Adrian Marchetti tengah berada di ruangan meeting siang itu. CEO tampan itu baru saja mengalami malam yang begitu luar biasa yang membuatnya sedikit mengantuk di mana pertama kalinya ia menyentuh seorang perawan, seorang perawan galak, tapi begitu cantik luar biasa yang hingga saat ini terus membuatnya terbayang-bayang.
Itu benar-benar fantastis dan menakjubkan. Rasanya ingin bertemu dengan wanita itu lagi dan merayunya, mengajaknya naik ke ranjangnya lagi. Bahkan Adrian berkeinginan menjadikan wanita itu pacarnya. Sungguh wanita cantik itu memberikan kesan tersendiri baginya.
“Apa aku bisa bertemu lagi dengannya?” gumam Adrian, tak sadar menyunggingkan senyumnya.
Beberapa kali Adrian harus ditegur oleh sekretaris Tomi di saat para peserta rapat bertanya padanya, perihal proyek baru yang akan mereka garap. Hingga akhirnya meeting selesai tanpa Adrian sadari karena terus-terusan mengkhayalkan kejadian panas yang ia alami semalam.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Tomi, sekretaris plus sahabat akrab Adrian heran.
“Emang aku kelihatan nggak baik-baik saja, ya? Mataku aneh, ya?” Bukannya menjawab, Adrian malah balik bertanya sambil menunjuk area matanya.
“Isssshhh, pasti kamu begadang semalam, ya? Gila, maniak banget, sih, kamu!” cetus Tomi sewot saat melihat lingkaran hitam di mata sahabatnya.
“Udah, ga usah bawel. Habis gimana, wanitanya luar biasa, sih. Belum pernah aku begadang selama ini main dengan wanita. Baru dengan dia aku begini. Sayangnya dia galak, tapi herannya aku suka. Kayaknya aku pengen cari dia, deh!” Adrian menyeringai nakal, berniat mencari identitas gadis yang berhasil membuatnya melayang semalam.
Tomi berdecak pelan. “Sejak kapan seorang maniak wanita sepertimu tertarik pada seorang wanita saja. Bentar lagi juga pasti kamu udah dapat temen tidur baru. Aku juga heran, kenapa wanita-wanita seksi yang suka tidur denganmu itu mau-mau aja jadi pelampiasan hasrat kamu. Padahal mereka tahu kamu b******k, tapi tetap aja teman tidur kamu ngantri dan nggak perlu dicari. Heran!” Tomi tak habis pikir.
Adrian tertawa renyah, geli melihat sahabatnya. “Iri bilang, dong!”
Tomi spontan bergidik. “Amit-amit! Bukannya iri, malah kadang aku jijik sama kamu, sumpah!”
“Sialan! Kamu mau kupecat? Beraninya bilang jijik padaku!” sembur Adrian tersinggung.
Tomi mencebikkan bibirnya pada Adrian. Tak terhitung lagi CEO blasteran Italia tersebut mengancam akan memecatnya, tapi hingga sekarang Tomi tetap jadi tangan kanan di perusahaan.
Itu karena hasrat Adrian terlampau tinggi sehingga kadang lupa waktu jika sedang kumat ingin main wanita. Saat itu terjadi, dirinyalah yang harus menggantikan Adrian memimpin dan menjalankan perusahaan warisan sang papa.
Berbeda dengan papanya yang setia, Adrian adalah seorang pria pemain wanita. Banyak wanita yang patah hati karenanya. Skandalnya di mana-mana. Dirinyalah yang harus menyelesaikan semua masalah Adrian. Itu sebabnya Tomi tak takut dengan ancaman Adrian lagi.
“Coba aja pecat, aku nggak takut!” balas Tomi santai.
“Sial!” dengus Adrian kesal, tahu kalau ia tak akan pernah menang melawan atau mengancam sahabat plus tangan kanannya tersebut.
“Makanya jangan mudah bilang mau memecatku! Bisa saja aku lelah dan berhenti bekerja nanti. Siapa yang bakal menyelesaikan skandalmu?” cibir Tomi.
“Iya, iya, jangan bawel lagi!” omel Adrian dongkol.
Tomi terkekeh. Tiba-tiba ia jadi penasaran dengan wanita yang tidur dengan Adrian semalam. Sehebat apa dia, bisa membuat sahabat nakalnya itu begadang semalaman.
“Ceritain soal cewek semalam! Kok, bisa dia bikin lingkaran mata kamu menghitam kayak gitu?”
Rasa dongkol di hati Adrian sirna kala mendapat pertanyaan dari Tomi. Seketika ia langsung mengkhayalkan gadis cantik yang membuatnya mabuk kepayang semalam.
“Susah jelasinnya, pokoknya dia berbeda.”
“Siapa dia memangnya?” tanya Tomi penasaran.
“Itulah masalahnya. Aku juga tidak tahu siapa dia. Dia dihadiahkan oleh Pak Heri. Katanya hadiah tender. Ya, aku terima saja. Kucing mana yang tidak mau ikan, kan?” seloroh Adrian santai.
“Dasar playboy!” celetuk Tomi lagi. “Kamu kayaknya nggak pandang bulu kalau lagi kebelet, ya! Siapa pun bisa kamu embat,” ledek Tomi.
“Eh, mana maulah aku sama wanita jelek. Mana ada wanita buruk rupa yang naik ke ranjangku. Semuanya cantik, apalagi yang semalam,” protes Adrian.
“Dahlah, aku capek bahas ginian mulu! Mending kamu cuci muka biar segar. Aku akan pesenin kopi. Bentar lagi kita akan menghadiri meeting besar, yaitu meeting dengan klien kakap kita dari Korea Selatan yang ingin menanamkan saham pada perusahaan kita. Kita akan menandatangani proyek besar yaitu proyek taman hiburan juga resort yang berdampingan.”
“Astaga, iya! Aku hampir saja lupa.”
“Makanya buruan cuci muka! Setelah itu kita berangkat menemuinya di Restoran Diamond.”
Adrian menuruti kata-kata sekretarisnya dan setelah ia selesai cuci muka, CEO nakal itu segera berangkat menuju restoran bersama Tomi. Proyek itu adalah proyek pertama Perusahaan Marchetti dengan pebisnis dari negara Korea Selatan. Ini benar-benar proyek yang fantastis yang tak boleh lepas begitu saja.
Setibanya di hotel, Adrian dan Tomi langsung menuju ke restoran tempat di mana mereka akan bertemu dengan pak Kim. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika sampai di sana di mana ada seorang wanita yang tengah bersalaman dengan pak Kim, membuat Adrian terheran-heran. CEO tampan itu spontan melangkah menuju ke meja pak Kim bersama Tomi, berniat menanyakan apa yang terjadi.
“Oh, anda sudah datang, Pak Adrian. Maaf, saya terpaksa membatalkan kerja sama kita karena nona ini telah menawarkan penawaran yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan yang anda tawarkan.” Kim dengan lantang menyatakan penolakan pada Adrian.
Tomi tak terima. Ia buru-buru protes pada Pak Kim. “Tidak bisa begitu, Pak Kim. Anda sudah berjanji pada kami—”
“Kita memang sudah berjanji, tapi kita belum menandatangani apa pun ‘kan? Jadi kita tidak terikat perjanjian apa pun. Sekali lagi maaf, Pak Adrian. Banyak yang harus saya pertimbangkan jika bekerja sama dengan perusahaan anda, sedangkan ada perusahaan yang memang benar-benar bersih dan juga maju yang pasti bisa memberi keuntungan pada perusahaan saya,” potong Kim tegas.
Vania yang sejak tadi membelakangi Adrian, kini berbalik badan, kemudian tersenyum lebar, membuat Adrian menganga, terkejut bukan main saat melihat wanita yang telah menghabiskan malam panjang nan panas dengannya kini tepat berada di depan matanya.
“Yang dikatakan oleh Pak Kim itu benar, Pak Adrian. Sayalah yang layak menjadi partner bisnisnya. Jadi, anda tidak bisa membantah ataupun protes soal ini karena belum ada kerja sama apa pun yang terjadi antara kalian berdua. Sebaiknya anda pergi dan mencari klien bisnis yang lain saja.” Vania menyeringai puas bisa mengintimidasi Adrian.
CEO bertubuh tinggi itu merasa geram karena klien kakapnya telah dicuri oleh wanita cantik yang telah memberikan kenang-kenangan indah dalam pikirannya seharian.
“Apa maksud kamu? Apa maksud semua ini, Nona?” bisik Adrian pelan.
Vania tersenyum lebar, kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Adrian, membuat laki-laki itu sempat berdesir kala aroma wangi parfum Vania menyapa penciumannya. Tak lama, Vania pun berbisik di telinga laki-laki j*****m yang telah membuatnya kehilangan kehormatannya.
“Ini baru hal kecil saja. Akan aku pastikan perusahaanmu mengalami guncangan demi guncangan mulai detik ini. Bersiap-siaplah menerima balasan semua perbuatan jahat yang kamu lakukan padaku! Akan aku pastikan kamu menyesal pernah bertemu denganku, Pak Adrian Marchetti.”