Rumah Harapan.
Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kalimat tersebut? Rumah yang berisi sejuta harapan? Atau hanya sebuah nama untuk menarik ketertarikan orang-orang?
Keduanya tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Rumah Harapan adalah tempat di mana para penghuninya merajut harapan akan kehidupannya. Dan sebagai sebuah panti asuhan, Rumah Harapan tentu ingin menarik simpati orang-orang untuk ikut memberi harapan di sana. Mereka yang ada di Rumah Harapan sama seperti manusia lain di luar. Mereka hanya menjadi korban takdir hingga harus berada di sana. Ah, tidak. Kata 'korban' terlalu kejam untuk digunakan. Justru mereka beruntung berada di sana. Mereka belajar untuk saling menyayangi layaknya saudara walau tak ada hubungan darah antara mereka. Mereka belajar untuk tak saling membenci karena sesungguhnya mereka adalah keluarga. Mereka belajar untuk saling berbagi karena tak ada 'milik sendiri'. Semua menjadi milik bersama. Jika satu orang tertawa, maka mereka akan ikut bersuka cita bersama. Sebaliknya, jika salah satu dari mereka berduka, maka yakinlah, seluruh penghuni Rumah Harapan akan merasakan rasa yang sama. Sebuah hubungan yang sangat kuat, bukan?
Saat ini, Rumah Harapan tengah diliputi kebahagiaan. Beberapa orang di antara mereka baru saja merasakan hari pertama di sekolah. Ada yang baru masuk TK, SD, SMP, dan SMA. Ruang makan menjadi tempat mereka mencurahkan segalanya bersama. Tak heran jika ruang itu berubah gaduh. Setiap anak seolah berlomba menceritakan pengalaman yang mereka alami. Dua wanita paruh baya yang juga duduk di sana ikut memperhatikan mereka dengan senyum mengembang di wajahnya. Dua wanita itulah yang selama ini mereka panggil sebagai 'Eomma'.
Kebahagiaan mereka semakin lengkap tatkala hyung tertua mereka pulang dengan membawa hadiah untuk mereka. Hanya peralatan sekolah. Tapi, mereka tetap senang menerimanya. Mereka sudah belajar bagaimana caranya bersyukur saat menerima pemberian orang lain. Lagipula, dengan pulangnya Jungsoo dan Heechul—hyung tertua—maka bertambah pula daftar pendengar mereka. Betul, tidak?
Jungsoo dan Heechul membagikan seluruh barang bawaan mereka pada anak-anak penghuni Rumah Harapan. Kata 'terimakasih' secara bergantian mereka ucapkan. Jungsoo dan Heechul tentu puas karena bisa menyenangkan adik-adiknya. Ya, Jungsoo dan Heechul tinggal di sana, yang artinya mereka berdua juga merupakan salah satu penghuni Rumah Harapan. Mereka berdua sekarang sudah bekerja. Jungsoo sebagai dokter dan Heechul sebagai seorang musisi.
Semua anak telah menerima hadiah mereka. Begitu pula dengan dua eomma mereka. Jungsoo dan Heechul tak akan lupa dengan dua orang yang sangat mereka sayangi itu. Eomma-lah yang telah menemukan, merawat, dan membesarkan mereka hingga menjadi diri mereka saat ini. Sudah sepantasnya mereka membalas jasa kedua eomma-nya itu.
Heechul berjalan menuju barisan pemuda yang duduk paling belakang. Perlahan, ia mendekati salah seorang di antaranya yang duduk sembari menyenderkan punggungnya pada tembok. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan sang pemuda. Tanpa disangka-sangka, Heechul menyunggingkan senyumnya hingga membuat matanya menyipit. Pemuda itu mengernyitkan dahi—merasa aneh dengan tingkah kakaknya barusan. Tentu saja. Siapa yang tak merasa aneh jika tiba-tiba melihat orang menunjukkan puppy eyes—istilah untuk senyum Heechul tadi—nya padamu? Terutama untuk Heechul yang kepribadiannya nyaris tak bisa ditebak. Tak ada yang menjamin, tak ada maksud tersembunyi dibalik senyumnya itu. Mencurigakan.
"Aku punya hadiah spesial untukmu, Kyu."
Kerutan di dahi pemuda bernama Kyuhyun itu bertambah. Benar tebakannya mengenai maksud tersembunyi kakaknya. Yang tak ia tahu adalah apa maksud tersembunyi itu. Kyuhyun sudah bersiap untuk marah jika Heechul menjahilinya lagi—seperti biasa. Oh, siapa yang tidak tahu julukan yang diberikan penghuni Rumah Harapan untuk Heechul. Raja Jahil. Itu karena sifat jahilnya yang berada di level tertinggi.
"Hadiah apa, Hyung?" tanya Kyuhyun, akhirnya. Catatan. Heechul tak akan memberitahu jika tak ada yang membalas perkataannya.
Heechul mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan itu adalah sebuah PSP. Demi apa pun. Benda itu sangat diinginkan Kyuhyun. Sejak pertama kali Kyuhyun melihat Heechul memainkannya, ia langsung tertarik untuk memilikinya. Namun, harganya yang tak ramah bagi kantongnya, membuat ia harus ekstra sabar dan menahan kuat-kuat keinginannya.
Kini, benda yang sejak lama diimpi-impikan Kyuhyun berada tepat di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil benda itu dari tangan Heechul. Perasaan kaget, senang, dan takjub, bercampur aduk di hatinya. "Terima kasih, Hyung."
Heechul tersenyum puas. Diacaknya pelan surai panjang milik Kyuhyun. "Katakan itu juga pada Jungsoo."
Sejenak, Kyuhyun melihat Heechul. Kemudian, pandangannya beralih pada lelaki dewasa yang berjarak beberapa meter darinya. Jungsoo masih dikerumuni adik-adiknya yang lain. Namun, lelaki itu tak hanya memusatkan perhatiannya di sana karena Jungsoo tahu apa yang sedang Heechul dan Kyuhyun lakukan di belakang sana. Bagaimana Kyuhyun tahu? Senyum kakaknya-lah jawabannya. Senyum terulas di bibir Jungsoo ketika pandangan mata mereka—Kyuhyun dan Jungsoo—bertemu.
"Aku juga mau, Hyung."
Celetukan yang dilontarkan seseorang yang duduk tak jauh dari Kyuhyun, sempat membuat kepanikan mendera hatinya. Tentu saja. Sekali lihat, orang akan tahu jika benda di tangan Kyuhyun adalah benda mahal. Tidak mungkin tidak ada yang iri melihatnya menerima benda mahal itu dari sang kakak. Rasa iri merupakan sumber perpecahan. Ia tidak mau perasaan itu merusak ikatan persaudaraannya dengan mereka yang terjalin selama ini.
Tak ada yang berubah dengan raut wajah Heechul. Ia masih menunjukkan senyum khasnya. Tak ada tanda-tanda kepanikan, seperti yang Kyuhyun alami. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi sehingga sebuah jawaban sudah dipersiapkannya. "Kalian mau?" tanyanya tidak hanya pada anak yang bertanya tadi. "Kalau begitu, jadilah seperti Kyu. Nanti hyung akan membelikan apa pun yang kalian mau," tambahnya, diplomatis.
"Seperti Kyu hyung? Berarti harus pintar, ya, Hyung?"
Heechul terlihat berpikir, mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Ya, harus pintar." Tiba-tiba Jungsoo menyela. Ia yang kini berdiri di belakang Heechul, berjalan menghampiri si anak yang bertanya kemudian mendudukkan dirinya di depannya. "Tapi, tidak harus pintar matematika, seperti Kyu. Pintar itu macam-macam. Misalnya, Junho jago gambar lalu menjadi juara di perlombaan gambar. Itu namanya juga pintar," jelasnya dengan bahasa yang sekiranya dimengerti oleh anak berusia sepuluh tahun.
"Lagipula, hyung membelinya dengan uang hadiah kemenangan Kyu di olimpiade kemarin. Hyung hanya sedikit menambahi agar jumlahnya pas," sambung Heechul.
Junho manggut-manggut tanda mengerti. Sementara Kyuhyun bisa bernafas lega karena tidak harus menjelaskannya pada Junho. Entah, apa yang akan dikatakannya bila memang harus melakukannya. Bukannya mengerti, mungkin Junho malah pusing dibuatnya. Ah, ia memang tak memiliki bakat itu—segala hal yang berhubungan dengan memberi penjelasan.
.
.
.
Diterima di SMA terbaik, terlebih di kota Seoul, adalah harapan hampir semua murid dan orangtua yang tinggal di kota metropolitan itu. Tak diragukan lagi betapa sulitnya masuk ke sana. Segala doa dan upaya terus dilakukan demi tercapainya harapan tersebut. Salah satunya dengan rajin belajar. Tapi, entah karena budaya atau apa, mereka terlalu terobsesi dengan belajar. Bahkan, ada yang setiap hari harus begadang hanya untuk belajar. Yah, belajar memang baik. Tapi, jika berlebihan, apakah masih tetap baik?
Kyuhyun merupakan salah satu siswa beruntung yang diterima di SMA terbaik Seoul. Lebih beruntung lagi karena sekolah memberikan beasiswa penuh padanya. Semua itu berkat prestasinya memenangkan olimpiade matematika. Tak tanggung-tanggung. Medali emas pun sukses diraihnya. Sungguh prestasi yang membanggakan.
Koridor sekolah masih sepi kala Kyuhyun berjalan melewatinya. Memang belum banyak siswa yang datang. Ia sempat melirik ke dalam kelas yang dilaluinya. Baru sedikit yang datang. Bahkan, ada kelas yang masih kosong. Maklum. Bel masuk sekolah baru akan berbunyi setengah jam lagi. Wajar jika sekolah masih terlihat lengang.
Kelas 1 – 6.
Kyuhyun menjejakkan kakinya masuk ke dalam kelas. Diedarkannya pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Kosong. Kursi-kursi itu masih tak bertuan. Belum ada siswa lain di sana selain dirinya. Ia pun segera berjalan menuju bangku yang kemarin sudah dipilihnya. Coba tebak, Kyuhyun duduk di mana? Ya, ia duduk di tempat favoritnya. Bangku paling belakang dekat jendela. Entah kekuatan magis apa yang selalu menarik Kyuhyun duduk di sana. Saat SD dan SMP pun, ia rajin duduk di bangku terbelakang itu. Padahal, siswa lain cenderung menghindari bangku paling belakang dan justru berlomba-lomba untuk duduk di bangku terdepan. Aneh, memang.
Ia meletakkan tasnya ke atas meja kemudian mendudukkan dirinya ke kursi. Ia merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan memainkan benda itu—yang adalah PSP pemberian Heechul semalam. Ia memencet salah satu tombolnya hingga membuat layar PSP itu menyala. Sedetik kemudian, ia sudah larut dengan permainan benda yang diklaim sebagai hidup keduanya itu.
Kyuhyun dan hidup keduanya terlalu asyik bersama hingga tak menyadari keadaan sekitarnya yang semakin ramai. Hampir semua kursi telah terisi. Begitu pun dengan kursi di samping Kyuhyun yang sudah kedatangan penghuninya. Ia tak akan sadar sampai pemuda itu mengeluarkan suaranya.
"Sedang main apa?"
Kyuhyun sedikit terlonjak ketika mendengar suara yang begitu dekat dengannya. Refleks, ia menekan tombol pause lalu mencari tahu asal suara itu. Seseorang yang dikenalinya bernama Henry menatap penasaran benda di tangannya. "Oh, ini,"–ia sedikit mengangkat PSP-nya-"ini PSP."
Oh, jangan ledek Henry dengan mengatakan dirinya tidak tahu tentang PSP. Ia tahu, tentu saja. Ia juga mempunyai benda pipih persegi panjang itu di rumahnya. Perhatikan lagi pertanyaan Henry. Ia bertanya tentang permainan apa yang dimainkan Kyuhyun. Bukan bertanya mengenai benda apa yang dipegang Kyuhyun. Pastilah fokus Kyuhyun masih bersama PSP-nya hingga salah menjawab pertanyaan Henry.
Helaan nafas keluar dari bibir Henry. "Sudahlah," ujarnya pasrah. Keinginannya untuk tahu hilang seketika. Jadi, ia memilih tidak memperpanjang obrolannya tentang PSP. "Sebentar lagi bel masuk. Sebaiknya kau simpan PSP-mu itu," lanjutnya.
Kyuhyun melirik jam dinding di depan kelas. Benar yang dikatakan Henry. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Waktu bermainnya telah habis. Sekarang, ia harus mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran hari. Ah, nyaris lupa. Ia belum mengucapkan terima kasih pada Henry. "Terima kasih sudah mengingatkan," ucapnya pada teman sebangkunya itu.
Henry membalasnya dengan senyum lebar hingga membuat kedua pipinya terlihat penuh.
Melihat pipi Henry, entah kenapa membuat Kyuhyun teringat akan sesuatu. Tapi, ia masih belum bisa menemukan 'sesuatu' itu.
"Mochi."
Sebuah suara menginterupsi. Sontak, Kyuhyun dan Henry menoleh. Seorang pemuda berdiri di dekat bangku mereka. Matanya memperhatikan Kyuhyun dan Henry secara bergantian. Ia mengulas senyum kemudian diulurkannya tangan kanannya ke arah Kyuhyun dan Henry. "Salam kenal. Namaku Ryeowook," katanya, memperkenalkan diri.
Ragu, Henry menyambut uluran tangan Ryeowook. "Henry." Ia menyebutkan namanya lalu melepaskan tangannya.
Tangan Ryewook beralih pada Kyuhyun. Mau tak mau Kyuhyun pun membalas jabatan tangan tersebut sambil berkata, "Kyuhyun."
"Ah, kau Kyuhyun yang kemarin ada di depan, kan? Kau yang pernah mendapat juara olimpiade matematika dan mendapat beasiswa dari sekolah. Benar, kan?" tanya Ryewook antusias.
Kyuhyun tersenyum kikuk membalas pertanyaan Ryeowook. Tidak. Tidak ada yang salah. Fakta bahwa ia yang dilihat Ryewook adalah benar. Entah apa yang dipikirkan kepala sekolah hingga ia dan beberapa siswa penerima beasiswa lain—yang kebetulan memiliki prestasi di beberapa bidang—diminta untuk berdiri di panggung saat pemberian sambutan kemarin. Ia tidak ingat siapa saja yang ikut berdiri bersamanya. Tapi, tunggu. Ia ingat sesuatu. Henry... Pemuda itu juga ada di sana.
"Kau juga, kan? Beasiswa ..." tunjuknya pada Henry.
Raut kebingungan tampak jelas di wajah Ryeowook. Ia menatap Kyuhyun kemudian beralih pada Henry. Dipandangnya lekat Henry sembari ingatannya berkelana ke upacara penerimaan sehari yang lalu. Jelas, ia melihat Kyuhyun karena bocah itu berdiri tak jauh dari podium. Lantas, Henry? Ia mengingat lagi siswa-siswa yang berdiri sejajar dengan Kyuhyun—mencari kecocokan fisik mereka dengan Henry. Dan akhirnya, ia menemukannya. Seorang pemuda dengan pipi 'mochi'-nya di ujung barisan.
"Aku ingat! Kau ... Kalau tidak salah, kau ... musik. Benar, kan?" tanya Ryeowook ragu sekaligus senang.
Henry mengangkat bahunya. "Begitulah. Musik adalah hidupku."
"Pantas kau jago bermain musik," komentar Ryewook. "Lalu, bagaimana denganmu, Kyu? Apa matematika juga adalah hidupmu?"
Dengan cepat, Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Bukan. PSP-lah hidupku," ujarnya mantap.
Ryeowook sukses dibuat melongo mendengar jawaban Kyuhyun. PSP? Game? Ia tak salah dengar, bukan? Seorang juara oliampiade matematika menyukai game? Kyuhyun pasti salah bicara. "Kau pasti sedang bercanda."
Kyuhyun mengendikkan bahu, tak acuh. "Aku serius. Setelah hidupku, ada PSP. Matematika menjadi yang ketiga, kurasa."
Lagi, jawaban Kyuhyun membuat Ryeowook bengong—tak mampu berkata-kata. Sementara Henry tersenyum geli melihat reaksi teman barunya itu. Ia sendiri juga cukup terkejut mendengar penuturan Kyuhyun. Tidak mudah menyatukan matematika dan game ke dalam satu kepribadian. Namun, ia mengenal seseorang yang sama seperti Kyuhyun—jenius penyuka game.
Jenius? Sepertinya, Kyuhyun memang termasuk dalam kategori tersebut. Henry berani bertaruh, kemampuan bermain game Kyuhyun pasti tak kalah dengan kemampuan matematikanya. Ia penasaran. Akankah ia menang melawan Kyuhyun jika bertanding PSP dengannya? Atau justru kalah—seperti dirinya yang nyaris tak pernah menang melawan orang itu?
"Kau mengingatkanku pada seseorang, Kyu."
"Siapa?"
"Kakakku. Aku akan mengenalkannya padamu nanti."
Obrolan mereka terpaksa harus terhenti karena bel masuk telah berbunyi. Ryeowook kembali ke bangkunya yang berada persis di sebelah bangku Kyuhyun dan Henry. Henry mulai mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya. Sedangkan Kyuhyun, setelah memastikan PSP-nya aman, ia mengikuti gerak Henry dengan mengeluarkan buku matematikanya—pelajaran pertama adalah matematika.
.
.
Tujuh jam sudah para siswa mengikuti pelajaran. Beragam materi pelajaran telah dijejalkan ke dalam otak mereka dari yang mudah hingga yang paling sulit. Ralat. Tidak ada pelajaran yang mudah. Yang ada hanyalah pelajaran yang tak memerlukan otak untuk bekerja keras. Setelah melalui itu semua, maka waktu yang ditunggu adalah jam pulang sekolah. Dan benar saja. Belum ada satu menit sejak bel pulang berbunyi, siswa-siswa sudah berhamburan keluar kelas. Lihatlah, betapa bersemangatnya mereka.
Kyuhyun tak jauh berbeda dengan siswa lainnya. Ia juga menantikan waktu pulang tiba. Ia sama bersemangatnya dengan mereka. Hanya saja, ia tak ingin bergabung dengan mereka yang meramaikan lapangan sekolah. Ia memilih menunggu keramaian itu terurai hingga menyisakan beberapa siswa yang berlalu-lalang sepanjang jalan menuju gerbang sekolah. Ia memang lebih menyukai suasana tenang dibanding keramaian. Namun, bukan berarti ia membenci keramaian karena nyatanya ia senang berada di Rumah Harapan yang tak pernah sepi itu.
Jika Kyuhyun memang sengaja menunggu suasana sekolah sepi, bagaimana dengan Henry dan Ryeowook yang juga masih berada di kelas?
"Ayo pulang," ajak Ryeowook yang mulai bosan menunggu Kyuhyun dan Henry yang tak beranjak dari tempat duduknya. Ia bahkan sudah mengenakan tas ranselnya—bersiap untuk pulang.
"Sebentar lagi, Ryeowook-ah," pinta Henry.
"Apa masih lama?" Kali ini Kyuhyun yang bertanya.
Belum sempat Henry membalas pertanyaan Kyuhyun, sudut matanya menangkap kedatangan seseorang. Beruntunglah karena orang itu adalah orang yang sejak tadi ditunggu oleh Henry, Ryeowook dan Kyuhyun. Ah, selain menunggu suasana sepi, rupanya Kyuhyun bersama Ryeowook juga menemani Henry.
"Hyung!" seru Henry, nyaris membuat dua temannya melompat karena terkejut. Bayangkan saja. Saat suanana kelas sunyi, tiba-tiba ada yang berbicara keras—berteriak. Mereka bahkan tak bisa marah begitu melihat cengiran lebar di wajah Henry serta orang yang ditunggunya.
Orang itu di sana, berdiri di luar kelas, persis di depan pintu yang terbuka. Ia mengenakan seragam sama seperti yang Kyuhyun, Henry, dan Ryeowook kenakan. Tentu saja karena ia juga bersekolah di tempat yang sama seperti ketiganya. Ia mengenakan kacamata dengan ransel yang tersampir di salah satu pundaknya. Sekali lihat, orang akan tahu jika ia adalah orang yang pendiam. Pintar? Tentu. Penampilannya sudah menunjukkan hal itu. Dan jika benar pemuda itu yang dimaksud Henry mirip dengan Kyuhyun, maka ia tidak hanya pintar, tapi jenius. Ingat. Henry sendiri yang memberikan julukan itu padanya.
"Ayo, aku kenalkan pada hyung-ku."
Ketiga pemuda penghuni kelas 1 – 6 secara berurutan—Henry, Ryeowook, Kyuhyun—mulai berjalan keluar kelas sekaligus menghampiri orang itu.
"Kenalkan. Ini hyung-ku, Kibum."
Kyuhyun dan Ryeowook kompak membungkukkan badannya sebagai salam perkenalan sekaligus tanda bahwa mereka menghormati Kibum yang jelas usianya di atas mereka.
"Mereka teman baruku, Hyung. Yang ini Ryeowook," ujarnya sambil menunjuk Ryeowook yang masih dalam posisi membungkuk.
"Salam kenal, Hyung." Ryeowook mulai menegakkan tubuhnya kemudian memberi senyum pada Kibum.
"Kalau yang ini,"-tangan Henry menunjuk pada Kyuhyun-"namanya Kyuhyun. Dia teman sebangkuku."
Kyuhyun menegakkan tubuhnya, memberi senyum pada Kibum, lalu berkata, "Salam kenal, Hyung."
Bila ada yang memperhatikan, raut wajah Kibum berubah. Wajah itu tadinya terlihat santai. Namun kemudian, wajah itu tampak tegang. Entah apa yang membuat Kibum bereaksi demikian. Ia tak mengatakan apa pun. Bahkan, matanya tak lepas dari kedua teman adiknya—nyaris tanpa kedip.
Karena tak mendapat tanggapan dari Kibum, Henry terpaksa menyenggol lengan kakaknya itu dan merusak segala hal yang mengisi benak Kibum. Dengan itu pula, kesadaran Kibum kembali.
"Oh, senang berkenalan dengan kalian. Tolong jaga adikku ini, ya." Kibum mengatakan apa pun yang melintas di pikirannya saat ini. Ia sendiri tidak yakin apa ia salah ucap atau tidak.
"Pasti, Hyung," balas Kyuhyun dan Ryeowook kompak.
Mata Kibum benar-benar tak bisa beralih dari keduanya. Ada sesuatu yang menarik dan memaksa dirinya untuk terus memperhatikan mereka. Bukan. Salah satu dari mereka, tepatnya. Orang itu... Belum ada lima menit mereka bertemu, tapi ia sudah berhasil mencuri perhatian Kibum. Hebat.
"Baiklah, kita pulang sekarang."
Satu-persatu, mereka beranjak dari tempat itu. Yang terdepan adalah Henry, Kyuhyun, dan Ryeowook yang berjalan beriringan dengan celotehan ringan yang mengalir dari mulit ketiganya. Di belakangnya, ada Kibum yang berjalan dalam diam. Ia memberi jarak antara dirinya dan tiga pemuda di depannya. Selain memberi keleluasaan bagi mereka untuk mengobrol, jarak tersebut juga digunakannya untuk memberikan ruang berpikir baginya. Sudah ia bilang bahwa perhatiannya sudah diambil alih oleh orang itu. Begitu pun dengan fokus pikirannya yang kini dipenuhi berbagai pertanyaan dan asumsi.
Mungkinkah itu 'dia'?
Jika benar, sejak kapan 'dia' ada di Seoul?
Apakah itu berarti 'mereka' juga ada di sini?
Kibum memperlambat langkah kakinya. Dipejamkannya matanya sejenak demi menghilangkan aliran emosi yang tiba-tiba dirasakannya. Mengingat 'mereka' memang selalu memberikan efek seperti ini padanya. Marah dan benci di waktu bersamaan. Namun, di satu sisi, Kibum sangat ingin bertemu dengan 'dia'. 'Dia' yang begitu Kibum sayangi dan rindukan.
Ya, Kibum harus menemuinya. Setidaknya, ia harus memastikan dulu siapa orang itu. 'Dia' atau bukan.