"Segelas cokelat panas untuk si juara matematika."
Seorang lelaki muda meletakkan segelas cokelat dengan asap mengepul dari dalamnya. Siapa pun yang melihat akan tahu perkataan lelaki tersebut benar—tentang bagian 'panas'. Dan Kyuhyun bodoh bila melupakan fakta itu. Ia tidak langsung mengambil gelas itu kemudian menyesap isinya. Ia memilih menunggu hingga kepulan asapnya mereda. "Terima kasih, Hyung," ucapnya pada lelaki yang sengaja menghidangkan minuman favoritnya untuknya.
"Kau ini seperti pada siapa saja, Kyu," candanya. "Bukankah aku selalu menyiapkan cokelat panas tiap kali kau datang?"
"Iya. Tapi, tetap saja aku harus berterima kasih, kan, Hyung?"
"Baiklah." Lelaki itu mulai mengacak rambut Kyuhyun—membuat surai panjangnya sedikit berantakan. "Jadi, apa yang ingin sang juara matematika makan sekarang?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Hentikan, Hyung." Kyuhyun menyingkirkan tangan lelaki itu dari atas kepalanya. Selain tak suka dengan perlakuan yang diterimanya, ia juga tak suka jika orang itu menggodanya dengan panggilan tersebut. Ia hanya kebetulan menjuarai olimpiade. Yah, walaupun kebetulan itu membuatnya tidak hanya sekali memperoleh medali emas. Namun, bukankah mereka keterlaluan bila terus-terusan menggodanya seperti itu. Menyebalkan. Hangeng Hyung menyebalkan.
Orang yang dikata 'menyebalkan' oleh Kyuhyun, tersenyum geli melihat tingkah remaja itu. Ia tahu betul jika Kyuhyun tak menyukai apa yang barusan dilakukannya. Tetapi, menjadi teman Heechul selama lebih dari sepuluh tahun, membuat bakat 'jahil' sahabatnya ikut menular padanya. Alhasil, ia sangat menikmati saat dirinya dengan sengaja menggoda Kyuhyun. Harusnya Kyuhyun kebal mengingat ia sudah sering melakukannya beberapa tahun belakangan ini. Tapi, jangan. Ia tidak akan bisa lagi melihat reaksi Kyuhyun yang menurutnya lucu bila bocah itu kebal akan candaanya. Yang ada hanya 'Kyuhyun membosankan'—mengutip kalimat Heechul.
"Kau mau kubuatkan nasi goreng?" tawar Hangeng yang hafal makanan kesukaan Kyuhyun.
Sebenarnya, makanan yang paling Kyuhyun sukai adalah jajangmyeon. Dan jelas, tempatnya berada sekarang tidak menjual makanan tersebut. Nasi goreng juga tak masalah. Apalagi nasi goreng buatan Hangeng yang sudah terkenal akan kelezatannya. Tentu, ia tak akan melewatkan kesempatan ini. Jadilah, ia mengangguk antusias untuk menjawab pertanyaan Hangeng.
"Tunggu, ya. Aku akan segera membuatkannya untukmu." Diberikannya senyum pada Kyuhyun sebelum beranjak meninggalkan pemuda itu menuju dapur. Tak lupa, ia menyunggingkan senyum kala berpapasan dengan beberapa pengunjung kafe. Ya, kafe ini adalah milik Hangeng. Ralat. Milik Heechul dan Hangeng.
Setahunya, kafe bernama 'Cozy' ini didirikan oleh kakaknya dan Hangeng dua tahun lalu. Memang sederhana dan sekilas mirip dengan kafe-kafe lain yang betebaran di seantero Seoul. Yang membedakan, menu yang tersedia di kafe ini lebih lengkap, ruang yang lebih luas dengan jumlah meja lebih banyak, dan yang terpenting kafe ini milik kakaknya. Ada untungnya juga menjadi adik dari pemilik kafe. Setidaknya, ia bisa mendapatkan pelayanan gratis di sini.
Tenang saja. Ia tidak sering melakukannya. Hanya sesekali ketika ia ingin melihat kakaknya bermain musik. Oh, iya. Sang pemilik—Heechul dan Hangeng—juga merupakan pengisi musik di kafe ini. Tapi, mereka tidak tampil setiap hari. Hanya dua kali dalam seminggu. Dan hari ini adalah salah satunya. Mereka akan menampilkan musik ciptaan mereka sendiri. Ia benar-benar tak sabar menantikannya. Maklum, sudah cukup lama sejak terakhir kali ia mendengarkan musik mereka.
Bicara tentang Heechul, di mana kakaknya berada sekarang? Ia belum melihatnya. Baru Hangeng yang menemuinya tadi. Apa kakaknya sibuk? Memangnya sibuk apa? Ah, untuk apa ia peduli. Bisa besar kepala hyung-nya itu. Dan itu akan berakibat fatal baginya. Kakaknya akan menjadi sangat jahil padanya. Cukup di Rumah Harapan ia merasakannya. Tak perlu ditambah saat dirinya ada di sini.
Kyuhyun memperhatikan sekelilingnya. Hampir seluruh meja sudah terisi. Suasana kafe di sore hari memang ramai. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Sebagian besar orang sudah menyelesaikan aktivitasnya menjelang terbenamnya matahari. Wajar jika mereka menikmati waktu santainya di taman, kafe, atau di mana pun mereka suka. Ia pun juga sedang menikmati waktu santainya dengan berkunjung ke tempat ini.
Kebanyakan dari pengunjung tidak datang sendiri. Mereka datang berdua, bertiga, berempat, bahkan ada yang membuat kelompok berisi delapan orang. Mereka terlihat begitu asyik menikmati makanan dan minuman yang tersaji sembari diselingi obrolan. Namun, mereka yang sendiri cenderung memilih tempat yang sulit dijangkau karena mencari suasana tenang, sama seperti dirinya. Beberapa dari mereka sibuk berkutat dengan buku tebal, laptop, atau gadget mereka. Berbeda dengan Kyuhyun yang tak berniat sedikit pun mengeluarkan gadget—PSP—miliknya. Memperhatikan mereka ternyata lebih menyenangkan.
"Nasi goreng ala chef Hangeng tiba," ujar sebuah suara mengagetkan Kyuhyun. Bukan. Bukan karena apa yang Kyuhyun inginkan akhirnya tiba yang membuatnya terkejut. Namun, lebih kepada suara yang memasuki indera pendengarannya. Ia mengenal pemiliki suara tersebut. Dan rasa kejut itu bertambah tatkala sang pemilik suara muncul di hadapannya. Itu Heechul, kakaknya.
"Hyung!"
Heechul meletakkan sepiring nasi goreng serta segelas air putih ke atas meja. "Kenapa? Kau terkejut melihatku muncul?"
"Tidak. Aku hanya—"
"Semua terlihat jelas di wajahmu, Kyu," potong Heechul cepat.
Benarkah? Memang apa yang terlihat di wajahnya? Tulisan 'Aku terkejut'-kah?
Heechul menyentil dahi Kyuhyun. "Ekspresi wajahmu itu mudah dibaca." Ia lalu mendudukkan dirinya di depan Kyuhyun. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Kyuhyun memegangi dahinya bekas sentilan Heechul. Tidak sakit, sebenarnya. Tapi, refleks tangannya-lah yang bergerak.
"Kalau kau kangen padaku, nanti malam, kan, kita ketemu di rumah."
Belum juga Kyuhyun menjawab pertanyaan Heechul, kakaknya itu sudah narsis duluan. Pantas saja kakaknya mendapat julukan 'Tukang Narsis'—selain 'Raja Jahil'. Tingkat narsisnya berada di atas rata-rata. Sifat menyebalkan Heechul yang lain.
"Aku ingin menonton hyung dan Hangeng hyung."
Heechul terlihat berpikir kemudian berkata, "Tapi hari ini bukan jadwal kami."
Mata Kyuhyun nyaris membulat sempurna mendengar ucapan Heechul. "Benarkah?" Ia bahkan menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi.
Heechul menganggukkan kepalanya.
Melihat itu, bahu Kyuhyun melemas. Terbayang olehnya perjalanannya dari sekolah ke kafe yang jaraknya sama jauhnya dengan sekolah-Rumah Harapan. Butuh lebih dari setengah jam untuk berjalan kaki.
"Aku bercanda."
"Eh?" Kyuhyun merespon seperti orang bodoh.
"Sudah kukatakan, wajahmu mudah ditebak."
Kyuhyun baru sadar. Heechul lagi-lagi menjahilinya. Dan kenapa selalu berhasil padanya? Menyebalkan.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu," ujar Heechul ketika dilihatnya Kyuhyun mulai mengerucutkan bibirnya. "Makan dulu nasi gorengnya. Keburu dingin." Ia makin mendekatkan piring berisi nasi goreng pada Kyuhyun.
Kyuhyun tak melanjutkan perdebatan tak jelas-nya dengan Heechul. Lebih baik ia mengalah karena jelas ia tak akan menang dalam adu mulut ini. Lagipula, nasi goreng buatan Hangeng sudah menanti untuk ia nikmati. Ia mengambil sendok lalu mulai menyantap hidangan tersebut. Satu kata untuk menggambarkan rasanya. Lezat.
Heechul tersenyum melihat betapa lahap adiknya menikmati makanan itu. Ada rasa puas yang menyusup ke dadanya. Ah, ia jadi ingat adiknya yang lain. Haruskah ia meminta Hangeng membuatkan nasi goreng untuk mereka?
Tak lama, orang yang dipikirkan Heechul muncul dan tengah berjalan ke arahnya. "Sudah waktunya, Heechul-ah," katanya ketika sampai di meja yang Kyuhyun tempati.
Heechul melihat arloji di tangannya. Tepat pukul 6. Waktu untuknya dan Hangeng unjuk diri.
"Kau tunggu di sini, ya, Kyu. Jangan ke mana-mana," pesan Heechul sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun.
Heechul dan Hangeng berjalan beringingan menuju panggung kecil di salah satu sudut kafe. Mereka kompak mengambil dua gitar yang terletak di sana. Semua pasang mata langsung tertuju pada keduanya saat petikan gitar mulai mengalun indah. Bukan rahasia lagi bila penampilan mereka merupakan penampilan yang paling ditunggu-tunggu. Musik yang mereka mainkan benar-benar indah. Jangan salah. Mereka membuat sendiri musik mereka. Tak heran, pengunjung menyukai keindahan sekaligus originalitas musik mereka. Two thumbs for them.
Sekali lagi. Musik mereka benar-benar indah. Kyuhyun terhanyut oleh permainan dua kakaknya—Kyuhyun sudah menganggap Hangeng sebagai kakaknya. Dipejamkannya matanya, menikmati petikan gitar keduanya. Tiba-tiba pikiran Kyuhyun berlabuh pada ingatannya akan kejadian hari ini. Sekolahnya menyenangkan. Begitu pula dengan teman-temannya. Ada Henry dan Ryeowook serta teman sekelasnya yang lain—ia belum bisa mengingat nama mereka semua. Ia juga berkenalan dengan kakak Henry. Siapa namanya? Kibum? Ya, Kibum. Tunggu. Kibum? Rasanya, ia pernah mendengar nama itu. Tapi, di mana?
.
.
Kyuhyun.
Nama itu terus berputar dalam benak Kibum. Seberapa pun keras usaha Kibum untuk sejenak melupakannya, tidak membuahkan hasil. Nama itu bercokol kuat di sana. Ia bahkan tak dapat fokus belajar karenanya. Maka, ia memutuskan menghentikan kegiatan yang jelas sia-sia itu. Lantas, apa yang dilakukannya sekarang? Ia masih berada di meja belajar, duduk dengan tangan menggenggam selembar foto. Di dalam foto, ada sepasang suami istri dengan dua anak lelaki di pangkuan mereka. Masing-masing dari mereka menyunggingkan sebuah senyuman—memperlihatkan betapa bahagianya keluarga kecil itu.
Kibum mendecih.
Bahagia? Ia tidak yakin apa benar keluarga itu bahagia. Mereka hanya belum tahu bencana apa yang akan terjadi pada keluarga kecilnya, makanya senyum itu masih bisa terulas indah. Sebuah bencana yang membuat mereka terpecah-belah. Marah? Tentu saja. Sedih? Itu sudah pasti. Kesalahan seseorang telah menghancurkan keluarga yang sangat mereka banggakan.
Ingin sekali Kibum merobek foto itu kemudian membuangnya ke tempat sampah, atau membakarnya hingga tak berbekas. Tapi, tidak bisa. Sudut kecil hatinya tidak bisa melakukannya. Walau seberapa benci dirinya pada orang itu, ia tetap tidak bisa melakukannya. Jika ia menghancurkannya, maka senyum mereka pun lenyap. Ia tak mau kehilangan senyum itu.
Ia menghembuskan nafas berat. Diletakkannya foto itu di atas meja lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sepuluh tahun berlalu sejak hari itu. Tetapi, luka hatinya masih sama seperti hari itu. Tidak berkurang dan justru bertambah mengingat kedewasaannya meningkat seiring pertambahan usianya. Sekarang, ia mengerti apa yang terjadi pada keluarga itu—keluarganya—dan mengapa hal itu bisa terjadi. Yang tidak ia mengerti, mengapa orang itu tega melakukannya.
Ia memejamkan mata, berusaha menetralkan hatinya yang sempat dikuasai amarah. Ia menarik nafas dalam kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Berulang kali ia melakukannya hingga hatinya kembali tenang. Diliriknya jam dinding kamarnya. Lewat tengah malam. Dan ia belum tidur? Secuil rasa kantuk pun belum ia rasakan. Sedikit frustasi begitu ingat tugas sekolahnya belum ia kerjakan sama sekali.
Umpatan kecil meluncur bebas dari bibir Kibum. Mau tak mau, ia harus melenyapkan Kyuhyun atau pun foto itu dari otaknya. Ia harus segera mengerjakan tugas-tugasnya sebelum malam semakin larut dan semakin banyak mengikis waktu tidurnya.
Ia menyelipkan secara asal foto itu ke dalam sebuah buku. Lalu, diambilnya kembali buku pelajaran yang tadinya ia abaikan, buku tulis, dan pena. Tangannya mulai lincah mencorat-coret buku tersebut dengan berbagai rumus dan perhitungan fisika. Akhirnya, fokus Kibum pun berhasil teralihkan.
.
.
.
Salah satu pelajaran yang paling Kyuhyun hindari adalah olahraga. Bukan karena ia malas atau benci pelajaran itu. Tubuhnya-lah yang tak mau diajak bersahabat. Ia akan cepat merasa lelah dan jika terlalu lama kekurangan pasokan oksigen, dadanya akan terasa sesak. Ia sendiri heran dengan kondisi tubuhnya. Terlalu lemah. Pernah sekali, ia memaksakan diri. Namun yang terjadi, ia malah terbaring sakit selama beberapa hari setelahnya. Setahunya, olahraga itu menyehatkan. Khusus untuknya, olahraga itu menyakitkan.
Menghindari olahraga bukan berarti ia tak pernah melakukannya sama sekali. Setelah kejadian dirinya sakit akibat terlalu memaksakan diri, ia jadi tahu batasan tubuhnya. Tidak boleh terlalu lelah. Ia harus segera berhenti ketika tubuhnya sudah merasakan lelah. Tentu saja, ia sudah memberitahukan sekolah perihal kondisi tubuhnya tersebut. Yah, sedia payung sebelum hujan. Lebih baik sekolah tahu terlebih dulu daripada tubuhnya bermasalah dan merepotkan pihak sekolah.
Pagi ini, di hari ketiga bersekolah, para penghuni kelas 1-6 terlihat berlarian mengelilingi lapangan. Mereka kompak mengenakan setelan kaos putih dan celana training berwarna merah. Tepat. Mereka kini tengah mengikuti pelajaran olahraga. Beruntung kelas mereka mendapat jadwal olahraga di jam pertama sehingga teriknya mentari belum terasa. Dan juga udara masih bersih yang tentu terasa segar ketika dihirup.
Tema olahraga hari ini adalah bebas. Dimulai dari pemanasan ringan serta lari keliling lapangan, guru kemudian membebaskan murid-muridnya melakukan olahraga yang mereka sukai. Tentu, sang guru tetap mengawasi mereka. Bahkan, guru ikut bermain sembari mengajarkan teknik olahraga yang tepat. Murid lelaki memilih bermain sepak bola, sementara murid perempuan sibuk bermain dodge ball.
Kyuhyun juga ikut bermain sepak bola, bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tapi, ia hanya mampu bertahan selama beberapa menit di lapangan. Mungkin sekitar lima belas menit. Atau sepuluh menit. Entahlah. Ia tidak menghitungnya. Yang pasti, ia sudah merasa lelah. Karenanya, ia berhenti dan memilih duduk di pinggir lapangan sambil menikmati permainan yang ditunjukkan teman-temannya.
Kyuhyun dapat mendengar dengan jelas teriakan siswa perempuan tak jauh darinya. Kepalanya menoleh, penasaran juga mengapa mereka berteriak keras. Dan ia tahu alasannya. Guru olahraganya, Choi Siwon, berada di antara mereka. Raut wajah para siswa perempuan itu antara senang dan malu. Oh, tentu saja. Selain masih muda, gurunya memiliki wajah rupawan. Entah sebuah keberuntungan atau bukan, guru olahraganya itu merangkap sebagai wali kelasnya.
Cukup sudah ia memperhatikan siswa perempuan itu. Pandangannya kembali beralih pada para siswa lelaki. Mereka terlihat masih bersemangat memainkan bola di kaki mereka. Ingin bermain lagi, tapi ia terpaksa harus puas dengan hanya melihat mereka. Di saat seperti inilah, ia merutuki kondisi tubuhnya. Ah, tidak. Ia tidak boleh melakukan hal itu. Biar bagaimana pun, ia bersyukur masih bisa bernafas dan bergerak. Jungsoo dan Heechul sering mengatakan betapa beruntung dirinya masih diberi kesempatan hidup. Jadi, ia tidak boleh mengeluh. Tetap bersyukur dan nikmati hidup.
"Kalau tidak salah, namamu Kyuhyun, bukan?"
Telinga Kyuhyun secara tiba-tiba menangkap sebuah suara yang sebenarnya tak asing baginya. Suara itu berasal dari gurunya yang dilihatnya sedang berjalan ke arahnya. Spontan, ia berdiri lalu membungkukkan badannya ke arah sang guru. "Ne, Saem," jawabnya.
Siwon mendudukkan dirinya di dekat Kyuhyun. Sedikit canggung, Kyuhyun duduk di tempatnya semula. Kini, ia dan Siwon duduk berdampingan walau terdapat jarak di antara mereka.
"Tidak ikut bermain?"
Kyuhyun tampak berpikir, agak bingung bagaimana menjelaskan kondisi tubuhnya pada gurunya. "Itu... Tubuh saya—"
"Ah, maaf. Aku lupa tentang kondisi tubuhmu," ujar Siwon setelah teringat kondisi khusus salah satu muridnya itu. Sekolah sudah memberitahukannya tentang Kyuhyun. Ia tidak sengaja melupakannya tadi. Seperti kebanyakan orang lainnya, ia juga bisa lupa.
Kyuhyun tersenyum maklum. Tak masalah baginya. Gurunya sudah ingat tanpa Kyuhyun harus menjelaskannya. "Tidak apa-apa, Saem."
"Apa sudah sejak kecil seperti itu?"
"Iya. Sejak kecil saya sering sakit."
Siwon mengangguk paham. "Begitu, ya. Pasti tidak enak terus-terusan sakit," komentarnya.
"Tidak ada sakit yang enak, Saem." Kyuhyun menyelipkan sedikit nada bercanda dalam suaranya.
Tawa kecil keluar dari bibir Siwon, merespon candaan Kyuhyun. "Kau benar. Kalau sakit itu enak, aku akan memilih sakit daripada sehat."
Obrolan antara guru dan murid itu berlangsung agak lama hingga sekelompok siswa muncul dan bergabung dengan mereka. Salah satu dari siswa itu berjalan mendekati Siwon dan Kyuhyun. Ia sedikit membungkuk ketika sampai di depan Siwon.
"Saem, saya dapat pesan yang isinya Anda diminta menggantikan Yoochun Sonsaengnim yang tidak bisa datang hari ini," ujar pemuda yang dikenali Kyuhyun bernama Kibum.
"Benarkah? Aku belum mendapat pesannya."
"Jaesuk Sonsaengnim yang mengatakannya, Saem."
Siwon mengangguk, mengerti akan situasi yang terjadi. Ia beranjak dari duduknya. "Baiklah. Aku akan jadi guru kalian hari ini." Ia berjalan mendahului Kibum menuju kelompok siswa yang belum lama bergabung di lapangan itu.
Kyuhyun melihat kepergian mereka berdua dengan perasaan yang... biasa saja. Memang harus bagaimana lagi? Ia tidak mungkin mencegah gurunya mengajar kelas lain. Toh, kelasnya sedang berolahraga bebas sejak tadi. Keberadaan gurunya juga tidak begitu penting. Lagipula, mereka—Kibum dan teman sekelasnya—merupakan senior Kyuhyun. Mereka dua tahun lebih tua dari Kyuhyun yang artinya mereka kelas tiga dan berada di tahun terakhir SMA.
Tentang nama Kibum, ia ingat pernah punya teman dengan nama tersebut. Waktu SD, kalau tidak salah. Pantas, ia tidak asing dengan nama Kibum.
Jika Kyuhyun merasa santai dengan pertemuan mereka, keadaan berbeda justru dirasakan Kibum. Sudah menjadi kewajibannya sebagai ketua kelas untuk memastikan keadaan kelasnya selalu baik. Karena itu pula, ia selalu menjadi orang pertama yang berurusan dengan guru dan mengemban tanggung jawab atas apa yang terjadi pada kelasnya. Tidak mudah, memang, menjadi ketua kelas.
Saat Kibum tahu harus menemui Siwon, seketika rasa gugup menyerangnya. Bukan Siwon yang membuatnya gugup—ia sudah berkali-kali menemui guru—melainkan Kyuhyun-lah yang menimbulkan rasa gugup itu. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya merasa demikian. Padahal, baru dua kali ini ia bertemu Kyuhyun. Dan ia belum memastikan identitas Kyuhyun. Apakah benar bocah itu yang ia cari? Tapi, sungguh. Ia merasa seperti bertemu Kyuhyun yang ia sayangi dan rindukan—dia yang telah lama tidak ia temui.
Siwon memberi arahan sama seperti yang dilakukannya pada kelas Kyuhyun, yakni pemanasan ringan kemudian membebaskan murid kelas tiga itu berolahraga sendiri. Ada yang bergabung dengan kelasnya—bermain dodge ball dan sepak bola, ada yang membentuk kelompok sendiri dan memainkan olahraga lain seperti badminton, dan ada pula yang hanya duduk di pinggir lapangan.
Kedatangan senior mereka otomatis mengubah aturan permainan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Kyuhyun tak tahu kesepakatan baru yang tercipta antara mereka. Buat apa? Jelas, ia tak akan bergabung lagi dalam permainan tersebut. Bahkan teman-temannya, satu-persatu mulai meninggalkan lapangan. Mungkin mereka lelah. Sudah satu jam permainan sepak bola itu berlangsung. Jadi, wajar bila tubuh mereka butuh istirahat.
Kibum melangkahkan kakinya menuju kumpulan pemuda di lapangan sepak bola. Ia tidak ingin bermain, tapi tetap ia ingin ke sana. Karena terlalu fokus dengan Kyuhyun tadi, ia melupakan satu hal. Adiknya, Henry juga ada di sana. Oh, mereka adalah teman sekelas Kyuhyun yang berarti pula, mereka teman sekelas Henry. Benar, kan?
Kibum duduk agak jauh dari siswa lain. Kepalanya menoleh ke kanan lalu ke kiri. Tidak ada. Dua pemuda yang dikenalkan Henry padanya kemarin, tidak ada di sana. Bagaimana dengan Henry? Tak usah tanyakan keberadaannya. Dari kejauhan, ia bisa melihat adiknya masih bersemangat bermain di lapangan. Setidaknya, hal itu dapat melegakan hati Kibum karena Henry beradaptasi dengan baik di minggu awal sekolahnya.
"Oh, Hyung. Kau ada di sini."
Suara itu mengembalikan kesadaran Kibum sekaligus membawa kembali rasa gugupnya yang sempat menghilang. Padahal, suara itu bukanlah milik orang yang sedari tadi membuatnya gugup. Ryeowook. Itu adalah suara Ryeowook. Ia sangat tahu itu karena otaknya masih merekam jelas pertemuan mereka kemarin. Tapi, tetap saja kegugupan dirasakannya. Adakah yang salah dengan kerja otaknya? Atau justru jantungnya yang bermasalah?
Kyuhyun dan Ryeowook, dua pemuda teman Henry berdiri tak jauh darinya dan kini tengah menghampirinya. Tanpa sadar, kedua ujung bibir Kibum sedikit tertarik membentuk senyum samar yang tak terlalu kentara. Ia gugup dan senang di waktu bersamaan. Orang yang ditunggu-tunggunya akhirnya muncul.
"Henry jago bermain bola," puji Ryeowook yang tahu ke mana arah pandangan Kibum.
Kibum menganggukkan kepala—setuju akan pujian yang dilontarkan Ryeowook. "Ya. Selain bermain musik, dia juga suka bermain sepak bola." Ia menambahkan. "Kalian tidak ikut bermain?" tanyanya kemudian.
"Tadi ikut main. Tapi, sekarang sudah berhenti. Capek," jawab Ryeowook yang terdengar seperti orang mengeluh.
Kibum memaklumi jawaban Ryeowook. Olahraga memang menimbulkan rasa lelah. Matanya lalu beralih pada pemuda lain di samping Ryeowook. "Kalau kau?"
"Dia tidak bisa main bola, Hyung. Baru sebentar bermain, langsung berhenti."
Bukan Kyuhyun yang menjawab pertanyaan tersebut, melainkan Ryeowook. Kibum dan Kyuhyun kompak melihat ke arahnya dengan kernyitan di dahi mereka. Heran dengan tingkah Ryeowook yang mendadak menyerobot pertanyaan Kyuhyun. Mereka tidak sedang berlomba, jadi untuk apa saling serobot?
Sadar akan tatapan aneh yang ditujukannya untuknya, Ryeowook buru-buru memasang wajah bersalahnya. Ini merupakan salah satu kebiasaan buruk Ryeowook—menyerobot obrolan orang lain. Karena menjadi kebiasaan, ia tidak sadar sudah melakukannya lagi dan lagi. "Maaf." Hanya empat huruf itu yang bisa ia ucapkan.
"Tidak apa-apa, Ryeowook-ah. Aku hanya kaget. Ternyata kau banyak bicara."
Ryeowook menunjukkan cengiran lebarnya, menampilkan deretan giginya yang rapi. Hampir semua orang yang mengenalnya akan mengatakan kalimat seperti yang Kyuhyun ucapkan—'banyak bicara'. Tampaknya, sifatnya yang satu ini sudah mendunia hingga banyak yang tahu. Tapi, kenapa ia tidak merasa bangga karenanya, ya?
Kibum diam. Tak menanggapi obrolan dua pemuda itu walau ia satu pemikiran dengan Kyuhyun. Yah, setidaknya ia sudah tahu kebenaran pemikirannya tentang Ryeowook yang banyak bicara. Tak perlu tambahan komentar darinya.
Baiklah, cukup basa-basinya. Ada yang harus ia tanyakan pada Kyuhyun. Sesuatu yang harus segera ia pastikan sebelum kian parah mengganggu kinerja otaknya. "Oh, iya. Namamu Kyuhyun, bukan?" Ia mulai berucap. "Boleh aku tahu nama lengkapmu?"