“Sial! Gara-gara wanita itu, semuanya jadi kacau.”
Tak henti-hentinya Adrian mengumpat Vania di sepanjang perjalanannya dari perusahaannya menuju ke perusahaan Hadinata. CEO blasteran Italia itu benar-benar geram dan tidak menyangka kalau kesuksesan yang sudah ia capai setelah menggantikan sang papa menjalankan perusahaan, berpotensi hancur begitu saja hanya karena kesalahan satu malam.
Pria berpostur tinggi itu tidak pernah menduga, hanya karena tidur bersama, bisa-bisanya seorang wanita berniat menghancurkan perusahaannya. Ini tidak masuk akal. Adrian yang sudah biasa tidur dengan aneka wanita, tentu tidak bisa menelaah semua itu hingga akhirnya ia memutuskan menemui Vania, berusaha meminta maaf dan berdamai, bahkan akan melakukan apa saja yang diminta oleh wanita itu asal tidak menghancurkan perusahaannya.
“Semoga saja dia mau mendengarkan penjelasanku. Lagian aneh sekali dia. Tidur bareng aja pakai dipermasalahkan segala. Semua juga telah terjadi dan sudah sama-sama menikmati, kenapa malah dibesar-besarkan begini?” gumam Adrian tak habis pikir.
Dengan sangat terpaksa Adrian mengalah, menemui Vania dan menjelaskan kalau ia tidak tahu apa-apa dan tak terlibat apa pun dengan Heri terkait insiden panas kala itu. Itu karena saat ini perusahaannya benar-benar terguncang. Ia yakin sebentar lagi akan banyak yang menghubunginya dan menghubungi sekretaris Tomi, bahkan meneror para stafnya, terkait video yang tersebar tersebut.
Meskipun video itu baru mereka temukan di website perusahaan mereka sendiri, tapi Adrian yakin para stafnya yang memiliki hubungan dengan para staf di perusahaan-perusahaan kliennya, pasti akan tahu soal ini karena mereka pasti akan mengirim video itu kepada para sahabat mereka yang kemungkinan bekerja di perusahaan-perusahaan yang membina kerja sama dengan perusahaannya.
“Aku tidak akan memaafkan kamu kalau sampai perusahaanku hancur hanya karena video itu, Vania,” gumam Adrian menahan kesal.
Adrian akhirnya sampai di pelataran parkir perusahaan Hadinata dan langsung melangkah menuju ruangan CEO. Namun, langkahnya terhenti saat beberapa staf front office Perusahaan Hadinata menghalanginya.
“Anda tidak boleh masuk, Pak.”
“Aku ingin bertemu dengan atasan kalian. Aku ingin membahas sesuatu yang penting dengannya,” teriak Adrian garang.
“Anda tetap tidak boleh masuk sembarangan seperti itu, Pak. Anda harus membuat janji terlebih dahulu.” Staf front office itu menjelaskan mekanisme jika ingin bertemu dengan petinggi perusahaan.
“Apa kalian tidak tahu, aku ini siapa?” Adrian mendelik kesal.
“Kami tahu. Anda Pak Adrian Marchetti, kan?”
“Nah, masa orang terkenal sepertiku tidak diperbolehkan masuk ke dalam?” protes Adrian.
“Cara Anda yang tidak benar, Pak,” ujar staf satunya yang juga menahan kesal.
Karena ia dan rekan-rekannya sering bertemu orang-orang dengan tipe pemaksa seperti Adrian. Tugas mereka adalah menghalangi dan menjelaskan bagaimana cara yang sopan untuk bertemu dengan CEO mereka.
“Kami hubungi Bu Vania dulu. Anda terpaksa menunggu. Perkara Bu Vania menyetujui untuk bertemu atau tidak, terserah beliau. Yang jelas Anda tidak bisa langsung menerobos seperti ini.”
Adrian emosi. Apa mereka pikir dirinya tak tahu soal itu? Masalahnya sekarang urusannya mendadak dan ia harus bertemu Vania untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.
“Lepaskan tanganku atau aku akan mengamuk di sini!” ancam Adrian.
“Hentikan, Pak! Lebih baik Anda duduk yang tenang, kami akan menghubungi Bu Vania dan menyampaikan kedatangan Anda.”
“Tidak perlu. Aku tidak bisa menunggu lama. Aku punya banyak masalah yang harus aku selesaikan dan aku harus menemui CEO kalian, membicarakan masalah yang ada hubungannya dengannya.”
Adrian menepis tangan dua staf tersebut lalu langsung melangkah menuju ke ruangan Vania dan ketika sampai, tanpa ragu laki-laki bertubuh tegap itu segera masuk ke dalam ruangan dan mendapati wanita cantik yang sudah menghabiskan malam panjang dan panas yang begitu menggairahkan dengannya sedang tersenyum lebar, berbincang-bincang dengan seorang laki-laki.
Hatinya benar-benar kesal karena wanita cantik yang membuatnya terpesona ternyata memiliki rencana ingin menghancurkan perusahaan yang mati-mati didirikan oleh papanya. Dengan lantang Adrian langsung berteriak, menepis semua perkataan Vania.
“Kamu tidak akan bisa melakukan semua itu, Vania Emilia Hadinata. Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Vania terkejut melihat laki-laki yang sudah merenggut kehormatannya dan melakukannya berulang-ulang semalaman sekaligus menghancurkan harga dirinya, tiba-tiba sudah berada di ruangannya.
“Kenapa kamu lancang masuk ke dalam ruanganku tanpa izin, hah? Aku tidak mau menemui siapa pun saat ini. Pergi!? Aku juga tak sudi bicara sama kamu.” Vania meluapkan kemarahannya.
“Aku harus bicara sama kamu. Kamu tidak boleh melakukan ini pada perusahaanku.”
“Apa saya perlu memanggil security, Bu Vania?” tanya Rully tiba-tiba, mengabaikan pertanyaan Adrian pada atasannya.
Vania pun enggan menjawab pertanyaan Adrian. Ia fokus pada manajer Rully.
“Panggil saja security untuk menyeretnya. Aku tidak mau bicara dengan b******n ini,” tandas Vania kasar.
Adrian naik darah. “b******n!? Berani kamu menyebutku b******n?”
Vania melotot tajam. “Kamu memang b******n. Buktinya kamu meniduri banyak wanita. Apa itu tidak bisa disebut dengan seorang b******n?”
“Itu urusan pribadiku. Kamu tidak boleh menggunakan urusan pribadiku dan membawanya ke ranah umum. Kamu bisa menghancurkan perusahaan yang sudah lama didirikan oleh papaku kalau begini caranya,” protes Adrian.
“Memang itu tujuanku dan aku tidak peduli. Tidak ada juga yang bisa membuktikan kalau aku yang menghancurkan perusahaan kamu. Aku tidak menyerang perusahaan kamu, kan?” Vania tersenyum menang.
Vania yakin, tinggal menunggu waktu, perusahaan Marchetti akan tinggal nama saja.
“Tidak menghancurkan bagaimana? Kamu memang tidak menyerang perusahaanku secara langsung. Kamu hanya melempar bom atom, yaitu sepotong video yang orang-orang pasti tahu itu aku dan itu bisa membuat klienku menarik sahamnya dari perusahaanku. Sama saja kamu menghancurkan perusahaanku, kan?” protes Adrian.
“Itu urusan kamu. Makanya jangan membuat skandal kalau tidak mau terkena masalah seperti ini! Kalau bukan aku yang menggoyah perusahaan kamu, orang lain pasti akan melakukannya.”
Adrian lelah bersitegang dengan Vania. Ia ingin bicara santai dan lembut berdua saja. Mana tahu keahliannya merayu wanita bisa ia gunakan membujuk Vania. Biar bagaimana pun, Vania tetaplah wanita, kan?”
“Bisa tinggalkan kami berdua saja? Aku ingin bicara empat mata dengan Vania.” Adrian menatap Rully dan memintanya memerikan privasi untuknya bicara pada CEO cantik itu.
“Saya tidak akan meninggalkan Bu Vania sendirian. Apalagi dengan laki-laki b******k seperti Anda,” ujar Rully tegas.
“Manajerku benar. Kenapa kamu sibuk mengatur karyawanku? Aku yang berhak memerintahkan mereka, bukan kamu?” sembur Vania geram.
“Aku harus bicara empat mata dengan kamu terlebih dahulu. Ini masalah pribadi—”
“Aku tidak mau bicara soal pribadi karena kita tidak seakrab itu, Pak Adrian,” potong Vania lantang.
“Kita memang tidak akrab, tapi kita sudah tidur bersama kalau kamu lupa. Apa kamu mau, aku membongkar apa yang kamu lakukan malam itu?” ancam Adrian mengintimidasi Vania.
Sial! Ancaman Adrian seketika membuat Vania malu. Tidak mungkin ia rela manajer Rully mendengarkan semua cerita malam laknat kala itu. Laki-laki itu jelas-jelas sadar malam itu. Dirinya yang setengah sadar saja sedikit demi sedikit sudah bisa mengingat apa saja yang ia lakukan malam itu di mana dirinya menari-nari di depan laki-laki itu sementara si b******k itu begitu menikmati sajiannya, menidurinya berkali-kali.
Hatinya sakit kala mengingat itu. Meskipun Vania tidak ingat bagaimana rasanya, tapi kilasan kejadian tersebut terputar di benaknya, menyisakan rasa pedih, bukan rasa nikmat seperti yang orang katakan karena ia tidak seharusnya melakukannya malam itu dengan Adrian. Semuanya terjadi begitu saja karena dirinya di bawah pengaruh alkohol dan obat perangsang. Jelas terlihat kalau Adrian bekerja sama dengan Heri untuk mencelakainya.
“Pergilah, Rully! Hubungi bagian keamanan dan tunggu aku di depan pintu! Kalau aku menjerit, segeralah masuk lalu seret laki-laki ini ke kantor polisi!” titah Vania tegas.
Rully segera menuruti kata-kata Vania. Ia langsung melangkah meninggalkan ruangan CEO cantik itu, bersiap memanggil beberapa anggota security untuk berjaga di depan pintu.
“Katakan! Apa yang mau kamu katakan?” seru Vania bersedekap tangan dengan raut kesal.
“Semua yang kamu pikirkan tentangku itu tidak benar. Kamu tidak bisa menyerangku begini saja hanya karena kita tidur bersama. Aku bisa saja berbicara pada siapa pun tentang apa yang terjadi pada kita dan—”
“Aku tidak akan membiarkan kamu mengungkap apa pun tentangku dan tentang kita malam itu karena kamu juga akan sangat sibuk mengurusi perusahaanmu sendiri. Kamu akan sibuk menenangkan para klien yang akan bertanya soal video kamu itu. Aku juga masih punya video lain yang memperlihatkan kebejatan kamu secara jelas yang bisa kusebar kapan saja. Jadi, jangan main-main denganku, ya!” potong Vania emosi.
“Apa maksud kamu?” Adrian tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Bagaimana mungkin Vania bisa menemukan bukti kenakalan serta kebejatannya selama ini?
“Aku tidak mau tahu dan aku tidak ingin berurusan dengan kamu lagi. Yang jelas kamu harus membayar semua yang terjadi malam itu. Harta yang sudah aku jaga sedemikian rupa bisa tiba-tiba sirna hanya karena kalian berdua,” jerit Vania menahan sesak di dadanya.
“Itu yang harus aku luruskan di sini. Aku tidak ada—”
“Diam!? Aku tidak mau mendengar celotehan kamu lagi. Sekarang juga tinggalkan ruangan ini! Berdoalah aku tidak menyeret kamu ke penjara!” bentak Vania sadis.
“Kamu tidak bisa menyeretku ke penjara. Kamu tidak punya bukti apa-apa,” cibir Adrian, yakin kalau Vania tak bisa menyeretnya ke ranah hukum.
Vania tersenyum miring. “Jangan remehkan aku, Pak Adrian! Aku bisa mengulik dan mengorek semua borok yang pernah kamu buat dalam hidup kamu dan aku bisa menyeret kamu ke penjara kalau aku mau. Jadi, berdoalah agar aku tidak berniat menjebloskan kamu ke penjara! Berdoalah aku hanya akan menghancurkan perusahaan kamu rata dengan tanah saja!”