Episode 9

1894 Words
     Di dalam kamar, Amierra terus mondar mandir tak tenang. Ia masih mencoba memikirkan apa yang Dania ucapkan tadi. Apa maksud Dania? Dan apa yang dia maksud dengan sadar? Memangnya selama ini Amierra kenapa? Setahu Amierra, terakhir kali mereka berkomunikasi saat ke pengajian itu dan itupun tak terjadi sesuatu yang menyinggung. Apa karena ia menanyakan perihal Fatimah? Karena tak kunjung menemukan jawabannya, Amierra menjambak pelan rambutnya karena frustasi. Ia sungguh tak memahami maksud dari kata-kata Dania tadi. Kenapa mendadak berubah dingin padanya. Dan kesalahan apa yang tak di sadari Amierra? Perasaannya mengatakan kalau ia tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung Dania. Kepalanya malah semakin berdenyut sakit, akhirnya Amierra menyerah dan memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang. Mungkin nanti Amierra bisa menanyakannya langsung ke Dania.             “Kenapa tuh muka? Nelangsa bener.” Milla menyahuti saat Amierra datang dan duduk sampingnya.             “Kurang tidur, kepala gue sakit,” keluh Amierra memijat pangkal hidungnya.             “Kalau sakit kenapa masuk? Lebih baik istirahat saja,” ucap Milla.             “Gue lebih suka di sini, daripada di rumah mertua,” keluh Amierra.             “Harus di biasain, Neng.” Amierra mengedikkan bahunya acuh. “Eh, kemarin mas Iqbal telpon gue. Ya Tuhan demi apapun, gue seneng banget!” ucap Mila dengan sangat antusias.             “terus?” Amierra hanya menanggapinya dengan datar.             “Nanyain kabar gue, terus yah kita ngobrol banyak hal.” Mila menceritakannya dengan sangat antusias. “Dan pas terakhir, dia bilang pulang dari sana, dia dapat libur satu minggu dan mau ngajak gue liburan.”             “Wah enaknya,” ucap Amierra.             “Gue seneng banget, Amier. Ya Allah,  mas Iqbal, aku padamu selalu foreverlah.” Amierra terkekeh mendengar penuturan Mila yang sangat lebay.             “Lebay loe makin kronis yah, khawatir gue,” ucap Amierra terkekeh.             “Biarin, ah pokoknya mas Iqbal, cepat halalin Neng.” Mila menangkup wajahnya sendiri dengan mata yang berbinar. Amierra tau kalau sahabatnya ini sekarang tengah terjangkit penyakit kasmaran yang berefek pada mesem mesem tak jelas. Melihat itu, Amierra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak lama terdengar dering handphone Amierra, ia segera menyambar tasnya dan menatap layar handphone yang menampakan nama Fauzan di sana. "Sebentar yah." Amierra beranjak keluar kelas mengangkat telpon dari Fauzan. Ia berjalan menuju kursi yang berada tak jauh dari depan kelasnya, iapun mengangkat telpon dari Fauzan. "Hallo," "Kamu sedang apa, Rha." "Aku sedang kuliah, ada apa Fauzan?" "Pulangnya nanti bisa kita nonton?" "Tidak bisa." Amierra menghela nafasnya. "Fauzan dengarkan aku, Kita sudah selesai. Aku sudah menikah. So, do not ever hassling me again!" Fauzan terdengar menghela nafasnya di sana. "Do you understand? Please Fauzan." "Aku tidak bisa menerimanya." Jawaban Fauzan membuat Amierra jengah, ia sedikit menjambak rambutnya ke belakang terlihat frustasi. " I verry love you, Rha. Please, Back to me!" Amierra melirik ke sekitarnya dengan perasaan tak nyaman, "Mierra, tinggalkan dia, dan kembali padaku!" Amierra mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Fauzan. “Apa yang kamu harapkan darinya, Rha? Kalian menikah karena perjodohan dan tidak ada cinta.” Amierra terdiam membisu tidak tau harus menjawab apa. “Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, lebih bahagia lagi dari sebelumnya, I’m promise!” "Ini bukan masalah cinta atau tidak. Ini adalah masalah ikatan pernikahan yang sakral. Tolong pahami itu, Fauzan. Aku tidak mungkin bercerai hanya dengan alasan tak cinta.” Amierra mengatakannya dengan penuh penekanan dan berharap Fauzan dapat memahaminya. “Tolong pahami keadaanku.” "Oke, beri aku kesempatan. Setidaknya biarkan aku menjadi temanmu, bisa berada di dekatmu sebagai teman. Apa itu juga tidak bisa?" Amierra terdiam sesaat memikirkan tawaran dari Fauzan barusan. "Beri aku waktu." "Aku tidak memiliki banyak waktu, Amierra. Listen, aku akan kembali ke Amerika untuk pekerjaan, aku di tawari pekerjaan di sana oleh Om ku. Kalau kamu memberiku kesempatan kedua, maka aku tidak akan menerima pekerjaan ini. Aku akan mencari pekerjaan di Indonesia supaya bisa bersama denganmu. Aku mohon beri  aku kesempatan kedua. Please a chance!" "Ini-" "Just a friend, oke." "I’m afraid." "Why?" "Kita tidak mungkin bisa menjadi  teman. Apa kamu paham? aku belum bisa move on!" pekik Amierra yang sudah terlihat kalut. "Well? Apa masalahnya? Back to me, Amierra. Aku akan membuatmu bahagia, aku tau bersamanya, kamu tidak bahagia." "Aku berusaha bahagia bersamanya, Fauzan." "Aku tidak akan berhenti," "Why?" "Karena aku mencintaimu, itu sudah jelas. Aku tidak bisa melepaskanmu, Amierra. Aku ingin kita kembali seperti dulu, dan aku akan berusaha untuk bisa kembali denganmu. Seperti janji kita dulu, aku akan membuatmu kembali padaku, Amierra. I’m promise!" Setelah ucapan itu, sambungan telponpun terputus sepihak. Amierra menjambak rambutnya sendiri dengan menundukkan kepalanya. "Bagaimana ini, Tuhan?" Langkah Amierra dan Mila terhenti saat melihat Fauzan berdiri tegak di hadapan mereka dengan senyuman indah menghiasi wajahnya. Amierra memalingkan wajahnya saat melihat senyuman dari Fauzan. Senyuman yang selalu membuatnya tak mampu berkutik. "Hay Milla," "Hay Fauzan." Milla menyahutinya diiringi senyuman kecil, ia melirik ke arah Amierra yang hanya memasang wajah datar. "Gue duluan kalau begitu." Mila yang merasakan kecanggungan di antara merekapun, memilih berlalu pergi meninggalkan kedua anak manusia itu. Milla tau Amierra masih mencintai Fauzan, tetapi jauh di lubuk hatinya ia memikirkan suami Amierra. Ada rasa iba pada Djavier yang pastinya akan terluka melihat istrinya seperti ini. Tetapi Milla merasa tak memiliki hak untuk mencampuri urusan mereka lebih dalam.   Fauzan masih tersenyum manis pada Amierra yang menatapnya dingin. "Just a friend?" Amierra hanya bisa menghela nafasnya dengan memutar bola matanya jengah dan berjalan mendahului Fauzan menuju mobil milik Fauzan. Fauzan dengan semangatnya menyusul Amierra dan segera membukakan pintu penumpang untuk Amierra. Tanpa mengatakan apapun, Amierra menaiki mobil Fauzan dan Fauzan sedikit berlari menuju pintu pengemudi. Dan kejadian itu tak luput dari pandangan Dania yang mengambil foto di ujung dinding kampus. Ia sengaja datang untuk memastikan kedekatan mereka dan memberitahukannya pada Djavier. “Kak Djavier harus tau bagaimana kelakuan istrinya,” gumamnya dan berlalu pergi bersama temannya. Suasana di dalam mobil tampak hening, hingga Amierra mulai membuka suaranya. "Kenapa tidak menerima pekerjaan itu?" "Untuk sementara aku tunda dulu, aku akan menerima pekerjaan ini saat nanti kamu ikut denganku ke sana." Amierra menengok dengan kernyitannya pada Fauzan. "Don't dream in the daytime!" Mendengar penuturan Amierra, Fauzan hanya bisa terkekeh kecil tanpa menanggapi ucapan Amierra. "Aku sungguh sedang tidak ingin nonton," ucap Amierra saat mobil Fauzan memasuki area sebuah Mall di Jakarta. "Oke, makan saja," ucapnya dengan bersemangat menuruni mobil dan menuju ke pintu penumpang untuk membukakan pintu Amierra. Mereka berjalan memasuki sebuah mall, dan berjalan menuju restaurant bergaya Eropa. Amierra tau, Fauzan adalah anak seorang pengusaha kaya di Indonesia. Bukan hanya kekayaan yang di miliki Fauzan, tetapi wajahnya yang begitu tampan dan memiliki ciri khas. Wajah blasterannya begitu melekat di wajah tampannya, campuran Indonesia – Amerika. Saat masih kuliah dulu, semua siswi begitu tergila-gila padanya. Tetapi Fauzan hanya menyukai Amierra, mungkin Amierra patut bersyukur  akan hal itu. Dulu Amierra begitu tergila-gila pada sosok pria sempurna di sampingnya ini. Tampan, Baik, Kaya dan begitu perhatian. Siapa yang tidak menginginkannya, walau terkadang sikap pemaksa dan egoisnya membuat Amierra sering kesal dan emosi.  Tetapi 2 tahun lalu setelah lulus kuliah, Fauzan begitu saja hilang kabar seakan di telan dunia. Membuat Amierra di landa dilema dan kegalauan tingkat akut. Bahkan Amierra sudah putus asa mencari kabarnya, karena tak ada satupun pesannya yang di balas oleh Fauzan. Ia berusaha move on selama ini walau sulit. Tetapi kenapa, saat ia mulai mencoba membuka hati untuk pria lain yang tak lain adalah suaminya sendiri, Fauzan datang kembali dengan membawa cinta yang dulu pernah dia bawa pergi. "Hey!" tepukan ringan di pundaknya mampu menyadarkan Amierra dari lamunannya. "Eh?" "Kamu mau pesan apa?" Amierra baru sadar kalau saat ini mereka sudah duduk di sebuah restaurant Eropa yang cukup mewah. Cukup lama dia melamun, kalau sedang sendiri mungkin harta berharganya sudah amblas di curi perampok yang lagi ketiban durian runtuh. Amierra menggelengkan kepalanya saat pikiran konyol itu terlintas di kepalanya. "Kamu kenapa, Rha?" "Tidak." Amierra mengambil buku menu makanan dan melihat makanan di sana. Ia tidak kaget dengan harga yang tertera di sana, karena Fauzan adalah seorang pewaris Milyader di Jakarta. "Aku pesan ini saja," ucapnya pada seorang waiters yang berdiri di antara mereka berdua. Setelah mencatat pesanan mereka, waiters itupun berlalu pergi meninggalkan Fauzan dan Amierra. "Aku senang kamu memberiku kesempatan lagi." "Aku tidak memberikannya, kamu yang memaksaku." Fauzan hanya terkekeh mendengar ucapan ketus dari Amierra. "Kamu tidak berubah, selalu berkata ceplas ceplos. Tetapi aku sangat menyukainya." Amierra hanya memasang wajah jengahnya pada Fauzan. 'Ya Allah, cobaan apa ini. Kenapa harus bertemu kembali dengannya, getaran ini masih ada. Rasa itu masih ada untuknya,' batin Amierra ingin sekali menjerit. Tak lama pesanan merekapun datang, keduanya mulai menyantap makanan. Fauzan terus mengajukan pertanyaan sepele dan tidak penting walau hanya di jawab singkat oleh Amierra. Selesai makan siang bersama, merekapun berlalu keluar dari restaurant. Fauzan masih aktif bertanya banyak hal pada Amierra. Menawarinya pakaian, tas, sepatu dan lain sebagainya tetapi di tolak oleh Amierra.  Hingga langkah Amierra terhenti saat melihat seseorang. Ia langsung bersembunyi di belakang punggung Fauzan. "Ada apa?" tanya Fauzan kebingungan dengan reaksi Amierra. "Tetap seperti ini," gumamnya masih bersembunyi di belakang tubuh Fauzan. Fauzan yang kebingungan hanya tetap berdiri, sedangkan Amierra bersembunyi di belakang punggung Fauzan dengan sesekali mengintip orang di hadapannya itu. Tak jauh dari mereka, Fatimah bersama teman wanitanya baru keluar dari sebuah toko buku. Mereka berjalan menuju ke arah Amierra membuat Amierra was was. "Apa kamu bersembunyi dari kedua wanita berhijab itu?” tanya Fauzan. "Bukan urusanmu!" ucapnya kembali berjalan mendahului Fauzan saat Fatimah sudah melewati mereka. Fauzan hanya berjalan mengikutinya menuju lift, Amierra segera memasuki lift begitu juga dengan Fauzan. Saat hendak menekan tombol seseorang berteriak berkata tunggu. Dan seketika keringat dingin keluar dari tubuh Amierra, di depannya Fatimah berdiri dengan pakaian syar'i nya berwarna biru. Dia tampak tersenyum pada Amierra seraya memasuki lift dengan temannya yang juga memakai pakaian yang sama. "Assalamu'alaikum, kamu istrinya bang Djavier kan? Emm, mbak Amierra yah." Suaranya begitu merdu dan menyejukkan, wajahnya cantik natural dan terlihat bersinar. "Emm, iya," jawab Amierra sedikit gugup dengan merapihkan rambutnya. "Oh iya kenalkan ini Fauzan, temanku," ucapnya dengan cepat. "Fauzan." Fauzan menyodorkan sebelah tangannya kepada Fatimah. "Fatimah." Ia hanya menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a dengan senyuman indahnya. "Oh oke." Fauzan tersenyum kikuk seraya menarik kembali uluran tangannya yang tidak di sambut Fatimah. Fatimah kembali melihat ke depan dengan fokus. Di tangannya terdapat sebuah Al-quran kecil dengan jilid berwarna hitam dengan volet gold. Diam-diam Amierra memperhatikan Fatimah dari sampingnya. Wajah Fatimah begitu ayu, khas wajah Indonesia. Dia mempunyai kulit yang tidak begitu terang tetapi juga tidak coklat, mungkin biasanya di sebut kuning langsat. Dia juga terlihat begitu dewasa dan ramah, bahkan dia selalu menebar senyumannya pada siapapun yang dia kenali, seperti pada Amierra contohnya. Padahal sebelumnya mereka baru pertama bertemu. Amierra masih meneliti Fatimah dari atas kepala sampai kaki, wanita sesempurna ini yang menginginkan suaminya. Dan lihatlah dirinya, jauh dari kata sempurna. Fauzan menyadari kalau Amierra tengah memperhatikan Fatimah. Ting Pintu liftpun terbuka, Fatimah berpamitan pada Amierra dan Fauzan dengan mengucapkan salam, lalu beranjak keluar dari dalam lift. Dan kini hanya tinggal Amierra dan Fauzan berdua. "Siapa dia?" "Bukan siapa-siapa," jawab Amierra sedikit ketus. "Aku tau sejak tadi kamu memperhatikannya." "Dia salah satu murid suamiku, mereka dulunya dekat." "Mantan pacarnya suamimu?" "Bukan, mereka tidak berpacaran." "Kamu cemburu?" tanya Fauzan membuat Amierra menoleh padanya. "Tidak, sudahlah jangan membahasnya lagi. Aku harus segera pulang, ini sudah mau magrib." Amierra melangkah keluar dari dalam lift dengan perasaan yang tidak menentu. Sedangkan Fauzan hanya mengikutinya dari belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD