Amierra baru saja keluar dari rumah mertuanya, hendak berangkat ke kampus. Tetapi gerakannya terhenti saat ada seorang kurir Pos mengantarkan sebuah surat untuknya. Setelah melakukan serah terima, kurir itu berlalu pergi meninggalkan Amierra sendirian. Amierra menatap surat di dalam genggamannya itu dan membolak balikannya. Itu adalah surat dari Djavier. Amierrapun memasukkannya ke dalam tas selendang yang ia gunakan. Ia berjalan keluar pagar mencari taxi dan hendak menghubungi Grab, tetapi gerakannya terhenti saat sebuah mobil avanza berwarna hitam berhenti di depannya. Amierra mengernyitkan dahinya melihat mobil itu. Tetapi tak butuh waktu lama ia merasa bingung karena kaca mobil sudah turun hingga memperlihatkan wajah sang sopir.
“Fauzan?” pekiknya setengah tertahan seraya menoleh ke belakangnya dimana rumah mertuanya masih terlihat sepi. “Kamu?”
“Ayo cepatlah naik, aku akan mengantarmu ke kampus.” Fauzan mengatakannya dengan senyuman lebar.
“Tapi bagaimana bisa kamu?”
“Cepat naik Amierra, sebelum ada orang rumah keluar.”
Fauzan seakan menyadarkan Amierra yang masih kebingungan. Akhirnya tak butuh waktu lama lagi, iapun menaiki mobil avanza itu dan Fauzan langsung menginjak gas mobilnya meninggalkan area rumah mertua Amierra. “Bagaimana bisa kamu datang ke rumah mertuaku? Bagaimana kalau kita ketahuan dan malah jadi salah paham?” pekik Amierra tak bisa menahan kekesalannya lagi.
“Tenanglah dulu Rha, aku sengaja membeli mobil avanza ini untuk mengantar jemputmu. Biar mereka mengira aku adalah sopir grab yang kamu sewa.” Fauzan melirik ke arah Amierra yang masih memasang wajah kesalnya. “Aku ingin selalu mengantar jemputmu seperti dulu, aku ingin selalu berdekatan denganmu, Rha. Kalau aku menggunakan mobil sport ku, maka mereka semua akan mencurigai kita. Tetapi kalau aku menggunakan mobil ini, mereka akan mengira aku adalah angkutan umum online yang kamu pesan.”
“Tapi tetap saja ini tidak baik, Fauzan.”
“Ayolah Rha, bukankah kita sudah sepakat untuk berteman? Jadi biarkan aku mengusahakan sesuatu untuk berdekatan denganmu. Akupun tidak perduli kalau harus terus menggunakan mobil ini, asal bisa terus bersamamu.”
Amierra tak mampu berkata apapun lagi, akhirnya dia hanya diam saja memilih melihat ke luar jendela. “Kamu sudah sarapan?”
“Hmm,” jawab Amierra.
“Aku tidak akan terpengaruh dengan sikap jutekmu, Amierra.” Fauzan mengatakannya dengan penuh penekanan membuat Amierra mencibir kesal.
“Terserah padamu saja,” ucap Amierra akhirnya.
Setelah cukup lama dalam keheningan, mobil Avanza itu memasuki area parkir kampus tempat Amierra menuntut ilmu. “Terima kasih,” ucap Amierra beranjak hendak membuka pintu mobil tetapi Fauzan mencengkram pergelangan tangannya membuat Amierra menoleh padanya.
“Pulangnya aku jemput lagi yah,” ucapnya.
Amierra menatap jengah pada Fauzan, tetapi ia tak menjawab apapun dan memilih melepaskan pegangan tangan Fauzan darinya. Lalu Amierra menuruni mobil tanpa mengatakan apapun lagi dan beranjak meninggalkan Fauzan tanpa ingin menoleh. Ia beranjak memasuki kelasnya dan di sambut oleh Milla dengan wajahnya yang berseri-seri, pasti ini ada hubungannya dengan Sersan Iqbal. Pikir Amierra.
“Wajah loe makin berseri aja, curiga tiap hari loe siram, makanya tuh hidung makin mekar,” celetuk Amierra membuat Milla terkekeh.
“Asyem, loe pikir gue tanaman apa.”
“Bagaimana kelanjutannya? Sampai loe berseri-seri gitu?” tanya Amierra.
“Semalam dia kirim pesan ke gue, kayak puisi gitu isinya memang tentang agama sih tapi ujung-ujungnya dia bilang gini. ‘Dalam setiap untaian doa yang aku panjatkan pada Tuhan, namamu tak pernah aku lewatkan.’ Ya Allah, bang Iqbal kok so sweets banget sih.” Milla begitu histeris hingga membuat beberapa teman sekelas melirik ke arahnya.
“Lebay loe,” kekeh Amierra ikut senang melihat sahabatnya gak jadi jones lagi. “Tapi gue doain semoga loe bisa jadi sama dia.”
“Amin ya Allah Ya Robal Alamin.” Milla mengusap wajahnya berkali-kali dengan kedua tangannya. “Eh, tapi gak enaknya gini yah berjauhan kalau udah nikah banyak di tinggalin.” Amierra hanya mengedikkan bahunya.
“Eh, loe sendiri gimana perasaannya di tinggal-tinggal gini sama mas Djavier?”
“Tidak ada yang aneh, sebelum menikah gue biasa sendiri. Dan sekarang juga, jadi bagi gue biasa saja.” jawab Amierra dengan enteng.
“Tapi maksud gue, apa tidak ada rasa rindu sedikitpun di hati loe buat suami loe,” tanya Milla membuat Amierra berpikir beberapa sesaat.
“Sepertinya tidak, gue belum mengenal dia lebih jauh. Jadi ya begitu deh,” jawab Amierra dengan santainya.
“Apa ini ada hubungannya juga dengan Fauzan?” tanya Mila berubah serius.
“Kok Fauzan?” Amierra mengernyitkan dahinya bingung.
“Mungkin loe gak ngerasa, tetapi secara tidak langsung fokus loe teralihkan ke Fauzan hingga loe sama sekali tidak memikirkan mas Djavier.”
“Nggak kok, itu pemikiran loe saja.” Amierra berusaha mengelak.
“Gue tau loe, Amierra. Dari dulu Fauzan selalu berhasil mempengaruhi loe sampai loe lupa segalanya.”
“Gue gak begitu, Milla.”
“Loe belum menyadarinya, Amierra. Apa pernah selama satu bulan ini loe memikirkan suami loe? Apa loe tau kalau kepulangannya di tunda?” tanya Milla.
“Di tunda?” Amierra mengernyitkan dahinya.
“Ya Tuhan, ampuni segala dosa sahabatku ini. Gue serius, memang suami loe gak kasih kabar?” pertanyaan Mila seakan mengingatkan Amierra pada sesuatu. Ia segera merogoh sesuatu di dalam tasnya. “Surat?” tanya Mila saat Amierra mengeluarkan amplop berwarna putih.
“Ini dari Paman,” ucap Amierra. “Loe baca.” Amierra menyerahkannya ke Milla.
“Kenapa gue, ini privasi.”
"Males ah, tuh Paman mau ngapain lagi sih. Kirimin terus surat buat gue," keluh Amierra. “Paling isinya kasih tau pertambahan kerja kayak yang loe bilang tadi.”
"Itu suami loe, Oncom!"
"Iya gue tau, dan tidak perlu di perjelas lagi.” Akhirnya Milapun membuka amplop itu dan mulai membacanya dengan seksama.
Dear Amierra,
Assalamu'alaikum....
Apa kabarmu, Amierra? Saya harap kamu selalu baik-baik saja di sana. Saya juga di sini baik-baik saja. Sudah lama saya tidak menghubungimu. Karena di sini saya sedikit sibuk. Saya hanya ingin mengabari kamu kalau kepulangan saya di undur. Mungkin di tambah dua minggu atau satu bulan lagi. Kamu tidak masalah kan di sana sendirian?
Sebenarnya saya mengkhawatirkan kamu, takutnya kamu tidak betah tinggal di rumah saya dan takutnya kamu masih merasa canggung. Tetapi saya berharap kamu bisa bertahan dengan baik, dan berusahalah untuk beradaptasi. Tolong bertahanlah sebentar lagi.
Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan tentang kegiatan di sini, dan banyak hal yang saya lakukan. Tetapi saya takut kamu mengantuk membaca surat ini. Oh iya, sebenarnya saya juga begitu merindukanmu, Amierra. Ini sedikit aneh, tetapi saya tidak berbohong kalau saya begitu merindukanmu.
Mungkin sampai di sini pesan yang harus saya sampaikan padamu, saya harap kamu selalu baik-baik saja. Saya tunggu balasan surat darimu, kirim saja ke alamat yang tertera di amplop. Titip rindu saya untukmu...
Djavier
"Cieee romantisnye,," goda Mila membuat Amierra mencibir dan merasa malu sekali. Isinya begitu kolot dan formal, astaga suaminya itu kenapa kaku sekali.
"Romantis apaan, bahasa baku gitu. Males gue bacanya," keluhnya.
"Ya udin sih, dia kan emang begitu bahasanya. Maklumlah bapak Sersan."
"Kapten, Milo. Loe seenaknya nurunin jabatan orang. Yang Sersan itu cemceman loe!"
"Jiaahh kagak relaan," kekehnya. "Ya udin nih, bales surat cintanya."
"Kagak mau, loe saja."
"Ini laki loe, Amier. Kalau gue yang bales, tar mas Iqbal cemburu lagi."
“Kayak udah punya status aja,” ejek Amierra.
“Jangan di perjelas kali statusnya, kan ini namanya lagi ta’aruf.” Mila mengatakannya dengan senyuman lebar.
“Bahasa loe Ta’aruf. Tobat dulu sono, pake jilbab.”
“Heh yang harusnya tobat itu loe, Amier. Bukan gue,” ucapnya tak mau kalah. "Ya udah nih balas." Mila menyodorkan surat itu ke arah Amierra.
"Buang saja ke tong sampah."
"What? Are you kidding me?" pekik Milla.
"Terus harus di apain? Apa harus gue pigurain dan di pajang?" ucap Amierra dengan santai.
"Ya gak gitu juga, astagfirulloh! Loe bener-bener yah." Milla sudah tak tau lagi melihat sikap Amierra yang tampak acuh dan hanya mengedikkan bahunya. Hingga handphonenya berdering menampakan nama Fauzan di sana.
"Sebentar yah." Amierra beranjak mengangkat telpon dari Fauzan.
"Eh si Amier malah angkat telpon dari mantan. Lah ini surat dari lakinya di abaikan. Ya Allah ampuni gadis bodoh itu," gumam Milla melihat Amierra yang berjalan keluar kelas.
Sesuai janji, malam ini Fauzan mengajak Amierra pergi makan malam di restaurant seafood yang ada di pantai Ancol. Fauzan sengaja mengajaknya ke sana karena itu adalah tempat favorit mereka dulu. “Kenapa kamu mengajakku ke sini?” tanya Amierra menatap sekeliling.
Restaurant outdoor yang berada tepat di bibir pantai. Suasana sejuk dan suara deburan ombak yang terdengar jelas, aroma khas lautan menggelitik indera penciuman dan hembusan angin yang terasa begitu sejuk menerpa wajah mereka berdua. Tanpa sadar Amierra tersenyum merasakan kesejukan ini. Pantai adalah kesukaannya.
“Aku sengaja membawamu ke sini, karena ini tempat favoritmu.” Amierra menengok ke arah Fauzan. “Apa kamu senang?”
“Ya, terima kasih Fauzan. Sudah lama aku tidak ke sini,” ucap Amierra menatap mata Fauzan yang tajam. Sekelebatan kenangan di masalalu terbayang di benaknya. Tanpa sadar keduanya tersenyum mengingat kenangan indah itu.
Sahutan seorang waiters menyadarkan mereka berdua. Amierra segera berdehem dan memperbaiki posisi duduknya begitu juga dengan Fauzan. Waiters itu menyuguhkan semua menu pesanan mereka membuat Amierra berdecak pelan dan kegiatan itu tak luput dari tatapan Fauzan.
“Semuanya kesukaanmu, makanlah.” Fauzan bersuara saat waiters itu sudah berlalu pergi.
“Ini membuat air liurku ingin menetes,” kekeh Amierra dan segera menyantapnya. Fauzan menyuguhkan beberapa makanan ke dalam piring Amierra. “Kamu juga makan,” ucap Amierra yang di angguki Fauzan.
Setelah menikmati makan malam bersama, Fauzan mengantar Amierra untuk kembali pulang. Karena saat ini Fauzan memakai mobil sport miliknya, terpaksa Amierra turun cukup jauh dari rumah mertuanya.
“Aku temenin kamu jalan yah,” ucap Fauzan.
“Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri.” Amierra menolaknya dengan halus.
“Masih jauh, Rha. Lihatlah jalanannya sepi,” ucap Fauzan.
“Dari sini ke sana hanya beberapa meter, kamu lihat saja dari dalam mobil sampai aku masuk ke dalam rumah,” ucap Amierra hendak menuruni mobil.
“Baiklah, kamu hati-hati.”
“Iya,” ucap Amierra beranjak menuruni mobil Fauzan dengan membawa buku dan tas selendangnya.
Amierra hendak berlalu pergi tetapi panggilan Fauzan mengehentikannya. Fauzan menurunkan kaca mobilnya untuk bisa menatap wajah Amierra yang sedikit membungkukan tubuhnya. “Besok aku jemput kamu lagi yah, jangan lupa langsung istirahat.” Amierra hanya tersenyum menanggapi ucapan Fauzan.
“Amierra!”
Panggilan itu membuat Amierra menoleh dan segera berdiri tegak. Matanya membelalak lebar saat tak jauh darinya, tepat di belakang mobil Fauzan. Ibu mertuanya bersama Dania dan juga Ibu-Ibu pengajian lainnya berdiri di sana dengan memegang Al-quran dan Mukena. Seketika tubuh Amierra melemas, dan ia rasanya ingin pingsan saja sekarang. Ya Tuhan........