“Pak Devan, Nisa turun sini ya! Nisa gak mau ketahuan teman-teman kalau berangkat bareng bapak.”
Devan yang tadinya fokus dengan setir dan jalanan kini menoleh ke arah gadis yang duduk di sebelahnya. “Kalau kamu turun di sini, nanti kamu telat masuk kelas saya.”
“Rencanya juga mau bolos di jam pertama. Masih ngantuk, Pak.” Gadis tersebut membuka mulutnya lebar, yang didetik kemudian segera ditutupnya dengan punggung tangan.
“Danisa Hardiyanti.”
“Iya, Bapak. Saya di sini.”
“Kalau fikiranmu bolos trus kapan kamu bisa mengejar keterlambatan mata kuliahmu? Biaya ngampus di situ mahal lo.”
“Emang gak tertarik ngejar. Papa saya sudah kaya tujuh turunan, untuk apa harus sekolah yang pinter? Gak guna.”
Devan tersenyum kecil, “Pikiran bocil ef-ef memang beda ya. Kapan Indonesia bakal maju kalau penduduknya berfikir seperti ini?”
“Indonesia tuh di kelilingi laut, Pak. Kalau maju ya malah nyemplung. Lagian juga ngatain Nisa bocil ef-ef mulu. Bapak gak pernah ngerasain sih asyiknya mabar FF.”
“Gak tertarik.”
“Iya. Bapak kan lelaki kaku. Kutu buku. Buku bacaan saja suka yang halamannya tebal, kalau aku diminta baca sebulan pun belum tentu kelar. Asyikan mabar atau nonton drakor.”
Devan hanya menggeleng. Sepertinya, menjadikan Danisa istri pura-pura bukanlah sesuatu hal yang baik untuknya. Ia harus pusing dengan tingkah konyol dan absurd gadis itu.
“Pak, pak, berhenti!” ucap Danisa ketika gerbang kampusnya mulai kelihatan.
“Danisa, berhenti di sini saja.” Ia membuka pintu mobil namun tak segera turun.
“Ada apa lagi?” tanya Devan.
“Uang jajan Nisa mana? Kan bapak sudah berjanji kasih Nisa uang bulanan, dua kali lipat dari yang dikasih oleh papa.”
“Iya, nanti saya transfer.”
“Atm Nisa ketinggalan di rumah mama, Pak. Masa iya Nisa gak jajan nantinya.”
Devan mencebik. Ia merogoh saku celana dan mengambil dompet berbahan kulit. Dua lembar ratusan ribu diberikan kepada gadis di dekatnya.
“Dua ratus ribu? Ini gak ada separu dari uang pemberian papa.”
“Danisa.” Lelaki itu mengarahkan tatapan tajam.
“Iya, iya, makasih ya, Pak Devan,” ucapnya sambil tersenyum.
Lelaki itu tak merespon.
“Jangan lupa kekurangannya segera di transfer. Ok, Pak.” Wanita itu tersenyum senang.
Danisa hendak turun dari mobilnya, hingga suara Devan yang menyerukan namanya membuat gadis berambut panjang itu kembali menoleh. “Ada apa, Pak?”
Lelaki kaku bak kanebo kering itu meraih tas kerjanya, membuka benda tersebut.
“Ini bekal sarapanmu. Jangan lupa dimakan!”
“Baik,” ucap Danisa yang langsung buru-buru masuk. Tak ingin ada seorang pun yang memergokinya turun dari mobil dosen menyebalkan itu.
***
“Tumben bawa bekal,” sapa Ayu ketika mereka duduk bersebelahan. Danisa tak sadar dengan wadah warna merah muda yang dibawanya, diletakkannya benda tersbut ke atas meja. Bekal makanan dari pak dosen menyebalkan.
“Iya, tadi gak sempat sarapan.”
“Pak Devan tumbenan telat ya. Gak kayak biasanya,” seru Bella yang kini duduk di sebelah Danisa.
“Gak sabar ketemu dengan Pak dosenku yang ganteng,” imbuh Bella sambil tersenyum.
“Ich gak jelas banget. Dosen menyebalkan gitu dikangenin,” ucap Danisa dengan sungutnya.
“Pak Devan tuh ganteng loh, Nis. Tubuhnya gagah, dengan cambang tipis. Aduh, rasanya pengen belai tuh cambangnya,” ucap Bella kembali sambil menyuguhkan senyuman. Sepertinya, gadis itu membayangkan apa yang diucapkan.
“Katanya Pak Devan sudah nikah, bener gak ya?”
Danisa yang tadinya memegang ponselnya langsung terkejut. Benda yang dipegang sampai terjatuh ke lantai. Untung saja, hanya sedikit lecet di salah satu sudutnya.
“Kata siapa?” tanya Danisa dengan muka datar. Ia tak ingin teman-temannya curiga kepadanya.
“Gak tahu juga sih. Hanya desas-desus,” jawab Ayu.
“Kalau beneran iya, bakal ada hari patah hati sedunia nih. Tuh cewek pasti beruntung sekali.”
“Gak. Tuh cewek pasti apes sekali,” jawab Danisa.
Danisa membuka wadah berbahan stainless di depannya, hingga makanan di dalamnya terlihat begitu menarik. Nasi goreng dengan telur mata sapi dan irisan sosis cukup untuk membangkitkan seleranya. Terlebih lagi, ia memang sudah lapar.
“Kapan nih anak pernah bawa bekal? Tumben sekali. Kayak anak paud gak sih?” tanya Bella memandang aneh Danisa.
“Entahlah, lagi kumat mungkin sakitnya,” jawab Ayu.
“Aku sakit apa?”
“Kejiwaan.” Ayu dan Bella menjawab serempak yang diikuti dengan gelak tawa.
Beberapa detik kemudian tawa itu lenyap begitu saja, ketika pintu ruangan terbuka dan diikuti langkah kaki masuk. Ayu menyenggol lengan temannya, supaya tersadar dengan apa yang dilakukan.
“Jangan ganggu orang makan. Gak sopan,” ucap Danisa yang masih menikmati makannya. Ia tak sadar dengan kedatangan dosen menyebalkan itu.
“Selamat pagi semuanya. Mohon maaf, saya terlambat masuk hari ….” Belum juga Devan menyelesaikan kalimat, ia terganggu dengan mahasiswinya yang asyik sendiri. Tengah makan di ruangan di saat jam kelasnya.
“Nis, Nissa,” ucap Ayu kembali dengan sedikit berbisik.
“Jangan ganggu lah, Yu. Aku lagi makan. Jangan rusak mood makanku,” ucapnya.
Langkah-langkah kaki Devan terayun mendekati wanita yang beberapa jam lalu terus bersamanya. Ditatapnya gadis itu yang tengah antusias dengan makanan di depannya.
“Makanannya enak?” tanya lelaki berpakaian kemeja garis itu. Ya, Devan memang begitu menyukai baju bermotif garis. Tumpukan baju dengan motif sama itu memenuhi isi almarinya.
“Iya, Pak. Enak sekali,” ucap Danisa datar.
Untuk sesaat ia baru tersadar dengan suara yang didengar. Gadis cantik tersebut menoleh dan mendapati dosen menyebalkan berdiri di dekatnya. Juga semua pasang mata yang menatap ke arahnya.
“Makanannya enak?” tanya Devan mengulang kembali pertanyaan yang sama. Ia mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban Danisa.
“Gak enak. Keasinan. Sosisnya overcook.” Danisa menggigit bibir bawahnya, bingung harus berbuat apa. Lagi-lagi, ia melakukan kesalahan dengan orang yang sama.
“Makan di luar, jangan masuk kelas saya hari ini!”
“Tapi, Pak ….”
“Protes sama saja meminta tambahan hukuman.”
Danisa mengernyitkan dahi, mengepalkan tangan dan mengerucutkan bibirnya. Dengan malas, ia bangkit dan menghentakkan kakinya, beranjak keluar dengan ransel dan wadah makan tersebut. Rasanya sayang jika tak dihabsikan. Sedangkan dosennya itu terus mengekori dan mengantar Danisa hingga di ambang pintu.
“Katanya suruh makan. Tapi dikeluarkan dari kelas. Sengaja ya?” tanya Danisa dengan kesal.