Episode 7

5307 Words
  Angin berhembus terasa menyejukkan, Djavier berdiri di salah satu tempat tengah mengawasi seorang komandan kelompok tengah mengatur dan melatih anggotanya itu. Sesekali Djavier menatap ke langit biru yang cerah. Sang surya terlihat berwarna kuning kemerahan, membuat seluruh bumi ini terasa panas. Saat ini ia berdiri di dekat sungai di dalam hutan. Sungai itu memiliki satu air terjun dengan air yang jernih. Bebatuan yang tak beraturan mendominasi background air terjun itu. Beberapa anggotanya tengah melakukan pelatihan militer di dalam air. Ia berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku pakaian militernya. Walau ia terlihat santai, tetapi aura kepemimpinannya begitu jelas nampak. Siapa saja yang melihatnya akan langsung merasa terdominasi dan merasa terintimidasi, membuat mereka mau tak mau akan menghormatinya. Djavier bukanlah sosok seorang pemimpin yang angkuh, arogant dan otoriter. Ia di kenal sebagai pribadi yang tegas dan bijaksana. Tak ada yang berani melawan ataupun menentangnya karena aura kepemimpinannya begitu melekat pada dirinya membuat siapa saja, para prajuritnya yang hendak menantang akan mengurungkan niatnya, karena mereka tak ingin mencari ribut dengan seekor Singa jantan. Kapten Djavier memang jarang sekali marah, bahkan hampir tidak pernah. Tetapi sikap tegasnya mampu membuat prajuritnya segan untuk melawan dan menentangnya. Sesekali Djavier melirik handphonenya yang masih tak mendapatkan sinyal dari semalam, itu membuatnya sedikit kesulitan mengabari Amierra, istrinya. “Sersan Iqbal,” panggilnya, membuat pria yang berdiri tak jauh darinya segera beranjak menghampirinya dan memberi hormat. “Siap, Kapt!” “Apa ada yang akan ke kota? Saya ingin menitipkan surat untuk di kirim via Pos Indonesia.” “Siap, Kapt! Ada Romi yang akan datang untuk mengantar beberapa bahan makanan untuk kita semua, siang nanti.” Djavier terlihat manggut-manggut paham. “Baiklah, terima kasih.” “Siap, Kapt!” Setelah memberi hormat, Sersan Iqbalpun berlalu pergi.             “Amierra,”             Deg             Suara ini?             Suara yang sudah lama sekali Amierra tak mendengarnya. Suara berat dan serak yang begitu Amierra rindukan. Amierra maupun Mila tak ada yang membalikkan tubuh mereka yang menegang. Hingga terdengar suara derap langkah mendekat. Amierra menatap nyalang ke depan dengan perasaan tak menentu. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga tanpa sadar ia meremas kedua tangannya yang saling bertautan.             “Amierra,” panggilan itu terasa berbisik di telinganya.             Perlahan Amierra menengadahkan kepalanya saat merasakan aroma yang sudah lama tak pernah tercium oleh indera penciumannya.             Mata coklat itu....             Tanpa di sadari setetes air mata luruh membasahi pipinya saat itu beradu dengan mata coklat terang, seterang pasir pantai. Gejolak perasaan amarah, rindu dan cinta bersatu di dalam hati Amierra. Ia bahkan kesulitan untuk membuka suaranya. Seakan sesuatu yang keras dan berduri menyangkut di tenggorokannya. Rasa itu hanya bisa ia luapkan melalui air mata yang jatuh membasahi pipinya.             Ia terlihat menipiskan bibirnya dan tersenyum kecil. Senyuman khasnya, yang begitu Amierra rindukan. Tatapan Amierra beralih menyusuri tubuh pria tinggi di depannya. Dia banyak sekali berubah setelah 2 tahun lamanya tak bertemu.             Pria itu terlihat lebih dewasa dan berisi, tubuhnya lebih kekar dari sebelumnya. Ia tampak memakai kaos putih polos di padu dengan kemeja biru lengan pendek yang di biarkan terbuka. Sepertinya dia mengurus dirinya sendiri selama ini. Kulitnya terlihat putih, seputih kapas. Rambutnya terlihat pirang dan sedikit panjang melewati telinganya. Wajahnya yang oriental itu membuatnya terlihat bak seorang malaikat.             Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Amierra, tetapi tanpa di sangka-sangka Amierra mundur menjauhinya membuat kernyitan tercetak jelas di dahinya. Pria yang hendak Amierra lupakan, kini berdiri di depannya tanpa kurang satu apapun. Ia terlihat segar bugar dan sehat. Bahkan wajahnya jauh lebih dewasa dan terurus dari 2 tahun lalu.             “Aku datang,” ucapnya dengan suara beratnya yang mampu menghimpit d**a Amierra. Dewi batin Amierra menjerit menanyakan kenapa baru sekarang? Kenapa harus sekarang? Kemana saja dia selama ini. “Aku merindukanmu.” Ucapannya semakin membuat air mata Amierra luruh semakin deras membasahi pipinya. Ada rasa sakit dan bahagia bercampur di dadanya. Gejolak perasaan itu membuat Amierra kesulitan untuk mengeluarkan suaranya.             “Kamu terlambat!”             Akhirnya setelah mengumpulkan segala kekuatan dan tenaganya, Amierra mampu mengeluarkan suaranya yang tertahan di tenggorokan sejak tadi. Walau suaranya begitu kecil hingga menyerupai sebuah bisikan, tetapi sepertinya pria di depannya mampu mendengarnya membuat kernyitan di dahinya semakin dalam.             “Kamu terlambat,” ucapnya lagi dan tanpa berkata apapun berbalik meninggalkan pria itu yang masih mematung dengan kaku di tempatnya. Arah pandangnya menatap punggung Amierra yang berjalan cepat menjauhi mereka. Milla yang juga ikutan kaget, dan merasakan apa yang Amierra rasakan langsung bergegas menyusul Amierra meninggalkan pria itu.             Yah, dialah Fauzan Aayan Basir....             Di sebuah tenda berwarna hijau yang merupakan warna dari lambang militer Indonesia. Djavier terlihat tengah menulis sesuatu di atas kertas putih di atas meja. Ia membubuhkan tulisan demi tulisan di kertas itu dengan sesekali menghela nafasnya. Ia kembali merobek kertas itu dan kembali menulisnya di kertas yang baru. Sudah beberapa kertas yang ia buang karena merasa tidak cocok dengan apa yang ia tulis. Ia tak memahami apa yang membuatnya seperti ini. Sebelumnya di dalam hidup Djavier, ia tak pernah sedikitpun meragu, meragu dalam hal apapun mengenai dirinya. Dia selalu percaya diri dan yakin. Tetapi kali ini, hanya untuk menulis surat untuk istrinya saja, ia beberapa kali merobek kertas hasil tulisannya sendiri karena merasa isi pesannya kurang tepat. Ia mengusap wajahnya dengan sedikit gusar. Ia mendadak bingung untuk menuliskan pesan yang akan ia sampaikan untuk istrinya itu.             Tetapi jauh di lubuk hatinya ia bertanya-tanya, apakah istrinya mengkhawatirkannya? Ia belum memberi kabar dari sejak kemarin, dan apakah akan banyak pesan yang masuk ke dalam handphonenya saat sinyal sudah di temukan?             Ada secerca harapan sekaligus keraguan di dalam hatinya. Tidak bisa di pungkiri lagi, ada rasa sakit kalau ternyata Amierra sama sekali tak mengkhawatirkannya. Tetapi ia bukan tipe orang yang akan mengambil kesimpulan hanya dari prasangkanya saja. Setidaknya ia harus mencoba dan baru menyimpulkan nanti hasilnya. Iapun kembali membubuhkan tulisannya di dalam kertas putih bersih itu. Tetapi kali ini tak di robek atau di remasnya menjadi bulatan. Setelahnya ia melipat kertas itu dengan sangat rapi dan memasukkannya ke dalam amplop.             Setelahnya ia bergegas keluar tenda itu, dan tak jauh darinya. Di tempat landasan, sebuah Hellicopter militer masih ada di sana dengan beberapa orang berpakaian militer bersiap untuk kembali berangkat. Djavier berjalan mendekati mereka. Saat sadar sang Kapten berjalan mendekati mereka. Mereka semua langsung berdiri tegak di tempatnya untuk memberi hormat ke sang Kapten.             Kini Djavier sudah berdiri di antara mereka yang memberi hormat. Setelahnya ia berjalan mendekati seorang anggota militer yang terlihat kurus tak jauh darinya.             “Romi,” panggilnya.             “Siap, Kapt!”             “Saya titip surat ini untuk di kirim ke rumah orangtua saya.”             “Siap, Kapt!”             Djavier menyerahkan amplop itu ke arah Romi yang langsung di terima olehnya.             Djavier tau kemana hellicopter ini akan berlabuh. Mereka akan pergi ke markas militer Kopassus Group 2 yang berlokasi di Kartasura, Jawa Tengah. Dan Djavier tau, di sana pastilah ada sebuah kantor Pos Indonesia. Setelah memberi laporan dan hormat, mereka semua akhirnya berangkat dengan Hellicopter Militer meninggalkan tempat itu.             Djavier masih berdiri di sana menatap Hellicopter itu dan berharap Amierra segera membaca dan membalas suratnya. Walau ini terlihat kolot, tetapi hanya ini yang bisa Djavier lakukan untuk mengabari istrinya.             Malam itu, langit terlihat gelap tanpa cahaya. Awan hitam memenuhi langit luas dan menutup bulan juga bintang yang biasanya memberi cahaya indah ke bumi. Tetapi malam ini bulan seakan enggan menunjukkan dirinya dan bersembunyi di balik awan hitam pekat yang membuat bumi begitu gelap.             Di dalam sebuah kamar yang sepi, Amierra terlihat menangis tanpa suara dengan memeluk bantal. Dadanya terasa begitu sesak, rasa sakit yang amat teramat ia rasakan di dalam hatinya. Entah apa yang bisa ia lakukan, selain menangis seperti ini untuk meluapkan segala emosi dan rasa sakit di dalam hatinya. Kedatangan Fauzan yang tak di sangka-sangka sungguh membuatnya begitu terluka. Belum lagi dengan statusnya sekarang ini yang sudah menjadi istri dari pria lain. Andai takdir tak sekejam ini, andai dirinya mampu mengubah takdir. Andai Fauzan saat itu memberinya kabar, pastinya dia akan menunggu dan membatalkan perjodohan ini. Beribu kata ‘andai’ memenuhi benaknya.             Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Amierra memang bukan gadis yang baik, dan kadang juga membangkang. Tetapi ia juga memiliki keteguhan dalam hati dan setiap ucapannya. Ia memiliki prinsip hidup sendiri yang selalu ia pegang teguh.  Ucapan adalah sebuah janji, dan pastinya janji yang terlontarkan tak bisa di ingkari. Kalau begitu, maka sama saja diri itu sebagai pendusta, yang mendustai diri sendiri dan juga Tuhan. Sekuat tenaga ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, ia menahan isakannya keluar. Ia tidak ingin semua keluarga terbangun karena suara isakannya, apalagi di samping kamarnya adalah kamar adik iparnya yang pasti akan langsung mendengar suara isakan tangisnya.             Di tempat lainpun, di dalam sebuah apartement mewah. Seorang pria yang tadi siang menemui Amierra tengah menatap keluar melalui jendela besar yang membentang. Suasana malam yang gelap, karena bulan yang bersembunyi di balik awan hitam, malah terlihat begitu indah dari atas sini. Karena di bawah sana, kerlap kerlip lampu di jalanan Ibu Kota terlihat sangatlah menggoda mata. Suasana malam yang terlihat indah, dengan beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan besar itu.             Pria yang di ketahui Fauzan itu tengah menyesap sebuah minuman dari dalam gelas. Ia menyesapnya sedikit, membiarkan rasa manis asam itu mengalir ke dalam kerongkongannya. Tetapi rasa manis itu tak mampu membuat kernyitan di dahinya menghilang. Bayangan kejadian tadi siang terus terbayang di dalam benaknya. Ada apa sebenarnya? Kenapa kekasihnya itu bersikap di luar pemikirannya.             Ia pikir, kedatangannya akan membuat Amierra bahagia dan akan langsung berhambur ke dalam dekapannya, tetapi ekspresi yang di tujukan Amierra tadi sungguh sangatlah berlawanan dengan pemikirannya. Helaan nafas kembali terdengar dari mulutnya. Ia merasa tak paham, dan apa yang di maksud Amierra dengan sudah terlambat? Apa yang terlambat sebenarnya?             Amierra sudah bersiap hendak ke kampus, tetapi ketukan di pintu menyadarkannya. “Masuklah,” ucapnya.             Seorang gadis cantik yang terlihat memakai seragam SMA, rapi dengan kerudung putihnya menyembulkan kepalanya di balik pintu. “Masuklah Dania,” ucap Amierra. Membuat gadis bernama Dania itu masuk ke dalam dan berjalan perlahan mendekati Amierra yang terlihat tengah memasukkan beberapa buku dan barang-barang lain ke dalam tasnya.             “Kakak, ini ada surat dari Kak Djavier.” Dania menyodorkan sebuah amplop ke arah Amierra membuatnya segera menerimanya.             “Terima kasih yah, Dania.” Amierra menampilkan senyumannya seraya menerima surat dari tangan Dania.             “Iya sama-sama, Kak. Aku tunggu di meja makan yah, Kak.” Amierra mengangguk kecil, dan langkah kaki kecil terdengar menjauh hingga suara pintu tertutup. Amierra membolak balikkan amplop putih itu, dan duduk di sisi ranjang sebelum akhirnya membuka surat itu.   Dear Amierra,,   Assalamu’alaikum wr. wb.             Maafkan saya karena baru bisa mengabarimu, saya sudah sampai kemarin malam. Tetapi saya tidak bisa menghubungimu karena sinyal di sini sangat sulit di dapat. Saya mengirimkan surat ini supaya kamu tidak mengkhawatirkan saya.             Bagaimana kabarmu, Amierra? Saya harap kamu baik-baik saja. Dan kamu tidak perlu cemas karena di sini saya juga dalam keadaan baik-baik saja.             Kamu tau, di sini suasananya sangat natural dan begitu sejuk. Saya jadi teringat kamu yang begitu menyukai keindahan alam. Selain itu di sini juga terdapat beberapa air terjun. Dan ada satu air terjun yang terlihat sangat indah. Air terjun itu memiliki dua mata air yang jernih. Dan danaunya tak terlalu besar, hanya berbentuk bulatan. Dan air terjun itu ada di sisi kiri dan kanannya, mengalirkan air jernih yang membuat mata terpesona. Andai ini bukan hutan, mungkin saya akan mengajakmu ke sini. Kamu pasti akan sangat menyukai keindahannya.             Tak banyak yang bisa saya ceritakan di sini. Karena memang saya juga baru sehari di sini dan belum menjajah semua tempat. Saya akan menceritakan lagi padamu kalau saya menemukan tempat yang indah lagi. Saya harap kamu menjaga diri dan kesehatan kamu. Doa saya akan selalu untukmu, terima kasih Amierra. Assalamu’alaikum....   Djavier               “Wa’alaikumsalam,” gumam Amierra kembali melipat surat itu dan menyimpannya asal. Ia segera menyambar tasnya untuk berangkat ke kampus tetapi gerakannya terhenti karena sebuah telpon masuk. “Bunda?” gumamnya.             “Assalamu’alaikum Bun,”             “Wa’alaikumsalam. Amie apa kamu tidak memberitahu temanmu kalau kamu sudah tinggal bersama mertuamu?”             “Teman? Maksud Bunda apa?”             “Ada temanmu datang kemari, dia bilang ingin menjemputmu.”             “Siapa?”             “Fauzan,”             Seketika tubuh Amierra menegang, tubuhnya mendadak dingin dan beku hingga dia kesulitan untuk melangkahkan kakinya.             “Dia bilang teman lamamu,”             “Lalu Bunda bilang apa?”             “Bunda bilang, kalau saat ini kamu sudah tinggal bersama mertuamu.”             Dan kenyataan itu membuat Amierra semakin menegang. Jantungnya mendadak berpacu cepat, dia merasakan sesak di dalam dadanya hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Hingga terdengar suara salam dari Bundanya, Amierra menurunkan handphone yang menempel di telinganya dengan lunglai.             Akhirnya Fauzan tau statusnya saat ini.... Hari ini adalah weekend dan Amierra menghabiskan waktunya di rumah mertuanya. Rencananya siang nanti setelah mengantar Dania, ia akan pulang ke rumah orangtuanya dan menginap di sana. Selesai sarapan dan membantu membereskan cucian bekas sarapan keluarga Djavier. Amierra memutuskan untuk berjalan-jalan melihat-lihat rumah yang baru 4 hari ini ia tempati. Sebelumnya ia tidak sempat melihat-lihat area rumah ini. Kebetulan juga Ibu mertuanya sedang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur, dan Ayah Djavier sibuk mengurusi burung-burung peliharaannya di belakang rumah. Amierra menatap rumah yang cukup besar itu. Rumah dua tingkat yang cukup mewah dan gaya nya masih gaya rumah zaman dulu. Ia berjalan menuju ke ruang keluarga dimana terdapat lemari kaca yang menyimpan beberapa medali dan piala di sana.  Amierra memperhatikan satu per satu dan menelaah setiap tulisan yang tertulis di sana. Piala dan medali itu adalah milik Djavier, dari saat ia sekola sampai medali di TNI. Amierra tak menyangka 5 tahun lalu Djavier di nobatkan sebagai penembak handal se-Indonesia. Selain itu juga ada medali lain yang di berikan Militer kepada suaminya itu. Amierra tidak menyangka kalau Djavier ternyata termasuk militer unggulan hingga ia bisa naik jabatan menjadi seorang Kapten.             “Kakak,”             Amierra menoleh saat mendengar panggilan itu tepat di sampingnya. “Ya Dania?”             “Kakak, aku mau ke pergi ke Mesjid. Ada kegiatan pengajian. Kakak mau ikut?” tanya Dania. Amierra terlihat menimbang-nimbang hingga akhirnya iapun menganggukan kepalanya.             “Tunggu sebentar yah.” Amierra bergegas ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di mesjid, Amierra dan Dania berjalan memasuki mesjid besar itu. Ia berdecak kagum menatap Mesjid mewah dengan marmer goldnya. Saat kaki telanjangnya pertama kali menyentuh lantai marmer yang dingin itu.  Langkah kecilnya mengekori Dania yang memasuki mesjid itu. “Kakak tau, Abang yang mendonasi mesjid ini. Dia mengumpulkan uangnya untuk bisa membangun mesjid ini,” ucap Dania. Amierra menatap Dania dengan kernyitannya lalu menatap sekeliling mesjid besar itu, ia semakin kagum pada Djavier. Tak jauh dari tempatnya berdiri, beberapa orang perempuan tengah duduk dengan membawa al-quran di depannya.             “Assalamu’alaikum,” sapa Dania membuat mereka semua menoleh ke arah mereka berdua.             “Wa’alaikumsalam, kemarilah bergabung dengan kami semua,” sahut seorang wanita di antara mereka.             Amierra dan Dania berangsur untuk duduk di antara mereka semua. “Kenalkan semuanya, ini mbak Amierra istrinya bang Djavier.”             “Benarkah?” seorang wanita dengan gamis berwarna birunya memekik nyaring.             “Iya mbak Fatimah, apa mbak tidak tau?”             Deg             Fatimah?             Seketika instingnya bekerja cepat, otaknya memutar ke kejadian sebelumnya dimana Djavier menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Fatimah. Amierra diam-diam memperhatikan gadis itu. Gadis yang memiliki wajah ayu, kulitnya kuning langsat dan pakaiannya serba tertutup. Dia terlihat ramah dan juga baik. Djavier pernah berkata ia menyukai Fatimah karena sikapnya yang lemah lembut. Dan entah kenapa ada rasa kesal di dalam dirinya. Kekesalan yang tak ia pahami. Dania menyenggol lengan Amierra saat Ibu ustadzah datang dan acara pengajian di mulai. Amierra merinding saat mendengar alunan suara Fatimah yang tengah mengaji. Amierra merasa semakin jauh di bandingkan dengan Fatimah.             Suasana mengaji yang khidmat itu akhirnya selesai juga. Amierra bersama Dania berjalan keluar mesjid. Hingga suara yang lembut dan merdu menghentikan langkah mereka.             “Dania, mbak Amierra duluan yah. Mari, Assalamu’alaikum,” ucap Fatimah yang berjalan menyusul mereka bersama dengan seorang wanita yang juga terlihat tersenyum pada mereka.             Ada rasa kesal sekaligus kagum pada sosok Fatimah. Dia termasuk wanita shalehah yang sempurna, bahkan hampir semua pria menginginkannya. Amierra tersenyum getir saat mengingat ucapan Djavier yang mengatakan kejujuran kalau dia pernah menyukai sosok Fatimah. Lalu bagaimana sekarang? Amierra sanksi kalau Djavier sudah tidak menyukai Fatimah lagi. Ia merasa sangat yakin kalau Djavier masih menyimpan perasaan untuk Fatimah. Amierra yakin itu. “Kak,” “Eh?” “Kakak baik-baik saja?” tanya Dania menyadarkan Amierra dari segala pemikirannya. “Iya,” jawabnya diiringi senyuman kecil. “Apa dulu Fatimah itu muridnya mas Djavier?” tanya Amierra. Dania menganggukan kepalanya. “Kakak tau?” tanyanya. “Iya, Paman eh maksudku mas Djavier mengatakannya padaku.” Dania terkekeh karena kekakuan Amierra. “Kalau terbiasa manggil Paman juga gak apa-apa kok Kak,” kekehnya membuat Amierra ikut terkekeh. “Dia sangat cantik yah,” ucap Amierra yang di angguki Dania.          Dania seakan tak paham apa yang terjadi dengan Kakak iparnya itu.  Dia dengan tenang menyetujuinya dan menjelaskannya. “Iya, Kak Fatimah itu termasuk gadis paling cantik di kampung ini. Banyak sekali pria yang mengidolakannya bahkan tak banyak yang melamarnya dari segala kalangan.” “Dia sudah menikah?” Kali ini Dania menggelengkan kepalanya. “Entah apa yang dia tunggu, tetapi dia belum memutuskan untuk menikah hingga sekarang.” Mungkinkah dia menunggu dudanya Djavier? Pikiran negative seketika bersemayam di kepalanya. Tetapi kalau Djavier bisa bersama Fatimah, berarti dirinya bisa bersama dengan Fauzan. Bukankah itu terlihat adil? Dan mereka akan bahagia bersama pasangan masing-masing.             Ini sudah dua hari berlalu, dan Amierra masih belum memberinya kabar. Apa suratnya sampai, atau tidak. Apa Amierra membacanya? Ataukah dia tidak menerima surat itu? Beribu pertanyaan berkecamuk di kepala Djavier membuatnya sedikit tak nyaman. Padahal saat ini ia tengah mengawasi para prajuritnya yang tengah melakukan latihan tembak dan menyerang. Suasana hutan yang rimbun dan gelap karena pohon-pohon tinggi dan rimbun itu menutupi cahaya matahari yang hendak menyorot ke dalam. Suasana mencekam dan medan perang yang curam. Semua anggota prajurit yang di pimpin oleh Sersan Iqbal itu berlatih semaksimal mungkin. Djavier berdiri di atas menara sedang yang sengaja di bangun untuk melihat dan mengamati jalannya pelatihan ini. Iqbal terlihat berdiri di dekatnya menatap ke bawah dan memperhatikan dengan seksama para anggotanya yang tengah berlatih. Angin sore berhembus menembus kulit mereka, memberikan rasa dingin yang menyengat kulit. Walau tubuh mereka kuat, tetapi tetap saja rasa dingin itu terasa menusuk ke dalam kulit. Djavier berusaha fokus pada anggotanya dan mengalihkan pikiran tentang Amierra. Mungkin sebaiknya Djavier bersabar, dan tetap menunggu balasan surat dari Amierra. Bisa saja wanita itu tengah sibuk dengan tugasnya atau mungkin karena hal lain. Djavier berusaha untuk tidak berpikiran negatif dan suudzon pada wanita yang sekarang berstatus istrinya.             Amierra baru saja menuruni taxi tepat di depan rumahnya. Ia hendak memasuki rumah, tetapi sebuah tangan kekar menariknya hingga tubuh Amierra mau tak mau mengikuti sosok yang menarik lengannya itu.             “Fauzan,” gumam Amierra saat langkah mereka sudah berhenti dan pria itu menoleh ke arahnya dengan mata yang mengkilat tajam.             “Kamu mengkhianatiku, Amierra!”             Deg             Amierra mematung dengan kernyitan di dahinya.             Apa maksud Fauzan dengan mengatakan hal itu, tidakkah dia sadar siapa yang selama ini meninggalkannya, tanpa ada kabar apapun. Bahkan ribuan pesan dan email yang Amierra kirimkan padanya tak pernah ada satupun yang dia balas. Dan setelah dia kembali, dengan mudahnya ia berkata bahwa Amierra telah mengkhianatinya. Apa maksudnya itu?             “Kenapa kamu memilih menikah dengan pria lain? Bukankah kita sudah berjanji, aku akan kembali setelah study ku selesai dan melamar kamu. Tetapi kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu mengkhianatiku, Amierra?” tanyanya terdengar tajam dan terselip suara yang bergetar di sana.             “Aku tidak pernah mengkhianatimu sedikitpun, Fauzan!”             “Lalu kenapa kamu menerima pernikahan ini? Kenapa Amierra? Katakan padaku.” Fauzan tampak berapi-api.             “Karena desakan kedua orangtuaku, ini wasiat dari mendiang Kakekku yang ingin menjodohkan aku dengan cucu sahabatnya.”             “Kenapa kamu tidak menolaknya? Bukankah kamu itu selalu membangkang?” tanyanya dengan sinis membuat Amierra mengernyitkan dahinya.             “Tidak ada alasan untukku menolak perjodohan ini,” jawabnya dengan sangat yakin.             “Bukankah kita sudah berjanji, hmm?” tanya Fauzan yang kaget sekaligus kesal mendengar jawaban Amierra barusan.             “Bukan aku, tapi kamu yang berjanji padaku, Fauzan!” Amierra memberi jeda dalam ucapannya. Di rasa Fauzan tak akan membuka suaranya, iapun kembali melanjutkan ucapannya dan mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia tahan. “Kamu menghilang begitu saja bak di telan bumi. Bahkan semua pesanku tak pernah kamu balas. Aku selalu mengirimkan email dan pesan lainnya kepadamu, tetapi tak ada satupun yang kamu buka dan balas!”             “Aku terlalu sibuk dengan study-ku, aku ingin segera menyelesaikannya dan kembali ke sini untuk menemuimu.” Fauzan berusaha meyakinkan Amierra.             “Tetapi semuanya sudah terlambat Fauzan.” Mata Amierra terlihat mengkilat karena air mata yang menggantung di pelupuk matanya. “Semuanya sudah berubah sekarang, kini aku sudah menjadi istri oranglain.”             “Tidak Amierra, sampai kapanpun juga kamu akan tetap menjadi milikku!”             Amierra mengernyitkan dahinya menatap Fauzan dengan tatapan nanar, air matanya luruh membasahi pipi. “Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa. Aku sudah bersuami, dan aku harap kamu memahaminya.” Amierra beranjak berlalu pergi meninggalkan Fauzan sendirian yang termangu di sana dengan tatapan nanar.             Amierra memantapkan hatinya untuk melangkahkan kakinya memasuki pagar rumah tanpa ingin menoleh lagi ke belakang. Ia tau Fauzan masih berdiri di sana memperhatikannya. Dan Amierra tidak ingin melihatnya dan malah membuat pertahanannya hancur seketika. Semuanya sudah berakhir, kini aku dan kamu tidak di takdirkan untuk bersama lagi.             Itulah yang di rapalkan Amierra di dalam hatinya, menguatkan hatinya biar sejalan dengan pikirannya. Ia tidak ingin sampai melenceng, dan akan mengorbankan dan mematahkan hati lain.             Di dalam hutan, Djavier terlihat tengah melakukan latihan tembak di tengah malam yang gelap dan di rimba hutan. Ia terlihat menggunakan kaca mata untuk menembus kegelapan malam, dan melakukan latihan tembak jarak jauh. Ia memang terkenal TNI Kopassus ahli tembak. Peluru yang keluar dari pistolnya tak pernah meleset walau sedikit saja. Sang ahli tembak ini selalu menjadi kebanggaan di Groupnya, bahkan ia sudah beberapa kali mendapatkan medali dalam ajang perlombaan yang sering di lakukan TNI-AD setiap tahunnya. Mata tajamnya yang seperti elang mampu menembus objek tembak walau keadaan dalam kegelapan seperti ini. Sejauh apapun, mata tajamnya akan langsung menangkap objek itu.             “Kapt!” seru seseorang dengan suara tegas dan lantang membuatnya menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke sampingnya ternyata Sersan Iqbal berdiri di sana dengan memberi hormat padanya.             “Ada apa?” tanyanya melepaskan kacamata yang ia gunakan.             “Semua anggota menunggu, anda. Saatnya mereka semua menerima materi penting dari anda.”             Djavier menganggukan kepalanya singkat, ia lalu menyerahkan pistol itu ke tangan Sersan dan beranjak meninggalkannya. Iqbal berjalan membuntuti Djavier di belakangnya. Saat sampai di lapangan yang mereka jadikan untuk tempat mendirikan tenda, semua anggota TNI yang melakukan pelatihan tengah berbaris rapi di tengah-tengah lapangan. Tatapan mereka lurus ke depan dan tajam membelah gelapnya malam. Tak ada yang bergerak sedikitpun, kondisi mereka dalam keadaan siap. Djavier berdiri di tengah-tengah mereka seraya melepaskan sarung tangan yang tadi ia gunakan. Ia menyerahkannya ke TNI lain yang ada di belakangnya begitu juga dengan kacamata penembus gelap. Lalu tatapan tajamnya langsung mengarah ke arah semua anggota yang berbaris rapi. Tatapan tajamnya seakan mengabsen satu persatu anggota tanpa ada yang terlewatkan, layaknya seekor elang yang tengah mengincar mangsanya. Lalu ia menoleh ke Iqbal dan menganggukan kepalanya kecil. Saat itu juga Iqbal mengambil komando pimpinan, dan membuat mereka semua dalam posisi istirahat. Dimana kedua tangan mereka di simpan di belakang tubuh, menempel tepat di punggung bagian pinggul mereka dengan kondisi yang tegap, tidak lembek.             “Malam semuanya!”             “Malam, Kapt!”             Mereka menjawab sahutan Djavier yang lantang dan menggelegar di malam sunyi ini dengan tak kalah lantangnya. Dari suaranya saja, sudah terlihat betapa tegasnya Djavier dan aura menakutkannya mulai tercipta hingga tak akan ada yang berani melawannya, ataupun menentangnya. Djavier mulai membuka suaranya dengan langsung ke inti masalah dalam pertempuran militer TNI, dimana tugas pokok dan permasalah yang sering terjadi di TNI AD Kopassus. Djavier bukan tipe orang yang suka berbasa basi, baginya waktu adalah nyawa. Saat kita menyepelekan dan menyia-nyiakan waktu, maka nyawa kita taruhannya. Seorang TNI sejati, harus siap dan tepat waktu. Tepat cepat dan cermat itulah yang selalu ia ajarkan pada semua anggotanya. Disiplin yang utama, dia junjung tinggi. Dan Djavier tidak akan segan-segan menghukum anggotanya yang menurutnya lembek atau tidak bisa disiplin, walau itu hanya terlambat 1 menit saja. Hidup Djavier selama ini memang sudah di terapkan kedisplinan dalam dirinya sendiri, sehingga bukan hanya karena dia seorang TNI yang di minta tegas dan disiplin, tetapi memang dia selalu menerapkan sikap itu pada dirinya sendiri dari sejak ia sekola.             Kata demi kata terlontar dari mulutnya dengan lantang, beberapa pertanyaan ia ajukan dengan langsung menunjuk. Dan saat mereka tak mampu menjawab, maka hukuman siap menanti mereka. Tetapi walau begitu, mereka menyukai cara kepemimpinan Djavier yang mampu mengayomi dan melindungi mereka semua sebagai group. Di balik sikap tegasnya, terselip sikap perhatian walau tak pernah di tunjukan dengan jelas. Tetapi semua anggota yang di pimpin olehnya mengaku senang mendapatkan pimpinan seperti Djavier.             Selesai melakukan memberi materi, Djavier beranjak menuju tendanya dan ia berpapasan dengan Romi.             “Romi,”             “Siap, Kapten!”             “Apa ada surat untuk saya?” tanya Djavier membuat Romi berpikir sebentar.             “Tidak ada, Kapten.”             Mendengar jawaban Romi, hatinya terasa tercubit. Ini sudah hampir satu minggu dan Amierra sama sekali belum balas suratnya. Ini terasa konyol, seperti bukan Djavier biasanya. Tetapi ia juga tak bisa memungkiri kalau dia mengkhawatirkan istrinya itu.             Apa dia baik-baik saja? apa dia tidak merasa sendirian dan kesepian di tinggal bersama orangtuanya? Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya, membuatnya merasa sangat tak tenang.             Amierra dan Milla menghabiskan waktu di mall untuk membeli beberapa barang. Saat ini mereka tengah berada di sebuah butik pakaian, mereka sibuk memilih berbagai pakaian dan mencobanya.  “Bagaimana dengan Fauzan?” tanya Milla saat tengah memilih beberapa pakaian.             “Dia sudah tau status gue sekarang,” ucapnya sibuk memilah pakaian yang ia suka.             “Lalu?” Milla merasa tertarik dengan pembahasan mereka.             “Dia marah, dia menuduh gue sudah mengkhianatinya.”             “Lho kok gitu sih? Bukannya dia yang salah karena ninggalin loe?” tanya Mila merasa tak paham dan membuntuti Amierra yang menuju ke tempat lain untuk memilih pakaian.             “Entahlah,” ucap Amierra mengedikkan bahunya acuh. Sebenarnya ia ingin mengalihkan pikirannya dari Fauzan dengan berbelanja sepuasnya. “Sebenarnya gue juga bertanya-tanya, apa selama ini dia menerima pesan dari gue atau tidak. Soalnya kalau dia menerimanya, tidak mungkin dia menuduh gue sudah mengkhianatinya.”             “Iya juga sih, ada kemungkinan dia tidak menerima semua email dari loe.” Mila berpendapat.             Amierra menghentikan gerakannya, ia menatap nyalang ke depan dengan berbagai spesifikasi di kepalanya. Lalu ia menoleh ke sahabatnya itu. “Apa dia berhak mendapat kesempatan kedua kalau ternyata dia tidak bersalah?”             Milla melongo kaget mendengar penuturan Amierra barusan. “Loe gak lagi ngigau kan?” tanyanya untuk meyakinkan. “Amier sadar, loe udah jadi istri mas Djavier.”             Mendengar nama Djavier di sebut, mau tak mau Amierra menghela nafasnya kembali. “Gue udah selesai belanja, gue akan melakukan pembayaran.” Tanpa menunggu jawaban dari Milla, Amierra berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.             Amierra berdiri dengan tenang, menunggu wanita di depannya yang sibuk membungkus barang-barang belanjaannya. Tak lama Mila datang dan menyimpan barang-barangnya di meja kasir. “Apa ini juga sekalian?” tanya kasir itu dengan sangat ramah diiringi senyumannya.             “Iya, di gabung saja, Mbak,” ucap Amierra seraya menunduk mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.             “Semuanya jadi Rp. 578.900,-“             “Bayar pakai ini,” ucapan seseorang membuat ketiga wanita itu menoleh ke samping Amierra.             Amierra mengernyitkan dahinya saat melihat Fauzan berdiri di sampingnya dan malah menyunggingkan senyuman khasnya pada Amierra.             Kasir yang awalnya terpaku karena melihat ketampanan Fauzan, segera tersadar dan mengambil kartu yang Fauzan sodorkan untuk melakukan pembayaran. “Jangan pakai itu Mbak, ini saya ada uang cash.” Amierra segera menghadangnya saat kesadaran segera menghinggapinya.             “Tidak Rha, aku akan membayarnya.”             “Tidak, aku tidak membutuhkannya,” ucap Amierra bersikeras. “Jangan gesek kartunya Mbak!”             Kasir itu tampak bingung harus bagaimana, tatapan Fauzan menyiratkan untuk melakukan pembayaran dengan kartu itu tetapi Amierra sudah mengeluarkan uang ratusan ribu dari dompetnya.             “Amierra, tolong terima kebaikanku.” Fauzan merendahkan nada suaranya menjadi lebih lembut.             “Tapi kenapa? Aku tidak ingin mendapatkan apapun dari kamu,” ucap Amierra mendesis.             Ia teringat ucapan Fauzan sebelumnya yang menuduhnya sebagai pengkhianat. Padahal jelas-jelas dia sudah menjaga kesetiaannya selama 2 tahun lamanya.             “Ini akan bayar pakai apa?” tanya kasir itu.             “Cash!”             “Kartu!”             Suara mereka bersamaan membuat sang kasir semakin di landa kebingungan. Mila yang sejak tadi diam, akhirnya menghela nafas panjang dan menyerahkan uangnya. “Ambil ini, dan berikan uang mereka berdua.” Kasir itupun mengangguk dan menerima sodoran uang dari Mila. Setelah menerima bungkusan belanjaan, tanpa pikir panjang lagi. Fauzan menarik pergelangan tangan Amierra dan membawanya keluar dari toko itu meninggalkan Mila.             “Fauzan, lepaskan aku.” Amierra terseok-seok mengikuti langkah lebar Fauzan yang menyeretnya.             “Aku perlu bicara,” ucap Fauzan dengan tajam.             “Fauzan, lepaskan aku. Mila di tinggal sendirian,” ucap Amierra berusaha menepis tangan Fauzan di pergelangan tangannya.             “Fauzan-“             “Tidak Amierra!” ucapan Fauzan begitu tajam dan kembali berjalan menyeret Amierra.             Saat bersamaan juga, Dania bersama teman-temannya baru keluar dari sebuah toko buku dan langkah mereka terhenti saat Fauzan dan Amierra melewat di depan mereka.             “Kak Amierra,” gumam Dania dengan kernyitan lembut di keningnya. Entah ada dorongan darimana, Dania meminta teman-temannya untuk menuju ke tempat makan terlebih dulu. Dan Dania berjalan mengikuti kemana langkah Amierra dan pria yang memegang tangannya itu. Fauzan masih menarik tangan Amierra hingga mereka sampai di sudut dekat dengan sebuah toilet umum yang terlihat sepi. Tenan sekitar mereka juga tampak tutup. “Lepaskan aku!” Amierra kembali menepis tangan Fauzan dan kali ini Fauzan tak menahannya.             “Kembalilah padaku,” ucapnya.             Mata Amierra membelalak lebar mendengar penuturan Fauzan barusan. Apa maksudnya? Setelah kemarin ia menuduhnya berkhianat, sekarang memintanya untuk kembali. “Aku salah tidak pernah membuka emailku,” ucap Fauzan tersirat nada penyesalan di dalamnya. “Tetapi aku sungguh sibuk, aku sibuk menyelesaikan study ku hanya untuk segera melamarmu.”             “Apa maksudmu? Kamu pikir kamu bisa merubah segalanya dengan mudah?” tanya Amierra. “Aku sudah menikah, Fauzan!”             “Aku tau itu, aku sangat tau.” Fauzan menatapnya dengan tatapan nanar. “Tetapi aku sangat mencintaimu, sungguh Ra.”             Amierra tak bergeming, ia masih mematung kaku di tempatnya. Ia memang menampilkan wajah datar dan dinginnya tetapi lain di dalam hatinya ia menangis, ia sedih bercampur bahagia mendengar ungkapan cinta dari Fauzan setelah sekian lama tak pernah ia dengar.             “Aku mohon kembalilah padaku,” ucap Fauzan langsung menarik tubuh Amierra ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Amierra.Dania membelalak lebar dari kejauhan, ia memang tidak mendengar apa yang tengah Amierra obrolkan dengan pria itu tetapi melihat adegan itu seakan meyakinkan semuanya. Ada tatapan terluka di mata gadis muda itu. Ada rasa sakit di dalam hatinya melihat semua ini. ‘Bagaimana dengan bang Djavier?’             Dania memang tidak menyangka Kakak iparnya yang dia pikir baik hati, berani menusuk dan berkhianat di belakang Kakaknya. Padahal saat ini Abang sedang bekerja keras. Dania memang tidak tau apa yang tengah di kerjakan Djavier, tetapi ia tau kalau Kakaknya selalu mempertaruhkan nyawa dalam setiap pekerjaannya. Dan istrinya malah berbuat seperti ini?             Dengan segera, Dania berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu. Pikirannya terus mengarah ke Abang tersayangnya. Abangnya pasti akan sangat terluka kalau melihat semua ini. Dania tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Djavier yang melihat ini. Tetapi Dania sanksi kalau Djavier akan marah. Menurutnya, Kakaknya itu sangatlah baik hati dan begitu sabar. Sekesal apapun, dia tidak pernah menunjukkan amarahnya. Selama 16tahun, Dania bersama Djavier. Ia tidak pernah menerima amarah atau bentakan dari Kakak satu-satunya itu. Dan ia mampu merasakan rasa sakit yang pasti akan di terima abangnya itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD