Bab 1: Salah Masuk
"Hai, Mas. Kok ganteng-ganteng bawa pistol?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Naura.
Suasana yang semula sunyi mendadak membeku.
Beberapa pria berbaju hitam saling berpandangan. Seorang di antaranya bahkan menelan ludah dengan susah payah. Belum pernah ada orang yang berbicara seperti itu kepada pria yang berdiri di tengah gudang tua tersebut.
Pria itu tidak menjawab.
Tatapannya tajam. Dingin. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
Di tangan kanannya masih tergenggam pistol yang belum lama ditembakkan.
Di lantai, seorang pria berlutut sambil gemetar. Napasnya tersengal, wajahnya penuh darah.
Naura mengerjap dua kali.
"Oke... sepertinya aku salah tempat."
Ia tertawa kecil, lalu mengangkat kedua tangan.
"Hehe... maaf, ya. Aku cuma nyari jalan pintas. Gudang sebelah katanya tempat bazar makanan. Kayaknya aku nyasar."
Tak ada yang tertawa.
Naura baru menyadari udara di ruangan itu terasa begitu berat.
Astaga... ini bukan syuting film?
Ia melirik ke kanan dan kiri. Tidak ada kamera. Tidak ada kru. Tidak ada sutradara yang berteriak, "Cut!"
Yang ada hanya belasan pria bertubuh besar dengan wajah garang.
Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
Pria berjas hitam itu akhirnya melangkah mendekat.
Sepatunya berdetak pelan di atas lantai semen.
Tok...
Tok...
Tok...
Naura refleks mundur satu langkah.
"Halo...?" sapanya canggung.
Tak ada jawaban.
Pria itu berhenti tepat di depannya.
"Tahu kau sedang berada di mana?" suaranya rendah, datar, tetapi cukup membuat bulu kuduk berdiri.
Naura menggeleng.
"Kalau boleh jujur... enggak."
"Namamu."
"Naura."
"Lengkap."
"Naura Azzahra."
Pria itu menatapnya beberapa detik, seolah sedang memastikan apakah perempuan di depannya benar-benar sebodoh itu atau hanya sedang berpura-pura.
"Apa yang kau lihat?"
"Hah?"
"Tadi."
Naura menelan ludah.
"Aku... lihat gudang."
Pria itu diam.
"Terus lihat beberapa Mas-Mas pakai jas."
Masih diam.
"Terus..." Naura menunjuk pelan ke pistol di tangan pria itu. "Itu."
Salah seorang pria bertubuh besar mendekat.
"Tuan Leo, biar saya bereskan saja."
Naura membelalak.
Bereskan?
Dalam benaknya, kata itu langsung berubah menjadi: dibungkus karung, dilempar ke sungai.
"Eh, tunggu! Aku bisa pura-pura lupa, kok!" katanya cepat.
"Tadi aku lihat apa, ya?"
Ia memejamkan mata beberapa detik.
"Lupa."
Tak ada respons.
"Beneran lupa."
Hening.
Naura membuka sebelah matanya.
Masih semua menatap dirinya.
Ia terkekeh canggung.
"Hehe... ternyata ingat sedikit."
Pria bertubuh besar tadi menghela napas kesal.
"Perempuan ini main-main."
Naura buru-buru menggeleng.
"Enggak! Aku serius!"
Pria yang dipanggil Tuan Leo akhirnya berbicara lagi.
"Kalau kau dilepaskan, apa yang akan kau lakukan?"
"Pulang."
"Lalu?"
"Mandi."
"Lalu?"
"Makan."
"Lalu?"
"Tidur."
"Lalu?"
Naura menggaruk kepala.
"Besok kerja lagi?"
Salah satu anak buah hampir tersedak mendengar jawaban itu.
Belum pernah mereka melihat seseorang menjawab pertanyaan bos mafia dengan wajah polos seperti itu.
Leonardo Valerio—pria yang selama ini ditakuti dunia bawah—menatap Naura tanpa berkedip.
Perempuan itu memang terlihat takut.
Namun, di balik rasa takutnya, ada keberanian yang aneh.
Atau mungkin... memang tidak punya insting bertahan hidup.
Naura berdeham pelan.
"Mas..."
Leonardo tidak menyahut.
"Boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kalau misalnya aku janji enggak bakal cerita ke siapa-siapa..."
Ia tersenyum selebar mungkin.
"...aku boleh pulang?"
Beberapa pria saling berpandangan.
Leonardo justru berbalik.
"Adrian."
"Ya, Tuan."
"Bawa dia."
Naura langsung menghela napas lega.
"Nah, gitu dong. Makasih, Mas. Ternyata baik juga."
Ia melangkah santai mengikuti Adrian.
Sampai beberapa detik kemudian...
"Tunggu."
Adrian membuka pintu sebuah mobil SUV hitam.
Naura berhenti.
"Lho?"
"Masuk."
"Ini bukan jalan ke rumahku."
"Bukan."
"Terus?"
"Ke mansion Tuan."
Naura mengernyit.
"Sebentar... aku bukan tamu."
"Kami tahu."
"Terus kenapa aku ikut?"
Adrian menatapnya datar.
"Mulai hari ini..."
"...kau tidak diizinkan pulang."
Senyum Naura perlahan menghilang.
Pintu mobil ditutup.
Mesin menyala.
Sementara mobil hitam itu melaju meninggalkan gudang, Naura hanya mampu menatap keluar jendela dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Apa sebenarnya yang baru saja menyeret hidupnya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan?