“Apa? Ya gendong kamu lah. Ngapain lagi?”
“Turunkan! Sengaja cari kesempatan ya?”
“Kesempatan apa? Sudah saya bilang, saya gak tertarik dengan bocil ef-ef sepertimu.”
“Pak, bisa tidak turunin aku sekarang?”
“Baik.”
“Au, sakit. Lembut sedikit napa?” protes Danisa ketika tangan Devan yang menggendong tubuhnya dilepas begitu saja. Untung saja, kasur di bawahnya sangat empuk. Hingga tubuh yang terbalut dengan piyama itu tak begitu sakit ketika terjatuh.
“Bukan salah saya. Kamu sendiri yang meminta.”
“Ya.”
Untuk sesaat kondisi hening. Baik Danisa dan Devan sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Danisa tengah duduk di bibir ranjang sedangkan Devan berdiri di depannya.
“Ngapain berdiri di situ? Jangan bilang ….”
Pria kaku menyebalkan itu mendekat ke arahnya, hingga tubuh yang tadinya duduk tegap sedikit bergeser agar tak tersentuh oleh pria tersebut. Lagi-lagi detak jantung Danisa berdetak tak pada semestinya. Deru nafasnya pun berantakan.
Ya Tuhan, kenapa mendadak Pak Devan terlihat begitu tampan di mataku?
“Tidak!” Danisa menjerit dan menutup wajahnya. Takut dengan apa yang terjadi. Untuk kedua kalinya ia memikirkan lelaki sok yes. Yang baginya gak banget.
“Ada apa? Jangan berpikiran tidak-tidak, saya cuma mau ambil bantal ini. Saya gak bisa tidur kalau tanpa alas kepala,” ucapnya sambil menarik salah satu bantal. Ia berlalu begitu saja.
Danisa menggerutu. Ia malu sendiri dengan apa yang terjadi. Ia tak suka dengan pikiran dan hatinya. Entah sejak kapan, lelaki bak kanebo kering itu mencuri perhatiannya.
Devan langsung terlelap selang beberapa menit. Sedangkan Danisa justru tak mampu menutup pelupuk matanya kembali. Beberapa kali ia mencoba tidur. Tapi, hasilnya nihil. Apalagi ketika dengkuran itu terus mengusik indra pendengarannya.
“Pak Devan bisa tidak tidurnya gak ngorok? Danisa gak bisa tidur,” protesnya sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Tak ada respon, melainkan suara dengkuran dengan ritme yang teratur.
Danisa membuang nafas kasar, mendekat ke arah Devan. Awalnya ia hendak membangunkan dan protes. Tapi, menatap wajah yang tengah pulas itu membuatnya urung. Untuk sesaat ia menikmati wajah suaminya yang tampan.
“Apa? Tampan?” batinnya tak percaya.
“Tidak, tidak, tidak, mataku sedang sakit kayaknya,” ucap Danisa yang kini bermonolog.
Ia mendekat ke arah meja kerja lelaki yang menjadi sahnya tersebut, mencari obat tetes untuk matanya. Sayang, benda yang dicari tak ditemukan. Yang ada, justru kertas jawaban ulangan yang menumpuk. Sedang di sebelahnya, terdapat foto lelaki kecil yang diyakini milik Devan saat masih remaja. Senyumnya indah, ada manis-manisnya.
“Ini kamu, Pak? Yakin?” tanyanya kepada benda mati tersebut.
Ia masih tak menyangka kalau pria tersebut begitu menawan di masa mudanya. Ala-ala opa korea.
Danisa terus menjelajah ke tempat itu. Meja yang terlihat rapi dengan bacaan-bacaan membosankan. Ia sama sekali tak tertarik membuka satu pun buku di atasnya. Hanya duduk dan menatap benda-benda yang berada di dekatnya. Jam tangan kuno yang tersimpan di laci dan beberapa korek api dengan berbagai merk. Entah untuk apa ia menyimpan hal tak penting seperti ini.
Hampir satu jam ia duduk di kursi, hingga akhirnya ia kembali merebahkan diri ke kasur. Sayang, netranya belum mampu diajak kompromi. Ia hanya menatap langit-langit kamar yang didominasi warna putih. Ini kali pertama ia tidur di kamar orang lain, rasanya susah untuk tidur. Bahkan Danisa harus menghadirkan bebek yang berderet untuk dihitung hingga pelupuk mata itu mau menyatu.
“Danisa bangun! Mau bangun jam berapa kamu hey.” Suara dengan nada serak itu menggelitik telinga.
“Masih ngantuk,” jawab Danisa yang kini mengeratkan pelukan ke gulingnya.
“Mau bangun jam berapa kamu? Kamu ada kelas pagi ini kan?”
“Gak masuk. Dosennya menyebalkan.”
Dahi lelaki yang sudah berpakaian rapi itu mengernyit. Pasalnya kelas pertama yang dimaksud Danisa adalah jam mata kuliahnya.
“Bapak berangkat saja dulu! Lagian, bapak bilang kalau Danisa bebas kan setelah kita nikah,” ucapnya masih dengan mata yang terpejam.
“Danisa, bangun gak?” Pria itu mencubit telinga gadis manja di depannya hingga Danisa terbangun dan mengaduh.
“Aduh, sakit, Pak,” ucapnya sambil memegangi daun telinga. Wajah marah dengan bibir mengerucut menjadi sajian pemandangan pagi ini untuk Devan.
“Bapak bisa saya laporkan dengan alasan KDRT.”
Devan justru tersungging, “Itu artinya, kamu mengakui saya sebagai suamimu?”
“Enggak. Lagian bapak sendiri yang bilang kan kalau setelah kita nikah, Nisa jadi bebas.”
“Saya gak bilang seperti itu. Saya hanya membebaskanmu dari kewajiban seorang istri. Tapi, tugasmu jadi mahasiswi tetap harus dijalankan. Lagian, saya gak mau setelah kamu menikah, kamu mengalami kemunduran dengan nilai akademikmu. Harus bilang apa saya dengan mama dan papamu nanti?”
“Saya nikah sama bapak saja itu sudah kemunduran pesat. Nikah sama lelaki tua, jelek, kaku kayak kanebo kering.”
“Danisa, kamu ngejelekin saya?”
“Bukan ngejelekin. Tapi, emang bapak saja yang jelek.”
Devan menarik nafas panjang seakan mencari stok sabarnya lebih banyak. Wajah memerah yang tersulut emosi karena hinaan itu kini mulai sedikit mereda.
“Sudah, segera mandi gih! Mama dan papa pasti sudah nunggu kita. Lagian, kalau bukan karena Adila gak mau lah aku bela-belain nikah sama kamu. Serasa melihara kucing Persia. Manja.”
“Pak, aku disamain dengan kucing?”
Tak menjawab. Devan meninggalkannya sendiri di kamar.
“Lelaki emosian, temperamen, gampang marah,” ucap Danisa dengan mata yang mengarah ke pintu kamar.
Meskipun malas, Danisa melakukan perintah itu. Ia hendak ke kamar mandi dan baru tersadar dengan pakaian miliknya yang berada di atas ranjang.
“Pak Devan yang menyiapkan?” tanyanya bermonolog.
“Ah, gak penting. Aku harus siap-siap dari pada pria itu kembali ngereog,” ucapnya kembali yang buru-buru bangkit. Ia mengambil pakaian itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
***
“Anak mama cantik sekali,” ucap Tiara ketika Danisa turut ke meja makan. Di sana, sudah ada kedua mertuanya dan lelaki yang melafalkan akad atas namanya. Tengah duduk dan menatap kearahnya.
Danisa tersenyum. Ia duduk di kursi sebelah dosennya.
“Kamu gak ambil cuti, Van? Biar kalian istirahat dulu sekalian bulan madu. Berliburlah ke tempat yang menyenangkan untuk kalian.”
Danisa setengah melotot mendengar kalimat yang barusan didengar. Bulan madu adalah hal yang horor untuknya.
“Enggaklah, Ma. Lagian, pernikahan kami kan gak ada yang tahu. Devan gak ada alasan untuk ijin.”
“Ya sudah terserah kalian.”
“Sekalian kita pamit ya, Ma, Pa. Devan balik ke rumah.”
“Gak tinggal di sini dulu, Van? Sebulan atau seminggu juga gak papa.”
“Di sini jauh dari kampus, Ma. Devan bisa telat tiap hari.” Lelaki itu menoleh ke jam mahal yang melingkari lengannya. “Ini saja Devan sudah telat.”
“Kita berangkat sekarang ya, Dek!” ucap Devan yang menoleh ke arah gadis di sebelahnya.
Danisa terkejut, “Tapi, Pak. Eh, Mas. Nisa belum makan.”
“Sudah saya bawakan bekal. Nanti kamu makan di mobil saja. Siapa suruh bangunnya telat.”
Mama dan papa Devan tersenyum, “Sabar ya, Sayang. Anak mama memang disiplin sekali. Jewer saja kalau dia berlebihan,” ucap Tiara ketika menantunya itu berjabat tangan. Tak lupa ia mencium punggung tangan kedua orang tua barunya tersebut.
“Siap, Ma.”