum memberitahu mama tentang masalah ini. Alih-alih tahu, mama malah repot mencarikan aku jodoh dan aku hanya mengaminkan semua yang mama katakan agar beliau tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan.”
“Ini super gawat, Adrian,” ujar Tomi pusing.
“Jangan cuman ngomong gawat-gawat doang, dong! Pikirin gimana caranya supaya masalah ini selesai!” omel Adrian kesal.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita tidak memiliki uang lagi. Sebentar lagi kita harus kita harus melakukan PHK besar-besaran,” tegas Tomi realistis.
“Tidak ... itu tidak boleh sampai terjadi. Untuk merekrut mereka itu tidak gampang dan membutuhkan banyak biaya.” Adrian menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ide PHK massal.
“Masalahnya kita juga tidak mampu untuk memberikan mereka gaji bulan depan, Adrian!” desis Tomi kesal.
Adrian menyugar rambutnya kasar sambil menggeram frustrasi. “Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”