Gadis itu melambaikan tangannya pada setiap angkot yang lewat dihadapannya namun tak ada satupun yang berhenti kecuali para pengendara becak yang menawarkan jasanya. Dengan sedikit cemas ia melirik pada jam tangan yang melingkar cantik di tangannya. Hari yang buruk ketika upacara pada hari pertama dalam minggu ini menyapanya dengan senyuman kematian.
Lalu sebuah motor ninja berwarna merah melintas di depannya. Ia pun segera maju beberapa langkah dan menghadangnya. Lebih mirip seperti tukang begal. Motor itu berhenti namun sang pengendara belum menampakkan wajahnya karena tertutup oleh helm berwarna hitam itu. Ia memiliki alasan tertentu untuk melakukan ini, selain yang mengendarai motor itu mengenakan seragam yang sama dengannya, ini juga karena kepepet. You know lah the power of kepepet.
"Boleh nebeng gak?" tanya gadis itu dengan penuh harap. Sang pengendara motor itu membuka helmnya. Menampakkan wajah bak Dewa Yunani, dengan rambut berwarna kecoklatan dan bibir merah muda yang cukup tebal. Wajahnya bagai pahatan patung yang sempurna. Gadis itu terdiam sesaat. Menunggu jawaban dari cowok itu.
"Gak." jawabnya singkat. Gadis itu menekuk wajahnya menjadi lipatan pakaian yang belum distrika. Lalu ia menautkan tangannya memohon. Wajahnya ia ubah menjadi sememelas mungkin bisa membuat hati cowok di depannya sedikit meluluh.
"Gue mohon, ya? Ya? Gak ada angkot yang lewat pagi ini, boleh ya?" rayu gadis itu lagi. Entah sudah berapa nilai harga dirinya sekarang, yang ia pikirkan hanyalah datang ke sekolah dan terbebas dari hukuman guru piket. Cowok itu tampak berpikir, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah datar, tanpa ekspresi.
"Gak," jawabnya sekali lagi dengan suaranya yang berat dan sedikit serak. Gadis itu tidak ingin ambil pusing lagi, persetanan dengan harga diri ia tak peduli yang terpenting adalah tidak telat masuk ke sekolah. Ia pun segera berjalan mendekat ke jok belakang lalu duduk di jok belakang motor.
Cowok itu menoleh ke belakang tepat dimana gadis itu duduk. Wajahnya dengan jelas mencerminkan bahwa ia tidak suka jika gadis itu dengan tiba-tibanya duduk di atas motornya.
"Turun," pinta cowok itu dengan sedikit kesal. Gadis itu masih diam di sana, menunggu kapankah motor itu akan berjalan. Ia sama sekali tidak mengindahkan apa yang dikatakan cowok itu barusan. Cowok itu menggoyang-goyangkan motornya berharap gadis itu turun dari motornya, tapi yang ia terima hanyalah sebuah pertanyaan yang akan membuatnya terlihat seperti orang bodoh yang mencoba membodohi orang bodoh. Bodoh kuadrat.
"Lo ngapain?" malu, ia hanya mempermalukan dirinya sendiri jika bertindak seperti ini. Cowok itu kembali menoleh ke belakang menatap gadis penuh dosa yang berani mengganggu perjalanannya pagi ini. Menyebalkan.
"Lima belas menit lagi bel, mau nginep di sini?" dengan kesal cowok itu memakai helmnya lalu menyalakan motornya. Melaju menembus udara dingin yang mulai menghangat.
Diperjalanan pun tidak ada obrolan yang berarti. Cowok itu sangat cuek terhadap keadaan apapun, sementara gadis itu tidak ingin membuang tenaganya hanya demi memaksa cowok itu bicara dengannya. Saat sesampainya di sekolah, semua tatapan mengarah padanya. Ada pula yang berbisik-bisik terkejut dan heran.
"Gue rasa baru kali ini sang pangeran kulkas ngeboncengin cewek ke sekolah," bisik salah seorang siswi kelas dua belas yang tak sengaja lewat di sampingnya. Lalu gadis itu turun dari motor dan menatap wajah cowok itu sebentar, sampai cowok itu merasa diperhatikan dan balik menatap gadis itu.
"Lo sedingin apa sih, sampai dijulukin pangeran kulkas?" cowok itu tampak enggan menanggapi apa yang ditanyakan gadis aneh di depannya. Merepotkan dan bawel. Tanpa ba bi bu ia meninggalkan gadis itu di parkiran, lalu melenggang pergi.
-xXx-
"Shania!" kini toa berjalan mulai menampakkan diri dibalik pintu masuk kelas sepuluh IPS dua. Sang pemilik nama pun hanya bergumam tidak jelas. Cerita di novel yang ia baca mungkin akan lebih menarik daripada apa yang akan dibicarakan si toa berjalan itu. Tak lama gadis blasteran Filipina-Indonesia itu duduk di samping Shania.
"Lo bener diboncengin Kak Zidan?" tanya Della yang masih belum percaya. Shania menoleh ke arah Della dengan tatapan bingung setengah heran. Diboncengin kakak kelas aja udah gempar, apalagi pacaran sama dia, mungkin mereka semua bisa serangan jantung kali ya batin Shania.
"Oh namanya Kak Zidan, gue kira dia seangkatan sama kita, taunya kakak kelas," jawab Shania sekenanya lalu kembali memperhatikan novel yang ia baca. Ia tak pernah tahu sebelumnya jika ada yang bernama Zidan di sekolah ini, yang ia tahu hanya anak tetangganya yang bernama Aidan.
Della mendengus sebal, berbicara dengan Shania tentang cowok hanya akan membuat mulutnya berbusa. Lalu tak dirasa perutnya sudah mulai berteriak minta diisi. Bukan Della namanya jika tidak bisa memaksa Shania untuk mengantarkannya ke kantin.
"Anterin gue dong, Shan," ajak Della. Awalanya Shania menolak karena ia baru saja memulai membaca novelnya beberapa menit yang lalu, namun itu semua dapat diatasi dengan bujukan maut milik Della. Kedua gadis itu pun segera pergi ke kantin.
Banyak pasang mata yang mengawasi mereka terutama pada Shania. Dan itu semua lama kelamaan membuat Shania risih karenanya.
"Mereka semua kenapa ngeliatin gue kayak gitu sih? Risih ih, apa ada yang salah sama gue?" tanya Shania dengan polosnya. Della hanya terkekeh kecil mendengar pertanyaan itu. Setelah itu mereka segera pergi ke tempat di mana makan siang mereka dijual dengan harga yang cocok untuk kantung pelajar.
"Siomay pedes dua sama es tehnya dua ya," Setelah memesan dan membayar makanannya, ia pun segera pergi ke meja di dekat jendela, di mana Della menunggunya.
"Lo gak kepo gitu tentang Kak Zidan?" tanya Della yang mulai memancing keberadaan hati nurani seorang Shania Maheswari. Gadis itu menggeleng sebagai jawaban. Zidan memang tampan tapi apa guna jika seorang Shania tidak tertarik. Toh menurutnya ketampanan seorang Zidan itu pasaran, karena banyak yang punya.
Kemudian segerombolan laki-laki masuk dari arah pintu kantin. Della pun segera menepuk pundak Shania yang sibuk mengutak atik ponselnya.
"Apaan?" tanya Shania dengan sewotnya.
"Tuh Kak Zidan! Yang berdiri di depan sendiri, wajahnya emang cuek tapi katanya sih kalo udah jadi yang spesial buat dia, lo bakal gak akan bisa membayangkan gimana hangatnya seorang Zidan Dirgantara Thaufan." Jelas Della dengan serius. Shania hanya melirik sekilas lalu kembali memperhatikan ponselnya.
"Kok lo nyebelin sih, Shan," Shania mendongakkan kepalanya menatap wajah masam Della, lalu ia meminum es teh miliknya dengan sekali sedot. Dengan cantiknya Shania tersenyum ke arah Della yang membuat gadis blasteran itu semakin dongkol.
Setelah menghabiskan makanannya Shania dan Della pun memutuskan untuk pergi ke kelas masing-masing. Kemudian tak sengaja seorang perempuan berambut hitam keunguan menumpahkan jus strawberi miliknya ke seragam Shania.
"Aduh maaf ya gak sengaja, lain kali hati-hati ya," ucap gadis itu meminta maaf. Shania masih bingung, bagaimana ia akan masuk ke kelas jika kemejanya kini berubah warna menjadi merah muda. Della menatap gadis itu sinis, ia sangat tahu perempuan itu siapa. Fella, sepupunya.
"Seharusnya lo yang harus hati-hati, Fell." peringat Della yang mulai tersulut amarahnya.
"Udah, Del. Gue gak pa-pa cuma basah dikit doang, nanti juga kering sendiri." jelas Shania yang tak ingin memperpanjang masalah ini hanya karena segelas jus. Lalu Fella kembali ke tempat duduknya .
"Lo yakin?" tanya Della memastikan, Shania mengangguk. Tanpa disadari Zidan sudah berdiri di belakang mereka berdua. Karena jalan terhalangi oleh kecelakaan kecil itu membuat Zidan mau tak mau harus menunggu sampai acara itu selesai.
"Eh Kak Zidan," sapa Della yang sedikit terkejut. Namun bukannya menjawab, cowok itu malah langsung pergi tanpa mengindahkan sapaan dari adik kelasnya itu. Tapi untung saja kedua teman Zidan yang berjalan di belakangnya masih mau mengumbar senyum kepada Della dan Shania.
"Gue suka gaya lo," ucap salah seorang teman Zidan yaitu Agam sambil menunjuk dua jari telunjukkanya pada Shania. Della tersenyum mengerikan di samping Shania.
"Cie Shania udah punya gebetan baru nih," ledek Della sambil terkekeh kecil. Shania hanya bisa menahan senyum ketika teringat wajah Agam yang tersenyum kepadanya.
-xXx-