Clarisa memandang orang suruhannya dalam diam. Tatapan matanya yang tajam di balik bulu matanya yang lebat, membuat siapa saja segan melihatnya. Ia baru saja mendengar dari orang suruhannya jika Regan baru saja melakukan makan siang dengan sekretarisnya. Dan hal itu sungguh membuat Clarisa sedikit geram. Pintu kayu jati itu terbuka, sosok suaminya yang meski sudah berusia lima puluhan namun ketampanan dan kegagahan masih tercetak jelas. Rambutnya yang cokelat menurun pada putera semata wayangnya. "Kamu boleh keluar Win," perintah Clarisa pada Erwin, orang suruhannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Erwin langsung mengangguk mengerti dan pamit undur dari pada sepasang suami isteri tersebut. "Ada apa ini? Mengapa Erwin bisa berada di sini?" tanya Diego yang telah duduk di sofa yang berad

