Djavier terlihat mondar mandir di tendanya, ini waktunya makan siang dan Ia malah tak bernafsu makan. Ini sudah 10 hari sejak ia mengirimkan surat untuk Amierra, dan tak ada balasan sama sekali. Ia sungguh mengkhawatirkan istrinya itu, pikiran negative terus mengganggu pikirannya. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Saat bekerja, maka otaknya akan di perintah untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Karena seorang TNI di wajibkan untuk selalu fokus dan memprioritaskan pekerjaannya sebagai Abdi Negara daripada masalah pribadinya. Helaan nafas berkali-kali keluar dari mulut Djavier untuk menghilangkan rasa frustasi yang menyelubunginya. Akhirnya ia memutuskan kembali mengirimkan surat untuk Amierra.
Setelah menghabiskan waktu dua hari di rumahnya dengan tenang dan berusaha menenangkan diri dari kejadian sebelumnya. Amierra pun kembali pulang ke rumah mertuanya. Sore itu ia pulang di antarkan oleh Amran sang adik. Sesampainya di sana, Amran dan Amierra di sambut baik oleh Ibu mertuanya. Setelah berbincang sebentar, Amran berpamitan pulang. Amierra juga memutuskan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat di undakan tangga, ia berpapasan dengan Dania. “Hai Dania.” Amierra menampilkan senyumannya tetapi di balas tatapan dingin oleh Dania yang berlalu menuruni tangga.
Amierra terpaku di tempatnya dengan beribu pertanyaan. Ada apa dengan Adik Iparnya itu. Kenapa dia menatap Amierra seperti itu. Amierra sudah terlalu banyak memikirkan sesuatu, ia memilih mengabaikannya dan menganggap mood Dania sedang buruk, mungkin karena dia sedang PMS.
Setelah membersihkan diri, Amierra menuruni tangga dan ikut bergabung dengan yang lain untuk makan malam bersama. “Malam Ma, Pa.”
“Malam Amierra.” Mertuanya itu menampilkan senyuman lembut penuh kasih sayangnya. Amierra menarik kursi yang berada di sebelah Dania yang terlihat fokus menikmati makan malamnya. Amierrapun segera mengambil makanan untuknya dan mulai menikmatinya. “Amierra, apa ada kabar dari Djavier? Sudah hampir dua minggu Djavier tidak memberi kabar. Biasanya dia selalu memberi kabar ke rumah.” Ibu mertuanya bertanya dengan penuh kekhawatiran.
“10 hari yang lalu, emm Mas Djavier mengirimkan surat padaku. Katanya keadaan dia baik-baik saja, dan menanyakan kabar kalian semua.” Amierra menjawab apa adanya.
“Apa kamu sudah membalasnya? Djavier selalu khawatir kalau tidak ada kabar dari sini.” ucap Ibu mertuanya itu.
“Emm itu,” Amierra mendadak bingung harus menjawab apa pada mereka. Bahkan Amierra melupakan itu, dan tidak terpikirkan untuk membalas surat dari Djavier. Kedatangan Fauzan sungguh mendadak dan seakan mengganggu dirinya.
“Bagaimana Kak Amierra bisa membalasnya, Ma. Diakan terlalu sibuk,” sindir Dania yang seakan menyiratkan sesuatu di sana. Amierra mengernyitkan dahinya mendengar nada ketus di balik kata-kata Dania. Dan ia tau jelas itu bukan sebuah pernyataan atau jawaban yang jelas. Melainkan sebuah sindiran pedas yang di tujukan untuk Amierra.
“Nanti kalau kamu santai, maka balaslah pesan Djavier. Dia pasti sangat khawatir karena tidak mendapat balasan surat dari kami.” Amierra akhirnya mengangguk kaku. Ia kembali menikmati makanannya dalam diam, ia merasa Dania memusuhinya. Ada apa sebenarnya?
Amierra sudah mengobrak abrik seluruh kamarnya untuk menemukan surat dari Djavier tetapi tak juga ia temukan. “Astaga dimana surat itu,” keluhnya duduk di sisi ranjang dengan frustasi.
Bagaimana bisa ia membalas surat Djavier, alamatnyapun ia tidak tau harus di kirim kemana. Amierra mengambil handphonenya dan menghubungi nomor Djavier tetapi selalu berada di luar jangkauan terus. Karena lelah dan frustasi, akhirnya Amierra melempar handphone nya asal dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap nyalang langit-langit kamar yang terhias lampu yang begitu indah. Ingatannya menerawang ke kejadian di mall. Setelah Amierra mendorong tubuh Fauzan menjauh ia membentak Fauzan dan mengatakan kalau ia tidak mungkin kembali padanya. Tetapi Fauzan malah mengatakan akan memberinya waktu untuk berpikir, dan menentukan apa yang terbaik untuknya. Fauzan mengetahui kalau Amierra tak mencintai suaminya, dan mereka menikah karena keterpaksaan.
Apa yang harus Amierra lakukan?
Bertahan menjadi seorang istri dari pria yang tidak ia cintai atau berlari ke arah pria yang di cintainya, yang juga menawarkan sebuah kebahagiaan padanya....
Manakah yang harus ia pilih?
Amierra baru saja keluar dari kampus bersama Milla, Ia terlihat sibuk berbicara dengan Milla hingga tak sadar kehadiran seseorang di sampingnya.
“Rha!” panggilan itu membuatnya menoleh.
“Fauzan?” Amierra mengernyitkan dahinya melihat keberadaan Fauzan di sana.
“Kita perlu bicara,” ucapnya dengan tegas.
"Apa lagi? Aku rasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi di antara kita berdua." Amierra menjawabnya dengan tegas. Kemarin memang Amierra mendorong tubuh Fauzan dan meninggalkannya begitu saja. Ia bahkan tak menjawab ajakan Fauzan yang memintanya kembali padanya.
“Mier, gue duluan yah.” Mila yang merasa tak nyaman akhirnya memilih berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Amierra.
Fauzan menoleh kanan kirinya dimana para mahasiswa melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan penasaran. “Ikut aku.” Fauzan menarik pergelangan tangan Amierra dan membawanya ke samping mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka sebelumnya.
“Lepaskan tanganku!” Amierra menepisnya dan kali ini Fauzan membiarkannya tak ingin menahan lagi. “Aku mohon jangan seperti ini, Fauzan.”
Yah, Amierra memang sudah berniat dan tekad bulat untuk memilih Djavier dan meninggalkan Fauzan. Tetapi kalau Fauzan seperti ini terus, bagaimana bisa Amierra memegang teguh keputusannya? Bagaimana bisa dia melupakan Fauzan yang jelas-jelas masih ia cintai sampai detik ini.
"Aku tidak bisa menerima hubungan kita seperti ini." Fauzan mulai mengeluarkan suaranya, terdengar bergetar.
"Apa yang kamu harapkan dari aku?"
"Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu." Fauzan mengatakannya dengan penuh perasaan.
"Kamu gila? Aku sudah menikah!"
"Aku tidak perduli, aku masih sangat mencintai kamu, Rha." ucapnya membuat Amierra membeku di tempatnya mendengar penuturan Fauzan yang terlihat tulus. "Dan aku juga yakin kamu masih mencintaiku, benarkan?"
Amierra menundukkan kepalanya, menahan rasa sakit dan gejolak di dalam hatinya. Perdebatan di dalam hatinya membuatnya semakin dilema. Di sisi lain, ia harus menghormati sebuah ikatan pernikahan, tetapi Fauzan? Ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri kalau ia masih mencintai Fauzan, perasaan itu masih ada.
“Apa yang aku katakan benar kan, Amierra?" Fauzan menarik dagu Amierra hingga tatapan mereka beradu satu sama lain. Terlihat jelas mata Amierra yang berkaca-kaca tanpa bisa mengatakan apapun.
“Aku tidak bisa berbuat apapun, Fauzan,” gumam Amierra menepis tangan Fauzan dari dagunya dan berlalu pergi meninggalkan Fauzan yang membeku di tempatnya.
"Rha!"
Amierra tidak memperdulikan Fauzan dan bergegas menghentikan sebuah taxi dan menaikinya segera, meninggalkan Fauzan yang masih berdiri tak jauh dari tempat Amierra menaiki taxi. Di dalam mobil Amierra menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang terasa kosong. Bagaimanapun hubungannya dengan Fauzan sudah berakhir. Mungkin kalau belum ada ikatan pernikahan, mereka bisa saja kembali tetapi sekarang rasanya mustahil. Ada suaminya di antara mereka berdua. Dan Amierra menghormati sebuah ikatan Pernikahan. Walau ia belum mencintai dan benar-benar menerima keberadaan Djavier.
‘Bagaimana ini?’
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Amierra kemarilah sebentar." Amierra berjalan mendekati Ibu mertuanya yang duduk bersama beberapa tamunya.
"Iya Ma,"
"Duduklah di sini." Ibu Evi menepuk sofa di sampingnya dan Amierra pun duduk di sana. "Kenalkan, ini teman-teman pengajian Mama." Amierra menyalami mereka bertiga diiringi senyumannya.
"Sayang sekali nak Djavier mendapatkan istri yang seperti ini," bisik salah satu dari mereka yang masih mampu di dengar oleh Amierra dan Ibunya Djavier.
"Iya, cantik sih tapi sayang tidak berjilbab. Padahal nak Djavier seorang santri di sini," sahut yang lain. Amierra sudah semakin kesal dan emosi mendengar ocehan mereka.
"Tau begini, mending nak Djavier di nikahkan dengan putriku." Amierra menundukkan kepalanya, Mama Djavierpun terlihat tak nyaman. Ada rasa tidak nyaman, sakit hati bercampur jadi satu yang Amierra rasakan. Mereka seenaknya menjudge orang.
"Sayang sekali yah, padahal ini termasuk keluarga yang ahli agama."
"Em, Ma. Amierra ke kamar dulu, permisi Ibu Ibu." Amierra beranjak meninggalkan mereka semua.
"Aduh Bu Haji, apa tidak salah dapat mantu?" samar-samar Amierra mendengarnya.
Amierra berjalan cepat menuju ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi yang menyakiti hatinya. Ia merasa di pandang sebelah mata. Bahkan sama keluarga suaminya sendiri, sejak tadi saja tak ada pembelaan untuk dirinya.
Sesampainya di dalam kamar, Amierra melempar tasnya asal dan merebahkan tubuhnya dengan kesal. Ia menangis dalam diam sambil memeluk bantalnya. Sudah sakit hati karena Fauzan, sekarang di judge seperti ini. "Apa yang tidak berkerudung itu selalu di anggap tidak beriman? Tidak baik? Kenapa mereka seenaknya menilai, apa aku sungguh tidak pantas untuk menjadi istri dari Paman?"
“Kenapa mereka jahat sekali!” Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal yang ia peluk.
Bip bip bip
Dering handphone terdengar, Amierra segera mengambilnya setelah menghapus air matanya. Di layar handphone tertera nama Paman Djavier. Iapun segera mengangkatnya tanpa butuh waktu lama lagi.
"Assalamu'alaikum."
"PAMAN!!!"
"Kamu baru angkat telpon dari saya langsung teriak begitu, jawab dulu salamnya."
"Wa'alaikumsalam. Paman, pokoknya aku kesel. hikzz"
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?” terdengar nada khawatir dari sebrang sana.
"Teman-teman pengajian Mamamu,"
"Apa yang sudah mereka lakukan?"
Amierra menceritakan semuanya pada Djavier dengan sangat kesal. "Sudah jangan di dengarkan, mereka hanya berburuk sangka padamu."
"Tetapi tetap saja aku kesal, Paman. Mereka seenaknya menilaiku seperti itu. Memang apa salahnya tidak berjilbab, toh yang berjilbab saja kebanyakan kedok!" amuknya.
"Sssttt, jangan berbicara seperti itu. Kalau kamu terus menggerutu seperti itu berarti kamu sama saja dengan mereka. Ingat Amierra, Allah membenci orang yang suka menggunjing. Setiap manusia pasti punya kesalahan, karena hanya Allah yang maha sempurna." Amierra duduk di sisi ranjang dengan wajah betenya. "Jadi biarkanlah akhlak setiap manusia hanya Allah dan manusia tertentu yang tau. Yang harus kita lakukan hanya menjaga. Menjaga hati, lisan dan juga menjaga sikap kita. Karena kebanyakan orang menilai negative dari sikap kita."
“Lagian dengan berjilbab, setidaknya wanita itu mau menuruti perintah Allah, tidak perduli dengan perilakunya. Kita tidak bisa menjugde orang seperti itu.”
“Tapi aku kesal!”
“Istigfar, ingat orang yang dengki dan iri padamu. Mereka yang menggunnjing di belakang, maka pahalanya akan terhapus dan akan di berikan padamu. Yang penting kamu tenang, berpikir positif, ambil sisi baiknya jangan hanya buruknya saja.”
"Kenapa kamu sekali ngomong suka bener sih Paman, belajar banyak dari Mr. Mario Teguh yah." terdengar kekehan Djavier dari sana.
"Sudah jangan emosi terus, biarkan saja orang mau menggunjingkan apa, yang jelas kita tetap terus menjaga sikap dan memperbaiki diri kita sendiri untuk dapat nilai bagus dari Allah bukan dari manusia." Amierra tersenyum kecil mendengar penuturan Djavier, kata-katanya begitu menenangkan.
"Paman, apa Paman keberatan aku tidak berjilbab?"
"Mau jujur apa bohong nih?"
"Dua-duanya saja."
"Jujurnya, saya sebenarnya lebih suka melihatmu memakai jilbab. Dan berbohongnya, kamu terlihat sangat jelek saat memakai jilbab."
Amierra terkekeh kecil dengan wajah meronanya. "Dih pujian apaan tuh, untung bohong yah." Seketika moodnya kembali baik. Tanpa di sadari Amierra, dia mulai nyaman dan menikmati interaksinya bersama Djavier.
"Saya tidak mau membuatmu semakin besar kepala."
"Dih rugi sekali,"
Bagaimana kabarmu? Kenapa tidak membalas surat dariku?"
"Aku lupa, Paman. Tapi sebelumnya Mama menyuruhku untuk membalas surat dari Paman. Tapi karena Paman sudah telpon, jadi aku tidak perlu membalas suratmu," jawabnya dengan enteng. Djavier hanya mampu menghela nafasnya dari sebrang sana mendengar jawaban Amierra. Hatinya seperti di cubit mendengar penuturan Amierra, tetapi ia berusaha untuk memahaminya.
"Saya tidak ada sinyal di sini, ini juga kebetulan saya sedang ke kota jadi bisa menghubungimu. Saya hanya bisa mengabarimu melalui surat saja."
"Hmm," Amierra memberi jeda dalam ucapannya. “Tapi mendengar suara Paman seperti ini, pastilah Paman baik-baik saja, Kan?”
“Alhamdulillah saya di sini baik-baik saja, bagaimana denganmu?”
“Baguslah jadi nanti Mama Paman gak akan khawatir lagi.” Ada senyum getir di bibir Djavier mendengar penuturan Amierra barusan. “Aku juga baik-baik saja Paman.”
“Syukurlah kalau begitu, saya lega mendengarnya.” Djavier memberi jeda dalam ucapannya menunggu respon Amierra, di rasa tak ada respon apapun, iapun kembali berbicara. "Kamu sedang apa, sudah solat Ashar?"
"Baru pulang kuliah, aku mau mandi dulu lalu solat."
"Baiklah kalau begitu saya tutup telponnya. Jangan lupa makan dan solat. Jaga juga kesehatan kamu, Amierra."
"Siap Paman."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Selesai makan malam bersama, Amierra beranjak menuju ke dalam kamarnya. Tetapi ia melihat Dania juga hendak memasuki kamarnya. Ini sudah beberapa hari Dania mendiamkannya. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, ia harus menanyakan pada Dania apa yang terjadi.
“Dania.” panggilan itu menghentikan gerakan Dania yang hendak menekan knop pintu kamarnya yang terletak di samping kamar Amierra.
“Ya?”
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini terlihat murung dan mendiamkan Kakak?” tanya Amierra.
“Kakak belum sadar juga?” tanyanya dengan sinis.
“Sadar apa?” Amierra semakin mengernyitkan dahinya bertanya-tanya, apalagi jawaban Dania yang begitu sinis padanya.
“Pikir saja sendiri.” Hanya senyuman sinis yang Dania lemparkan pada Amierra seraya memasuki kamarnya meninggalkan Amierra dengan kebingungan.